
Setelah selesai berdandan Ah Ying segera duduk di dekat jendela untuk menunggu Su Lian selesai mandi. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling penginapan untuk melihat para warga berlalu lalang melakukan aktivitasnya masing masing.
"Ying'er, apa kauingin berjalan jalan terlebih dahulu". Ucap Su Lian yang sudah rapi menggunakan Baju Hitam dengan jubah senada membuatnya terlihat gagah dan percaya diri.
"Baiklah, setelah sarapan okey".
"Tentu, Jangan lupa cadarmu".
"Kau tenang saja Lian".
Mereka segera turun kelantai dasar untuk sarapan bersama, Pelayan penginapan yang begitu sopan membuat Ah Ying senang melihat kesopanan dan keramahan mereka, berbeda di Negara Qin yang sangat ketara perbedaannya.
"Nona, Tuan, anda mau memesan apa?". Tanya pelayan tersebut.
" Aku ingin daging babi yang ditumis pedas, dan satu mangkuk sup, dan jangan lupa buah buahan". Kata Ah Ying
"Samakan saja pesanannya dengan nona ini". Ucap Su Lian.
Pelayan segera mencatat pesanan mereka dan kemudian pamit undur diri untuk menyiapkan pesanan mereka berdua.
"Suasana di Negara Luo sungguh berbeda jauh dengan Negara Qin ya". Kata Ah Ying sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling penginapan.
"Tentu saja berbeda, semua tergantung pemimpin masing masing".
"Begitu ya.. pantas.. Di Negara Luo ini begitu damai , tidak dengan Negara Qin , yang kuat menindas yang lemah".
"Pangeran ini setuju denganmu Ying'er".
"Ngomong ngomong, kenapa kau ingin membantuku membalas dendam? bukankah Kaisar b*d*h itu adalah saudaramu di Dunia Bawah ini?". Tanya Ah Ying yang kemudian memindahkan pandangannya kepada Su Lian.
"Dia memang saudaraku, tetapi , Kami diperlakukan berbeda sejak kecil. Dan kenapa aku mau membantumu karena Paman Wu sudah aku anggap sebagai pamanku, karena berkat dia aku bisa belajar banyak hal, dan satu hal lagi. Orang yang sudah menyakitimu aku harus ikut membantumu menyingkirkan mereka walaupun keluargaku sendiri". Jelas Su Lian dengan penuh tekat.
"Terimakasih...". Singkat Ah Ying sambil tersenyum lembut mendengar ucapan dari Su Lian.
Ditengah perbincangan mereka , pesanan mereka akhirnya sudah siap , dibawa oleh beberapa pelayan menuju meja mereka.
Dengan sangat rapi mereka menata pesanan di atas meja , tak lupa Su Lian memberikan tips kepada pelayan tersebut dan di sambut dengan kata terimakasih dari sang pelayan.
"Selamat makan". Ucap Ah Ying kemudian memulai makan besarnya dengan perlahan.
Su Lian yang melihat Ah Ying asik dengan makanannya pun tak mau kalah dan segera memulai ritual makannya kemudian.
"Kau tahu , beberapa hari yang lalu, ada cahaya yang begitu terang menjulang tinggi di tengah hutan matahari . Menurutmu apa itu, cahaya misterius itu membuat para binatang biasa dan kontrak terduduk lesu seketika".
"Entahlah, kupikir ada Dewa Dewi yang turun kebumi".
__ADS_1
"Ahh apa mungkin orang dari dunia atas sana ?".
Rumor tentang cahaya misterius yang terjadi di tengah hutan matahari menggegerkan seluruh warga kerajaan Luo yang melihatnya, banyak yang beranggapan bahwa itu orang dari Alam Atas , malaikat ataupun Dewa Dewi.
Tanpa mereka sadari, dalang dari kejadian tersebut sedang asiknya menyantap makanan masing masing tanpa memperdulikan Rumor yang beredar.
"Akhirnya kenyang". Gumam Ah Ying sembari mengusap perutnya yang sedikit membuncit
"Tentu saja harus kenyang, porsimu lima kali lipat dari gadis gadis bangsawan Ying'er". Ucap Su Lian yang juga sudah selesai makan.
"Mereka saja yang munafik, hmmm... makanan enak harus dihabiskan jangan pernah di sia siakan".
"Ya ya terserah padamu, dari dulu ternyata kau tidak banyak berubah Yue'er".
"Hei, apa kau lupa, kita masih berada di Dunia bawah, jangan panggil aku dengan nama asliku.. huhh dasar pelupa".
"Maafkan pangeran ini, heheh". Ucap Su Lian sambil tertawa garing.
"Sudahlah, bukankah kita harus ke istana untuk bertemu Putra Mahkota ?". Tanya Ah Ying.
"Tentu Ying'er, mari". Kata Su Lian sembari menggandeng tangan Ah Ying keluar dari penginapan.
"Aku bisa jalan sendiri". Jawab Ah Ying yang kemudian jalan mendahului Su Lian
"Tunggu Ying'er, apa kau tahu jalan menuju Istana negara Luo?". Tanya Su Lian.
