
Ah Ying segera menyadarkan lamunan Su Lan dengan menggunakan tangannya yang di lambai lambaikan di depan wajah Su Lian.
"Hei, apa kau baik baik saja?".
"Aku baik, Lalu apa lagi yang kau ingat?".
Ah Ying menceritakan beberapa mimpi anehny selama ini yang menurut Su Lian adalah bagian ingatan yang hilang.
Su Lian dengan seksama mendengar kata demi kata yang diucapkan Ah Ying hingga tak terasa airmatanya keluar membasahi pipi tampannya.
Ah Ying yang menyadari Su Lian menangis segera menghentikan ceritanya dan bertanya.
"Apa kau benar benar baik baik saja?".
" Aku baik, Lalu ada hal apa lagi yang ingin kau ketahui?". Ucap Su Lian.
"Jika aku benar adalah Rengkarnasi Sang Dewi Agung apakah aku akan kembali bertemu dengn keluargaku?".
"Tentu".
"Tetapi jika aku bukan rengkarnasi darinya bagaimana denganmu?". Tanya Ah Ying yang membuat Su Lian mengernyitkan dahinya bingung.
"Aku sudah memastikan semuanya , setelah kau mengingat semua maka kau pasti mendapat jawabannya".
"Aku tahu, tapi jika segel ingatan dan kekuatan ini tidak dihancurkan sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengingat apapun". Jawab Ah ying sendu.
"Segel? Segel apa yang kau maksud Ying'er? Coba berikan tanganmu padaku". Ucap Su Lian yang kemudian memeriksa denyut nadi Ah Ying , hingga menemukan ada kegnjalan di tubuh Ah Ying.
"Coba perlihatkan lengan kananmu".
Ah Ying pun segera memperlihatkan lengan kanannya kepada Su Lian. Setelah di buka ada tiga tanda merah di lengan tangan kanan Ah Ying, Su Lian yang mengetahuinya segera membuka lengan kirinya sendiri hingga terlihat juga tiga buah tanda yang sama dengan warna yang berbeda.
"Kau benar benar disegel sepertiku, dan aku sudah tidak ragu lagi bahwa kau benar benar Sang Dewi gung itu Ah Ying".
"Apakah kau bia meghilangkan segel ini?". Tanya ah Ying.
"Ya, Dengan cara berkultivasi ganda, etaoi kita tidak bisa melakukannya disini".
"Lalu? Dimana tempatnya?". Tanya Ah Ying penasaran.
"Di Hutan Matahari, tempatnya diperbatasan kekaisarai Qin".
"BAiklah, kapan kita akan memulai perjalanan?".
"Besok pagi, aku akan meminta ijin ayahanda agar di ijinkan, sekalian aku mengurus perbatasan".
"Baiklah, aku akan pulang dahulu untuk beristirahat karena sudah sangat larut sekali, dan besok pagi aku akan kesini".
__ADS_1
"Tidak perlu, karena nantinya kita akan melewati depan kediamanmu jadi kau tidak perlu datang kemari". Ucap Su LIan sambil tersenyum manis.
"Begitu ya, baiklah aku akan pulang terlebihh dahulu".
Ah Ying segera meninggalkan Istana dan segera terbang menggunakan elemen angin menuju mansionnya.
"Hoamm lelah sekali". Gumam Ah Ying.
Hanya dalam waktu singkat Ah Ying sudah sampai kamarnya tanpa ada yang mengetahuinya.
Dia merebahkan badannya dan segera terlelap dalam mimpinya. Qiqi yang berada di dunia artefaknya pun juga sama halnya dengan Ah Ying, yang tertidur lelap di mansion di dalam dunia artefak.
Malam yang panjang segera berganti pagi yang cerah, sinar matahari memasuki celah kamar Ah Ying yang masih tertidur pulas hingga suara burung berkicau dengan keras tepat diluar jendela kamarnya hingga membuat dia tersentak dan bangun.
"Astaga!! sudah pagi, ahh sial kenapa sikembar itu tidak membangunkanku". Ucap Ah Ying dan segera bergegas keluar kamar untuk segera membersihkan diri.
"Hei Qiqi, kenapa kau juga tidak membangunkanku ?".
"Aku pun baru saja bangun nona, dan ya nona, jika diperjalanan nanti aku akan tetap di dunia artefak saja , aku malas bertemu Su Lian si tukang mengolok olok itu". Ucap Qiqi melalui telepatinya.
"Terserah kau saja, aku harus segera bergegas".
Ah Ying pun mulai mandi di kolam air hangat belakang kamarnya, tidak seperti biasa harus berendam yang cukup lama kini hanya sekitar lima menit dia berendam kemudian segera keluar kolam dan berganti pakaian.
Dengan elemen anginnya rambutnya yang semula basah kini menjadi kering kembali, begitu juga badannya yang masih basah.
Dia segera berganti pakaian bertarung kali ini dengan warna merah tak lupa sepatu dan jubah yang senada, Rambut panjangnya kini dikuncir kuda agar tidak merepotkan saat bertarung , walaupun begitu dia tetap terlihat cantik dan anggun dan satu lagi tak lupa cadar dengan warna senada agar terlihat semakin indah.
