
Arai pelindung sudah siap, Ah Ying segera memasuki kamarnya untuk merebahkan badannya yang lelah. Sambil menatap langit langit kamar, Ah Ying perlahan mulai memejamkan matanya.
Pagi hari menjelang penyerangan Sekte Naga putih akhirnya telah tiba. Kakek Wu Yen dan para tetua telah selesai memasang arai dan beberapa ilusi di sekitar Sekte. Disaat kakek Wu akan memeriksa pintu depan Sekte dia melihat Chen Feng dengan gelagat yang mencurigakan.
Chen Feng yang sedang mengendap endap keluar dari Sekte menuju pintu keluar Sekte dengan membawa sebuah gulungan kecil di tangannya.
Kakek wu yang melihatnya tidak langsung memergoki Chen Feng , melainkan mengikuti kemana perginya Murid Guru Du Yuan tersebut.
Dengan menyembunyikan aura keberadaanya Kakek Wu berhasil mengikuti Chen Feng tanpa diketahui orang lain.
Chen Feng melewati Hamparan padang bunga yang begitu luas dengan langkah yang begitu cepat, sesekali dia menoleh untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya.
Setelah melewati padang bunga, Chen Feng segera melewati tebing curam dan segera menuruni tangga berbatu untuk sampai di gerbang masuk perbatasan antara Sekte Naga Putih dan Kota Thongfang.
"Mau kemana anak itu? sangat mencurigakan". Gumam Kakek Wu Yen yang sedari tadi mengikuti Chen Feng.
Chen Feng segera keluar dari gerbang Gaib Sekte Naga putih yang tentunya masih diikuti oleh Kakek Wu di belakangnya.
Chen Feng keluar dari sekte dan melanjutkan berjalan menuju sebuah Gedung asosiasi yang lumayan besar di Kota Thongfang. Kakek Wu Yen yang melihatnya segera menyamar menjadi pemuda kecil untuk memasuki Asosiasi tersebut.
"Selamat datang Tuan, ada yang bisa kami bantu?". Ucap pelayan di depan Asosiasi.
Chen Feng kemudian segera menyerahkan token giok berwarna jingga kepada pelayan tersebut. Pelayan yang melihat token tersebut paham dan segera mengantarnya ke lantai dua .
Kakek Wu Yen yang melihatnya segera mengikuti mereka yang naik ke lantai dua tetapi di hentikan pelayan lainnya.
"Maaf Tuan, anda mau kemana?". Tanya pelayan itu.
" Saya ingin melihat lihat asosiasi ini, saya membutuhkan sesuatu untuk kultivasi saya". ucap Kakek Wu Yen.
"Baik tuan, apa yang tuan butuhkan?".
"Di lantai dua apa ada sesuatu yang menarik?".
"Di lantai dua adalah tempat Vip untuk pertemuan tuan".
"Oh jadi begitu, kalau begitu saya akan berkeliling di sekitar sini saja, kalau ada yang cocok saya akan membelinya". Ucap Kakek Wu mencari alasan.
Ketika pelayan yang menghentikan Kakek Wu ingin membantu kakek Wu memilih , dari lantai atas datanglah pelayan yang tadi mengantar Chen Feng.
"Hei Nui, cepat bantu aku melayani tuan tuan di sana. Aku sangat kualahan". Ucap pelayan itu.
Pelayan yang dipanggil Nui segera naik ke lantai atas dengan pelayan satunya tadi.
__ADS_1
Kakek Wu Yen yang melihat sudah tidak ada pelayan yang lain kemudian segera mengendap endap mengikuti kedua pelayan tersebut.
Dengan ilmu penyamaran yang hebat, Kakek Wu kini menyamar kembali menjadi binatang melata dan segera memasuki ruangan yang terdapat banyak sekali tentara di dalamnya.
"Bagaimana? apa kalian sudah siap?". Tanya Chen Feng.
"Tentu saja, Aku membawa cukup banyak tentara terlatih untuk memporak porandakan tempat itu". Ucap Pria berbaju merah .
"Hahhaha, bagus bagus. Lalu bagaimana dengan Yang Mulia ?". tanya Chen Feng.
"Kau tenang saja, Aku di perintahkan untuk membawa gadis itu hidup hidup dan kau akan mendapat bagianmu Chen Feng. Hahahahah".
Chem Feng pun ikut tertawa saat semua rencanannya berjalan lancar, tetapi dia tidak menyadari bahwa Pihak Ah Ying sudah menyadari terlebih dahulu.
