
"Penyakit ini sudah banyak yang mengalaminya, dan tidak ada yang bisa bertahan lama. apakah di dunia ini tidak ada obatnya sama sekali?" ucap Rose yang sedang membaca komputernya.
Di sisi lain Heniz juga sedang mempelajari tentang penyakit yang membuat pasiennya selalu menderita itu. ia membuka semua buku kedokteran dan juga internet untuk mencari cara mengobati kondisi sahabatnya.
"Sudah begitu lama aku praktek masih saja belum ada caranya, tidak mungkin di dunia ini tidak ada obatnya," gumam Heniz yang duduk bersandar sambil memejam matanya.
Keesokan harinya.
Mansion Leo.
"Leo, Leo..," suara panggilan Rose yang berjalan di anak tangga.
"Selamat pagi, Nona," ucap Sonya dengan sopan.
"Bibi, di mana Leo?"
"Tuan keluar sebentar."
"Keluar kenapa tidak membawa pistol?"
"Mungkin tuan lupa, tuan menuju ke perusahaannya," jawab Sonya.
"Apakah dia bersama dengan Ric dan Kian?"
"Tidak, Nona. tuan hanya pergi sendiri."
"Ini bukankah sangat bahaya," gumam Rose.
"Nona, silakan sarapan dulu! tuan hanya sebentar saja. nanti dia kembali sarapan bersamamu," kata Sonya
"Aku akan menyusulnya, bahaya jika tidak membawa senjata bersamanya," ujar Rose yang berlari ke lantai dua menuju ke kamarnya.
Rose terburu mengambil dua pistol yang tersimpan di bawah tempat tidur mereka, ia menyelip ke dalam bajunya dan menyusul calon suaminya itu.
Di sisi lain Leo yang tadinya ingin menuju ke perusahaannya telah di kepung oleh sejumlah pembunuh utusan dari Sandez. sebanyak lima puluh orang lawannya yang sedang menodong senjata ke arah Leo yang hanya seorang diri di dalam mobil.
"Pagi-pagi sudah kedatangan tamu tak diundang," gumam Leo.
Ia lalu keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri ke arah lawannya itu.
"Apa yang kalian inginkan? membunuhku? lakukanlah? aku tidak memiliki senjata sama sekali dan hanya dengan tangan kosong untuk melawan kalian," kata Leo dengan bersikap santai.
"Tiger, kau tidak perlu sombong lagi, karena hidupmu akan segera berakhir," kecam salah satu pembunuh itu.
"Lakukan saja! tidak perlu basa basi!" ketus Leo dengan tertawa.
Sementara Rose sedang mengunakan kecepatan yang tinggi untuk menyusul Leo dari belakang. tanpa ragu wanita itu pun melewati beberapa mobil lainnya yang berjalan di depannya itu.
Tidak lama kemudian di depan simpang sana terdapat sejumlah polisi yang sedang menjaga rambu lalu lintas. Rose yang tanpa merasa ragu ia langsung menerobos lampu merah. sehingga membuat para polisi itu berusaha untuk menghentikannya dan pada akhirnya mereka mengejar mobil yang di bawa oleh Rose yang sedang melaju dan menghiraukan dari panggilan polisi.
"Membosankan," ketus Rose yang melihat polisi yang sedang mengejarnya lewat kaca spion.
Rose menarik kejaran polisi ke arah jalan lain, tidak tahu dia mengumpan polisi itu ke arah mana, ia melajukan mobilnya sambil melewati semua kendaraan yang ada di depan matanya. kelajuan yang di lakukan oleh Rose seperti angin topan yang sedang berlalu. membuat semua pengendara hanya bisa menghentikan mobil mereka di tengah jalan dan berikan jalan pada wanita itu.
Sementara Leo sedang menantang lawannya yang jumlahnya lebih unggul.
"Saat dalam penjara aku sudah mencoba semua utusan dari bos kalian, semua tidak berguna dan aku yakin kalian pasti tidak ada bedanya juga dengan mereka," kata Leo yang melepaskan dasinya dan juga jas luarannya.
