
"Aku tahu, hanya saja mereka memiliki kelompok yang cukup luas, dan lagi pula kau juga tahu, kalau orang yang di sisiku belum tentu bisa dipercaya sama sekali."
"Anda memiliki banyak pengawal dan juga agen rahasia, Anda bisa mengutus mereka untuk melakukan penyelidikan kasus ini," ujar Leo.
"Leo, diantara mereka ada yang ingin mengambil nyawaku, karena niat mereka adalah menginginkan posisiku," jelas pria tua itu.
"Anda adalah orang penting sehingga begitu banyak yang ingin membunuhmu. ini bukan pertama kali dalam tujuh tahun ini," ucap Leo.
"Diantara semua yang ku kenal, aku paling percaya padamu, hanya saja kau menolak menjadi salah satu pengawalku."
"Menjadi pengawal aku tidak bisa hidup bebas, dan hanya bisa berada di sisimu saja setiap saat. kau tahu siapa aku dan aku harus sering berpergian."
"Lebih enak hidup sepertimu, bebas ke mana pun yang kau inginkan, aku merasa iri dengan kehidupanmu."
"Hidupku penuh dengan situasi bahaya, nyawaku bisa melayang kapanpun dan di mana pun. jadi tidak perlu merasa iri terhadap kehidupan yang ku jalani," ujar Leo dengan senyum.
Setelah beberapa menit kemudian Leo meninggalkan gedung itu.
Pria yang bertemu dengan Leo secara diam-diam adalah orang yang sangat terpengaruh di negara itali.
Seorang pria bertubuh tinggi yang tak lain adalah pengawal pribadi yang selalu menemani ke mana pun ia pergi.
"Tuan, sudah waktunya kita pulang! tempat ini mulai di datangi pengunjung," ucap pengawalnya dengan hormat.
"Hm....,jawab pria tua itu yang bangkit dari tempat duduknya.
Ia di jaga ketat oleh lima belas pengawal andalan. mereka mendampingi bosnya berjalan ke arah mobilnya.
Mansion Leo.
Leo baru kembali ke mansion pribadinya yang di itali. saat baru turun dari mobil Leo di sambut oleh sejumlah anggotanya.
"Bos, selamat datang," sahut sejumlah anggotanya dengan hormat.
"Hm...."jawab Leo dengan cuek dan melangkah masuk ke dalam mansionnya.
"Bos, lapor," seru salah satu anggotanya.
"Katakan!" titah Leo yang menatap anggotanya itu.
"Bos, kelompok Varius beranggota sekitar ratusan. pihak Alord tidak berani menunjukan diri sama sekali. karena kalah dari jumlah."
"Tidak berguna sama sekali, putri semata wayangnya sedang dalam bahaya tapi dia malah memilih bersembunyi," ketus Leo yang merasa kesal.
"Bos, mungkin saja dia memang takut mati dan tidak ingin anggotanya tewas," kata Kian yang berdiri di samping Leo.
"Susun rencana dan langsung serang sarang mereka!" perintah Leo.
__ADS_1
"Baik, Bos," jawab Kian dengan menunduk.
New York.
Malam hari.
"Nona, silakan makan malam! lauk sudah hidangkan!" ucap Sonya dengan hormat.
"Terima kasih, Bi," ucap Rose yang sedang membaca majalah.
"Nona, jika Anda merasa bosan bisa keluar jalan-jalan, dan akan di temani oleh pengawal utusan tuan kami," ujar Sonya dengan sopan.
"Pengawal untuk apa?"
"Nona, tuan pesan setiap nona keluar harus ada yang melindungi Anda. untuk itu semua pegawal menunggu perintahmu, mereka akan mematuhimu," jawab Sonya dengan senyum.
"Bukankah ini sedikit berlebihan, aku juga bukan dari keluarga kaya raya, ke napa sampai di lindungi seperti ini," ucap Rose dengan heran.
"Ini hanya demi keselamatan nona saja," jawab Sonya dengan sopan.
"Bibi, apa Leo sering keluar berbisnis? bisnis apa yang dia jalankan?" tanya Rose.
"Mengenai ini saya tidak tahu, Nona. kami yang bekerja dengannya tidak berani bertanya hal ini."
"Iya, aku sudah paham, baiklah, Bi. aku hanya memikirkan ingin mencari pekerjaan," ujar Rose.
"Kenapa?"
