
Setelah selesai menghadri undangan kaisar, Ah Ying dan Qiqi segera pergi bersama pelayan kembar pribadinya.
Mereka segera melewati lorong lorong istana menuju gerbang tempat kereta kuda mereka di parkirkan.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di gerbang tersebut yang disambut ramah oleh penjaga pintu gerbang.
"Silahkan nona, terimakasih telah berkunjung". ucap salah satu penjaga gerbang.
Ah Ying pun mengangguk kemudian segera berjalan menuju kereta kudanya.
"Apa tidak kebetulan sekali Nona Ying itu anaku?". Tanya Ibu Suri.
"Aku juga kurang yakin ibu tapi ceritanya tidak ada tanda mereka sedang berbohong, bukankah ibu juga tahu saat dia berbicara ada raut ketakutan yang mendalam,dan tidak ada rasa dendam".
"Mungkin kau benar".
Saat mereka berdua sedang sibuk membahas kedua nona muda yang baru saja pergi , Dari balik pintu terdengar suara langkah kaki yang perlahan memasuki Ruangan dimana Kaisar Hao dan Ibu Suri berada.
"Salam kepada Ibu Suri dan Kaisar Hao semoga diberkahi umur panjang".
"Ah ternyata kau Su Lian, sudahlah jangan terlalu sopan terhadap ibu dan saudaramu ini,". Ucap ibu Suri dengan nada yang seperti perhatian kepada Su Lian tetapi sebaliknya.
"Maafkan Saya Ibu Suri, Saya sudah berjanji kepada kakak agar tidak memanggil ibunda dengan sembarangan". Ucap Su Lian sembari matanya melirik Su Hao yang mendengus kesal saat melihat Adiknya itu.
"Sudahlah tak apa, Ada apa kau kemari Su Lian?" Tanya Su Hao tanpa embel embel adik.
"Aku hanya mampir karena mendengar ada dua nona cantik yang mendatangi undangan Sang Kaisar jadi aku kesini untuk melihat gadis mana yang berhasil menarik perhatian Gege ku ini,". Ucap Su Lian sedikit menggoda sang kakak.
"Seorang dari Kekaisaran Luo , sayangnya dia bercadar , tetapi jika dilihat dari kulit putihnya mungkin mereka gadis yang cantik". Ucap Su Hao sembari membayangkan wajah gadis bercadar yang tadi datang keistananya .
"Mereka memang cantik , bahkan Ying'erku adalah yang tercantik, kecantikannya bak seorang Dewi". Jawab Su Lian sembari tersenyum manis membayangkan wajah Ah Ying.
"Apa maksudmu memanggil nona Ying dengan sebutan Ying'er?". Tanya Su Hao dengan nada tidak senang.
" Heh, Gage apakah kau tahu? Aku yang lebih dulu mengenal Ying'er bahkan sebelum kau lahir, dan apa kau tahu? Kecantukan Ying'er tidak ada yang bisa menandinginya karena dia mempunyai kecantikan abadi Sang Dewi". Kata Su Lian panjang lebar.
Su Hao yang mendengarnya kini berwajah merah kusam karena menahan amarahnya, karena adik yang tidak diinginkannya lebih cepat mengenal gadis yang akan dijadikan calon selir atau malah permaisurinya.
Ibu suri yang melihat anak kesayanganya seag menahan amarahnya kini juga menunjukan rasa ketidaksukaannya kepada Su Lian tetapi dengan nada yang lembut.
__ADS_1
"Suahlah Su Lian , kau pergilah dahulu biarlah Gege mu ini beristirahat, dan untuk masalah nona Ying ibu berharap kau merelakannya untuk kakakmu". Ucap Ibu suri.
Su Lian pun hanya tertawa sinis melihat ibu dam anak di depannya yang sangat pandai berakting itu.
"Apa aku harus mengalah untuk kakakku lagi ibunda? Untuk kali ini aku tidak akan mengalah bahkan jika harus berperang melawan kalian sekalipun".
"Kauuu..... Beraninyaa". Ucap Su Hao yang sudah meledak ledak amarahnya kepada sang adik.
"Su Lian, kenapa kau berubah sekarang? apa kau tidak ingin melihat kakakmu bahagia?". Kata Ibu Suri yang jelas jelas membela Su Hao.
"Apakah Ibunda pernah memikirkanku sekali saja, dari dulu aku selalu mengalah untuknya, dari masalah pendidikan yang tidak pernah aku jalani tetapi dia mendapatkan pendidikan yang tinggi sedangkan aku??!! Aku tidak berpendidikan , Dan untuk pakaian, tempat tinggal aku selalu mengalah, untung saja aku lebih pintar dari dia, walaupun aku tidak berpendidikan aku masih bisa melebihinya, walaupun aku tidak mempunyai pakaian yang mewah tapi aku masih banyak yang segan daripada dia, dan asal Ibunda dan Gege tahu , Aku tidak akan pernah mengalah sedikitpun karena Ying'er akan menjadi istriku cepat atau lambat!!". Ucap Su Lian dengan tegas dengan nada bergetar dan dengan meneteskan air bening dari pelupuk matanya.
Amarah Su Lian yang menggebu membuat Ibu dan Anak itu terdiam sesaat mencerna kata kata Su Lian.