__ADS_1
"Sudah di ujung tanduk masih saja berani sombong," ketus salah satu pembunuh itu yang kemudian langsung melepaskan tembakannya.
Dor...
Tembakan yang di lakukan oleh pembunuh itu menembus bagian perut Leo.
Leo yang tertembak sama sekali tidak merasakan apa-apa, walau tembakan pria itu cukup dalam dan mengeluarkan banyak darah tapi Leo hanya bersikap tenang.
Leo lalu menarik tangan lawannya itu dan langsung menampar wajahnya sehingga pria itu tersungkur.
BRUK...
Pukulan mengenai tepat pada wajah pria itu.
"Aarghh...." teriakannya yang merasa kesakitan.
Leo merebut pistol dari pria itu dan menembak ke arah lawannya itu.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
"Aarrghh....," teriakan mereka yang ditembus oleh peluru Leo.
Mereka melepaskan tembakan ke arah Leo yang mencari perlindungan di belakang mobilnya.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Tembakan serentak dari mereka yang menembus mobil mewah milik Leo itu. Leo berdiri dan membalas tembakannya ke arah musuhnya itu.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
"Aarrghh....," jeritan mereka yang kesakitan dan sebagian ada yang tewas di tempat.
Leo mencengkeram leher salah satu lawannya dan membanting ke aspal.
Bruk..
"Aauughhk," jerit lawannya itu yang kesakitan.
Leo menendang lawan lainnya dan juga memukul wajah mereka satu persatu.
Tidak lama kemudian datanglah puluhan mobil yang menuju ke arah Leo yang sedang bertarung. puluhan mobil tersebut yang tak lain adalah utusan Sandez yang sangat ingin kematian Leo.
Saat Leo sedang bertarung, Mobil yang di bawa oleh Rose melaju ke arah Leo.
Tit...tik...
Bunyi klakson dari Rose yang memberi kode kepada Leo. Leo yang sudah memahami tindakan dari wanita itu ia langsung berlari ke pinggir dan membiarkan calon istrinya menabrak semua lawannya itu.
Brak...
"Aarrghh..."
Brak...
"Aarrghh..."
Brak...
__ADS_1
"Aarrghh..."
Brak...
"Aarrghh..."
Brak...
"Aarrghh..."
Brak...
"Aarrghh..."
Tabrakan Rose mengenai semua pembunuh Sandez yang harus terpelanting sana sini akibat tabrakan kuat dari calon istri Leo itu.
Setelah berhasil menabrak mereka Rose keluar dari mobilnya.
"Leo..," teriak Rose yang melempar pistol ke arah Leo.
Leo menyambut pistol tersebut dan langsung melepaskan tembakan ke arah puluhan mobil yang menuju ke arahnya, begitu pula dengan Rose yang melepaskan tembakan ke arah mobil itu.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Tembakan serentak dari Leo dan Rose yang mengenai mobil itu.
"Ledakan mobilnya!" titah Leo yang sambil menembak.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Tembakan serentak dari mereka yang menembus kaca mobil dan juga ban mereka.
"Tembak tangki minyak mobil itu! kata Leo yang sambil melepaskan tembakan.
"Baik," jawab Rose yang sambil melepaskan tembakannya.
DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...DOR...
Tembakan beruntun yang di lakukan oleh Leo dan Rose akhirnya meledakan beberapa mobil tersebut.
DUAR...DUAR...DUAR...DUAR...DUAR..
Ledakan mobil itu menjalar ke mobil belakangnya.
DUAR...DUAR...DUAR...DUAR...DUAR..
"Aku tidak menyangka kau bisa muncul di sini," kata Leo yang menoleh ke arah Rose yang berdiri di sampingnya.
"Kau meninggalkan pistolmu di bawah kasur, dan aku datang mengantarnya untukmu," jawab Rose.
"Terima kasih, wanita kesayanganku," ucap Leo yang mencium bibir Rose.
"Kau terluka lagi," kata Rose yang merasa khawatir.
"Mari antar aku ke rumah sakit!"
"Rumah sakit yang mana?"
__ADS_1
"Tempat temanku, biasa dia yang mengobatiku," jawab Leo.