
Seluruh Keluarga Zhen kini dimasukkan di penjara Istana kerajaan Qin .
Mereka di pisahkan antara laki laki dan perempuan. Dengan perasaan marah sedih dan gundah kini bercampur menjadi satu dalam benak Jendral Zhen. Jendral Zhen yang memilih menyendiri di penjara daripada berkumpul dengan keluarga yang lainnya. Dia merenung tentang apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan Kaisar sebelumnya. Kini dia pun mulai teringat akan kata kata dari Mendiang Jendral Wu yang mengatakan ``apa kau tidak takut bila nantinya kau bernasib sama seperti ku``
Kata kata itu selalu saja muncul di pikiran Jendral Zhen, sehingga membuat Jendral Zhen menjadi kacau setiap kali mengingatnya.
"Ternyata Kau benar Jendral Wu, aku hanya sebagai alat yang akan berakhir sama sepertimu". Gumam Jendral Zhen sembari mengepalkan erat tangannya.
Saat Jendral Zhen sedang larut dalam Pikirannya, Kaisar Su Hao datang mengunjunginya secara pribadi di Dalam penjara.
"Tinggalkan kami berdua". Ucap Kaisar kepada Para penjaga.
"Baik Yang Mulia". Ucap Penjaga penjaga itu.
Jendral Zhen yang sudah berpenampilan acak acakan karena terlalu stres dalam Pikirannya sendiri , kini mendongakkan kepalanya untuk melihat Kaisar yang datang berkunjung.
"Untuk apa kau datang kemari Yang Mulia?". Ketus Jendral Zhen.
"Aku kemari untuk menemuimu secara pribadi". Jawab Kaisar sembari duduk di tumpukan jerami yang berada di dalam sel penjara..
"Heh, untuk apa?". Tanya Jendral Zhen dengan dinginnya.
"Untuk melihatmu yang terakhir kalinya, ". Jawab Kaisar sembari tersenyum tipis.
Jendral Zhen yang mendengarnya kini mengepalkan tangannya sembari tersenyum miring kepada Kaisar muda di depannya.
"Sungguh bermartabat sekali, ya.. hebat .. hebat". Jawab Jendral Zhen sambil bertepuk tangan dengan perlahan.
"Aku tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana, Yang jelas penangkapan kepadamu dan seluruh Keluarga Jendral Zhen bukanlah titahku. Dan aku pun tidak bisa berbuat apa apa, Hakim agung sudah mempunyai semua bukti penyalahgunaan dan seluruh kejahatan mu jadi aku tidak bisa membantumu".
"Untuk apa kau menjelaskannya padaku, itu pun juga tidak bisa merubah keputusan Hakim".
"Ya kau benar, dan harus kau ingat. Saat di persidangan nanti, jangan pernah menyebut namaku di sana. Atau... aku akan mengambil anak anak perempuanmu untuk menjadi gundiku".
__ADS_1
"Cuihh... dasar Kau Licik Su Hao, kau hanya membebankan semua kesalahannya kepadaku. Ternyata benar yang dikatakan Jendral Wu kalau aku hanya sebagai alatmy!!". Ucap Jendral Zhen yang meludah tepat mengenai kaki Kaisar.
"Yahh.. memang tidak salah apa yang dikatakan Jendral Wu itu.. Hahah.. dan kenapa kau tidak percaya padanya waktu itu? Maka dari itu, aku dengan berbaik hati menuntunmu untuk bertemu dengan Jendral Wu Secepatnya". Ucap Kaisar Su Hao yang kemudian mengeluarkan belati emas yang kemudian ditikamkan ke dada Jendral Zhen tepat di dadanya.
"Ka... Kauu.. Sungguh Li.. Licik ".Ucap Jendral Zhen terbata bata.
"Ya aku memang licik, dan kau ingin membalasnya? Hahah silahkan jika kau bisa. Sekarang lihatlah di penjara sebrang sana tempat keluargamu di kurung? kini mereka sudah mati, dan kau harus menemani mereka ". Ucap Kaisar.
Jendral Zhen yang melihat tumpukan mayat di penjara seberang kini terbelalak karena terkejut. Kausar Su Hao kemudian segera menikam kembali menggunakan Belati emasnya hingga Jendral Zhen benar benar tewas.
Setelah selesai membunuh Jendral Zhen dan seluruh keluarganya kini Kaisar segera pergi dari penjara tersebut dan meninggalkan mayat mayat itu tergeletak .
