
Pagi hari yang lumayan cerah, musim dingin kini perlahan menghilang dan digantikan musim semi. Kicauan burung yang bersautan, dan lalu lalang warga yang melakukan aktivitas masing masing membuat suasana Ibukota Negara Luo terlihat begitu hidup dan damai.
Ah Ying sudah bersiap dari pagi, sedangkan Su Lian masih lelap dalam tidur nyenyak nya .
"Heii,, Dewa pemalas,, cepat bangunn, kau bilang hari ini kita akan pulang". Ucap Ah Ying membangunkan Su Lian.
"ehmmm". Hanya sedikit erangan dari bibir Su Lian.
"Heiii pemalass,, jika kau tidak cepat bangun maka aku akan keluar sendiri meninggalkanmu".
Tetap saja tidak dihiraukan oleh Su Lian,karena tidak ada tanggapan sama sekali Ah Ying dengan kesal segera berjalan meninggalkan kamar penginapan yang masih ada sosok laki laki tampan yang masih tertidur lelap.
"Baiklah kalau itu maumu, ku tinggal kau sendiri disini, biar tau rasa". Ucap Ah Ying yang kemudian berjalan menuju pintu keluar .
Tanpa Ah Ying sadari, tiba tiba Su Lian melesat dengan cepat dari Ranjang besar itu hingga depan pintu keluar kamar.
"Tega sekali meninggalkan Pangeran ini". Ucap Su Lian yang tiba Tiba sudah ada di depan Ah Ying.
"Astaga naga... Hisss kau ini mengagetkanku saja, Bukankah kau masih ingin bermimpi indah? jadi aku akan meninggalkanmu Lian".
"Tidak, Ying'er tidak boleh meninggalkan pangeran ini sendiri... Tunggu disini sebentar..". Su Lian pun segera melesat kembali dengan arah yang tak karuan hingga akhirnya sampai kembali di depan Ah Ying dengan pakaian berbeda dan kini terlihat rapih dan sudah begitu wangi.
"Cepat sekali, apa kau tidak mandi?"
"Aku mandi".
"pfft... Mandi macam apa kau ini? Aku hitung tadi tidak ada Satu menit kau sudah selesai semua, dan bagaimana dengan mandi yang hanya sekian detik itu". Ucap Ah Ying menahan tawanya.
"Aku kan adalah Dewa, jadi hanya sejentik jari sudah bisa melakukan banyak hal". Ucap Su Lian sembari mengangkat dagunya tinggi tinggi.
"Ya yaya aku percaya , sudahlah cepat kita pergi dari sini, panas sekali rasanya".
Ah ying pun segera melangkah pergi dahulu yang kemudian diikuti Su Lian di belakangnya.
"Hmm, Lian, mungkin aku akan pulang ke Negara Qin , ke kediaman terlebih dahulu, kasihan mereka menungguku disana".
"Baiklah, biar aku antarkan".
"Tidak perlu, kau susul saja kedua saudaramu itu. Kasihan mereka sudah menggantikanmu cukup lama".
"Tidak apa, hanya dengan berteleportasi aku bisa mengantarmu dengan cepat".
"Terserah kau saja, ". Ucap Ah Ying pasrah.
"Baiklah, kemarilah dan pegang tanganku, kita akan segera pergi". Ucap Su Lian.
__ADS_1
Ah Ying pun segera menghampiri Su Lian untuk segera berteleportasi, mereka berpegangan tangan dengan erat sesekali Su Lian memegang pundak Ah Ying agar lebih dekat dengannya
"Apa Kau siap Ying'er?".
"Aku siap".
Swushhh...
Seketika mereka berdua menghilang dari penginapan tersebut, tak lupa mereka juga meninggalkan beberapa Koin emas untuk membayar biaya mereka.
Hanya membutuhkan waktu sekitar Sepuluh menit, mereka sudah sampai di samping kediaman Ah Ying.
"Terimakasih, aku harus segera kembali".
"Baiklah Ying'er, Pangeran ini hanya bisa mengantarmu disini".
Ah Ying pun segera berjalan menuju gerbang masuk sedangkan Su Lian tiba tiba menghilang tanpa ada suara apapun.
"Siapa disana?". Tanya Penjaga gerbang.
"Ini aku, apa kalian tidak mengetahui tuan kalian sendiri?".
Setelah diri Ah Ying kena terangnya lampu dekat kediaman, penjaga gerbang itu segera meminta maaf kepada Ah Ying.
"Sudahlah tak apa, cepat bukakan pintunya, aku lelah sekali".
"Baik Nona". Mereka segera membukakan pintu gerbang untuk nonanya.
Sedangkan Ah Ying segera memasuki mansionnya dengan tergesa gesa .
Ah Ying tidak langsung beristirahat melainkan keruang kerja menunggu seseorang datang padanya.
