
Setelah meletakkan barang barang mereka segera berkumpul dikediaman utama untuk perkenalan dan pembagian tugas.
"Baiklah tidak perlu bertele-tele sekarang perkenalkan nama kalian masing masing".
"Nama saya Anchi dan ini kembaran saya Anchu nona".
" Nama saya Yufu".
"Nama saya Fumin".
Mereka satu persatu pun segera memperkenalkan nama mereka , Ah Ying yang mendengar segera mengangguk anggukan kepalanya.
"Kau Ancha Anchu menjadi pelayan pribadiku, dan kau Fumin aku serahkan jabatan kepala pelayan di kediaman ini. Dan Kau Yufu bertanggung jawab sebagai wakil kepala pelayan, untuk pembagian tugas aku serahkan kepada kalian berdua, apakah ada yang keberatan?".
"Tidak nona, ". ucap mereka serentak.
"Baik, aku serahkan selebihnya pada kalian berdua".
"Baik nona, terimakasih atas kepercayaannya, kami berdua undur diri dulu nona". ucap Fumin kemudian di ikuti oleh Yufu.
Setelah para pelayan lain pergi Anchi dan Anchu segera menghampiri Ah Ying dan memberi salam.
"Salam nona, semoga nona selalu diberi panjang umur". ucap mereka berdua.
"berdirilah, kalian siapkan air panas aku ingin berendam... ahh lelah sekali".
"Baik nona".
"Jangan lupa dua bak, satu untuk Aku dan satu untuk Qiqi".
"Baik nona".
"Qiqi ayo kita kembali ke kamar, aku lelah sekali".
"Baiklah nona, apakah nona tidak berniat berkultivasi kembali, agar lebih cepat ke tingkat yang lebih tinggi ".
"Nanti sajalah, toh di kekaisaran Qin ini akulah yang paling tinggi".
"terserah kau saja nona, takutnya kau menemui musuh yang lebih darimu".
"hufh... Nanti nanti setelah kediaman ini kembali rapi , jangan lupa hutangmu padaku". Ucap Ah Ying sambil berkacak pinggang.
"Hutang? hutang apa nona?". Ucap Qiqi bingung.
"Baru beberapa jam dan kau sudah lupa?, tadi kau bilang akan mencarikan aku penjaga terbaik begitu saja sudah lupa, ".
"Ahh yayayay nona heheh". Jawab Qiqi sambil tertawa malu.
Setelah sampai di Kamarnya Ah Ying segera merebahkan badanya keatas ranjang yang cukup besar, karena sebelumnya kamar itu milik Ibu pemilik tubuh .
Ah Ying segera memejamkan mata sejenak untuk melepas penatnya seharian, Berbeda dengan Qiqi yang langsung masuk kedunia artefak untuk berekultivasi.
__ADS_1
Setelah 20 menit akhirnya air hangat Ah Ying sudah siap, dan Qiqi sudah keluar dari dunia Artefaknya.
"Nona Qiqi air hangat sudah siap, dan maaf kami tidak berani membangunkan Nona Ah Ying".
"Biarkan aku yang membangunkan, kalian siapkan makan malam saja, ".
"Baik Nona".
Qiqi pun menghampiri Ah Ying yang sedang tidur pulas diatas ranjangnya.
"Nona, bangunlah air panasnya sudah siap".
"Enggg... Hoaaammmm... sebentar".
Ah Ying segera terduduk untuk mengumpulkan kesadarannya.
"Hhooaaammm.... ayo kita mandiiii".
Ah Ying dan Qiqi segera memasuki bak air hangat yang sudah disiapkan.
"hemmm,, segarnya,". Gumam Qiqi sembari membersihkan tubuhnya.
"Bunga mawarnya membuat kulitku semakin harum". Sambung Ah Ying.
Hari semakin larut, acara berendam mereka berdua juga sudah selesai, mereka segera mengganti baju dan segera menuju ruang utama untuk makan malam.
"Nona, makan malam sudah siap".
"Terimakasih, Mari malan bersama kami Anchi Anchu".
"Sudahlah tak apa, aku yang meminta kalian jadi turutilah karena ini juga bagian dari perintah". Jelas Ah Ying.
"Tapi nona...". Jawab Anchi ragu.
"Duduklah, aku menganggap kalian sebagai saudaraku selain Qiqi , karena di mansion sebesar ini kalian aku anggap salah satu keluargaku".
Mereka berdua segera duduk samping Qiqi, dan mengambil beberapa lauk dan segera bangkit dari tempat duduk.
"Hei... kemana kalian, makanlah disini bukankah aku menyuruh kalian makan bersama". Ucap Ah Ying sedikit menegaskan.
