Rengkarnasi Sang Dewi Agung

Rengkarnasi Sang Dewi Agung
59. Mantan Dewa Agung


__ADS_3

Mereka pun Akhirnya sampai di Paviliun Merpati yang di maksud, segera Kakek Wu Yen mempersilahkan mereka masuk dan duduk di Ruang tamu Paviliun tersebut.


Kakek Wu Yen segera menyuruh pelayan kediamannya untuk menyeduhkan Teh untuk Ah Ying dan Su Lian.


Di Paviliun merpati terdapat banyak sekali jenis bunga Herbal yang memang sengaja di tanam untuk kepentingan mengajar Kakek Wu Yen.


Setelah mereka semua duduk di kursi masing masing, para pelayan segera menyajikan teh dan beberapa camilan kepada Tamu Agung dari Kakek Wu Yen tersebut.


"Silahkan di minum pangeran, dan kau juga cucuku".


"Terimakasih Tetua". Ucap Su Lian dengan Ramah.


"Terimakasih kakek".


Mereka semua segera menyeruput teh yang sudah di sajikan dan di tuangkan ke cangkir masing masing, dan Ah Ying pun segera mangambil beberapa Camilan untuk segera di makannya.


"Baiklah, bisakah aku mulai bercerita". Tanya Kakek Wu Yen tersebut.


"Tentu kakek, ceritakan saja".


"Baiklah Kakek akan mulai bercerita".


Kakek Wu Yen pun segera mengambil nafas dalam dalam dan kemudian segera memulai untuk bercerita.


Cerita dimula...


Setelah penyerahan Tahta , Dewa Agung Tua pun segera pergi mengasingkan diri untuk ketenangan di masa tuanya. Dia Ingin turun Ke Dunia bawah untuk menenangkan diri, tetapi karena dia adalah seorang Dewa, maka harus mencari Tubuh Fana untuk ia tempati di Dunia Bawah ini.


Setelah menemukan Tubuh Fana dari seorang mantan Jendral besar yang bernama Wu Yen, dia segera memasuki tubuh tersebut.


"Akhirnya aku menemukan Tubuh fana dengan cepat". Ucap Mantan Dewa tersebut .


Setelah benar benar memasuki tubuh dengan Usia yang sama dengannya jika berada di Dunia Bawah kini ia memutuskan untuk pergi dari kediaman Jendral besar Wu karena ia tidak mau mengikuti politik Kaisar Tua Su .


Dia memutuskan pergi dari Ibu Kota untuk mengasingkan diri di Kota Thongfang yang sekarang menjadi Sekte Naga Putih.


Dengan kekuatan besarnya, ia berhasil membuat Sekte hanya dalam Tiga Hari yang menjadi Gempar Saat Itu di seluruh Negara Qin bahkan sampai di negara Tetangga.


Sekte Naga Putih mulai banyak peminatnya karena terkenal dari Tetua sekte yang membangun sekte hanya dalam Waktu Tiga Hari, banyak Anak muda yang berbondong bondong dan berlomba lomba memasuki Sekte Naga Putih Tersebut. Bahkan tidak sedikit Peminatnya dari Negara tetangga.


Sekte Naga Putih terkenal akan murid murid Hebat yang sudah lulus dari Sekte. Ada yang menjadi Tetua di Sekte , ada juga yang menjabat di beberapa jabatan di negara mereka masing masing.

__ADS_1


Setelah cukup lama Sekte Naga Putih Berdiri, Pemilik sekte yakni Sang Dewa Agung Tua, memilih cucu dari pemilik Tubuh untuk mewarisi Sekte tersebut. Tetapi karena tragedi Pembantaian di Kediaman Jendral Wu sang anak pemilik tubuh, kini harapan untuk mewariskan Sekte terpupus sudah. Hingga sebuah keajaiban muncul, yang ternyata Cucu dari Pemilik tubuh adalah Rengkarnasi Sang Cucu yaitu Calon Dewi Agung yang gugur saat melawan pemberontak Waktu itu.


"Begitulah ceritanya". Ucap Kakek Wu Yen.


"Ternyata Kakek adalah seorang Dewa, Dewa agung malah, ternyata juga kakek memang kakekku di kehidupanku sebelumnya". Ucap Ah Ying terheran heran.


"Hhh, Kau ini cucu kesayanganku, hanya saja semenjak kau meninggal waktu itu. Kakekmu lebih memilih Menjadi Makhluk fana seperti ini". Ujar Kakek Wu Yen.


"Maafkan aku kek, Oh iya kek, bolehkah aku memanggilmu dengan nama Aslimu?".


"Apa kau masih mengingatnya?".


"Tentu saja aku mengingatnya kek, Nama Asli kakek kan Wang Dunrui kan?".


