
Ah Ying yang sudah selesai berdandan segera keluar dari kamarnya untuk menemui Su Lian yang berada di ruang kerjanya.
"Lian, apa kau didalam?". Teriak Ah Ying dari luar ruangan.
"Masuklah Ying'er, pangeran ini ada didalam".
"Baiklah aku masuk yaa kalau begitu".
Ah Ying pun segera membuka pintu ruang kerja Su Lian dan bergegas masuk kedalamnya. Setelah sampai di depan meja Su Lian , Ah Ying dibuat kagum akan lukisan lukisan yang terpajang di setiap dinding Ruang kerjanya. Lukisan seorang perempuan yang tak lain adalah Ah Ying sendiri .
"Kau yang melukis semua ini?". Tanya Ah Ying.
"Kau benar Ying'er, Pangeran inilah yang melukis gadis tersayang ini". Jawab Su Lian sembari membusungkan dadanya.
"Dasar kau mulai pintar menggombal yaaa".
"Heheh, hanya padamu tau".
Mereka berdua pun tertawa lepas, hingga memenuhi ruang Kerja Su Lian.
Tanpa mereka sadari terdengar suara ketukan pintu dari luar Ruang kerja Su Lian.
Tok tok tok.
"Yang Mulia ini saya Yufeng, bolehkah saya masuk?".
"Masuklah ". Singkat Su Lian.
Yufeng pun segera memasuki Ruang kerja sang Tuan, dia terkejut ketika sudah memasuki Ruangan tersebut karena baru pertama kali melihat Ah Ying tanpa sebuah cadar. Kecantikanya yang Maha Cantik tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikannya di Dunia Bawah ini, membuat Yufeng tiba tiba mengeluarkan darah dari hidungnya saking tak kuat melihat kecantikan Ah Ying.
"Tutup mulutmu Yufeng, nanti ada lalat lewat baru tahu rasa kau". Ucap Su Lian sedikit ketus.
"Maaf Yang Mulia, Bawahan ini tidak bermaksud lancang". Jawab Yufeng gugub.
"Ying'er, lain kali jangan kau lupakan cadarmu itu. Nanti banyak orang yang mengetahui kecantikanmu, aku tidak mau berbagi dengan merekaa". Rengek Su Lian membuat Yufeng melongo sekali lagi, karena cara menghadapi Ah Ying dan dirinya sangat berbanding terbalik.
"Hh maaf aku Lupa Lian, nanti aku akan memakainya, kau tenang saja. Dari dulu sampai sekarang kau tidak banyak berubah ya". Ucap Ah Ying sambil tersenyum hangat.
Su Lian pun membalas senyum hangat Ah Ying dengan kedipan genitnya sehingga mendapatkan tonyoran dikepalanya.
Setelah selesai dengan Ah Ying, Su Lian segera mengalihkan pandangannya pada Yufeng.
"Cepat katakan, jangan banyak membuang waktuku". Ucap Su Lian yang kembali di mode acuh tak acuhnya membuat Yufeng bergidig ngeri.
"Baik Yang Mulia, Ini ada undangan dari Pangeran Putra Mahkota Negeri Luo, secara pribadi mengundang anda untuk datang kekediamannya". Ucap Yufeng sembari menyerahkan gulungan yang berisikan undangan kepada Su Lian.
"Baiklah, kau bisa pergi, malam ini aku akan segera kesana, dan kau serta beberapa tentara bayangan juga harus ikut".
__ADS_1
"Baik Yang Mulia, Bawahan ini undur diri dahulu".
"Ya ya pergilah". Ucap Su Lian sembari melambai lambaikan tangannya kepada Yufeng.
"Kau akan ke Negara Luo?". Tanya Ah Ying.
"Benar, apakah Ying'er mau ikut dengan pangeran ini?". Jawab Su Lian tersenyum genit.
"Untuk apa kau datang kesana?".
"Untuk membantumu membalas dendam Ying'er".
"Maksudmu bagaimana Lian?".
"Kemarilah, mendekatlah aku akan membisikkan rencanaku padamu".
Ah Ying dengan sedikit keraguan segera mendekatkan telinganya di depan Su Lian. Tanpa basa basi Su Lian segera membicarakan rencananya secara Rinci kepada Ah Ying, sehingga Ah Ying memahami semuanya dengan tenang.
"Jadi begitu kurang lebihnya, bukankah aku sudah berjanji akan membantumu membalaskan dendam keluarga Jendral Wu".
"Ya ya terimakasih, dan rencanamu itu cukup menarik, tapi untuk semua keluarga Jendral Zhen biar aku saja yang menuntaskan nanti, lalu kita akan berangkat kapan?".