"Baik Nona". ucap mereka akhirnya.
Merekapun akhirnya makan malam bersama sembari bersenda gurau menghilangkan kecanggungan, membuat Anchi dan Anchu merasa nyaman dengan kebersamaan mereka saat ini.
Setelah makan malam, Ah Ying segera memasuki kamarnya begitupun dengan para pelayan yang akan beristirahat di kamar masing masing.
Qiqi pun kembali ke dunia Artefak untuk berkultivasi.
Ketika pintu kamar terbuka Ah Ying pun terkejut menemukan sosok seorang pria berbaju ungu yang sedang tertidur di ranjang besarnya.
Ah Ying perlahan mendekati ranjang untuk melihat sosok pria yang berani tidur di ranjang kesayangannya.
__ADS_1
Siapa sihh laki laki itu, hufh... awas saja kalau aku tahu siapa orang yang tertidur itu. Gumam Ah Ying dalam hati.
Saat Ah Ying akan benar benar membangunkan pria itu, tiba tiba dia membalikan tubuhnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Ying'er....".
"Kau Su LIan, sedang apa kau berada di kamarku??".
"Untuk bertemu denganmu?".
"Tunggu... Kenapa kau tahu kalau aku tinggal di kediaman ini?".
"Dari penjaga istana yang kau beri seribu koin emas". Jawab Su Lian tanpa ada rasa bersalah.
"Sekarang kau sudah bertemu denganku, lalu ada urusan apa selanjutnya". Ucap Ah Ying dengan acuh tak acuh.
"Ying'er, janganlah terlalu dingin denganku,aku kesini hanya ingin memberikan ini". Ucap Su Lian sembari menyodorkan Kipas lipat dengan aksen burung phoenix putih yang indah.
"Kipas?"
"Ya, ini dariku untukmu bukankah indah?". Ucap Su Lian dengan senyum menggoda.
Ah Ying yang heran sekaligus bingung tentang kepribadian Su Lian yang berbeda dari saat awal bertemu, saat bersama sama menuju Ibukota dan saat ini . Dia yang sangat dingin di depan para warga , prajurit dan lainya , kini dia bersifat seperti anak remaja yang suka menggoda.
"Ya ya memang idah, terimakasih". Ucap Ah Ying sembari membuka kipas tersebut. Sebelum membuka kipas Su LIan langsung menghentikan gerak tangan Ah Ying sehingga sedikit tertarik mendekat kedepan Su Lian.
"Kau ini kenapa, bukankah tadi kau blang ini untukku, dan aku akan menggunakannya ".
"Ahh Kau ini membuatku gemas , itu kipas bukan sebarang kipas tetapi senjata spiritual. Di dalam kipas terdapat banyak sekali senjata terseembunyi". Jelas Su Lian yang sedikit jengkel dengan Ah Ying.
"Oooo,, begitu ya".
"Simpanlah , kipas itu bisa menyesuaikan jenis elemen apapun jadi kau akan sangat mudah mmenggunakanya".
"Ya ya ya, sekarang sudah larut cepat pergilah dari ranjangku".
Ah Ying segera menarik Su lian untuk segera pergi dari kamarnya, akan tetapi karena tenaga Su Lian lebh besar sehingga terjadi saling tarik menarik yang keudian Ah Ying terjatuh tepat di pangkuan Su Lian.
Tatapan merekapun segera bertemu satu sama lain membuat dada Ah Ying berdegub dengan sangat kencang.
*Kenapa aku merasa familiar dengn adegan ini,, tapi... Dimana?.. Dan ketika aku melihat Su Lian mengingatkanku dengan seseorang yang sangat aku rindukan, tetapi aku tidak bisa mengingatnya kembali. Gumam Ah Ying dalam hati.
Ah Yue, ku harap kau segera mengingat semua tentang kita. Gumam Su Lian dalam hai*.
Lima menit sudah adegan memangku sedang berlangsung hingga kemudian Ah Ying tersadar sontak langsung berdiri.
Tetapi Su Lian tidak membiarkan dia berdiri denan mudah.
"Tetaplah seperti ini sebebtar saja, kumohon".
Ah Ying yang tadinya memberontak seakan terbius oleh omongan Su Lian, diapun hanya diam saja membiarkan Su lian memangku sambil memeluknya.
__ADS_1
Tiba tiba setetes air mata lolos dari Ah Ying perasaan sakit yang teramat sangat dalam hatinya membuat dia tida bisa menahan air matanya.
Entah apa yang membuatnya menangis tetapi dia sangat ingin menangis.