
Setelah berbincang di Istana Putra Mahkota, Ah Ying dan Su Lian segera pamit undur diri .
Mereka berdua segera keluar dari istana diantarkan langsung oleh Sang Putra Mahkota.
"Terimakasih Yang Mulia, sudah mengantar kami berdua". ucap Ah Ying sambil membungkukkan badan.
"Bangunlah, jangan terlalu sopan denganku. Aku adalah sahabat Kekasihmu itu, jadi biasa saja jangan terlalu formal". Kata Putra Mahkota.
"Kalau begitu kami pamit dahulu, nanti aku akan kirimkan surat untukmu". Ucap Su Lian sembari menggandeng tangan Ah Ying untuk pergi dari pandangan Putra Mahkota.
"Rasanya sayang jika kita langsung pulang , Negara Luo ini begitu damai. aku ingin satu hari lagi untuk berjalan jalan di negara ini boleh?". Ucap Ah Ying dengan wajah imutnya, membuat Su Lian tidak bisa membantah sekalipun.
"Baiklah, kita tinggal satu malam lagi".
"yeyy... Ayo kita ke sana". Ucap Ah Ying yang kemudian menarik tangan Su Lian menuju sebuah pasar yang berada di ibukota negara Luo tersebut.
Ah Ying segera membeli beberapa jajanan di pasar yang terlihat enak di lidahnya, hingga Su Lian membawa banyak sekali tentengan yang berisi jajanan ringan yang di beli Ah Ying.
Muka Su Lian yang pasrah membawa banyak sekali tentengan belanjaan, karena tidak ingin menghancurkan kesenangan Ah Ying ia hanya bisa pasrah menanggalkan sebentar gelar Pangeran Agung kerajaan Qin.
"Ying'er, aku sudah tidak bisa membawa belanjaan mu lagi, bisakah kau membawa beberapa?". Rengek Su Lian seperti anak kecil hingga membuat Ah Ying tertawa melihat ekspresi memelas dari Su Lian.
"Hahaha, baiklahh aku akan membawa separuh belanjaan. Sini berikan padaku".
Su Lian pun segera bernafas lega saat separuh belanjaannya diambil Ah Ying. Rasanya seperti membawa beban berat dan sekarang setengahnya sudah menghilang sehingga bisa bernafas lega.
"Mari kita cari tempat yang teduh dan nyaman. Aku tak sabar ingin memakan mereka semua".Ucap Ah Ying sembari melihat tentengan camilan yang di bawanya .
Su Lian hanya pasrah dan hanya mengekor Ah Ying kemanapun ia pergi.
Hingga terlihatlah Sungai indah di tengah tengah Ibukota Negara Luo, yang pinggirnya terdapat pohon pohon besar yang rindang, sehingga Ah Ying memutuskan untuk beristirahat disana sembari menarik Tangan Su Lian.
"Ayo kita kesana saja, tempatnya begitu indah dan asri".
"Tapi Ying'er, masih ada banyak salju di pohon itu, nanti kalau salju itu menimpa kita bagaimana?".
"Kau benar, yasudah dipinggir Sungai yang beku itu tidak apa kan".
"Baiklah...". Ucap Su Lian Pasrah.
Mereka segera mencari tempat bersih dari salju yang berada di pinggiran Sungai.
Sesampainya disana Su Lian segera mengeluarkan alas duduk yang ia simpan di cincin penyimpananya.
__ADS_1
"Ternyata kau punya tikar Lian".
"Tikar?. ini alas duduk Ying'er".
"Yahh terserah padamu, di duniaku dulu ini namanya tikar". Kata Ah Ying sembari duduk diatas tikar tersebut dan mulai menata kantong kantong makanan di atasnya .
"Akhirnya, waktunya makannn". Ucap Ah Ying.
"Ying'er...".
"ada apa, makanlah apapun yang kamu mau, ambilah nah... nahh.. yang mana, yang ini?.. atau yang ini?... atau yang ini?". Ucap Ah Ying sembari menyodorkan beberapa makanan pada Su Lian
"Tidak Terimakasih Ying'er, nanti aku ambil sendiri".
"Lalu ada apa?". Ucap Ah Ying sembari memasukkan manisan kedalam mulutnya.
"Apa kau tidak menyadari , bahwa binatang kontrakmu sudah kembali".
"Siapa Mak...... ohhhh Bai Lu.. apa dia kembali? kenapa aku tidak melihatnya? apa kau sudah bertemu dengannya? dan dimana dia sekarang? kenapa tidak bilang padaku?". Ucap Ah Ying dengan banyak sekali pertanyaan.
"Dia kembali saat kau koma waktu itu, dia sekarang berada di dunia Artefakmu, mereka sedang berkultivasi untuk mengimbangi dirimu Ying'er".
"Pantas aku tidak tahu, yang penting akhirnya dia kembali juga, nanti setelah pulang aku akan menemuinya".
