
"Ma-maaf," ucap Dokter itu yang baru tersadar.
"Dokter apa kamu baik-baik saja?" tanya Rose yang merasa heran.
"Aku baik-baik saja," jawab Dokter yang tangan masih mengigil.
Dokter wanita itu melanjutkan mengobati luka di bagian punggung Rose dengan tangannya yang sedang gemetar.
Jam dinding menunjukan pukul 01.00.
Di tengah malam itu Rose sudah ketiduran dengan posisi yang masih terlungkup. Leo menghampirinya dan menaikan baju Rose, ia melihat luka bengkak yang masih belum juga berkurang. dan kemudian ia menutupi kembali baju wanita itu.
Leo menatap wajah Rose dengan jarak yang dekat.
"Apakah kau akan menjadi nyonya Downson?" batin Leo.
Leo berdiri di sana selama setengah jam dan kemudian ia pergi meninggalkan kamar itu. ia pergi menemui dokter wanita yang merawat Rose Florencia.
"Gunakan obat cair ini untuk Rose Florencia! obat penjara ini memang tidak berguna sama sekali, dan ingat setiap hari harus memasak walet untuknya. kalau sudah habis beritahu aku!" bentak Leo yang ingin melangkah pergi.
"I-iya," jawab Dokter itu yang sedang ketakutan.
Leo menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah wanita itu yang sedang gemetar.
"Hilangkan bekas luka itu! jangan sampai lukanya meninggalkan bekas!" perintah Leo dengan tegas.
"I-iya," jawab Dokter itu yang sedang keringat dingin.
"Aku tidak suka barang milikku ada bekas luka," ujar Leo yang kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.
"Aneh, bukankah wanita itu juga adalah bekas orang?" batin Dokter itu yang lap keringatnya dengan tisu.
Keesokan harinya.
Mansion Muffis
Di pagi itu Herles lagi-lagi marah besar karena rekaman video mengenai Jenice yang berhubungan dengan Tommy di dalam mobil
Plak...
Tamparan yang di lakukan oleh Herles yang mengenai wajah putrinya.
"Tidak tahu malu, sampai sekarang kau masih saja bertemu dengan bocah itu, apa kau ingin aku cepat mati? apa kau masih tidak memahami kondisi sekarang?" bentak Herles dengan nada tinggi
__ADS_1
"Pa, aku..."
Plak...
Tamparan yang di lakukan lagi oleh Herles yang mengenai wajah putrinya.
"Tidak perlu memberi alasan! kenapa keluarga Muffis bisa memiliki keturunan yang memalukan sepertimu. kau bahkan tidak sadar dengan apa yang kau sudah lakukan. kita sudah hampir di ujung tanduk. seharusnya yang kau temui adalah suamimu, bukan bocah sial itu," bentak Muffis.
"Pa, aku tidak tahu siapa dua orang pria itu, dan aku yakin dia adalah utusan seseorang untuk menghancurkan kita," jawab Jenice.
"Kau sudah melakukan kesalahan besar, di saat sekarang kau masih saja keluar bertemu dengannya. ini karena kelalaianmu," bentak Herles.
"Aku mencarinya hanya ingin menyelesaikan masalah ini. aku ingin dia menikahiku untuk menutup mulut orang," jelas Jenice.
"Menikahi mu? apa kamu masih waras? dia hanyalah bocah ingusan dan kau memilihnya? apa kau begitu mencintainya sehingga kau berharap dia akan menikahimu?" ketus Herles.
"Semua orang sudah mengenalnya dan tidak salah kalau dia menikahiku. dengan begini maka tidak ada lagi yang akan menghinaku," jawab Jenice .
"Tidak menghinamu? apa kau masih waras atau bodoh sehingga tidak sadar dengan kelakuanmu sendiri," ketu Herles.
"Kau jangan lupa satu hal, kau sudah memiliki seorang suami. siapa yang tidak tahu kalau suamimu itu adalah orang yang sangat terpengaruh. sedangkan bocah itu sama sekali tidak ada ujung kaki Leo jika di bandingkan," bentak Herles.