"Ahh ,, aku tidak tahu jalannya, cepat tunjukan jalannya Lian". Ucap Ah Ying kemudian berhenti berjalan untuk menunggu Su Lian.
"Pegang tanganku".
"Tidak mau!".Tolak Ah Ying sembari bersedekap dada.
"Baiklah, maka akan aku tinggalkan kau disini". Ucap Su Lian mengejek sambil sedikit melirik Ah Ying yang sudah kesal sedari tadi.
"ihhh... kau curang!!.. baik baikk, mana tanganmu". Ucap Ah Ying , kemudian segera meraih tangan Su Lian dengan wajah yang begitu kusut.
"Baiklah mari kita ke Istana". Senyum merekah Su Lian pun mengembang ketika melihat Ah Ying cemberut karena kalah darinya.
Mereka berdua segera berjalan menuju Istana Negara Luo yang tidak jauh dari penginapan yang mereka sewa.
Di Perjalanan, tangan mereka saling bertautan satu sama lain karena Su Lian menggenggam dengan erat tangan Mungil Ah Ying sehingga ia tidak bisa melepaskan tautan tangan mereka.
Mereka Akhirnya tiba di depan Pintu Gerbang Kekaisaran Luo, tak lupa Penjaga gerbang segera meminta mereka berdua menunjukkan tanda pengenalnya.
Su Lian segera mengeluarkan Giok emas kekaisaran Qin kepada kedua penjaga tersebut, sehingga mereka segera membukakan pintu gerbang yang amat besar dan tinggi .
__ADS_1
Ah Ying dan Su Lian segera memasuki istana, disana sudah ada utusan Putra Mahkota yang sudah menunggu di balik Gerbang besar tersebut.
"Mari Yang Mulia Pangeran Agung dan Nona, silahkan mengikuti Bawahan ini". Ucap utusan tersebut yang kemudian memimpin jalan menuju kediaman Putra Mahkota.
Mereka pun akhirnya tiba di depan Istana Putra Mahkota, bangunan berlantai tiga tersebut mempunyai beberapa gang dan ruangan di samping bangunan utama. Bentuk bangunan yang estetik nan asri membuat semua orang yang memasuki istana tersebut menjadi begitu nyaman berada disana. Apalagi ditambah kolam ikan di samping kediaman yang diatasnya terdapat jembatan penghubung kecil , membuat begitu indah di pandang.
"Yang Mulia dan Nona, silahkan masuk. Putra Mahkota sudah menunggu". Ucap Pelayan tersebut sembari membukakan pintu untuk Ah Ying dan Su Lian.
"Terimakasih". Ucap mereka berdua .
Mereka akhirnya memasuki ruang tamu di Kediaman Putra Mahkota. Yang sedari tadi Sang Putra Mahkota sudah duduk di salah satu kursi ruang tamu untuk menunggu Tamu Agung dari kerajaan Qin itu.
"Akhirnya kau datang juga Su Lian". Ucap Putra Mahkota.
"Tentu saja".
"Ehh siapa gadis bercadar disampingmu?".Tanya Putra Mahkota.
"Ohh ini, perkenalkan Ah Ying, kekasihku". Ucap Su Lian posesif .
"Ternyata Kekasihmu , saat bercadar saja terlihat begitu cantik, apalagi jika di buka". Kata Putra Mahkota yang mendapat pukulan pelan dari Su Lian.
"Silahkan duduk". Sambung Putra Mahkota kepada Su Lian dan Ah Ying.
"Baiklah langsung ke intinya saja ". Ucap Su Lian .
"Bagaimana jika kau yang Memulai Su Lian". kata Putra Mahkota yang memulai berkata dengan serius.
Ah Ying yang juga berada di dalam sana, hanya terdiam mendengarkan kedua lelaki tampan tersebut sedang membicarakan rencana mereka.
"Seperti dugaan kita, Kakakku akan menabuh genderang perang dengan Negara Luo untuk memberontak dan membuat Negara Luo berada di bawah kekuasaan Negara Qin". Jelas Su Lian.
"Kapan itu terjadi?".
"Mungkin sekitar satu bulan dari sekarang, dia sudah mengumpulkan para prajurit terpilih, dan bekerjasama pada Kultivator jahat untuk ikut andil dalam peperangan".
"Baik, dan kau tahu? bahwa ada orang dalam atau bisa disebut mata mata Su Hao di negara Qin ini. bahkan statusnya adalah bangsawan kelas tiga di Negara Luo ini".Ucap Putra Mahkota.
"Jadi apa kita mulai sandiwara kita?". Tanya Su Lian.
"Tentu, kita masuk dalam permainan mereka Su Lian. Dan kita harus pandai pandai mencari celah agar Su Hao benar benar turun tahta".
"Aku mengerti".
"Tunggu,apa rencana kalian?". Tanya Ah Ying yang sedari tadi diam saja.
__ADS_1
Su Lian segera menjelaskan rencana mereka secara detail kepada Ah Ying, sehingga dia hanya mengangguk anggukan kepalanya.