
"Tembak!" perintah salah satu pembunuh itu.
Dor...dor...dor...dor...dor...dor
Tembakan beruntun dari mereka yang mengarahkan seseorang di dalam ruang ganti itu."
"Hei, terima hadiah dari kami!" seru Leo dan Rose yang muncul dari belakang mereka dan melepaskan tembakannya.
Dor...dor...dor...dor...dor...dor
Tembakan serentak dari Leo dan Rose yang menembus mereka semua.
"Aarrghh..."
"Aarrghh..."
"Aaarrggh..."
Teriakan mereka yang terkena tembakan dan tumbang satu-persatu.
Puluhan pembunuh yang di serang oleh Leo dan Rose secara tiba-tiba tewas dalam sekejap.
"Leo, semua barang di sini hancur karena kita," kata Rose yang melihat ke setiap sisi toko itu yang hancur berantakan.
"Mereka adalah pembunuh yang gila," ujar Leo yang melihat sekitaran toko itu.
Leo lalu membuka gorden penutup ruang ganti itu dan melihat patung yang dia letakan di sana telah menjadi hancur akibat puluhan tembakan.
"Kita harus ganti rugi, karena kita semua barang di sini menjadi rusak begini, pihak toko mengalami banyak kerugian," ucap Rose.
"Mari kita cari pemilik toko!" ajak Leo yang memegang tangan istrinya.
Leo menemui pemilik toko yang sedang bersembunyi di bawah meja dan sedang ketakutan.
"Nyonya, apa kami baik-baik saja?" tanya Rose yang memapah wanita itu keluar dari bawah meja.
"Aku tidak apa-apa," jawabnya yang sedang gemetar.
"Hitung semua kerusakan ini! aku akan membayar ganti rugi!" pinta Leo dengan mengeluarkan black card dan meletakan ke atas meja kasir.
"I-iya," jawab wanita itu gugup.
Setelah membayar ganti rugi, Leo dan Rose meninggalkan toko itu dan kembali ke hotel mereka.
"Leo, seharusnya kita jangan keluar dulu, agar tidak terulang lagi kejadian tadi," kata Rose yang melangkah menuju ke kamar bersama suaminya.
"Besok aku akan menyelesaikan masalah ini," ujar Leo.
"Sudah sore, mari kita mandi dulu!" ajak Leo yang melepaskan dasi dan jasnya.
"Iya."
"Aku tidak menyangka kau bisa menguasai ilmu menembak dalam waktu yang dekat," ujar Leo yang melangkah menuju ke kamar mandi bersama istrinya.
"Kalau tidak begitu mana mungkin aku bisa di padankan denganmu," jawab Rose.
Keesokan harinya.
__ADS_1
Leo bersama Rose, Kian dan Ric menuju ke markasnya.
"Bos," sapa semua anggotanya dengan sopan.
"Mulai melakukan penyerangan singkat terhadap lawan kita!"perintah Leo pada semua anggota.
"Bos, semua senjatanya sudah di siapkan," kata salah satu anggotanya.
"Justin, bawa helikopter kita dan serang markasnya!" perintah Leo.
"Helikopter?" tanya Justin dengan heran.
"Muat bahan peledak ke helikopter dan lepaskan bahan peledaknya ke markas lawan! aku ingin mengunakan cara cepat untuk menghancurkan lawan," perintah Leo.
"Dengan cara begini maka anggota kita tidak akan ada yang terkorban," ujar Kian.
"Mereka tidak akan bisa membalas jika kita mengunakan helikopter," kata Ric.
"Lakukan sekarang dan harus bisa mengalahkan mereka dalam satu jam!" perintah Leo.
"Bos, berapa helikopter yang kita kirim?" tanya Justin.
"Sepuluh," jawab Leo.
"Baik," balas semua anggotanya dengan serentak.
Semua anggota Leo termasuk Kian dan Ric ikut dalam penyerangan ini. mereka memuat bahan peledak ke mobil mereka dan menuju ke tempat parkirnya helikopter.
Setelah tiba ke sana mereka memindahkan semua bahan peledak ke helikopter yang akan berangkat menuju ke utara untuk menghancurkan markas musuh mereka.
Setelah selesai muat bahan peledaknya, sepuluh helikopter berangkat menuju ke sasaran mereka. Leo dan Rose tidak ikut bersama. ia hanya percayakan kepada semua anggotanya itu.
