
Ah Ying yang sudah selesai sarapan kini bersiap untuk keluar dari kediaman yang tersembunyi itu, dia berjalan perlahan menyusuri lorong menuju pintu gerbang arah keluar kediaman, tetapi Penjaga Pintu tidak mau membukakannya karena memang sudah perintah dari Su Lian semata.
"Ahh sialan kalian, aku hanya ingin berjalan jalan saja. Toh nanti aku juga akan kembali kesini". Gerutu Ah Ying sembari memanyunkan mulutnya .
"Tapi Dewi, Dewa Qiang bilang anda tidak diperbolehkan keluar tanpa bersamanya".
"kalau begitu dimana orang itu?". Tanya Ah Ying.
"Dewa Qiang baru keluar bersama bawahannya Dewi". Jawab penjaga gerbang itu.
"Yasudah, aku akan kembali kedalam. Jika Dewa mu itu kembali, bilang dengannya kalau aku tidak mau ditemuinya".
"Baik Dewi".
"Bagus.. Lanjutkan tugasmu itu".
Ah Ying dengan kesal pun terpaksa berjalan kembali ke kamarnya karena tidak bisa keluar dari kediaman itu.
Dia merebahkan kembali tubuhnya di Ranjang besar di kamar, tanpa ia sadari sedari tadi ternyata sudah ada sosok Pria tampan yang sedang duduk bersantai di sisi ranjang lainnya dan dengan tenang memperhatikan tingkah laku Ah Ying.
"Huh, menyebalkan, awas saja kau Su Lian atau Su Qiang .. ahh terserah siapa namamu.. kalau kau kembali akan ku cabik cabik wajahmu.. Aaaaaawwwwww". Ucap Ah Ying yang begitu kesal, hingga ia disadarkan oleh tangan pria yang mencubit pipinya dengan lumayan keras.
"Awww sakitttt tauuu". Ucap Ah Ying lagi sembari mengusap pelan pipi putihnya itu.
"Bukankah kau tadi bilang ingin mencabik cabikku Ying'er?". Tanya Su Lian.
"Ehh.. adanya aku bilang begitu?". Jawab Ah Ying pura pura tidak tahu. Tetapi Su Lian kini malah tersenyum lebar melihat tingkah menggemaskan dari ah Ying.
"Tentu saja kau bilang begitu. aku mendengar semua yang kau ucapkan Tau ". Bisik Su Lian di telinga Ah Ying yang sedang rebahan di sampingnya, hingga membuat wajahnya merona seperti kepiting rebus.
"Dasar tukang menggoda". Ah Ying mendorong pelan wajah Su Lian yang berada tepat di samping telinganya hingga membuat Su Lian tertawa terbahak bahak saat melihat merahnya wajah Ah Ying saat ini.
"Hahha.. Kau sangat menggemaskan Ying'er".
"Menyebalkkkkkaaaannnnnn". Teriak Ah Ying sembari memukuli lengan Su Lian.
__ADS_1
Ah Ying yang semakin merona kini memilih mengalah dan diam membelakangi Su Lian yang tengah memperhatikannya. Ia pun segera berpura pura terpejam .
"Ying'er , bukankah tadi kau ingin keluar?". Tanya Su Lian.
"Itu kan tadi, sekarang sudah tidak berminat". Jawab Ah Ying yang masih memejamkan mata.
"Yang benar? padahal tadi ada Festival Bulan seribu".Ucap Su Lian yang semakin menggoda Ah Ying.
Ah Ying yang mendengar Festival Bulan Seribu pun segera membuka matanya yang kemudian berbalik berhadapan dengan Su Lian dengan mata berbinar.
"Sudah sangat lama aku tidak ikut merayakan Festival Favoritku, Lian... ". Ucap Ah Ying dengan nada manja yang begitu menggemaskan.
Su Lian yang melihat Ah Ying yang sudah berubah pikiran dengan sekejap, Segera terbangun dan bersiap untuk berjalan jalan dengan Kekasih lamanya itu.
(Festival Bulan Seribu: Adalah Festival yang biasanya diadakan di Dunia Atas untuk memperingati Keagungan Yang Maha).
"Lama sekali, sudah ratusan tahun aku tidak ikut andil dalam Festival". Gumam Ah Ying.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita ikut andil di dalam Festival kali ini?". Tanya Su Lian.
