Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Jenice Menemui Leo


__ADS_3

"Aku sangat malu memiliki adik seperti ini, aku kehilangan harga diriku karena mempunyai adik seperti dia,"ketus Tommy yang merasa kesal.


"Besok siang mama akan pergi menemui anak tidak berguna itu, untuk mengambil uangnya, kita layak mendapatkannya," ujar Claudia.


Penjara wanita.


Seperti biasa dokter wanita itu membawakan sop walet untuk Rose dan juga obat-obatan lainnya.


Dokter itu meletakan mangkok yang berisi sop walet serta obat cairan dan jarum suntikan di atas meja samping ranjang.


"Dokter, apa tanganmu baik-baik saja? kenapa dari semalam gemetar terus?" tanya Rose yang merasa heran.


"Ah...tidak...tidak apa-apa," jawab Dokter itu dengan merasa cemas dan mengambil salah satu barang yang dia letakan ke atas meja tadi.


"Nona, habiskan dulu sop waletnya! sebentar lagi aku akan menyuntik untuk meredakan bengkak bagian punggungmu," kata Dokter itu dengan tangannya yang gemetar, dan memberikan botol cairan yang di berikan Leo semalam kepada Rose.


Rose yang menerima apa yang di berikan dokter itu ia merasa heran dan aneh dengan sikap dokter itu.


Dokter itu membuka kemasan jarum yang mau dia gunakan untuk menyuntik pasiennya, dan kemduian ia memasukan jarum suntik itu ke dalam mangkok yang berisi walet.


"Dokter, apa yang kamu lakukan?" tanya Rose dengan binggung.


"Ada apa? apakah butuh sesuatu?"


"Bukan, hanya saja yang kamu berikan padaku adalah obat cairan, sementara sop waletnya ada di meja," jawab Rose.


"Hah...ma-maaf, aku tidak fokus. minumlah sopnya!'' ucap Dokter itu yang memberikan sop walet itu kepada Rose.


"Sejak Devil muncul, hidupku tidak tenang, setiap melihat wanita ini aku pasti merasa nyawaku sudah berakhir," batin Dokter itu.


"Aku mau keluar!" pinta Rose.


"Untuk saat ini belum bisa, bengkak mu juga belum sembuh."


"Sudah tiga hari aku berada di sini, aku merasa bosan," ujar Rose.


"Sembuhkan luka mu dulu agar tidak infeksi," kata Dokter itu.

__ADS_1


"Sudah tiga hari tapi belum juga sembuh, apakah obat di penjara ini tidak berkualitas? apakah karena tahanan seperti kami ini adalah rendahan di mata kalian? sehingga obat yang di berikan juga yang murahan?" tanya Rose dengan merasa kesal.


"Bukan seperti itu, jangan berpikir sembarangan. mungkin karena luka mu memang cukup berat sehingga masa penyembuhannya agak lama," jawab Dokternya


"Biarkan aku menyuntikmu dulu, obat ini untuk meredakan rasa sakit dan bengkak."


"Kalau saja masih tidak sembuh aku akan kembali ke penjara saja," jawab Rose yang berbaring dan membelakangi dokter itu untuk menerima suntikan.


"Asal kau tahu kalau kamu tidak sembuh maka nyawaku juga melayang," batin Dokter itu.


Penjara pria..


Di malam itu Ric yang adalah kaki tangan Leo yang di bagian luar, sementara Emil adalah asisten bagian perusahaan berada di dalam penjara bosnya itu


Leo sedang duduk di atas ranjangnya sambil menonton rekaman video yang istrinya dengan pria lain.


"Pasangan yang tidak tahu malu," ucap Leo.


"Tuan, Jenice Muffis sangat tidak tahu malu, berita pertamanya belum berakhir dia sudah mulai yang baru lagi. dia sangat tidak menjaga sikapnya," ujar Emil.


"Bos, apa perlu aku memberi pelajaran padanya?" tanya Ric.


"Kondisi perusahaan mereka sudah hampir bangkrut dan mungkin satu-satu jalannya adalah mereka meminta bantuan kita," ujar Emil.


"Aku akan dengan senang hati menolaknya" jawab Leo dengan senyum.


"Bagaimana dengan keluarga Florencia?" tanya Leo.


