Rengkarnasi Sang Dewi Agung

Rengkarnasi Sang Dewi Agung
58. Bertemu sang kakek


__ADS_3

Mereka semua segera menaiki tangga bat tersebut dengan Ah Ying yang memimpin sembari masih menuntun kuda putihnya, begitupun dengan yang lain.


"Lian, Apakah masih jauh?". Tanya Ah Ying yang mulai lelah menaiki tangga.


"Tinggal beberapa anak tangga saja Ying'er, setelah itu kita akan dipertemukan sesuatu yang indah". Jawab Su Lian yang kini mensejajarkan jalannya bersama Ah Ying.


"Apa Itu?". Tanya Ah Ying lagi.


"Kau bisa lihat sendiri nantinya Ying'er". Ucap Su Lian sembari tersenyum manis.


Mereka akhirnya sampai di puncak tangga yang mereka naiki, saat sampai di puncak mereka disuguhkan pemandangan yang luar biasa indahnya. Mereka kini berada dipinggiran tebing yang tidak terlalu dalam, di sisi lain tempat mereka berdiri terlihat hamparan bunga berwarna wari yang ditengahnya terdapat jalan setapak yang cukup untuk Berpapasan berkuda.


Ah Ying melihat sekelilingnya untuk mencari jembatan menuju sebrang, tetapi tidak ada sama sekali.


"Dimana jembatannya?". Tanya Ah Ying heran.


"Tidak ada". Jawab Su Lian dengan santai.


"Lalu bagaimana kita kesebrang? Bukankah Sekte Naga Putih berada disana?". Tanya Ah Ying lagi.


Su Lian hanya tersenyum hingga membuat Ah Ying bingung dengan semua ini.


Tanpa berkata apapun, Su Lian segera mengeluarkan Giok putih dari Cincin penyimpanannya yang kemudian di arahkan ke pinggiran tebing.


Dengan sekejap mata muncullah cahaya terang yang kemudian memunculkan Sebuah jembatan besar berwarna Emas di atas tebing tersebut . Ah Ying yang melihatnya melongo karena terkejut melihat jembatan yang tiba tiba muncul di depannya .


"Ayo Ying'er, kita menyebrang, jembatan ini hanya bertahan Sepuluh menit saja". Ucap Su Lian.


"Kenapa bisa ada jembatan? tadi kan tidak ada?".


"Itu karena di dalam sekte ini semua menggunakan keamanan berlapis, sehingga membutuhkan Giok kusus untuk memasukinya. Kau berbeda Ying'er, kau bisa menggunakan Jepit rambutmu untuk membuka seluruh pintu Ghaib di Dunia bawah maupun Dunia Atas". Jelas Su Lian.


Ah Ying hanya mengangguk angguk sembari menyebrangi jembatan berlapis emas tersebut.


Setelah mereka semua menyebrang, mereka segera melanjutkan perjalanan melewati Hamparan Bunga yang tertata rapi di depannya , melalui jalan setapak tersebut.


"Apakah masih jauh? kenapa aku tidak melihat bangunan atau semacamnya". Tanya Ah Ying.

__ADS_1


"Tidak Ying'er, kita hanya berjalan sekitar Sepuluh menit saja, nanti akan ada gerbang Ghaib lagi yang menyambut kita".


Ah Ying pun kembali hanya mengangguk anggukan kepalanya , karena dia bingung tentang keamanan di Sekte sang kakek ini.


Saat sedang asiknya tenggelam di pikirannya sendiri, sekarang Su Lian memerintahkan Semua untuk berhenti.


"Berhenti disini". Perintah Su Lian .


"Ehh kenapa berhenti? bukankah kita belum menemukan gerbang yang kau maksud?". Tanya Ah Ying.


"Coba kau berjalan ke depan sana kalau Ying'er bisa".


Ah Ying yang merasa di tantang pun segera berjalan kembali , akan tetapi setelah sampai di depan Su Lian ia seperti menabrak dinding tak kasat mata, padahal yang Dia lihat masih hamparan bunga yang tidak ada ujungnya.


"Kenapa aku seperti menabrak dinding tak kasat mata?". Tanya Ah Ying.


"Sudah kubilang kan, coba kau arahkan Jepit rambutmu ke dinding tak kasat mata itu Ying'er" .