"Pakai ini, itu akan menyamarkan siapa diri kita sebenarnya". Ucap Su Lian sembari memberikan dua topeng yang indah untuk Ah Ying dan dirinya sendiri.
Setelah selesai, mereka pun segera keluar kediaman dan berjalan jalan menikmati Festival Bulan Seribu tersebut. Ada pertunjukan para Dewa Dewi yang mempertontonkan kemampuannya, ada juga ribuan makanan yang tertata rapi di pinggir jalan utama yang siap untuk dicicipi semua orang karena Di Dunia Atas tidak ada yang namanya Jual Beli atau uang, karena mereka bisa membuat semuanya sendiri. (Soalnya kan Dewa Dewi dan para warga dengan gelar Dewa Dewi tingkat Lima).
Ah Ying begitu menikmati Suasana Festival hingga tidak memperhatikan bahwa ada yang mengawasi dari jauh. Sedangkan Su Lian yang menyadarinya segera membawa Ah Ying menjauh dari kerumunan .
"Kenapa kau menarikku ke tempat Sepi?". Tanya Ah Ying.
"Sssttt... ada yang mengikuti kita" Bisik Su Lian sembari mendekap Ah Ying di dalam pelukanya .
"Sial, dimana Gadis itu , kenapa cepat sekali menghilang?!!". Ucap sosok Pria berjubah merah itu.
"Mungkin mereka bersembunyi Master". Jawab Pria Lainnya.
"Ck, dasar seperti anak kecil bisanya bersembunyi. Lihat saja aku akan menemukanmu Hahahaha". Ucap Pria itu sembari tertawa keras.
__ADS_1
Su Lian dan Ah Ying yang berada di balik dinding itu hanya terdiam sambil mendengarkan percakapan mereka yang menjijikan itu.
Para Pria berbaju merah itu segera mengeluarkan elemen kegelapanya untuk mendeteksi keberadaan Su Lian dan Ah Ying. Tanpa waktu Yang lama akhirnya mereka menemukan Ah Ying dan Su Lian.
"Hahahahha, sudah kubilang, kalian tidak bisa bersembunyi seperti anak kecil.. Cuihhhh...." Ucap Lelaki itu sembari berjalan mendekati mereka berdua.
"Kultivator Hitam". Gumam Su Lian.
"Bagus,, bagus, ternyata kalian mengenal kami Hahah jadi tidak perlu berkenalan". Ucap Pria itu dengan bangganya.
"Siapa yang membayar kalian?". Tanya Su Lian dengan dingin.
"Kalian tidak perlu mengetahui siapa yang memerintah kami, yang jelas Tuan kami meminta kami untuk menangkap kalian hidup hidup.
"Dasar pecundang, ". Ucap Ah Ying membuat para Pria berjubah merah itu geram mendengar ucapan Ah Ying.
"Cepat serang mereka dan bawa gadis itu kepada Master".Perintah salah satu Pria berjubah itu.
Adu pedang tidak terelakan, Ah Ying dan Su Lian kini menggunakan pedang pemberian Tetua Ji saja karena mereka tidak ingin identitasnya di ketahui oleh orang orang Dunia Atas saat ini.
Ah Ying dan Su Lian dengan Lihainya menangkis pedang para pria berjubah merah itu dengan mudah, Hingga akhirnya salah satu pedang mengenai lengan Ah Ying hingga jatuh tersungkur.
"Awww... Siall!!! pedang itu beracun".Ucap Ah Ying.
"Ying'er kau tidak apa apa?". Tanya Su Lian khawatir.
"Tidak cukup baik". Singkat Ah Ying sembari menunjukkan lengan yang kini sedikit menghitam.
"Racun, berikan tanganmu..".
"Ayo kita pergi, gadis itu sudah terkena racun mematikan Raja kita. Kita harus segera melapor". Ucap salah satu pria berjubah itu lalu segera pergi meninggalkan mereka berdua.
Ah Ying yang merasakan tangannya yang sakit akibat racun kini tak sadarkan diri karena Racunya melumpuhkan dantiannya secara perlanan.
Su Lian dengan Sigap segera membawa Ah Ying ketempat Tetua Ji untukk menanyakan Jenis Racun yang mengenai Ah Ying.
__ADS_1