Ranjang Psikopat Dalam Penjara

Ranjang Psikopat Dalam Penjara
Kecemasan Leo


__ADS_3

Di sisi lain Rose baru pulang dengan menyetir mobil sendiri, mobilnya masuk ke dalam pagar yang terbuka secara otomatis, tanpa disadari Jenice dengan diam-diam melangkah masuk ke dalam halaman itu. Jenice yang dari tadi telah menunggu kepulangan Rose di luar sana. ia bersembunyi di samping pagar yang terdapat banyak tanaman sehingga tidak terlihat oleh Rose.


Setelah masuk ke dalam halaman pagar tutup kembali secara otomatis. dan Rose keluar dari mobilnya sambil membawa tas jinjing.


"Rose Florencia," bentak Jenice dengan nada tinggi dan berdiri di belakang mobil.


"Ternyata kamu, untuk apa kamu ke sini?" tanya Rose yang menatap ke arah Jenice.


"Jangan berharap kau bisa bahagia bersama mantan suamiku, dia akan membuang mu di saat dia telah bosan," ketus Jenice.


"Kalau kau datang untuk basa basi, maka silakan pergi!"jawab Rose dengan nada tinggi


"Aku juga tidak ingin datang, hanya saja aku ingin sampaikan barang yang aku tidak bisa miliki maka orang lain juga tidak akan bisa memilikinya," kecam Jenice yang memiliki sebilah pisau sayur yang di pegang dan di sembunyikan di belakangnya.


"Kau di campakan karena salah ayahmu sendiri, jangan salahkan aku ketika suami mu memilihku. di saat dia mencampakanmu aku belum mengenalnya. jadi bukan karena aku kau di ceraikan," ujar Rose dengan tegas.


"Seharusnya kau menjauh dari dia," bentak Jenice dengan kesal.


"Kau bicara dengan tidak mengunakan logika, kenapa aku harus menjauh jika aku juga menyukainya? kau tidak layak sama sekali untuk menyalahkanku, seharusnya kau bercermin," bentak Rose.


"Pergi dari sini sebelum dia kembali, karena jika tidak, aku tidak yakin apa yang akan dia lakukan padamu," ketus Rose yang berpaling dan melangkah menuju ke arah rumahnya.


Jenice memiliki pisau yang dia pegang dengan secara diam-diam, sebilah pisau yang sangat tajam bersiap untuk menyerang sasarannya.


"Rose Florencia...," teriak Jenice yang berlari ke arah Rose.


Mendengar teriakan wanita itu Rose menoleh ke belakang dan langsung di tikam oleh Jenice.


Srek...


Tikaman pisau tajam itu mengenai bagian perut Rose sehingga darah berjatuhan di atas tanah.


Dan di saat yang sama pagar terbuka karena sebuah mobil yang masuk ke dalam halaman. mobil itu yang tak lain adalah milik Leo.


Leo keluar dari mobilnya dan melihat dua wanita itu yang jaraknya sangat dekat, dan mata Leo lalu melihat ke bawah dan mendapati tetesan darah yang membasahi tanah halamannya itu.


Mata Leo berfokus pada istrinya dengan merasa cemas.


Raut wajah Rose memucat dan berkeringat akibat tikaman yang menembus tubuhnya itu yang telah membuat dirinya kesakitan sehingga tidak bisa bersuara.


"Rose...," panggil Leo yang ingin memastikan keadaan istrinya yang terdiam dan menahan sakit.


Tidak lama kemudian Rose mengunakan tangan kirinya melayangkan pukulan keras ke wajah Jenice sehingga membuat wanita itu jatuh ke atas tanah.

__ADS_1


Bruk..


"Aarrgghh...," jeritan Jenice yang mengeluarkan darah di sudut bibirnya.


Rose langsung bersandar ke mobilnya dan hampir tumbang. tangan kanannya berdarah akibat menahan pisau itu sehingga luka bagian perutnya tidak begitu dalam. dan ia juga mencabut pisau itu dan membuangnya ke tanah.


"Rose...," teriak Leo yang menghampiri istrinya


"Tuan, Nyonya," teriak Sonya yang berlari ke halaman.


"Panggil dokter, cepat!" teriak Leo dengan nada tinggi.


"I-iya," jawab Sonya yang ikut merasa cemas.


Kian yang pulang bersama Leo ia langsung menahan Jenice dengan mengikat ke dua tangan wanita itu ke bagian belakang.


"Aarrgghh...," jeritan Jenice yang merasa kesakitan akibat tindakan Kian yang kasar padanya.