"Hahaha, benar cucuku, ternyata kau masih mengingatnya. Tapi kau hanya boleh memanggil nama asliku jika di Dunia Atas, jika di sini panggil saja nama pemilik tubuh ini". Jelas kakek Wu Yen.


"Baiklahh".


Su Lian hanya memperhatikan dalam diam saat melihat keakraban Kakek dan cucu yang telah lama berpisah di hadapannya. Ia mulai memakan camilan satu persatu untuk menunggu selesainya Mereka berdua berbincang, setidaknya mengingat bahwa Dia ada di antara mereka.


"Kakek, aku lapar". Ucap Ah Ying sembari mengelus elus perut tipisnya.


"Benarkah? Kukira tadi masih siang, Ahh aku melewatkan makan siangku hari ini". Ucap Ah Ying sembari melihat arah luar untuk melihat keadaan di luar yang ternyata memang sudah malam.


"Lian, apakah kau tidak lapar? kenapa dari tadi kau diam saja?". Tanya Ah Ying yang Akhirnya menyadari akan keberadaan Su Lian.


"Tidak, melihatmu bahagia saja aku merasa kenyang". Ucap Su Lian dengan genit.


"Yasudah, kek nanti jatahnya kasihkan padaku saja,wlee". Ucap Ah Ying sembari pergi menggandeng sang kakek.


"Ehh tidak bisa begitu, kau ini wanita harus menjaga postur tubuhmu". Elak Su Lian.


"Tadi kan kau bilang melihatku saja sudah kenyang". Ucap Ah Ying sedikit mengolok.


"Itu... Ahh aku juga ingin makan tau". Rengek Su Lian membuat Kakek Wu yang melihat mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya heran .


"Sudah, mari kita ke tempat makan dan makan bersama". Ucap Kakek Wu Yen..


"Baik". Ucap mereka berdua bersama.


Mereka akhirnya pergi ke ruang makan yang tak jauh dari Ruang tamu tempat mereka mengobrol tadi , hanya melewati beberapa gang saja sudah sampai di Ruang Makan.

__ADS_1


Kakek Wu Yen segera memesankan makan malam kepada para pelayan Kediamannya .


Dengan cepat Para Pelayan tersebut sudah selesai menyiapkan makan malam yang menjajarkan semua hidangan ke atas meja makan. Ada beberapa daging dengan cara masak yang berbeda,ada juga Sayur sayuran dan Buah yang tertata rapi Di Piring besar untuk makanan penutup.


"Ayo mari kita makan". Ucap Ah Ying yang sangat antusias akan masakan yang berada diatas meja.


"Ayo cepat makanlah, kalian pasti sudah sangat lapar". Ucap Kakek Wu Yen.


Mereka pun segera mulai memakan makanan yang berada di atas meja dengan lahap tanpa menyisakan apapun kecuali Tulang tulang yang tersisa.


Setelah selesai makan malam, tak lupa mereka memakan Buah untuk makanan penutupnya sembari berbincang Ringan.


"Kalian nanti tinggalah Di paviliun Mawar, seberang Paviliun punyaku ini, nanti biarlah Pelayanku yang mengantar kalian. Mereka sudah menyiapkan kamar untuk kalian masing masing".


"Terimakasih kakek". Ucap Ah Ying .


"Kalau begitu, biarlah mereka mengantar kalian. Kakek tahu kalian pasti sangat lelah saat perjalanan kemari kan".


"Kau benar kakek, baiklah nanti kita lanjutkan besok saja kek . Masih banyak yang ingin aku bicarakan padamu". Ucap Ah Ying.


"Yasudah , ikuti mereka Cucuku, kakek juga ingin beristirahat".


"Kalau begitu kami pamit dulu Tetua". Ucap Su Lian yang kemudian menggandeng Ah Ying untuk mengikuti Pelayan yang menunjukkan Kamar untuk di tempati mereka.


"Silahkan Pangeran, di sebelah sana kamar anda , dan sebelah sini kamar anda nona". Ucap pelayan tersebut.


"Terimakasih".


Ah Ying segera memasuki kamarnya, sedangkan Su Lian malah membuntuti Ah Ying yang akan memasuki kamar.


"Ehh ehh... mau kemana Kau Su Lian?".


"Ikut tidur denganmu Ying'er".


"Tidak.. tidak.. nanti apa kata orang jika tidur satu kamar.. tidak pokoknya tidak".


"Satu malam saja". Rengek Su Lian.


"Tidak ya tidak, ". Ucap Ah Ying kemudian menutup pintu kamarnya dengan keras sehingga membuat hidung mancung Su Lian terkena Pintu.


Su Lian pun segera mengelus elus hidungnya yang terkena pintu kamar Ah Ying kemudian segera memasuki kamarnya untuk segera beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2