
Rose yang merasa kesal lagi-lagi melayangkan pukulan keras mengenai hidung kakaknya.
Buk...
"Aarrghh...," jeritan Tommy yang merasa kesakitan dan mengeluarkan darah di hidungnya.
"Hei, apa yang kau lakukan?" teriak Claudia pada Rose.
"Hidungku patah," erangan Tommy yang merasa kesakitan.
"Sepatah kata lagi yang keluar dari mulutmu, aku akan tanggalkan gigimu," kecam Rose dengan kesal.
"Edward Hamilton, apa yang kau ingin lakukan?" tanya Rose yang menatap kesal pada pria tua itu.
"Rose Florencia, hari ini kau akan merasakan apa yang istriku rasakan sebelumnya, Leo Downson berani menentang aku. dia tidak tahu siapa aku sebenarnya. dan kini aku ingin melihat apa dia masih menginginkanmu di saat kau sudah di nodai," ketus Edward.
"Hahahahaha....Edward Hamilton, aku tidak akan takut dengan ancamanmu, keluarga Hamilton tidak ada yang baik, anakmu sudah tewas dan cucumu juga sudah tewas. istrimu juga sudah digilir beberapa orang pria, tapi kau masih saja berani melakukan perbuatan jahat. apa kau tidak takut mendapat balasan lagi," kata Rose yang bersikap tenang.
"Sudah sampai saat ini kau masih saja bersikap sombong," ketus Edward.
"Edward Hamilton, lepaskan kami! ini adalah urusan mu dengan anak durhaka ini. tidak ada hubungan dengan kami. dia juga bukan putri kami lagi," kata Kian yang berharap bisa melepaskan dirinya.
"Benar apa yang di katakan oleh suamiku, sejak kami jual dia kepada keluarga kalian, dia bukan lagi bagian dari kami. jadi, lakukan saja apa yang kalian mau," lanjut Claudia.
"Kalian adalah orang tua yang sangat memalukan, aku menyesal karena di lahirkan oleh wanita sepertimu. dan memiliki keluarga seperti kalian," ketus Rose yang merasa kesal terhadap mereka.
"Perk*sa saja pelac*ur ini sehingga dia mati, wanita kotor," bentak Tommy yang hidungnya mengeluarkan darah.
Rose yang merasa kesal langsung melayangkan tinjunya ke wajah kakaknya itu.
Bruk...
"Aarrghh....," jeritan Tommy yang kesakitan. pukulan keras dari Rose sehingga menanggalkan beberapa gigi Tommy.
"Hentikan! jangan pukul anakku!" bentak Claudia.
"Anakmu ini mulutnya harus di jaga, oleh karena itu aku harus menanggalkan giginya," ujar Rose.
"Jangan membuang waktuku lagi! kalian lakukan apa yang harus kalian lakukan!" perintah Edward dengan tegas.
"Edward Hamilton, kau akan menyesal jika berani menyakitiku," bentak Rose dengan kesal.
Delapan anggota Edward menghampiri Rose dan sambil melepaskan baju mereka, niat Edward ingin wanita itu di nodai oleh delapan anggotanya itu.
Saat delapan pria itu menghampiri Rose, Rose langsung melayangkan pukulan ke wajah salah satu anggota Edward.
Bruk...
__ADS_1
Pukulan dari Rose mengenai wajah pria itu. dan kemudian Rose langsung menendang bagian bawah anggota Edward yang lainnya.
Buk..
"Aaarrghh....,"
"Tangkap dia!" perintah Edward pada anggotanya.
Dor...dor...dor...dor...dor...
Tembakan tiba-tiba yang di lakukan oleh Leo yang mengenai delapan anggota Edward yang ingin menghampiri Rose itu.
"Aaarrrggghhh..." jeritan mereka dengan serentak dan kemudian tewas tak tersisa.
Edward yang melihat anggotanya tewas di bunuh ia merasa terkejut dan langsung melihat ke arah luar.
"Edward Hamilton, tanpa persetujuanku kau berani sekali menyentuh calon istriku, apa kau sudah bosan hidup?" kata Leo yang melangkah masuk bersama Kian.
"Kau...."
"Kenapa, apa kau tidak menyangka bahwa aku akan muncul di sini?" tanya Leo yang menghampiri pria tua itu.
