
Mansion Muffis.
"Jenice, apa kamu bisa mengelola perusahaan kita?" tanya Herles yang duduk dengan wajah lesu dan pucat.
"Papa, ada apa denganmu? apa penyakit jantungmu kambuh lagi?" tanya Jenice dengan khawatir.
"Jantung papa sering berdetak dengan kencang, dan tidak bisa tidur dengan baik," jawab Herles dengan mengelus dadanya.
"Pa, ini semua karena aku yang tidak berguna ini, aku yang bersalah. aku akan mencari cara untuk menebusnya, agar perusahaan kita bisa kembali normal seperti semula," kata Jenice dengan sambil menangis.
"Menyesal tiada gunanya lagi, setelah kejadian itu banyak perusahaan menolak kerja sama dengan kita, pemasukan sudah anjlok karena semua produk kita juga tidak laku di pasaran lagi, gaji karyawan setiap bulan berjalan terus, Leo juga tidak mau membantu kita lagi, kita sudah tidak ada jalan keluar," ucap Herles yang tak berdaya.
"Pa, biarkan aku mencari Leo, aku akan berlutut memohon padanya. sehingga dia rela membantu kita," kata Jenice.
"Apa kau sudah lupa apa yang dia katakan padamu? dia hanya ingin membalas dendam terhadap kita. Jenice, dari awal kita sudah salah, dari sejak papa mencari dia meminta bantuan darinya dan kemudian menikahkan kalian. ini semua salahku. papa telah menghancurkan hidupmu selama sepuluh tahun, menikahkan mu dengan seorang pria yang sama sekali tidak mencintaimu. papa sudah salah langkah dari awal."
"Papa tidak salah juga, aku yang mencintainya dan bermimpi bisa hidup mewah dengannya. akan tetapi semua gagal, aku bukan anakmu yang baik dan bukan istri yang bisa mengikat hati suami," ujar Jenice dengan sambil menangis.
"Papa ingin bertemu dengan dia, dan ingin tahu juga siapa yang dia maksudkan itu," ujar Herles.
"Pa, aku tidak mau kondisi papa semakin lemah, jangan bertemu dengannya, Pa!"
"Papa ingin tahu pasangan suami istri yang mana bunuh diri di saat itu, sehingga mengorbankan hidupmu demi anak itu. dan siapa anak itu sebenarnya," ucap Herles dengan merasa penasaran.
"Papa, dia tidak akan ragu untuk menyakitimu, lebih baik jangan bertemu dengannya!"
"Kau jangan ikut di saat aku ke sana! aku merasa penasaran keluarga mana yang begitu penting baginya sehingga melakukan hal ini padamu," kata Herles.
"Tapi, Pa...."
"Sudah! jangan ikut campur!"
Penjara Pria.
"Aaargrhh...." pekik Rose yang sedang kesakitan karena di setubuhi Leo.
Gesekan yang di lakukan oleh Leo masih sakit yang di rasakan oleh Rose sehingga ia meneteskan air mata.
"Ini masih siang, apa kau tidak tahu malu? cepat hentikan! jika tidak petugas bisa melihatnya dan aku tidak mau di anggap pelayanmu," bentak Rose dengan kesal.
"Apa kamu masih merasa sakit? jangan meronta terus kau akan semakin terluka nanti," ujar Leo yang sedang melakukan pergerakan dengan lembut.
Leo bergerak dengan semakin cepat karena mencapai puncak kenikmatan, ia menekan pinggang Rose sambil bergerak maju mundur. dirinya begitu puas dan nikmat setiap melakukan hubungan intim dengan wanita yang sedang dia kuasai itu.
Tidak lama kemudian dua petugas datang untuk memanggilnya keluar seperti biasa berkumpul di halaman belakang
Tempat tidur Leo di hadang oleh gorden agar tidak di lihat jelas dari luar.
__ADS_1
"Leo, saatnya sudah tiba, keluarlah!" perintah salah petugas itu.
"Aku sedang sibuk, setelah selesai aku akan keluar," jawab Leo yang masih sedang melakukan gesekan di vagi.na Rose.
Dua petugas itu yang sudah mengerti kemudian melangkah pergi.
"Aku mulai penasaran dengan wanita itu? apakah begitu nikmat sehingga seorang Devil tertarik padanya," kata salah satu petugas itu.
"Kita boleh mencobanya di saat Leo keluar nanti."
"Apa kau gila? kita akan mati di tangannya."
"Dia tidak akan tahu siapa, kita bisa buat wanita itu pingsan dan kemudian kita mencicipinya."