"Sungguh licik , Kuharap Cucuku berhasil membersihkan Kaisar muda itu". Gumam Kakek Wu Yen yang menjadi ular kecil yang berada di sela sela jendela.
"Apa yang kau bawa untuk menghancurkan kakek tua itu?". Tanya Chen Feng.
"Aku membawa serigala emas dan Rubah hitam, dann beberapa kejutan lainya". Ucap Pria berjenggot yang duduk di sebelah pria berbaju merah itu.
"Bagus bagus..". Ucap Chen Feng sembari tertawa .
"Serigala Emas dan Rubah Hitam ya". Gumam Kakek Wu Yen.
....
Pagi di Kamar Ah Ying, Pelayan Kembar Anchi dan Anchu segera memasuki kamarnya tanpa permisi terlebih dahulu. Dengan perasaan rindu kepada Tuannya, Si Kembar itu langsung berlomba untuk memeluk Ah Ying yang masih tertidur .
Bbuggg...
Ah Ying merasakan sesuatu yang berat menindih tubuhnya hingga dia pun membuka matanya .
"Anchi!!! Anchu!! apa yang kalian lakukan di atasku!!". Teriak Ah Ying yang melihat ternyata yang menindihnya adalah Pelayan kembarnya.
"Nona, ahh.. aku merindukanmuu".
"Aku juga Nona, huhh kami kira anda tidak akan pulang". Ucap mereka berdua secara bergantian.
"Kalian cepatlah bangun, hufh hufhh,, aku tidak bisa bernafas". Ucap Ah Ying terengah engah.
"Hhehe maaf nona". Mereka berdua pun segera berdiri dan segera berjajar di samping Ranjang Ah Ying.
Ah Ying yang melihat mereka berdua sudah tidak menindihnya lagi kini segera bangun dari ranjangnya untuk segera mandi tanpa memperdulikan Si Kembar .
__ADS_1
"Nona,, Nona mau kemana? kami sangat merindukanmu. Oh iya, dimana Nona Qiqi?". Tanya Anchu membuat Langkah Ah Ying terhenti.
"Aku mau mandi, dan Qiqi dia masih belajar Di Sekte".
"Ohhh". Ucap Si Kembar bersamaan.
"Nona, nona, biar kami membantumu membersihkan badan". Tanya Anchi dengan wajah yang di imut imut kan dan diikuti oleh Anchu di sampingnya dengan tangan menggenggam di depan wajahnya memohon.
"Tidak".
"Yah Nona, kumohon". Rengek Anchi.
"Ti.... Dak". Ucao Ah Ying yang kemudian segera memasuki kamar mandi untuk segera mandi.
Sedangkan Si Kembar segera pergi dari kamar Ah Ying sembari mengerucutkan bibirnya.
Ah Ying tidak berlama lama kali ini , dia segera menyudahi mandinya untuk segera pergi ke dalam Hutan Kematian dimana awal dia tiba di dunia ini .
Ah Ying segera mengenakan Pakaian sederhana berwarna hijau tosca tetapi masih terlihat anggun .
Dia keluar dari kediaman bersama Penjaga bayangnya untuk menuju hutan kematian.
Karena mereka dari Dunia Atas, dengan mudahnya berteleportasi menuju Hutan Kematian yang dimaksud.
Di dalam Hutan Ah Ying melihat seorang Pria paruh baya yang sedang mengusap lembut Harimau putih yang sangat besar yang kini tidur di pangkuan Pria tersebut.
"Ini dia Dewi, yang saya maksudkan ". Ucap penjaga Bayangan tersebut .
"Salam Ya Dewi". Sapa Pria paruh baya itu sembari membungkukkan badanya.
"Bangunlah, Apa kau seorang pengendali Hewan?". Tanya Ah Ying tanpa berbasa basi.
"Benar Ya Dewi, saya seorang pengendali".
"Siapa namamu?". Tanya Ah Ying.
"Ji Hong Yang Mulia".
"Baiklah ,Ji Hong aku akan berbicara padamu tentang rencanaku ini, ku harap kau bisa kerjasama denganku". Ucap Ah Ying sembari duduk di kayu yang sudah tumbang di dekat Ji Hong.
"Saya berjanji kepada anda Ya Dewi , untuk selalu menuruti perintah anda". Jawab Ji Hong sambil menangkupkan tangannya.
Ah Ying yang merasa puas dengan sikap Ji Hong pun segera memberitahu rencana dan tugas Ji Hong.
__ADS_1