Ah Ying segera melepaskan Jepit rambutnya yang kemudian segera mengarahkan ke dinding tak kasat mata tersebut. Saat Jepit tersebut bersentuhan dengan dinding Tak kasat mata itu, tiba tiba terdengar bunyi suara Gerbang yang terbuka..


Saat Ah Ying asik mengamati Sekte tersebut, dari kejauhan terlihat seorang Pria Tua yang masih sangat gagah dan tegap dengan rambut yang sudah memutih semua datang menghampiri Ah Ying dan yang lainnya.


"Selamat datang di Sekteku ini Pangeran, dan ini?". Tanya kakek tersebut kepada Su Lian dan Ah Ying.


"Terimakasih Tetua, apakah anda tidak mengenali gadis ini?". Tanya Su Lian.


"Kakek...". Pekik Ah Ying yang kemudian segera berlari menghampiri sang kakek.


"Apakah Kau anak dari Shen Min?". Tanya kakek tersebut.


"Kau benar kakek, Aku adalah anak pertama dari Jendral Wu". Ucap Ah Ying dengan mata berkaca kaca.


"Cucuku, akhirnya aku bertemu denganmu lagi, tapi bagaimana bisa? bukankah keluarga kita habis dibantai?". Tanya Kakek tua itu yang ternyata adalah Kakek Wu Yen kakek dari Ah Ying.


"Aku diselamatkan oleh ibu kek, dengan memberikan binatang spiritualnya padaku".Jelas Ah Ying.


"Kau bisa membuka cadarmu itu cucuku, disini tidak ada yang mengenalimu kecuali kakekmu dan pangeran itu". Ucap Kakek Yen.

__ADS_1


"Baiklah kek" ucap Ah Ying sembari melepas cadarnya .


Saat wajahnya terbuka dengan jelas para prajurit Su Lian yang melihat kecantikan bak Dewi tersebut. Wajah tirus , mata yang sipit di tambah dengan kulit yang putih bersih seperti Giok dengan tubuh yang lumayan tinggi untuk ukuran perempuan membuat semua pria yang melihatnya mimisan karena tak kuat melihat kecantikannya.


"Dewi....". Gumam salah satu prajurit, hingga dia benar benar pingsan.


"Cucuku, kau sangat cantik seperti seorang Dewi". Puji Kakek Wu Yen.


"Ah kakek, jangan membuatku malu". Jawab Ah Ying tersipu malu.


"Bukankah dia memang seorang Dewi Tetua? kenapa anda pura pura tidak mengetahuinya". Sindir Su Lian kepada kakek Wu Yen yang hanya tersenyum penuh arti.


"Kakek, kau mengetahui tentangku?". Tanya Ah Ying penasaran.


"Hemm, apa Cucuku ini penasaran?".


"Tentu saja kakek, kenapa kalian menyembunyikan sesuatu dariku".


"Kalau begitu mari kita masuk dahulu, baru kakek ceritakan padamu cucuku. Dan Untuk para prajurit, biarkan penjaga sekte yang mengatur mereka". Jelas Kakek Wu Yen.


"Baik kakek,".


"Baik Tetua". Ucap Su Lian dan Ah Ying bersamaan.


Merekapun segera berjalan menuju Paviliun Merpati, tempat tinggal Kakek Wu Yen. Dengan disuguhkan pemandangan yang indah sekitar lorong menuju Paviliun, terdapat kolam ikan yang panjang mengelilingi sekte yang disampingnya terdapat bunga bunga langka yang jarang di temukan di Luar sekte.


"Kakek, ternyata kakek menyukai bunga bunga ya". Ucap Ah Ying.


"Semua itu bukan bunga sembarangan cucuku, melainkan Bunga untuk pengobatan, jadi kakekmu ini sekalian melestarikan di Sekte agar mudah mencari jika para murid ingin menggunakannya". Jelas Kakek Wu Yen.


"Lalu dimana semua murid mu kek?". Tanya Ah Ying kembali.


"Mereka semua berlibur, karena memang jadwal Liburan mesin semi Cucuku". Jelas Kakek Wu Yen..


"Ahh aku hampir lupa Kek".


Mereka pun segera melanjutkan perjalanan menuju Paviliun Merpati tempat tinggal Sang kakek, yang ternyata cukup jauh dari pintu depan kardna Sekte Naga Putih yang terkenal sebagai Sekte terbesar di Negara Qin.

__ADS_1


__ADS_2