"Akkkkk". Kata su Lian sambil membuka mulutnya agar di suapi oleh Ah Ying.
"Dasar manja, ihhh".
"Ayolah Ying'err... kumohon".
"Baiklah baikkk. nahh". Ah Ying akhirnya menyuapi Su Lian dengan menahan wajahnya yang memerah, jantung yang berdegup kencang membuatnya menyudahi makanannya.
Ia pun berbalik untuk menetralkan perasaannya setiap dekat dengan Su Lian.
Sama Halnya dengan Ah Ying, Su Lian pun merasakan hal yang sama akan tetapi dia lebih bisa menahan gejolaknya dibandingkan Ah Ying.
"Sudahh,, makan sendiri, aku sudah kenyang". Dalih Ah Ying.
"Simpan saja di cincinmu Ying'er, lalu kita berjalan jalan kembali".
Mendengar kata berjalan jalan, mata Ah Ying pun berbinar dan segera menyimpan sisa makanannya kedalam cincin penyimpanannya.
Mereka pun melanjutkan jalan jalannya di Ibukota Negara Luo, melihat lihat keindahan alun alun ibukota Negara Luo, sesekali berbelanja seperti pakaian ataupun pernak pernik lainnya.
__ADS_1
Hari semakin petang, matahari telah tenggelam berganti dengan indahnya cahaya Bulan. Lampu Lentera dari para warga menambah suasana begitu gemerlap menghiasi gelapnya malam.
Ah Ying dengan begitu senangnya mengelilingi alun alun hingga tanpa disadari terdapat senyum merekah dari sosok Su Lian yang selalu setia menemani berjalan jalan.
Senyum dengan penuh ketulusan, kerinduan dan sendu menjadi satu, membuat Su Lian tanpa sadar meneteskan air mata berharganya dari mata peraknya yang indah.
Hari semakin Larut, hingga akhirnya Su Lian dan Ah Ying segera pulang untuk beristirahat.
"Lian , apakah kau lelah?".
"Sedikit Ying'er, memang kenapa?". Tanya Su Lian sambil tersenyum ramah.
"Ah Tidak, aku hanya bertanya saja, Hoammmm mengantuk sekali". Ucap Ah Ying sambil menguap karena begitu lelah dan mengantuk.
"Ayo kita beristirahat Ying'er, kau sudah menguap seperti serigala di malam purnama". Ledek Su Lian.
"Yahh terserah padamu, ayo kita ke penginapan". Ucap Ah Ying sembari berjalan gontai karena lelah.
Su Lian yang melihat Ah Ying sudah sangat lelah, segera menggendongnya agar cepat sampai di penginapan.
Suara dengkuran halus terdengar dari diri Ah Ying yang masih digendong Su Lian di punggungnya membuat perasaan Pangeran Agung tersebut merasa nyaman dan damai.
_______
Akademi Shangao...
Berita tentang kematian Zhen Meimei mulai menyebar di kalangan murid Akademi Shangao, hingga berita tersebut sampai di telinga Adik Zhen Meimei yaitu Zhen Jiaohua yang saat ini sedang berada di akademi Shangao tersebut. Dia adalah Anak Selir Si , selir kedua dari keluarga Zhen.
Zhen Jiaohua yang mendengar kematian sang kakak segera terduduk lemas membayangkan bagaimana penderitaan sang kakak saat ajal menjemputnya.
Zhen Jiaohua adalah adik perempuan yang paling dekat dengan Zhen Meimei, karena sang ibu Jiaohua adalah adik dari Ibu sang kaisar saat ini.
"Tidak.. tidak mungkin Jiejie mati dalam keadaan seperti itu". Sangkal Zhen Jiaohua.
"Kau yang tenang Jiaohua, mungkin memang sudah menjadi takdir kakakmu itu". ucap temannya menenangkan.
"Tidak mungkin, kalian tahu kan Racun Api adalah racun langka. Sudah dipastikan ada orang dari Dunia atas datang ke Dunia Bawah untuk membunuh kakakku, atau mungkin balas dendam pada keluarga Zhen". Ucap Zhen Jaohua sambil menggertakan giginya.
"Maksudmu bagaimana Jiaohua?".
"Fikiranku mengatakan, bahwa orang yang meracuni kakaku adalah orang yang pernah disinggung ayahku Min ling". Jawab Zhen Jiaohua .
Jiaohua segera larut dalam lamunannya, hingga tak menyadari kedatangan sang guru dari balik badannya , yang sedari tadi memperhatikan setiap ucapan Jiaohua.
__ADS_1
Akademi Shangao adalah akademi yang mempelajari Alkemis, akademi Shanghao adalah akademi Alkemis terbesar di Kekaisaran Luo. Banyak murid dari negeri tetangga yang berbondong bondong memasuki akademi tersebut, karena setiap Alkemis dari akademi Shanghao bisa dipastikan akan menjadi Alkemis hebat dimasa depan.