
Su Qiang membawa Ah Yue terbang ke suatu tempat hingga ia menemukan sebuah Danau yang bening airnya, dan dikelilingi hamparan rumput hijau yang memanjakan mata.
Danau tersebut disebut Danau Kaca, danau yang hampir bisa untuk berkaca karena air yang sangat jernih. Danau yang hanya setinggi lutut kini di penuhi ribuan ikan hias warna warni, sehingga membuatnya semakin indah.
"Wahh, indahnya..".
"Apa Kau suka Yue'er?". Tanya Su Qiang .
"He'em... Indah sekali... Dari mana kau tahu tempat ini ?".
"Emmm, dari dulu". Jawab Su Qiang dengan senyum lebarnya.
"Kauu ini, kebiasaan ".
Ah Yue dengan gemasnya mencubit Su Qiang hingga kesakitan , kemudian mereka saling kejar kejaran dan saling membalas kejailan satu sama lain.
Ada rasa aneh di dalam hati mereka, rasa yang sayang dan tidak ingin meninggalkan atau pun di tinggalkan kini mulai muncul di benak mereka. Terutama Rasa ingin memiliki yang selama ini di pendam dan sesekali di tepis malah semakin lama semakin sulit untuk di elakkan.
Karena lelah berlarian mereka pun tidur diatas rumput hijau di pinggir danau untuk menikmati suasana asri di tempat itu.
Ah Yue menoleh ke arah Su Qiang yang kini tidur di sampingnya, ia memperhatikan dengan seksama wajah tampan kekasihnya itu hingga tanpa ia sadari tangannya mengusap lembut pipi pria tampan itu, hingga Sang pria menoleh dan tersenyum ke arah Ah Yue.
Ah Yue yang di tatap oleh Su Qiang, kini menjadi salah tingkah hingga meninggalkan pipinya yang merona malu.
Su Qiang mengubah posisinya menjadi tengkurap di sisi Ah Yue, dengan tangan menyangga kepalanya yang masih menatap Ah Yue yang tengah menahan malu.
"Yue'er, maukah kau menjadi istriku?". Tanya Su Qiang.
"Kau bilang apa? aku tidak mendengar". Goda Ah Yue.
"Apakah Dewi Ah Yue mau menjadi Istriku? menjadi pendamping hidupku?". Tanya Su Qiang dengan suara yang lebih keras.
Ah Yue tertawa pelan dan kemudian menganggukan kepalanya tandanya ia mau menerimanya.
"Kenapa hanya mengangguk Yue'er?".
"Hh bukankah tadi kau sudah bilang dengan ayah jika lusa kau akan melamarku. Jadi aku pun tidak akan bisa menolaknya kan". Jelas Ah Yue.
"Hmm kau benar, apakah kau mau berendam di danau kaca itu Yue'er?".
"Tidak, aku tidak ingin berendam di depan pria yang belum sah menjadi suamiku". Jawab Ah Yue tersenyum menggoda.
"Huh, kau ini.. Hmm bagaimana kalau kita pergi untuk memetik buah?".
__ADS_1
"Kemana?".
"Ulurkan tanganmu, aku akan menunjukkan padamu tempat yang indah lainnya".
Ah Yue pun mengulurkan tangannya yang kemudian di raih Su Qiang dengan lembut. Mereka pun terbang ke tempat yang tak jauh dari danau kaca itu.
Terlihatlah hamparan pohon yang di tata rapih dengan angin semilir di sekitarnya membuat wangi dari pepohonan itu begitu semerbak.
Mereka terbang lebih rendah hingga terlihatlah banyak jenis Buah Buah spiritual yang menggantung di dahan dahan pohon pohon itu.
Mereka berdua segera mendaratkan kakinya di tanah untuk segera menghampiri pohon pohon yang berbuah dengan harumnya.
"Wahh harum sekali, baru kali ini aku melihat buah spiritual yang begitu harum". Ucap Ah Yue sembari menghirup dalam dalam wangi buah buahan itu.
"Nona eh maksudku Dewi, ambilkan kami beberapa. Kami juga ingin mencicipinya". Ucap Qiqi dari dalam dunia artefak.
"Kau tunggulah, biarlah Su Qiang yang memetiknya untuk kita". Ucap Ah Yue sembari melirik Su Qiang di sampingnya.