"Rose, lihat aku! bagaimana rasanya?" tanya Leo dengan mata memerah dan menyentuh wajah istrinya.


"Rasanya sangat buruk sekali, ternyata begini rasanya di tikam," jawab Rose yang berdiri dan bersandar di mobilnya. ia menahan sakit sehingga menetes air mata.


"Dokter akan segera datang, kau akan selamat," ujar Leo.


"Pertanyaan seperti apa itu?"


"Jawab saja,"ujar Rose yang terduduk dan ditahan oleh Leo.


Leo langsung mengendong Rose berlari ke dalam rumahnya, ia merasa sangat cemas melihat istri yang baru dia nikahi sedang berlumuran darah dan kesakitan.


"Sonya, di mana dokternya?" teriak Leo yang berjalan cepat menuju ke kamarnya


"Sudah dalam perjalanan, Tuan," jawab Sonya yang ikuti langkah majikannya.


Saat masuk ke dalam kamar, Leo menidurkan istrinya di atas kasur dengan perlahan.


"Cepat bawa air panas dan kain!" perintah Leo yang menaikan baju istrinya.


Leo mengeluarkan sebotol cairan dari laci yang adalah tempat khusus dia menyimpan obat-obatan. ia membuka penutup itu dan menuangkan cairan bening itu ke bagian luka istrinya.


"Bertahanlah! ini adalah cairan untuk menghilangkan rasa sakit, aku akan menjahit lukamu," kata Leo yang mengambil handuk dengan membersihkan darah yang berserakan di bagian perut istrinya.


Rose menahan sakit dan tanpa berkata-kata.

__ADS_1


"Bicara denganku! jangan tidur!" pinta Leo yang merasa cemas.


"Kau belum jawab pertanyaanku tadi," ujar Rose dengan suara pelan.


"Kau ingin mengetahui jawabanku, maka aku akan memberitahumu. aku akan segera melupakanmu dan kemudian mencari lagi wanita lain untuk mengantikan posisimu sebagai istriku," jawab Leo yang sambil sibuk dengan tangannya.


"Kau adalah pria brengs*k," ucap Rose yang sambil menahan sakit.


"Kalau kau tidak ingin aku menjadi pria brengs*k maka kau harus bertahan hidup," ketus Leo yang sedang merasa cemas.


Selama ini Leo sering terluka parah dan selalu saja menjahit sendiri lukanya, tanpa rasa gemetar dan takut ia begitu lancar menjahit lukanya sendiri. akan tetapi beda dengan kali ini. ia harus menjahit luka wanita yang paling dia cintai dan untuk pertama kali juga ia merasa cemas dan khawatir. matanya memerah saat menjahit luka istrinya itu.


"Kau bisa menjahit lukaku?" tanya Rose dengan suara pelan.


"Setiap aku terluka pasti menjahit sendiri dan aku sudah ahli," jawab Leo yang sedang menjahit luka istrinya.


"Kau tidak bisa merasa sakit, kenapa bisa tersedia cairan penghilang rasa sakit?"


"Selama ini aku tidak pernah mengunakannya, Hinez yang memberikan padaku. hanya stok saja," jawab Leo.


"Tuan, airnya sudah siap," kata Sonya membawa sebaskom air hangat.


"Sonya, bersihkan luka tangan Rose! dan lilitkan perban pada lukanya!" perintah Leo yang sedang fokus menjahit luka istrinya.


"Baik, Tuan,"jawab Sonya yang langsung melakukan tugasnya.


Setelah setengah jam kemudian Leo selesai menjahit luka istrinya itu, setelah selesai ia bersihkan darah-darah yang menempel di tubuh istrinya dan kemudian mengantikan pakaiannya.


Tidak lama kemudian dokter panggilan Sonya baru tiba.


"Tuan, maaf. saya terjebak macet," ucap dokter itu yang sambi lap keringatnya.


"Pergi dari sini sebelum aku meledakkan kepalamu!" bentak Leo dengan mengancam.


"Tuan, saya...."


"Aku tidak begitu bodoh harus membiarkan istriku menahan sakit hanya untuk menunggumu, pergi!" bentak Leo dengan kesal.


"Tuan, kalau dokter pergi bagaimana dengan nyonya?" tanya Sonya.


"Aku memiliki semua obat-obatannya, aku yang akan merawatnya. bawa dia pergi dari hadapanku!" jawab Leo dengan ketus.


"Baik, Tuan," jawab Sonya.

__ADS_1


"Jenice, kelihatannya kau sudah bosan hidup," ketus Leo di dalam hati.


__ADS_2