"Dia pasti akan mati, mari kita pulang dan menunggu kabar baik dari mereka!" ajak Leo yang menghidupkan mobilnya.
Selama lima belas menit mengudara sepuluh helikopter akhirnya tiba ke tempat sasaran mereka, semua helikopter itu menjaga jarak agar tidak menarik perhatian lawan, satu-persatu melempar bahan peledak sarang lawan.
Duar...duar...duar...duar...duar...duar.
Bunyi ledakan markas yang menewaskan beberapa anggota Ryaden.
"Aaarrghh...." jeritan sejumlah anggota lawan yang tumbang satu persatu.
Helikopter itu bergantian melempar bahan peledak
"Cepat bersembunyi!" teriak salah satu anggota lawan.
Ryaden langsung berlari keluar dari markasnya dengan merasa cemas. lalu ia melepaskan tembakan ke arah helikopter itu.
Dor...dor...dor...dor...dor...dor...dor...
Tembakan Ryaden yang tidak tepat pada sasaran karena posisi helikopternya ketinggian.
"Tembak!" perintah Ryaden dengan nada tinggi.
Duar...duar...duar...duar...duar...duar.
Ledakan markas akibat lemparan dari helikopter.
__ADS_1
"Aaarrghh...." teriakan anggota Ryaden yang terkenal ledakan itu.
Duar...duar...duar...duar...duar...duar.
"Sia.lan, Leo Downson." teriak Ryaden yang menjauh dari ledakan itu.
Duar...duar...duar...duar...duar...duar.
Ledakan markas Ryaden yang mulai roboh.
Lemparan terus menerus membuat lawan tidak berkutik sama sekali tidak bisa membalas.
"Bunuh Ryaden!" perintah Kian pada pilotnya untuk mengejar langkah Ryaden yang mencoba kabur dari ledakan itu.
Musuh Leo yang melihat helikopter sedang mengejarnya ia berusaha mempercepatkan langkahnya, akan tetapi secepat apapun dia berlari helikopter itu dengan begitu cepat telah mengudara di belakangnya. Kian yang berada di dalam sana sambil melempar bahan peledakan berulang kali.
Duar...duar..
Bahan peledak yang jatuh ke tanah meledak dengan jarak yang dekat dengan Ryaden yang sedang berlari.
Duar...duar..
"Aarrhhkkkkk...." teriakan Ryaden yang terlempar jauh akibat terkena ledakan itu sehingga menyebabkan dia terluka parah dan berdarah di kepalanya.
Kian melempar lagi bahan peledak mengenai lawannya yang sedang terluka parah.
Duar...duar...
"Aaarrghh....," jeritan Ryaden yang terkena ledakan itu dan kemudian tubuhnya hancur berantakan.
Setelah berhasil menghancurkan markas semua anggota Leo kembali ke markas.
Hotel tempat tinggal Leo dan Rose.
"Sudah satu jam tidak tahu bagaimana dengan mereka?" tanya Rose yang sedang duduk di sofa
"Jangan cemas! kita mengunakan helikopter, mereka pasti kalah," jawab Leo dengan yakin dan sedang menuangkan minuman untuk istrinya.
"Baiklah, aku percaya padamu," jawab Rose yang bersulang dengan suaminya.
Sesaat kemudian nada dering berbunyi di handphone milik Leo.
Leo menjawab panggilan tersebut
"Hallo, Bos. musuh sudah tewas," sahut Kian yang di seberang sana.
"Hahahahaha...kerja yang bagus," jawab Leo dengan tertawa gembira dan kemudian memutuskan panggilannya.
"Sayang, besok kita bulan madu, malam ini cepat istirahat. karena besok pagi kita berangkat menuju ke carlifornia," ujar Leo dengan senyum dan bangkit dari tempat duduknya.
"Aku akan kemas barang malam ini," jawab Rose dengan senyum.
Saat Leo ingin melangkah tiba-tiba saja penglihatannya tiba-tiba buram sesaat.
"Leo, ada apa? kenapa kau terdiam? apa penyakitmu kambuh?" tanya Rose yang menyentuh wajah suaminya itu.
"Tidak apa-apa, hanya merasa mengantuk saja, temani aku tidur siang ya!"
__ADS_1
"Baiklah, apa kamu yakin baik-baik saja?" tanya Rose yang ingin memastikan kondisi suaminya itu.
"Iya, sayang. aku hanya ingin tidur saja," jawab Leo yang berusaha menyakinkan istrinya itu.