Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Belajar Memasak


__ADS_3

Emily memperhatikan gerak-gerik Rose yang sedang sibuk di dapur, tidak tahu apa niatnya dia telah mencampur sesuatu ke dalam minuman yang diberikan pada Rose.


Tidak lama kemudian Rose tiba-tiba saja tumbang tidak sadarkan diri. Emily yang melihat majikannya itu sudah tergeletak tidak bergerak ia langsung menghampirinya untuk memastikan apakah rencananya telah berhasil.


"Hm...sudah berhasil," gumam Emily.


Emily mengeluarkan handphonenya sambil berhati-hati melihat ke arah sana sini, lalu ia menekan nomor tujuannya.


Tidak lama kemudian seseorang yang di seberangnya menjawab panggilannya


"Hallo, Tuan," sapa Emily.


"Bagaimana?" tanya seorang pria yang di seberang sana.


"Sudah berhasil, Tuan."


"Hm...bagus, bawa dia ke hadapanku!"


"Baik, Tuan."


"Setelah kamu pulang nanti aku akan memberi sejumlah uang seperti yang telah di janjikan sebelumnya."


"Terima kasih, Tuan," jawab Emily yang kemudian memutuskan panggilannya.


"Nyonya, maafkan aku. jika aku tidak menerima tawaran tuan Shote Harters aku pasti akan mati. aku hanya bisa memilih untuk menghianatimu dan menerima sejumlah uang yang dia berikan padaku," ucap Emily yang menjongkok di samping Rose.


Di saat Emily ingin memapah Rose tiba-tiba dia mendapatkan satu pukulan dari Rose yang mengenai wajahnya.


Bruk...


Pukulan keras dari Rose mengenai wajah Emily.


"Aaarrghh....," jeritan Emily yang terduduk di lantai.


"Kau....kenapa bisa....?"


"Kenapa bisa sadar?" sambung Rose yang melanjutkan pertanyaan pelayan itu.


"Tidak mungkin!" sebut Emily yang merasa tidak percaya sambil memegang wajahnya yang bekas pukulan Rose tadi.


"Dasar pengkhianat bodoh," ketus Rose yang berdiri sambil menyentuh bekas lukanya.


"Kau sudah menghabiskan minumannya, kenapa masih bisa sadar?" tanya Emily yang merasa tidak percaya.


"Karena rencana mu sudah ketahuan dari awal," jawab Leo yang melangkah menuju ke dapur bersama Emil.


"Tu-tuan," ucap Emily yang semakin ketakutan saat melihat majikannya itu.


"Rose, apa kamu baik-baik saja?" tanya Leo yang menghampiri istrinya itu.


"Tidak apa-apa," jawab Rose.


"Emily, kau sudah lama di sini, tapi akhirnya kau melakukan sesuatu yang tidak seharusnya," ketus Leo dengan menahan emosi.


"Bagaimana kalian bisa menyadarinya?" tanya Emily dengan merasa penasaran.


"Aroma jus yang kamu berikan membuatku menyadari jika dalamnya tercampur obat, aku hanya ingin mengujimu tadi, tapi tidak menyangka kau memang sudah disuap orang," jelas Rose.

__ADS_1


"Rose telah mengirim pesan padaku, dan kami hanya menunggu kau bertindak. ternyata kau menjadi utusan Shote Harters," lanjut Leo dengan ketus.


"Emil, bawa dia keluar!" perintah Leo


"Baik Tuan," jawab Emil yang menarik lengan Emily melangkah keluar dari dapur.


"Tuan, aku diancam olehnya, aku mohon jangan menghukumku!" pinta Emily yang ketakutan.


"Jika saja aku tidak tercium aroma obat itu, maka kau pasti akan membawaku ke hadapan Shote Harters,kan?"


"Nyonya, aku tidak ada pilihan lain," tangisan Emily.


"Omong kosong, kau masih bisa bernafas dan bukannya tidak ada pilihan, mau masih bisa pulang ke sini, dan dirimu juga sebatang kara, apa yang bisa dia gunakan untuk mengancammu," ketus Leo pada pelayannya itu.


"Emily, sebenarnya kau bisa saja memberitahuku tadi, tapi kau lebih memilih memihak padanya demi uang," ujar Rose.


"Bawa dia pergi! nanti baru aku pikirkan hukuman apa yang pantas untuk pengkhianat," perintah Leo.


"Baik, Tuan," jawab Emil yang kemudian menarik Emily keluar dari kediaman bosnya.


"Rose, bagaimana denganmu? apa dia menyentuhmu?" tanya Leo.


"Tidak ada, aku baik-baik saja," jawab Rose dengan senyum.


"Kenapa kau berada di dapur? apa yang kamu lakukan di sini? kau sedang terluka," tanya Leo yang melihat bahan-bahan yang di atas meja dapur


"Aku hanya ingin memasak untukmu," jawab Rose dengan senyum.