Ah Ying kemudian keluar kamar yang kemudian menuju dapur mansion untuk memberitahukan tentang keprgiannya.
"Fumin, bisakah kau menjaga mansion selama aku tidak ada?".
"Nona akan pergi kemana?".
"Aku akan pergi keperbatasan, hanya setengah bulan , jadi aku percayakan semuanya padamu dan para penjaga itu tidak ada yang aku bawa jadi semua tanggung jawabmu, dan ini anggaran selama aku tidak ada dirumah". Ucap Ah Ying sembari menyerahkan kantong uang kepada Fumin.
"Baik nona saya akan menjaga mansion anda, anda berhati hatilah diperjalanan".
"Terimakasih, aku percayakan padamu".
Ah Ying segera meninggalkan Fumin dan pelayan lainya di dapur mansion kemudian berjalan menuju gerbang mansion untuk menunggu Su Lian disana.
"Selamat pagi nona, anda mau kemana?". Ucap Anchi Anchu.
"Aku akan pergi keperbatasan, kalian berjaga jagalah dirumah saja oke, ".
"Yahh nona tidak mengajak kami?".
__ADS_1
"Tidak Anchi Anchu karena disana ada suatu misi yang akan aku lakukan dan tentunya cukup berbahaya, takutnya aku tidak bisa melindungi kalian".
"Baiklah kami mengerti, nona kau harus hati hati. Dan ini .. kue kering untukmu nona sepesial buatan kami". Ucap Anchi sambil menyodorkan kantong yang berisi banyak kue kering.
"Terimakasih, aku pergi dulu".
"Hati hati nona... jangan lupa mengabari kami".
"Tentu...".
Mereka akhirnya berpisah di gerbang mansion, pelayan kembar itu segera kembali kepekerjaan mereka sedangkan Ah Ying masih menunggu rombongan Su Lian.
Tidak butuh waktu lama terdengar suara kuda dari arah kanan Ah Ying ,dia kemudian menolehkan wajahnya untuk melihat asal suara tersebut.
Terlihat tiga rombongan berkuda yang di tunggangi masing masing satu pria tampan, dan di tengah tengah mereka adalah pria tampan berambut perak siapa lagi jika bukan Su Lian.
"Maaf kami terlambat nona". Ucap Su Lian .
"Hanya menunggang kuda? dan hanya tiga kuda? dan siapa mereka?". tanya Ah Ying dengan wajah yang sedang kebingungan tetapi malah dibalas dengan senyum hangat Su Lian yang berada diatas kuda.
"Pertama, kau benar kita hanya berkuda karena akan lebih cepat sampai jika berkuda, cukup membutuhkan waktu Lima Hari. Dan kedua, kau akan berkuda denganku . Dan yang ketiga mereka adalah saudaraku pangeran ketiga Su Tianzi kemudian yang ini pangeran ke empat Su Houcun". Jelas Su Lian dengan menunjuk satu persatu sang saudaranya itu.
Ah Ying yang mendengar penjelasan Su Lian hanya terbengong dengan muka bodohnya dan sedikit mulut yang menganga lebar.
Su Lian yang melihat ekspresi sang gadis yang lucu membuatnya tidak bisa menahan tawanya yang juga diikuti kedua saudaranya.
"Ah Nona Ying perkenalkan saya Su Tianzi pangeran ketiga kekaisaran Qin". Ucap Su Tianzi memecahkan lamunan Ah Ying.
"Ahh Yayaya , kau Su Tianzy dan kau Su Houcun yayya aku tahu". Jawab Ah Ying tersenyum kikuk karena malu.
"Sudahlah , ayo kita berangkat hari sudah semakin siang ". Ucap Ah Ying lagi.
"Ayo Ying'er". Ucap Su Lian sembari mengulurkan tangannya kepada Ah ying.
Ah Ying yang menyadari bahwa dia akan satu kuda dengan Su Lian segera mundur beberapa langkah.
"Aku akan mengambil kuda di kediaman saja, ". Ucap Ah Ying kemudian berbalik untuk segera mengambil kuda, sebelum Ah Ying melangkah tiba tiba tangan kekar Su Lian segera menggapai pinggang ramping Ah Ying dan kemudian mengangkatnya ke atas pangkuannya.
Ah Ying yang kaget sepontan memberontak tetapi karena tenaga Su Lian lebih kuat Ah Ying tidak bisa berkutik, hingga tatapan mereka bertemu satu sama lain , perasaan familiar mulai muncul kembali , rasa Rindu dan sayang mulai bercampur hingga membuat dada Ah Ying tak karuan rasanya.
Cukup lama mereka berpandangan, akhirnya Ah Ying sendiri yang mengalihkan pandangannya .
"Sudahlah Kakak ketiga, kita hanya menjadi obat nyamuk bagi mereka". Ucap Houcun menyadarkan kedua sejoli yang sedang saling pandang tersebut.
"Kau benar Adik keempat , lebih baik kita berjalan terlebih dahulu saja".
Mereka berdua segera meninggalkan Ah Ying dan Su Lian.
__ADS_1
"Jangan menatapku seperti itu, lihat kita tertinggal". ucap Ah Ying menyadarkan Su Lian .
Mereka berdua segera mengikuti kedua pangeran yang sudah berangkat dahulu .