Tak lama setelah Ah Ying memasuki Ruang kerja, dari jendela masuklah seorang penjaga bayangan dari luar ruangan yang membawa beberapa berkas penting yang ia bawa atas perintah Ah Ying.
"Bagaimana?". Tanya Ah Ying tanpa berbasa basi
"Kami sudah mengumpulkan beberapa bukti pelanggaran dan kecurangan Jendral Zhen nona, dan ini berkas berkas mengenai pelanggaran tersebut. Anehnya semua berkas ini berada di bawah tempat tidur Kaisar Hao nona". Jelas penjaga bayangan yang membawa berkas tersebut.
"Letakkan di mejaku, ada satu tugas lagi untuk kau dan rekanmu".
"Baik nona, apa tugas kami?".
"Tolong cari tahu tentang Pavilium Quanzy". Ucap Ah Ying sembari mengeluarkan Token giok yang ia dapat dari pembunuh bayaran waktu itu.
"Baik Nona, kami pamit dulu".
__ADS_1
Penjaga bayangan tersebut segera pergi meninggalkan Ah Ying sendiri di ruang kerjanya sendiri, Ah Ying segera membuka berkas tersebut satu persatu untuk melihat kecurangan dan pelanggaran yang diperbuat Jendral Zhen dan kaisar Hao.
Senyum seringai menyeramkan muncul di wajah cantik seputih giok tersebut setelah membaca semua berkas berkas yang berada di depannya.
"Heh dasar penjahat, ternyata dia yang bermasalah bukan keluarga Jendral Wu, ayah.. aku akan memberikanmu keadilan".
Gumam Ah Ying ..
Ah Ying kemudian menyimpan semua berkas tersebut ke cincin penyimpanannya, kemudian dia segera berganti pakaian bertarung serba hitam dan tak lupa cadar dan penutup kepala serba hitam, ia berniat akan menyelinap ke Kediaman Jendral Zhen.
"Kau lihat Zhen Lan, aku akan menghancurkanmu dan keluargamu dalam semalam". Gumam Ah Ying yang kemudian keluar dari Ruang kerjanya .
Dengan lincah Ah Ying berlari melompati atap ke atap setiap rumah dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, sehingga tidak menimbulkan suara sama sekali saat ia melewatinya.
Setelah cukup lama melompat dari atap ke atap lain, Ah Ying akhirnya menemukan Kediaman sang Jendral yang sudah membantai semua keluarganya.
Rasa sakit bercampur dengan amarah kini menguasai diri Ah Ying.
Dengan pelan dan hati hati Ah Ying menyelinap menghindari dari penjagaan para penjaga dan penjaga bayangan.
Dia menyelinap di lorong lorong gelap dan sempit, agar tidak terlihat oleh para penjaga yang lewat.
"Ish, penjagaan yang begitu ketat, bagaimana aku bisa menemukan dapur Kediaman Zhen". Gumam Ah Ying.
Tak lama kemudian dari arah kanan Ah Ying terlihat pelayan dengan tergesa gesa berjalan melewati lorong tempat persembunyian Ah Ying berada.
Dengan sigap Ah Ying segera membuat pingsan pelayan tersebut dan kemudian melucuti baju pelayan pingsan tersebut. Setelah melucuti nya, Ah Ying segera berganti pakaian dengan pakaian pelayan yang pingsan itu , tak lupa dia memoles mukanya dengan sedikit adonan kunyit agar terlihat sedikit kusam dan sedikit arang untuk membuat tompel di pipinya.
Setelah selesai Ah Ying segera keluar dari lorong gelap itu, tak lupa meninggalkan baju ganti untuk pelayan tersebut dan beberapa uang.
Ah Ying segera berjalan ke arah utara untuk mencari dapur Kediaman Zhen, hingga dia menabrak seorang penjaga dari arah berlawanan.
"Maaf, maafkan saya tuan". ucap Ah Ying dengan suara yang dibedakan.
"Sudahlah tidak masalah, kenapa kau berjalan terburu buru? dan sepertinya aku baru melihatmu di kediaman ini?". Ucap penjaga tersebut sedikit curiga.
"Maaf Tuan, saya pelayan baru di Kediaman ini , dan saya di perintahkan Tuan Jendral untuk mengambilkan makan malamnya yang terlambat. Karena saya baru jadi saya tidak mudah menemukan dapur tuan". Ucap Ah Ying sembari memeras meras tangannya agar terlihat seperti gugup dan ketakutan.
"Pantas saja aku baru melihatmu, Kau lurus saja dari sini , nanti di depan ada kuil kecil dan dapur kediaman berada di kanan kuil itu".
"Terimakasih tuan, saya harus kesana secepatnya".
"Ya ya cepat, sebelum Tuan Besar marah". Ucap penjaga itu yang kemudian pergi meninggalkan Ah Ying yang sudah pergi dahulu dari sana.
"Itu dia kuilnya, akhirnyaa". Gumam Ah Ying dengan langkah tergesa gesa.
__ADS_1