Keesokan harinya, penjaga dikejutkan oleh Kematian seluruh keluarga Jendral Zhen begitupun sang Jendral saat sebelum persidangan berlangsung.
Salah satu penjaga segera berlari menuju tempat kerja Hakim Agung untuk memberitahukan kematian Jendral Zhen dan keluarganya.
"Maaf Tuan Hakim, Saya mengganggu sebentar". Ucap penjaga yang diperintahkan untuk menjaga Jendral Zhen dan seluruh keluarganya.
"Ada apa? cepat katakan".
"Siapa yang terakhir menemui Jendral Zhen?". Tanya Hakim Wang dengan raut Wajah datar .
"Yang,, yang terakhir berkunjung Yang Mulia Kaisar Hakim".
Sudah kuduga, pasti semuanya ada hubungannya dengan Kaisar Su Hao. Ataukah dia dalang dari semuanya. Gumam Hakim Wang dari dalam hati.
"Sekarang antar aku ke tempat itu". Ucap Hakim Wang yang kemudian segera berjalan menuju penjara Istana.
Berita Meninggalnya Jendral Zhen dan seluruh keluarganya kini sudah menyebar di seluruh ibu kota, bahkan sudah terdengar jelas di telinga Ah Ying dan Su Lian di tempat yang berbeda.
Saat Ah Ying sudah menyelesaikan urusanya di kediamannya, dan Ia sudah menemukan pengendali binatang yang Ia inginkan, Dia segera kembali ke Sekte Naga Putih agar tidak membuat curiga Penghuni Sekte.
Ah Ying menggenggam erat kalung naga itu, dan kemudian segera menghilang dengan sekejap dan tiba pada kamarnya yang berada di Sekte Naga Putih dengan sekejap.
__ADS_1
"Hah ,, akhirnya aku bisa beristirahat.. Ehh tunggu tunggu, Aku harus memberitahu kepada Kakek tentang kematian Jendral Zhen". Ucap Ah Ying yang kemudian Keluar kamar dan berjalan menuju Kamar Sang kakek.
"Apa Kakek sudah tidur ya, hmm semoga saja belum". Gumam Ah Ying sembari bersenandung di sepanjang jalan.
Setelah sampai di depan Kamar Kakek Wu Yen, Ah Ying segera mengetuk pintu kamar kakeknya.
"Kakek, .. Kakek .. Apa kau di dalam?". Teriak Ah Ying..
"Masuklah". Sahut Kakek Wu Yen dari dalam Kamar.
Ah Ying pun segera membuka perlahan pintu kamar Kakek Wu Yen tersebut, Setelah semua pintu terbuka kini memperlihatkan Kakek Wu Yen sedang duduk di Kursi panjang dekat jendela kamar bersama dengan Su Lian sembari meminum teh bersama.
"Kauu... Bukankah tadi kau tidak ada di kamarmu?". Tanya Ah Yung sambil menunjuk Su Lian yang sedang asik menyeruput teh nya.
"Bukankah kau yang tidak berada di kamar Ying'er". Jawab Su Lian sembari tersenyum lembut.
Ah Ying yang bingung pun hanya terdiam dan mulai mencerna kata kata Su Lian .
"Kenapa kau malah menuduhku tidak ada di kamar?".Tanya Ah Ying.
"Karena aku tahu bahwa kau berada di kediaman Jendral Zhen".
"Berarti kau pun juga berada disana?". Tanya Ah Ying.
"Tentu saja". Ucap Su Lian tanpa berpikir panjang. Setelah mengucapkannya, Su Lian segera menutup mulutnya dan meralat omongan yang Ia ucapkan tadi .
"Maksudku, ada yang memberitahuku". Sangkal Su Lian .
"Sudah sudah, kakek tahu kalau kalian ini tadinya pergi meninggalkan Sekte untuk memulai rencana masing masing, benar kan?". Tanya Kakek Wu Yen .
"Heheh, iya kek". Jawab Ah Ying sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Lalu apa Kakek tahu, tentang kematian Jendral Zhen".
__ADS_1
"Kakek baru saja diberitahu oleh Su Lian , jadi kau tenang saja, Kakek akan membantumu.".
Ah Ying pun ikut duduk di tengah tengah , diantara mereka berdua sembari larut dalam pikirannya sendiri.