"Nona, mengenai semua kebutuhan nona telah di sediakan oleh tuan, jadi nona jangan mencemaskan itu!"
"Tidak, Bi. bukan begitu. aku hanya merasa bosan kalau di rumah terus," ujar Rose
"Nona, tunggu saja kepulangan tuan baru beritahu dia! karena tuan pasti merasa tidak senang jika nona bekerja di luar."
"Aku akan menghubunginya besok," kata Rose yang meletakan majalah ke atas meja.
"Baik, Nona."
Keesokan harinya.
Jenice dalam masa berkabung mendatangi kediaman Leo. ia menghentikan mobilnya dan langsung keluar dari mobil. dengan penuh emosi ia pun melangkah ke dalam kediaman mewah mantan suaminya itu. saat ingin masuk ke dalam ia di hadang oleh dua pengawal Rose.
"Panggil Leo keluar! aku ingin bertemu dengannya!" teriak Jenice dengan mata berkaca-kaca.
"Bos kami tidak berada di sini, silakan pergi!" jawab salah satu pengawal.
"Tidak berada di sini? kalian ingin membohongiku?" ketus Jenice dengan kesal.
__ADS_1
"Bos memang tidak berada di sini, silakan pergi!" bentak mereka berdua.
Jenice yang merasa kesal memaksakan ingin masuk ke dalam, akan tetapi dirinya di tahan dua pengawal itu.
Tidak lama kemudian Sonya keluar dan berhadapan dengan mantan istri Leo.
"Nona Jenice, silakan jaga sikap Anda!" kata Sonya dengan tegas.
"Sikapku? memang kenapa dengan sikapku? aku hanya ingin bertemu dengan suami sendiri, apa aku salah?" tanya Jenice dengan kesal.
"Nona Jenice, tuan memang sedang di luar."
"Aku tidak percaya, aku tahu kalau dia ada di dalam dan tidak ingin bertemu denganku, bagaimanapun aku harus bertemu dengannya hari ini," bentak Jenice dengan kesal.
Saat Jenice sedang membuat keributan, Rose sedang memperhatikan dari lantai tiga. ia mendengar semua ucapan mantan istri Leo.
"Dia adalah istri Leo? kenapa bisa muncul di sini?"batin Rose.
"Biarkan aku masuk! jika aku tidak bertemu dengan dia aku tidak akan pergi," bentak Jenice yang mendorong Sonya.
Terjadinya saling dorong di antara Sonya dan Jenice.
Saat aksi saling dorong terjadi Jenice memandang ke lantai tiga, ia terdiam saat melihat seorang wanita cantik berada di dalam rumah mantan suaminya itu.
"Siapa dia? kenapa bisa ada wanita lain di sini?" tanya Jenice dengan kesal dan sambil menunjuk ke arah Rose.
"Nona Florencia adalah calon istri tuan kami," jawab Sonya.
"Calon istri? calon istri? apa kamu sedang bercanda? aku masih berstatus sebagai istinya, bagaimana dia bisa begitu cepat mencari penganti?" ketus Jenice.
"Nona Jenice, silakan pergi!" perintah dua pengawal dengan serentak.
"Dia membawa wanita sia.lan mana tinggal di rumah ini? tidak, sepertinya aku mengenal dia," ujar Jenice yang melihat ke arah Rose yang sedang menuruni anak tangga.
"Jaga mulutmu, Nona Jenice!" ketus Sonya dengan tegas.
"Memang dia memiliki apa sehingga bisa tinggal di sini?" tanya Jenice dengan emosi.
"Ternyata karena siluman rubah yang tinggal di sini, sehingga Leo menceraikanku," bentak Jenice yang memandang ke arah Rose yang sedang turun ke lantai dasar.
"Jaga mulutmu, Nona besar! jangan seenak dirimu menghina orang!" jawab Rose yang menghampiri wanita itu.
"Kau menjadi wanita perebut suami orang, dan masih berani berlagak sombong," ketus Jenice.
"Wanita perebut suami orang? apa aku sehina dirimu yang tidur dengan pria yang lebih muda di saat dirimu masih berstatus istri orang?" tanya Rose dengan menyindir.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1
Hai, kakak yang ikuti kisah Leo dan Rose. maaf semalam tidak sempat update. karena pindah barang dan bersihkan rumah.🙏🙏🙏🙏🙏🤗🤗🤗