"Sayang, kamu tidak perlu melakukan ini! kamu masih belum sembuh. biarkan saja Sonya yang mengerjakannya!" ucap Leo yang mengecup dahi istrinya.


"Kamu memang pasien, tapi pasienku," kata Leo dengan senyum dan memeluk istrinya dengan lembut.


"Mari temani aku! urusan dapur biarkan saja Sonya yang melakukannya!" ujar Leo yang melepaskan pelukannya.


"Leo, apa kamu bisa memasak?" tanya Rose yang sudah memahami suaminya itu.


"Aku tidak bisa memasak, sayang. apa kamu ingin makan sesuatu?"


"Iya, aku hanya ingin makan masakanmu saja, tapi kalau kamu tidak bisa-bisa ya tidak apa-apa juga," jawab Rose dengan senyum.


"Aku harus belajar dulu, karena selama ini aku hanya ahli memotong daging dan usus manusia, tapi masih belum pernah memotong ikan atau daging ayam."


"Apa kamu bisa mencobanya sekarang?"


"Sekarang?"


"Iya, aku ingin makan masakanmu!"


"Karena permintaan istriku ,maka aku akan melakukannya," ujar Leo dengan senyum.


"Bagaimana kalau kamu menunggu di ruang tamu saja!" kata Leo yang merangkul pundak istrinya dan melangkah menuju ke ruang tamu.


"Baiklah, aku akan duduk di sini dan menunggu masakanmu," jawa Rose yang duduk di sofa.


"Tunggu aku ya!" ucap Leo yang mencium wajah istrinya.


"Baik."

__ADS_1


Leo lalu menuju ke dapur sambil melipat ujung lengan panjang kemejanya, dan ia lalu mengambil ayam yang di kulkas dan ingin memotongnya.


Prak....prak....prak...prak..


Potongan daging ayam yang di lakukan oleh Leo.


Prak....prak....prak...prak..


Potongan yang di lakukan oleh Leo tanpa berhenti.


"Setelah potong kepalanya, apakah harus potong kakinya juga? mungkin potong saja," batin Leo.


Prak....prak....prak...prak..


Leo yang belum pernah berada di dapur selama ini kebingungan untuk memotong ayam dan memasaknya. akan tetapi demi istri tercinta ia rela melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan..


"Ternyata memotong ayam lebih sulit ketimbang memotong usus orang," gumam Leo.


Prak....prak....prak...prak..


Potongan yang di lakukan oleh Leo tanpa berhenti. tidak tahu bagaimana kondisi seekor ayam yang telah di bersihkan ********** itu.


Sementara Rose yang duduk di ruang tamu mendengar suara potongan dari dapur terus menerus.


"Apakah dia tidak bisa memasak? kalau memang tidak bisa apa yang akan terjadi dengan ayam itu?" gumam Rose.


Leo kemudian mencuci ayam yang sudah dia potong menjadi puluhan bagian, tentu saja kondisi daging ayam itu sebagian ada yang hancur.


Setelah selesai mencuci Leo langsung menghidupkan kompornya dan kemudian memasukkan semua potongan ayam ke dalam panci yang sudah terisi air.


"Leo, sebentar!" seru Rose yang melangkah masuk ke dapur.


"Rose, kenapa kamu masuk ke dapur? jangan banyak bergerak dulu!" ujar Leo yang meletakkan baskom yang berisi ayam itu ke meja dapur.


"Leo, biarkan aku yang melakukannya!" kata Rose yang menghampiri suaminya itu.


"Aku akan melakukannya sendiri, kamu duduk saja dulu!"


"Leo, aku tahu kau tidak bisa memasak, begini saja. aku akan mengajarimu cara memasaknya dan bumbu yang harus dicampur," ujar Rose .


"Tapi...."


"Aku akan duduk saja dan tidak melakukan apapun," ucap Rose dengan senyum.


"Baik istriku, kalau begitu ajarin aku, aku yang memasak dan kamu duduk saja di sini!" ucap Leo dengan senyum.


"Iya, kalau begitu bahan-bahannya ada di mangkok itu."


Leo melakukan sesuai dengan perkataan istrinya, ia mencampur semua bahan dan kemudian mengoreng ayam tersebut.


"Hahahahaha..., " suara tawa Rose yang melihat suaminya sedang berjaga jarak dengan kuali yang sedang goreng ayam.


"Kenapa tertawa?" tanya Leo yang menjauh sekitar sepuluh meter dari kompor


"Bukannya kau tidak merasa sakit, untuk apa kamu jaga jarak sehingga sejauh itu?"


"Aku hanya tidak suka ciprakan minyak," jawab Leo dengan alasan.

__ADS_1


__ADS_2