Rengkarnasi Sang Dewi Agung

Rengkarnasi Sang Dewi Agung
74.Awal


__ADS_3

Kakek Wu dengan tenangnya mulai mendekati pria berbaju merah yang menunggang kuda dengan membusungkan dada itu.


Dengan sekejap mata, kuda yang di tunggangi pria berbaju merah itu tiba tiba tumbang jatuh pingsan.


Brukkk...


"Sial,, apa yang kau lakukan Tua bangka!!". Ucap Pria berbaju merah itu yang ikut tersungkur karena kudanya yang tiba tiba pingsan.


"Aku hanya ingin menyapa kalian, tak kusangka kudamu terlalu terpesona dengan tua Bangka ini hingga pingsan ". Ucap Kakek Wu yang masih dengan santai tanpa emosi.


"Heh, tidak usah berbicara omong kosong pak Tua.. Hidupmu hanya tinggal beberapa menit lagi". Ucap Pria berjenggot sebelah pria berbaju Hitam.


"Pak Tua, sebaiknya kau bersiap saja untuk menjemput ajalmu Hahahaha". Sambung Pria berbaju merah.


Kakek Wu yang digertak tidak bergeming sama sekali, malah kini ikut tertawa bersama musuh yang berada di depannya.


"Hei Pak Tua, kenapa kau ikut ikut tertawa Hah!! memangnya ada yang lucu?". Tanya Pria berbaju Hitam sedikit berteriak.


"Hh, aku hanya kasihan saja kepada kalian". Ucap Kakek Wu Yen.


"Apa Maksudmu Tetua pertama?". Tanya Chen Feng kali ini.


"Pertama, kalian berurusan dengan orang yang salah, kedua kalian berurusan dengan yang salah dan ketiga. Kalian masih saja berurusan dengan orang yang salah". Jawab Kakek Wu Yen yang membuat Chen Feng dan Yang lain kebingungan dengan kata kata yang di lontarkan Kakek Wu Yen.


"Sudahlah tidak usah banyak bicara, lebih baik kita hancurkan Sekte itu dan bunuh semua yang menghalangi kita!!!". Seru Pria berbaju Merah itu sembari mengangkat pedangnya tanda dia memulai peperangan.


Kakek Wu Yang melihat musuhnya sudah memulai untuk menyerang, dia segera mengeluarkan pedang super besar andalannya dengan kekuatan yang begitu luar biasanya.


"Tingkat Maha Kuasa? bagaimana mungkin makhluk fana bisa mencapai tingkat itu?".Gumam Pria berjanggut saat melihat kekuatan yang muncul dari Kakek Tua di depannya.


"Kalian berhati hatilah, kakek Tua itu sudah berada di Ranah maha Kuasa". Teriak Pria berjenggot tersebut.


Kakek Wu Yen memang sengaja menunjukkan tingkat kultivasinya untuk membuat salah satu orang dari musuh melapor kepada Tuannya Yang lain (Yang jelas bukan Kaisar Su Hao).


Dan benar saja, Pria berjenggot itu tiba tiba menghilang dari pertarungan tanpa meninggalkan jejak. Kakek Wu Yen Yang menyadarinya kini tersenyum miring saat melihat rencanannya berhasil .


Para Guru dan tetua serta murid terpilih kini ikut bergabung dalam pertempuran. Awalnya sangatlah sulit menyerang prajurit yang ada di depannya karena mereka memakai armor kusus agar tidak bisa di serang oleh kultivator kuat sekalipun.

__ADS_1


"Ternyata Kau memakai Armor Baja biru, Hebat". Ucap Kakek Wu Yen kepada Pria berbaju merah yang sebagai lawannya.


"Heh, bilang saja kalau kau takut kakek tua". Jawab Pria itu dengan sinisnya.


"Orang Tua ini tidak akan pernah takut dengan apapun yang berada di Dunia Fana ini". Ucap Kakek Wu dengan mantapnya.


Kakek Wu Yen memusatkan energinya di pedang besarnya, dengan kekuatan penuh ia pun membabat habis prajurit di depannya. Armor yang mereka gunakan tidak berpengaruh di tangan Kakek Wu, hingga Membuat pria berpakaian merah geram dan marah melihat kakek Tua dengan mudahnya membabat habis anak buahnya.


____


Di tengah perjalanan, Ah Yung menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik untuk berbicara dengan Ji Hong.


"Tunggu, bagaimana kita malah membuat heboh seluruh Ibukota jika kita membawa mereka semua?". Tanya Ah Ying.


