Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Mencari Cara


__ADS_3

"Saat masih di dalam penjara, saat itu kau bertarung dengan lima belas pembunuh. dan terluka di seluruh tubuhmu. kau menyembunyikan dariku," jawab Rose.


"Kau melihat saat aku bertarung dengan mereka?"


"Tidak, saat kau berada di kamar rumah sakit, aku ada ke sana, kau menjahit luka sendiri tanpa obat bius, dan di situlah aku baru tahu kau mengidap penyakit Congenital Insensivity to Pain with Anhidrosis, aku berdiri di luar pintu kamar dan melihat kau menjahit luka sendiri dan juga Ric membantumu. orang yang tidak bisa merasa sakit itu karena mengidap penyakit yang membuat dia tidak merasa sakit. Leo, aku tahu kau tidak ingin memberitahuku oleh sebab itu aku tidak bertanya selama ini," jelas Rose dengan yang berdiri di hadapan Leo.


"Rose, apa kau merasa kecewa di saat kau mengetahui jika suami mu ini harus menderita penyakit yang bisa merenggut nyawanya kapanpun dan di mana pun?"


"Penyakit ini bukan kamu yang memilihnya, dan tidak bisa di elakan. ini bukan salahmu," jawab Rose yang kemudian duduk di ruang tamu bersama dengan Leo.


"Rose, papaku juga mengidap penyakit yang sama, oleh karena itu aku juga menjadi pasien penyakit ini."


"Aku mengerti, Congenital Insensivity to Pain with Anhidrosis adalah penyakit turun menurun," jawab Rose.


"Mamaku mengatakan papaku ingin mengugurkanku saat aku masih dalam kandungan. mamaku melarang keras untuk melakukan aborsi, dia memilih mempertahankan aku. dan di saat aku di lahirkan aku sudah terkena penyakit ini. papaku merasa tertekan, dia hampir saja ingin membunuhku di saat aku masih bayi karena dia tidak ingin aku menderita saat sudah dewasa. lagi-lagi mamaku menghadangnya," jelas Leo yang mengingat masa lalu dengan raut wajahnya yang sedih.


"Leo, bagaimana papamu menjalani hidupnya selama ini?"


"Dia sering pingsan, demam dan langsung di larikan ke rumah sakit. di saat deman harus segera ditangani oleh dokternya, jika terlambat maka nyawa tidak terselamatkan," jawab Leo.


"Rose, ada satu hal lagi aku ingin memberitahumu," kata Leo yang menoleh ke arah Rose yang duduk di sampingnya.


"Katakan saja!"


"Dari usiaku ke dua puluh lima tahun aku sudah melakukan Vasektomi pada diri sendiri, ini adalah pesanan papaku dulu. dan aku juga bertanya pada dokter. penyakitku ini akan turun menurun ke anak ku juga. jika suatu saat aku memiliki anak. aku tidak mau kedepannya anakku harus menanggung penderitaan penyakit ini. aku sudah merasakannya. cukup hanya aku saja yang menjalaninya," kata Leo dengan memegang tangan Rose.


"Aku bisa mengerti kenapa kamu melakukan itu, aku juga tidak menyalahkanmu," jawab Rose.

__ADS_1


"Rose, bersamaku kita tidak akan memiliki anak. apa kamu tidak keberatan?"


"Aku tidak keberatan, kita juga berharap anak kita sehat-sehat, akan tetapi jika kondisi tidak memungkinkan maka jangan kita paksa," jawab Rose.


"Terima kasih atas pengertianmu, Rose," ucap Leo dengan senyum.


"Kita bisa adopsi, bukankah begitu?"


"Iya, kita akan adopsi dan di saat itu kita sama juga memiliki anak," jawab Leo.


"Benar katamu, Leo. katakan padaku apakah kamu pernah koma selama ini?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Dulu pasien temanku ada yang tiba-tiba koma dan kemudian meninggal. dokter tidak bisa selamatkan dia. karena penyakit ini hanya bergantung pada nasib."


"Terus terang saja aku pernah koma selama tiga bulan, Rose."


