
Setelah saling bertukar cerita, Su Lian segera pergi meninggalkan Ah Ying agar bisa beristirahat dengan tenang.
"Ying'er, bagaimana aku memanggilmu sekarang? bukankah kau sudah mengingat masa lalumu dan dirimu sendiri". Tanya Su Lian.
"Kau panggil saja seperti biasa, aku tidak mau ada orang lain tahu siapa diriku sebenarnya".
"Lalu dengan rambut perakmu itu ?".
Ah Ying yang tersadar akan rambutnya segera menepuk jidatnya cukup keras.
"Ahh iya aku lupa, Kau siapkan arang dan lidah buaya, aku akan menutupinya agar tidak ada yang mencurigiku".
"Baiklahh nanti aku akan menyuruh pelayan mencarikannya, kalau begitu istirahatlah, aku akan melanjutkan pekerjaanku terlebih dahulu". Ucap Su Lian sembari mengecup kening Ah Ying dan setelah itu meninggalkannya sendirian agar bisa lebih tenang beristirahat.
"Ibu, aku janji akan segera mendapatkan tubuh abadiku kembali setelah menyelesaikan kesengsaraan Dunia ini, dan aku akan naik untuk bertemu denganmu ibu". Gumam Ah Ying .
Lama Ah Ying melamun hingga terdengar ketukan pintu dari balik pintu kamar Ah Ying yang ternyata pelayan yang membawa arang dan Lidah buaya.
"Terimakasih, bisakah kau tutup lagi pintunya". Ucap Ah Ying.
"Baik Nona". Pelayan itu segera pergi meninggalkan Ah Ying sendiri di kamarnya.
Ah Ying kembali merebahkan badannya dan kemudian memejamkan matanya hingga terlelap dalam mimpi indahnya.
Di alam mimpi...
Ah Ying kembali di alam mimpi yang aneh , sekarang dia berada di pinggiran sungai yang sangat jernih yang di tumbuhi bunga bunga Lili di pinggiran Sungai di tepi sungai terlihat hamparan rumput hijau yang luas nan indah yang hanya ada di titik tertentu ditumbuhi berbagai macam bunga dan tumbuhan membuatnya terlihat lapang .
"Apa aku bermimpi lagi, tapi ini mimpi terindah yang aku dapatkann .. hmm nyamannya". Gumam Ah Ying .
"Putriku... ". Terdengar suara wanita paruh baya dari belakang Ah Ying .
Saat mengalihkan pandangannya ke belakang badan ,akhirnya Ah Ying tahu siapa pemilik suara yang memanggilnya itu .
"Ibuu... ". Teriak Ah Ying yang kemudian berlari mendekati wanita yang ternyata ibunya sang Dewi Bulan.
"Kemarilah anakku... ".
"Ibuu,,aku merindukanmu".Ucap Ah Ying sembari terisak dipelukan sang ibu.
"Bukankah kita baru bertemu beberapa jam yang lalu, kenapa kau sudah rindu anakku ?".
"Ah Ibu , aku sudah sangat lama tidak bertemu denganmu wajar saja aku merindukanmu".
"Iya baiklah sayang, ibu akan selalu berada di sisimu mulai sekarang. Coba kau menunduklah dekatkan dahimu ke ibu".Ucap Dewi Bulan .
Ah Ying yang menurut segera menundukkan kepalanya agar dahinya lebih dekat dengan sang Ibu .
Setelah menundukkan dahinya, Dewi Bulan segera menjentikkan jarinya hingga keluar cahaya kecil berwarna emas yang kemudian ia masukkan ke dahi sang putri, hingga tiba tiba tubuh Ah Ying bergetar hebat, begitupun dengan raga asli yang sedang tertidur.
__ADS_1
Tubuh Ah Ying bergetar seperti ingin menerobos ke ranah lebih tinggi, dan benar, dentuman keras dari diri Ah Ying berkali kali terjadi dan mengeluarkan cahaya yang membumbung tinggi sehingga menarik perhatian orang orang begitu juga para hewan buas ataupun para hewan kontrak kultivator kultivator itu.
Su Lian yang melihatnya segera bergegas ke kamar ah Ying kembali untuk melihat apa yang terjadi.
Dentuman keras tersebut akhirnya diakhiri dengan suara dentuman yang begitu keras hingga mengakibatkan seperti ledakan dan angin yang begitu kencang sehingga banyak yang berterbangan di sekitar kamar Ah Ying.
Masih di alam mimpi....
"Ibu, kenapa aku terus menerobos swperti ini?".
"Karena, segelmu sudah terbuka putriku, jadi saatnya kau mengambil kembali hak milikmu itu". Jelas Dewi Bulan.
"Lalu di Ranah berapa aku sekarang ibu?".
"Tentunya kau berada di Ranah tak terbatas sayang".
"Ranah Tak terbatas? bukankah yang paling tinggi itu Ranah Maha Kuasa ibu?".
"Ya kau benar Putriku, tetapi kau berbeda, kau memiliki Phoenix putih yang menjadi tanda bahwa kau akan menjadi Dewi Agung, tubuhmu sekarang sudah abadi anakku jadi kau tidak perlu takut akan kematian. Dan ingat satu hal, sembunyikan kekuatanmu sebelum kau benar benar naik ke alam atas, selesaikan dulu urusanmu di Dunia Bawah anakku". Jelas Dewi Bulan yang perlahan menghilang dari pandangan Ah Ying.