"Tentu saja setelah makan malam, ayo kita isi perut dahulu sebelum melakukan perjalanan panjang".
Mereka berdua segera menuju Ruang makan untuk makan malam bersama, sampainya disana makanan sudah ditata dengan sangat rapi sehingga menggugah selera makan mereka berdua.
"Kalau begitu, mari kita makan". Ucap Su Lian yang kemudian mengambil berbagai lauk kedalam mangkuk nasinya.
Ah Ying pun tidak mau kalah dengannya dan melakukan hal yang sama bahkan sedikit berebut dengan Su Lian.
Tanpa membutuhkan waktu lama mereka segera menghabiskan seluruh hidangan di atas meja, dengan perut sedikit membuncit akhirnya mereka saling bergantian bersendawa.
"Ahhh Kenyangnyaaa". Ucap Ah Ying
"Kau benar Ying'er, perutku pun terlihat seperti hamil tiga bulan".
Mendengar ucapan Su Lian, Ah Ying segera tertawa lepas karena memperhatikan perut yang agak membuncit di depannya.
"Kau menertawakankuuu". Ucap Su Lian yang berpura pura marah.
"hahah, lagi pula kau yang memulai hingga aku tertawa lepas".
"Huh dasar".
"Hh sudah sudah, Lian aku ingin mengirimkan surat terlebih dahulu untuk orang orang dikediaman, takutnya mereka menungguku karena aku hanya berpamitan selama dua minggu".
"Baiklah, apa kau membutuhkan kertas dan tinta?".
__ADS_1
"Tidak perlu, aku punya di cincin penyimpananku".
"Baiklah, Pangeran ini akan menunggu Ying'er disini".
Ah Ying tersenyum tipis pada Su Lian, kemudian segera mengambil kertas dan tinta di cincin penyimpanannya yang kemudian segera menulis surat yang ditujukan oleh Anchi Anchu pelayan kembar kesayangannya.
Setelah selesai menulis surat, Ah Ying segera merapal mantra sehingga surat ditangannya tiba tiba terbang sebdiri menuju tempat tujuan surat tersebut.
"Ying'er juga bisa melakukan sihir?". Tanya Su Lian.
"Tentu, bukankah dulu aku bisa melakukan pekerjaan semua Dewa, tapi sebaliknya mereka tidak bisa ".
"Ya ya aku hampir lupa Ying'er. Baiklah karena kau sudah siap mari kita berangkat".
"Bukankah memerlukan waktu dua minggu untuk sampai di negara Luo?".
"Apa Ying'er lupa siapa aku, aku bisa membawa Ying'er ke negara Luo hanya dengan satu kedipan saja".
"hmm apa tidak apa?".
"Tentu saja Tidak".
"Baiklah, kau saja yang melakukan, aku masih malas menggunakan kekuatanku".
"Pakai ini". Su Lian segera memasangkan cadar ke wajah Ah Ying, Jantung Ah Ying segera berdetak dengan kencang saat melihat dengan seriusnya wajah Su Lian memasangkan cadar padanya. Dengan jarak yang begitu dekat membuat Ah Ying sedikit salah tingkah di hadapan Su Lian.
Akhirnya mereka berdua segera berteleportasi menggunakan kekuatan Su Lian menuju Negara Luo . Mereka berhenti tepat tidak jauh dari gerbang masuk ibukota Negara Luo.
Walaupun hari sudah malam tetapi masih banyak warga yang mengantri di depan gerbang masuk, baik warga Lokal atau Wisatawan.
Su Lian segera menarik tangan Ah Ying menuju gerbang kosong disamping rentetan panjang warga yang mengantri.
"Selamat datang Tuan, Token". Ucap singkat penjaga Gerbang.
"Ini". Su Lian segera mengeluarkan token emasnya, sehingga membuat penjaga Pintu sedikit gemetar, dan tanpa basa basi mereka segera membukakan gerbang agar Su Lian dan Ah Ying segera masuk ke Ibukota Negara Luo.
"Ku kira tadi kita ikut mengantri dengan mereka". Ucap Ah Ying .
"Tentu saja Tidak Ying'er. Mari kita cari penginapan terlebih dahulu ".
"Baiklah".
Mereka berdua berjalan dengan saling bergandengan tangan menuju penginapan terdekat.
Akhirnya mereka segera menemukan Penginapan yang dekat dengan Pintu gerbang tadi, dan tentunya dekat dengan Istana Kekaisaran Luo.
"Mari kita bermalam disini Ying'er".
__ADS_1
Mereka segera memesan satu kamar seperti biasa, dan kemudian segera beristirahat untuk menghadiri undangan Putra Mahkota Negara Luo besok pagi.