"Pergi dan bertemu dengan suamimu itu!" titah Herles.
"Apa kau tahu kondisi kita sekarang Seperti apa? hanya dia yang bisa membantu kita. dananya sangat kuat dan kita sangat butuh bantuan dia," ujar Herles.
"Tapi dari awal dia tidak ingin melihatku,apapun yang terjadi dia tetap mengabaikan ku selama ini," jawab Jenice.
"Jenice, kau harus bersabar untuk mendapatkan hatinya. dia yang sudah membunuh orang hingga masuk ke dalam penjara, masih saja banyak klien luar negeri yang bekerja sama dengan perusahaannya.dan dananya selalu kuat dan tidak pernah mengalami masalah keuangan," ujar Herles.
"Aku sangat ingin tahu kenapa dia menikahiku jika dia tidak mencintaiku," ucap Jenice.
"Jangan bertengkar dengannya! bagaimanapun kau harus tetap bersabar!" kata Herles.
"Aku akan menemuinya besok," kata Jenice.
Video rekaman Jenice dan Tommy lagi-lagi menghebohkan masyarakat. walau durasinya pendek akan tetapi terlihat dengan jelas wajah pria dan wanita itu.
Keluarga Florencia lagi-lagi mendapatkan hinaan dan caci maki dari para tetangga.
Tommy berlutut di hadapan orang tuanya dan menerima pukulan di bagian punggung.
Kian yang merasa malu sehingga memukul anaknya itu tanpa berhenti.
__ADS_1
Siuk...siuk...siuk...siuk...siuk...
"Aarrghh...." jeritan Tommy yang kesakitan.
"Kian, sudah cukup! jangan pukul lagi dia akan mati!" pinta Claudia yang menahan tangan suaminya itu.
"Jangan melarangku! aku sedang mendidik anak kita,"bentak Kian yang sedang emosi.
Siuk...siuk...siuk...siuk...siuk...
"Aku bersusah payah mengumpulkan uang untukmu, dan kau mempermalukan ku berkali-kali. keluarga ini hanya bergantung padamu. sekarang kondisi di luar semakin heboh karena video kalian yang tersebar itu," bentak Kian.
"Adikmu sudah menghancurkan keluarga kita. sekarang juga sama. bagaimana kami ingin menjalankan masa tua kami lagi," teriak Kian.
"Izinkan aku bekerja di australia! Pa. aku ingin bekerja di australia." pinta tommy.
"Video mu ini sudah tersebar, apakah kau masih bisa berdiri di tempat lain?" tanya Kian dengan kesal.
"Pa, jika tidak mencoba kita tidak akan tahu. aku tidak bisa berdiri di new York lagi."
"Sangat memalukan sekali, adik mu yang sial itu sudah menimbulkan masalah. kini kau juga sama," bentak Kian dengan penuh emosi dan melangkah masuk ke kamarnya.
Brak..
Bunyi hentakan pintu yang di lakukan oleh Kian yang sedang kesal.
"Kian, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Claudia yang merasa sakit hati.
"Ma, aku harus pergi dan tidak bisa lagi di sini. aku tidak ingin menunggu lagi," ujar Tommy.
"Tapi untuk pergi ke australia kita harus memiliki dana, biaya dan makan serta semuanya pasti butuh biaya yang banyak," ujar Claudia.
"Bagaimanapun aku harus pergi untuk mencari pekerjaan baru," ucap Tommy.
"Mama akan mencari adikmu untuk meminta ongkos dengannya," jawab Claudia.
"Rose sendiri sudah menjadi tahanan, mana mungkin dia memiliki uang," kata Tommy.
"Dia pasti ada tabungan, selama dua tahun dia hidup mewah dengan suaminya itu, tidak mungkin tidak memiliki sepersen pun," jawab Claudia.
"Apa mungkin dia mau memberikannya?".
"Tidak mau juga harus mau, karena kau adalah kakaknya, sementara dia akan tinggal di dalam penjara seumur hidup, jadi untuk apa lagi dia menyimpan uangnya," jawab Claudia
__ADS_1