"Rose, apa kau baik-baik saja?" tanya Leo yang menatap ke arah calon istrinya itu.
"Aku tidak apa-apa, aku tidak menyangka burung gereja akan datang menyelamatkanku," jawab Rose dengan sengaja mengejek.
"Lihat saja nanti burung gereja akan menghabisimu," kata Leo dengan merasa kesal.
"Aku masih ada kejutan lainnya, lihat saja sebentar lagi!" jawab Leo yang merangkul pundak wanitanya.
"Edward Hamilton, sebentar lagi kau akan ada tontonan menarik," ujar Leo dengan senyum.
"Apa maksudmu?" tanya Edward dengan nada kesal.
Setelah beberapa saat kemudian Ric tiba di depan gudang bersama anggotanya.
Saat mereka menghentikan mobilnya anggota Ric menarik Joice keluar dari mobil dan mendorongnya masuk ke dalam gudang tersebut.
"Joice..." teriak Edward yang merasa hampir tidak percaya melihat istrinya menjadi tahanan mereka.
"Edward," teriak Joice yang berlari ke arah suaminya itu.
Saat ia ingin menghampiri suaminya, langkahnya di hentikan oleh Kian. pengawal Leo menahan lengan wanita tua itu dengan erat.
"Apa yang kau lakukan? lepaskan dia!" bentak Edward pada Kian.
"Leo Downson, apa yang kau lakukan?" tanya Edward dengan nada kesal.
__ADS_1
"Edward, mereka telah menghancurkan rumah kita, mobil dan semua barang sudah di hancurkan," ujar Joice yang sedang ketakutan.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Edward dengan ketus.
"Karena kau membawa pergi wanitaku, mana mungkin aku harus diam saja," jawab Leo dengan senyum.
"Ric!" panggil Leo yang memberi kode dengan jarinya.
Ric yang telah mengerti perintah dari bosnya ia pun memberi perintah pada anggotanya.
"Lakukan apa yang harus kalian lakukan!" perintah Ric pada anggotanya.
Anggotanya membawa beberapa pria asing masuk ke dalam gudang. pria asing itu di upah oleh Leo untuk membantunya membalas perbuatan Edward.
"Siapa mereka?" tanya Edward.
"Mereka adalah pria yang akan melayani istrimu," jawab Ric.
"Apa? tidak...tidak mau," teriak Joice yang meronta berusaha ingin melepaskan pegangan Kian.
"Lakukan!" perintah Leo dengan tegas.
"Jangan sembarangan!" bentak Edward yang ingin melawan akan tetapi ia langsung menerima pukulan dari Leo.
Bruk...bruk...
"Aarrrghh...," jeritan Edward yang sedang kesakitan di bagian wajahnya.
"Rose, mari kita pergi!" ajak Leo yang merangkul pinggang wanita itu.
"Hei, lepaskan kami!" teriak Claudia.
"Bos, bagaimana dengan mereka?" tanya Ric pada bosnya.
"Sayang, bagaimana dengan mereka?" tanya Leo yang melihat ke arah keluarga Florencia.
"Biarkan saja! aku tidak peduli dengan mereka," jawab Rose dengan santai.
"Lepaskan kami, cepat! semua ini karenamu juga kami di kurung di sini. dan Tommy juga terluka karena ulahmu," bentak Claudia.
"Kalian berharap aku di gilir oleh mereka, dan sekarang kalian berharap aku melepaskan kalian. jangan berharap aku akan bermurah hati padamu," ketus Rose yang merasa kesal.
"Rose Florencia, jangan lupa aku adalah papamu," bentak Kian pada putrinya.
"Papaku? sekarang kau mengatakan ini, bukankah sudah terlambat? tadi kau tidak mengatakan bahwa kau adalah papaku. kau tidak peduli saat aku dalam bahaya. dan aku juga tidak akan peduli pada kalian," ketus Rose dengan tegas.
"Mari kita pergi! urusan sini biarkan Ric yang mengurusnya!" ajak Leo yang melangkah pergi bersama Rose.
__ADS_1
"Ric, kau tunggu sehingga mereka selesai melayani wanita tua itu, sementara pria tua ini kalian paksa dia melihat tontonan itu!" perintah Leo pada Ric dan kemudian melangkah pergi.
"Baik, Bos," jawab Ric dengan menurut.