"Yue'er ingin buah itu?".
"Hmm apa kau bisa memetiknya, mungkin sedikit lebih banyak?". Ah Yue pun malu malu meminta su Qiang untuk memetikkan buah spiritual itu.
Tanpa menunggu lama dengan sangat cepat Su Qiang pun berhasil memetik setumpuk buah spiritual dengan beragam jenis dan rasa hingga membuat Ah Yue melongo karena terkejut.
"Ahh tidak, ini sudah lebih dari cukup. Terimakasih ya". Kemudian Ah Yue segera menyimpan buah tersebut ke dunia spiritualnya serta menyisakan beberapa untuk ia makan dan Su Qiang.
"Ini, kau makanlah". Ucap Ah Yue sembari menyodorkan buah spiritual berwarna ungu seperti apel .
"Kau saja Yue'er, ".
"Aku bilang makan ya makan!". Ah Yue yang jengkel memaksa Su Qiang untuk ikut memakannya.
"Baiklah".
Matahari telah perlahan akan menghilang, Su Qiang mengantarkan Ah Yue hingga ke kamarnya dan kemudian segera pergi untuk mempersiapkan hadiah pertunangan yang akan ia berikan pada calon istrinya.
....
Malam hari di Kediaman Dewa Su Qiang.
Tok.. Tokk. tokk
Terdengar suara seseorang mengetuk pintu di luar Kamar Su Qiang.
__ADS_1
"Masuklah". Singkat Su Qiang.
" kenapa anda belum Istirahat Dewa Qiang?". Tanya Penjaga bayangan setianya.
" Masih ada beberapa hal yang belum terselesaikan".
"Kalau begitu, ijinkan Bawahan mengatakan Informasi kepada Anda Yang Mulia Dewa".
"Katakan".
"Dewi Hujan Liu Jingyi telah kembali , dan Paman anda berencana membuat Dewi itu menjadi selir anda". Jelas penjaga bayangan itu.
Su Qiang pun menghentikan membaca dokumen yang kemudian meletakkan asal di atas meja .
"Kenapa dia kembali?".
"Maaf Dewa, Dewi Hujan dengan sengaja diundang oleh paman anda untuk segera kembali karena mendengar anda akan melamar Dewi Ah Yue".
"Ck, licik sekali Tua bangka itu". Gumam Su Qiang sambil mengepalkan tangannya.
"Kau awasi Tua bangka itu, dan ingat segera laporkan apapun yang akan ia rencanakan". Titah Su Qiang.
"Baik Yang Mulia Dewa , kalau begitu Bawahan ini pamit dulu".
"Pergilah". Singkat Su Qiang.
Setelah penjaga bayangannya pergi ,ia berjalan perlahan menuju jendela kamarnya yang terbuka.
Su Qiang memejamkan matanya sembari berfikir akankah pernikahan dengan Sang kekasih akan berjalan lancar. Dan mengapa banyak sekali rintangan yang ia hadapi setelah ia menemukan kembali Pujaan hatinya walaupun harus turun kedunia bawah.
Rasanya ia merindukan Keluarganya dari Dunia Bawah, yang sangat peduli padanya tidak seperti Sang Paman Su Caihong yang lebih tepatnya adik dari Ayahnya yang telah meninggal.
Su Qiang kini hanya tinggal dengan sang paman karena keluarganya telah meninggal ribuan tahun lalu, jadi pernikahan atau semacamnya Pamannyalah yang bertanggung jawab semua.
Pagi harinya...
Su Qiang dengan langkah begitu anggun berjalan menuju Tempat Sang Paman Su Caihong untuk menanyakan sesuatu yang penting, hingga tak sengaja Ia berpapasan dengan Dewi Hujan Liu Jingyi di lorong kediaman yang sama sama akan menuju tempat sang Paman .
"Salam Dewa Perang Su Qiang". Sapa Liu Jingyi dengan sopan.
"Hmm". Singkat Su Qiang yang masih saja berjalan tanpa menghiraukan Dewi Hujan itu dengan kedua pelayannya.
"Dewi, kenapa Dewa Qiang begitu dingin padamu?". Tanya pelayan Dewi Hujan.
__ADS_1
"Dia selalu seperti ini dari dulu, kali ini aku akan membuatnya berpaling padaku". Jawab Liu Jianyi dengan irih.