Su Lian yang selama ini dikata bodoh tak berpendidikan nyatanya sekarang dia mengutarakan dengan gamblang di depan orang yang hanya berpura pura sayang padanya bahwa dia lebih mumpuni dari segi apapun dibandingkan sang kakak, Jika Su Lian tidak mengalah saat perebutan tahta mungkin dia yang menjadi Kaisar negara Qin.
"Cukup Su Lian!! Kau benar benar keterlaluan!! beraninya kau membentak ibu dan menyalahkan kakakmu".
"Heh, sejak kapan kau menganggapku anakmu?"
Su Lian tersenyum sinis melihat Ibu Suri yang masih menyangkal dan ingin mendapatkan pembelaan tersebut.
Tetapi Su Lian yang sudah memperkirakan segera mengumpulkan Qi di lengan bajunya , dan bersiap mengambil pedang kesayangannya dari cincin penyimpanannya.
"Kau.. Su Lian ,, kau akan menyesal karena telah memprovokasiku!!!". Teriak Su Hao yang kemudian menyerang Su Lian dengan telapak tangan yang sudah di penuhi Qi berwarna Ungu yang menandakan Su Hao berelemen petir.
Baaannngggg.....
Suara pertemuan Qi terdengar memenuhi ruangan, Su Hao terpental cukup jauh begitupun Su Lian. Tetapi Su Lian masih berdiri dengan tenang berbeda dengan Su Hao yang tiba tiba memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya , membuay sang ibu panik dan ingin membantunya melawan Su Lian.
"Kau sungguh keterlaluan anak durhaka!!!".
Swushhh..
Elemen Angin dari telapak tangan Ibu Suri melesat sangat cepat kearah Su Lian yang berdiri dengan tenang.
Satu tangan Su Lian melambai beriringan Angin tersebut yang hampir mengenainya seketika menghilang.
"Apa!!? tidak mungkin... Kauu ... kau... bukankah kau tidak pernah belajar seni beladiri dan kultivasi, bagaimana bisa?". Kata Ibu suri terbata bata , dengan rasa tidak percayanya melihat Su Lian yang tidak pernah belajar apapun kini dengan mudah melawan mereka dengan tingkat kultivasi di ranah Raja Tingkat puncak/5.
Tanpa mereka ketahui bahwa Su Lian sudah berada di Ranah Surga Tingkat 2 yang berarti dia sudah mendapatkan kebadian seorang Dewa.
__ADS_1
"Apakah Ibunda masih tidak percaya bahwa aku jauh lebih berbakat dari Anakmu itu?".Ucap Su Lian dengan nada dinginnya membuat Ibu Suri tiba tiba bergidik ngeri melihatnya.
Anak si*L*n ini, kenapa dia bisa sekuat ini?
Ini tidak bisa di biarkan , bisa bisa posisi Su Hao sebagai kaisar Qin akan benar benar tergantikan, aku harus melakukan sesuatu!. Gumam ibu suri dalam hati.
"Ayo Su Hao kita pergi, tidak usah meladeni anak durhaka itu". Ucap Ibu Suri sembari memapah Su Hao yang semakin lemas.
"Ying'er aku akan membantumu membalaskan apa yang telah mereka perbuat terhadap keluargamu di dunia fana ini". Ucap Su Lian yang kemudian ikut pergi meninggalkan ruangan Kaisar Hao itu.
......................
Baaaannngg...
Suara dentuman terdengar dari dalam Ruangan sang Kaisar membuat Ah Ying berhenti berjalan dan menoleh kearah tempat tersebut.
"Apa kau dengar Qiqi? sepertinya ada seseorang yang berkelahi".
"Aku mendengarnya nona, mungkin ada yang memperebutkan nona hihi". Ucap Qiqi yang malah menggoda Ah Ying.
"Heiii maksudmu apa Qiqi, apa hubungannya denganku? aku saja berada disini, kau sangat menyebalkan".
"Hahah nona, sudahlah aku hanya bercanda, lebih baik kita segera pergi dari sini bukankan ini hari Festival musim dingin".
"Yaa kau benar,, Ayo kita pulang dan biarkan orang orang itu berkelahi yang terpenting bu..... Hasssyiiiu.. Hasssyyiiuu".
"Nona kenapa kau tiba tiba bersin bersin?". Tanya Qiqi sambil memiringkan kepalanya untuk meluhat wajah Ah Ying.
"Entahlah mungkin ada yang membicarakanku".
"Nahhh benar kan, mereka berkelahi karena kau". Kata Qiqi sedikit meninggikan suaranya membuat Ah Ying dan Kusir serta dua pelayan kembar kaget mendengarnya.
"Sudah kubilang tidak ada hubungannya denganku,ihh".
Qiqi pun tertawa disusul kedua pelayan yang ikut tertawa melihat sang Nona marah dengan ekspresi yang begitu lucu.
"Sudahlah, ayo kita pulang membersihkan diri dan kembali ke alun alun untuk melihat festival".
"Baiklah nonaa".
Mereka segera menaiki Kereta kuda dan segera pergi meninggalkan Istana Kekaisaran Qin dengan cepat karena hari semakin sore dan akan petang.
__ADS_1