"Baik ibu,aku berjanji". Ucap Ah Ying yang kemudian ikut pergi dari tempat itu.
Di dunia nyata...
Su Lian yang melihat sekitar kamar Ah Ying yang sudah porak poranda segera memasuki kamar gadis itu untuk melihat keadaan di dalam Kamar.
Anehnya hanya bagian luar kamar saja yang hancur, di dalam kamar masih tertata rapi bahkan tidak ada yang terjatuh sedikitpun.
"Su Lian, ada apa? kenapa wajahmu begitu khawatir?".
"Syukurlah kau tidak apa apa, tadi aku mendengar dentuman berkali kali dari kamarmu ini, jadi aku memutuskan untuk melihatmu Ying'er, untung saja kau baik baik saja".
"Ahh begitu ya, aku kira tadi hanya di dalam mimpi saja". Gumam Ah ying.
" Lian, Pukul berapa sekarang?". Tanya Ah Ying.
"Mungkin sekitar jam empat sore, ada apa Ying'er?".
"Bukankah hari ini ada perayaan di jalan Desa , aku ingin melihatnya".Rengek Ah Ying yang membuat Su Liam gemas.
"Tapi , kau belum sehat Ying'er...".
"Aku sudah sehat Lian...Lihatt aku sudah bisa berdirii ,, ya ya kumohonnn". Ucap Ah Ying memasang wajah memelasnya.
"Baiklah nanti aku akan mengantarmu, jangan terlalu malam, ingat kau dalam masa pemulihan".
"Okeyy, bosss... hehe". ucap Ah Ying sambil tertawa.
"Kalau begitu aku akan menyuruh pelayan menyiapkan air hangat untukmu , aku akan menunggu di Pavilium utama Ying'er".
__ADS_1
"Baik Lian".
Seutas senyum manis terukir di bibir Su Lian, rasa senang yang teramat sangat karena melihat sang kekasih yang telah kembali sepenuhnya membuatnya tak henti hentinya mengucap syukur dari dalam hatinya.
Ia terus berterimakasih kepada sang Maha karena mempertemukannya kembali kepada sang gadis pujaanya.
Pelayan yang sudah selesai menyiapkan air panas segera menemui Ah Ying untuk membantu membersihkan badannya.
"Nona, air panas sudah siap, dan saya ditugaskan untuk membantu anda membersihkan diri".
"Baik, bantu aku berdiri".
Ah Ying pun segera menanggalkan pakaiannya dan hanya menyisakan pakaian tipis saja. Dia segera berendam dibantu oleh pelayan tersebut, pelayan itu membantu menggosokan punggung Ah ying dan membelai rambut perak Ah Ying yang terlihat berkilau ketika basah terkena air .
"Nona, rambut anda indah sekali, bukankah saat nona kemari rambut nona terlihat hitam,kenapa sekarang bisa berubah?". Tanya pelayan itu dengan sopan.
"Ceritanya panjang, yang penting tolong rahasiakan warna rambutku yang sekarang, jangan sampai orang lain tahu".
"Mengerti nona". Ucap pelayan tersebut.
Ah Ying segera menyelesaikan mandinya dan berganti pakaian dan mengeringkan rambut peraknya.
"Tolong siapkan sedikit arang dan lidah buaya di mangkuk kecil itu".
"Baik nona". ucap pelayan tersebut dan segera menyiapkan pesanan Ah Ying.
Setelah semua bahan siap, pelayan itu segera memberikannya kepada Ah Ying yang sedang berias di depan kaca rias yang cukup besar.
"Ini nona".
"Terimakasih, kau jangan pergi dulu, bantu aku meratakan keseluruh rambutku".
"Baik Nona".
Ah Ying segera mencampur arang dan lidah buaya menjadi satu kemudian menumbuknya agar tercampur merata . Kemudian Ah Ying memberi contoh pelayan tersebut untuk mengoleskan ke rambu peraknya agar terlihat hitam walau sementara.
"Apa kau paham?". Tanya Ah Ying.
"Paham nona, mari biar saya saja yang melakukan".
Pelayan tersebut dengan teliti memberikan rambut perak Ah Ying dengan campuran yang Ah ying buat tadi, tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya pelayan tersebut selesai melakukan tugasnya.
"Sudah selesai nona, dan sisanya masih cukup banyak, bagaimana kalau saya simpankan".
"Tentu, kau simpan kan saja itu, jika aku membutuhkannya lagi aku tidak perlu repot repot membuatnya kembali". Ucap Ah Ying yang kemudian segera mengeringkan rambutnya dengan Elemen Anginnya
Pelayan tersebut merasa terkejut saat Ah Ying mengeringkan rambutnya, rambut yang tadi berwarna Perak menyala, kini berubah menjadi hitam pekat kembali.
"Sekarang bantu aku menata rambutku". Ucap Ah Ying yang kemudian duduk kembali didepan meja rias.
__ADS_1
Pelayan tersebut segera menata rambut Ah Ying dengan sangat sederhana tetapi masih terlihat mempesona, membuat pelayan tersebut tidak lepas dari kekaguman kecantikan Ah Ying, karena dia satu satunya pelayan Su Lian yang bisa melihat Maha Cantiknya Ah Ying.