"Apa kamu masih ingat aku tidak pulang selama tiga bulan kemarin? saat itu aku koma di rumah sakit itali, dan saat aku sadar aku langsung pulang ke sini," jelas Leo


"Ternyata dugaanku benar," kata Rose.


"Apa maksudmu?"


"Aku dari awal merasa curiga, karena semua anggotamu tidak tahu keberadaanmu. mungkin saja kau sengaja tidak ingin mereka tahu. dan bibi Sonya juga pasti tahu kan kau koma selama itu? oleh sebab itu dia tidak memberitahuku agar aku tidak melihat jika kau sedang berada di rumah sakit," kata Rose.


"Kelihatannya tidak ada yang bisa ku sembunyikan darimu."

__ADS_1


"Leo, apa kau masih ingat sebelumnya aku meminta ingin ikut ke mana pun kamu pergi?"


"Tentu saja aku ingat, kenapa?"


"Karena aku bukan tidak percaya padamu dan ingin mengawasimu, tapi aku ingin merawatmu. aku tidak mau di saat kau jatuh sakit aku tidak berada di sisimu. walau aku bukan dokter tapi aku akan menjadi istrimu, jadi biarkan aku menjaga mu ke mana pun kau pergi, aku ingin ikut denganmu," jawab Rose dengan berharap.


"Rose Downson, kau adalah wanita yang istimewa, dan tidak ada yang bisa ku sembunyikan darimu. kau juga tidak keberatan saat mengetahui aku mengidap penyakit ini dan masih bisa menerimaku," ucap Leo yang merasa terharu.


"Leo, hidupku bisa bebas itu karena kamu yang membantuku, hidupku berubah menjadi lebih baik karena kamu juga. Leo, apapun kondisimu biar aku berada di sisimu menjaga dan merawatmu. jika kau sakit jangan sembunyikan dariku lagi!"


Leo merasa terharu dengan setiap ucapan calon istrinya itu, dan ia pun langsung mencium bibir Rose dan sambil memeluknya.


"Aku akan memberitahu semua kondisiku padamu, tidak ada rahasia yang tersembunyi di antara kita berdua," ucap Leo yang melanjutkan ciumannya.


"Leo, dan berjanjilah padaku jangan terluka lagi, ini sangat bahaya bagimu. walau kau tidak merasa sakit tapi ini bisa membuatmu meninggal. jaga tubuhmu setiap saat dengan baik!"


"Aku berjanji padamu, Rose," jawab Leo yang mengecup dahinya.


Setelah beberapa jam kemudian.


Rose yang berada di kamar sedang membaca tentang penyakit yang di ngidap oleh Leo. ia ingin mencari cara untuk pengobatan tersebut.


"Sudah begitu lama tidak bertemu dengan dia, apa dia masih di new york atau sudah pindah? apa dia memiliki cara untuk penyakit ini? tapi di komputer sama juga tidak ada menunjukan cara untuk menyembuhkan penyakit ini,"ucap Rose.


"Heniz, terakhir melihatnya saat aku akan menikah dengan Lucas, saat itu terjadinya pertengkaran hebat di antara kami, apa dia masih anggapku sebagai teman?" batin Rose.


"Huff...apa yang ku pikirkan? kenapa saja aku tiba-tiba memikirkan ke sana? aku sudah bersama dengan Leo sekarang. kenapa aku malah memikirkan mantan kekasihku itu. jika sampai Leo mengetahuinya dia pasti bisa mengira aku berhubungan dengan pria lain," gumam Rose.

__ADS_1


"Rose...Rose...masa lalu mu begitu banyak yang tidak bahagia, semua di rusakan oleh keluarga Florencia dan juga Hamilton. jika bukan karena mereka mana mungkin kau berpisah dengan Heniz. kini kau sudah bersama Leo jangan pikirkan itu lagi," ucap Rose sambil menepuk kepalanya.


"Aku hanya berharap ada cara untuk menyembuhkan Leo," kata Rose yang sambil mengutak atik komputer.


__ADS_2