"Anda tenang saja Dewi, saya membawa kantong penyimpanan yang berfungsi untuk menampung makhluk hidup dengan jumlah banyak". Jelas Ji Hong.


"Kalau begitu cepat masukkan mereka".


"Baik Dewi".


dengan melambaikan tangannya, seluruh binatang yang mengikutinya kini memasuki kantong penyimpanan Ji Hong dengan mudah.


"Nanti jika kita sampai di keramaian orang, jangan sampai kau memanggilku Dewi, panggil saja Nona Ying".


"Baiklah Dewi.. Ehh... maksudku Nona Ying ". Ucap Ji Hong yang masih kaku karena belum terbiasa .


Mereka segera berjalan kembali memasuki Ibukota dengan anggunnya.


"Nona, setelah ini kita kemana?". Tanya Ji Hong.


"Kita akan menunggu malam di belakang istana dan kau tunggu aba abaku". Ucap Ah Ying.


Mereka pun segera berjalan menuju belakang istana, atau lebih tepatnya hutan yang berada di belakang istana.


Sesampainya di sana, Ah Ying segera membagi tugas bersama Ji Hong. Setelah membagi tugas, Ah Ying segera memasuki Istana untuk mencari Su Lian.


Dengan gesitnya Ah Ying berhasil menghindari para Prajurit yang tengah berjaga.

__ADS_1


"Hufh, akhirnya". Gumam Ah Ying setelah sampai di kamar Su Lian.


Ah Ying segera menyapukan pandangannya untuk mencari Su Lian tetapi tidak ada sama sekali di dalam kamarnya.


"Ish di Mana Dewa perang licik itu, bisa bisanya dia tidak ada di kamarnya". Gumam Ah Ying. Hingga ia mendengar Suara Prajurit tergesa gesa melewati kamar Su Lian dan sedang saling bercerita.


"Ku dengar Pangeran Agung kini sedang menentang Kaisar".


"Ya aku juga mendengarnya, ada apa sebenarnya? apakah Pangeran Lian akan merebut tahta dari sang kakak?". Ucap Prajurit lainnya.


"Itu tidak mungkin Pangeran Agung lebih memilih hidup bebas tanpa harus memikirkan tugas yang menumpuk".


"Atau mungkin Kaisar muda kita melakukan kesalahan sehingga Pangeran Lian menentang dan marah?".


"Entahlah, mari kita pastikan saja".


Suara para prajurit yang tergesa gesa menuju tempat di mana Su Lian dan Su Hao bercekcok satu sama lain.


Ah Ying yang menyadari bahwa itu adalah kode untuk memulai perlahan rencanannya.


Ah Ying segera membuka cadar yang selama ini menutupinya, dan kemudian segera pergi ketempat Su Lian serta tidak lupa bertelepati kepada Ji Hong untuk memberitahu situasi.


Setelah sampai di halaman tempat Su Lian dan Kaisar bercekcok kini Ah Ying menyembunyikan diri di pohon besar dekat tempat kejadian itu.


Saat ia sampai di atas pohon , Ia pun terkejut mendapati Tianzi ,Haocun dan Kaisar Tua yang sama sama sembunyi di pohon besar itu.


Begitupun ketiga orang itu terkejut melihat Ah Ying tanpa Cadarnya kali ini. Dia terlihat begitu cantik Bak Dewi dengan Kulit seputih Giok.


"Kalian, kenapa kalian kemari. Salam Kaisar Tua". Ucap Ah Ying yang masih sempat memberi salam .


"Kami ingin melihat pertunjukan menarik, serta pastinya membantumu dan kakak Nona untuk menghabisi orang itu". Jawab Tianzi .


"Tianzi benar Nona muda Wu, aku juga akan ikut andil dalam rencana kalian". Ucap Kaisar Tua dengan penuh semangat atau mungkin bisa di katakan penuh dendam ingin membalas kejahatan Ibu dan Anak itu.


"Baiklah kalau begitu, ceritakan apa rencana kalian?". Tanya Ah Ying.


Kemudian Haocun pun segera menceritakan rencana mereka untuk membantu Ah Ying dan Su Lian.

__ADS_1


Ah Ying Pun segera mengangguk-angguk saat mendengar rencana para adik dan Ayah Dari kekasihnya itu .


"Kalau begitu, mari perlahan kita Turun untuk mengejutkan Mereka". Ucap Haocun yang ingin segera memulai rencana mereka.


__ADS_2