"Mereka menerima caci maki dari para tetangga, Kian Florencia pasti marah besar, putra semata wayangnya melakukan hal yang sangat memalukan keluarga mereka," ujar Emil.


"Keluarga Florencia hancur akibat putra putrinya memiliki kasus. lagi pula Kian Florencia juga bukan pria yang baik," ucap Ric.


"Dan bukan ayah yang baik," jawab Emil.


"Tuan, nona Mancy tidak lama lagi akan kembali ke new york, dia tidak sabar ingin bertemu dengan mu," ujar Emil.


"Di saat itu aku sudah bebas juga, aku juga tidak sabar ingin bertemu dengannya,"jawab Leo.

__ADS_1


"Tuan, harapannya adalah hanya ingin menjadi istrimu, dan kepulangannya kali ini adalah ingin menjadi istrimu," kata Emil.


"Kalau begitu bukankah bos kita akan memiliki tiga orang istri?" tanya Ric dengan binggung.


"Hahahahahaha....gadis ini sangat lucu sekali, Mancy sudah dewasa dan juga cantik," kata Leo dengan tertawa bahagia.


Keesokan harinya.


Jenice tiba di depan penjara besar itu.niatnya ingin menemui suaminya yang tak lain adalah Leo Downson.


Setelah menunggu setengah jam Leo datang menemuinya. di dalam ruangan itu yang di pagari oleh jeruji besi dan di dalamnya hanya mereka berdua dan di jaga oleh seorang petugas.


"Leo, lima tahun kita tidak bertemu, bagaimana denganmu di dalam sana? apakah mereka mempersulitkan mu?" tanya Jenice yang tidak tahu kondisi suaminya yang bagaikan raja di dalam tahanan.


"Hidupku sangat baik sekali, aku sangat menikmati hidupku di sini," jawab Leo yang duduk bersandar dengan kakinya yang meletakkan ke atas meja.


"Leo, aku membawakan makanan untukmu, makanlah selagi masih hangat!" kata Jenice yang membukakan rantangan yang dia bawa.


"Kau tahu kalau aku tidak akan makan, untuk apa kau membawanya lagi? kau datang pasti ada tujuan, katakan saja jangan membuang waktuku!" ujar Leo dengan tegas.


"Leo, kita adalah suami istri, apakah kita tidak ada perbincangan lain? kita sudah lama tidak bertemu, aku sangat merindukan mu," kata Jenice dengan mata berkaca-kaca.


"Untuk apa kau datang merayuku? kau seharusnya sudah paham dengan sikapku, aku tidak mempan dengan rayuan," ujar Leo.


"Leo, apakah aku begitu menjijikan sehingga kau harus menjaga jarak denganku? kenapa kau tidak pernah memberiku kesempatan?"


"Kelihatannya kau sudah lupa untuk apa kita menikah saat itu? pernikahan ini hanyalah sebuah bisnis. ayahmu sudah buntu sehingga membutuhkan bantuanku. dengan syarat ingin menikahkan putrinya padaku. oleh karena aku tidak mau rugi maka aku terima saja," kata Leo.


"Tanpa cinta dan tanpa berpikir panjang kau setuju dengan papaku untuk menikahiku, untuk apa menikah kalau di matamu aku sangat menjijikan?"


"Untuk main-main," jawab Leo dengan santai.


"Main-main? kau anggap pernikahan ini adalah sebuah permainan?" tanya Jenice yang merasa kecewa.


"Benar, apa kau sudah lupa, sebelum menikah aku pernah mengatakan aku tidak akan menyentuhmu walau kita sudah menikah nanti. karena kau tetap setuju dengan pernikahan ini, maka kau harus menerima sikap ku terhadapmu," ujar Leo.


"Kenapa dan untuk apa? apa alasan mu melakukan ini padaku? apakah di saat itu kau sudah memiliki seorang kekasih?" tanya Jenice.

__ADS_1


"Ini bukan urusanmu, seharusnya kau harus ukur baju mu sendiri. siapa dirimu dan berani menuntut lebih terhadapku, aku bisa membantu perusahaan mu tapi aku juga bisa menjatuhkan perusahaanmu," jawab Leo.


__ADS_2