"Apa kau yakin ingin melakukanya?"
"Yakin, apa kau tidak lihat seorang Devil sedang menikmatinya. walau wanita itu janda tapi wajahnya sangat cantik dan tubuhnya juga langsing."
"Mereka sudah melihatnya, apa kau masih belum bisa berhenti?" tanya Rose yang sedang menahan sakit karena hentakan dari Leo.
Sesaat kemudian Leo menghentikan aksinya setelah mendapatkan kepuasannya.
"Di sini adalah tempat kita, tidak ada yang bisa melarang kita apa ingin kita lakukan," jawab Leo dengan mengecup dahi Rose
"Bagaimana kalau aku hamil nanti? aku tidak mau melahirkan di penjara," kata Rose.
"Tidurlah dulu! aku akan keluar karena sudah waktunya," ucap Leo dengan mencium wajah Rose.
Setelah beberapa menit kemudian Leo keluar dari tempat kurungannya dan menuju ke halaman belakang seperti biasanya. sementara Rose sedang mandi. dua petugas tadi yang berniat jahat melangkah masuk ke dalam, dan ia mengunakan rantai melilit pintu itu dan kemudian menguncinya dengan gembok.
"Hei...dia sedang mandi, kita langsung saja masuk ke dalam!"
"Aku akan memberi obat ini agar dia pingsan, dan kemudian kita langsung menikmati makanan Leo."
Rose yang telah selesai mandi ia pun membuka pintu kamar mandinya, saat ia melihat dua petugas berdiri di depannya ia merasa terkejut dan terdiam sesaat.
"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Rose yang sudah mengerti niat jahat dari tatapan mereka berdua.
"Kau adalah wanita satu-satunya yang melayani Leo di sini, dan kami penasaran dengan tubuh mu ini," kata salah satu petugas yang ingin maju untuk membekap mulut Rose.
Rose langsung menendang bagian inti petugas itu.
Brugh...
"Aarrggh," jeritan petugas yang kesakitan.
Rose ingin berlari ke arah pintu dan ingin membukanya, akan tetapi telah di gembok menyebabkan ia gagal untuk keluar dari sana.
__ADS_1
"Kau tidak bisa lari lagi!"
"Kalau Leo datang kalian akan mati," ketus Rose
"Dia akan datang siang nanti. jadi, saat sekarang tidak ada yang bisa menyelamatkanmu. karena kamu sudah melihat kami, maka kami hanya bisa membunuhmu setelah kami menikmati tubuhmu." kata petugas itu yang menarik lengan Rose.
Rose berusaha melawan dan kemudian melayangkan pukulan ke wajah petugas itu.
Brugh...
Pukulan dari Rose mengenai wajah pria itu.
"Aaarrghh...sialan," ketus petugas itu.
Dua petugas itu lalu menarik lengan Rose dan mendorongnya ke atas ranjang serta menahan ke dua tangannya.
Rose berusaha melawan dengan menendang bagian pusaka petugas yang berada di atasnya dan sedang menahan tangannya.
Brugh...
"Aarrghh...."jerit petugas itu yang sedang kesakitan.
"Dasar pela.cur murahan, kau hanya sebagai pemuas yang akan di buang kapanpun setelah dia bosan,"bentak petugas itu yang langsung menampar Rose.
Plak...plak...
"Aargh," jerit Rose yang merasa sakit dengan dua tamparan kuat dari petugas itu.
"Aku tahan tangannya, lepaskan pakaiannya!"
Petugas yang berada di atas membuka kaki Rose dan kemudian mencium lehernya, sementara petugas yang satu lagi menahan ke dua tangannya.
"Lepaskan aku!" teriak Rose yang berusaha melawan akan tetapi ia tidak berdaya.
Pria yang berada di atas tubuhnya mencium leher dan tangannya mulai masuk ke dalam baju Rose. Rose kemudian mengigit telinga petugas dengan gigitan yang sangat kuat.
"Aarrghhh...." teriak petugas itu yang sedang kesakitan.
"Wanita gila, lepaskan!" bentak petugas yang sedang menahan ke dua tangan Rose dan sambil menampar wajahnya.
Plak...Plak...
Walau di tampar wajah sebelah kanannya Rose tetap mengigit telinga petugas dengan kuat dan menarik sehingga putus.
"Aaarrghhhh...." teriakan petugas itu yang kesakitan sehingga terjatuh dari ranjang.
Brugh...
__ADS_1
Pria itu yang putus telinganya mengerang kesakitan dan mengeluarkan darah yang banyak sehingga mengotori lantai.