
Miller membawa Dedrick kembali ke Netherland, wajah tampan sedikit memar. Dedrick menutup wajahnya dengan kacamata hitam menggunakan topi dan jacket tebal menutup tubuhnya.
"You oke!" tanya Miller duduk berhadapan dengan Dedrick diruangan VIP bandara.
Dedrick hanya mengangguk, tanpa bersuara, menikmati music melalui headset di telinganya.
"Dedrick!" tepuk seorang pria dari belakang, mengejutkannya.
Dedrick membuka sedikit kaca matanya, "Brian!" Dedrick berdiri memeluk Brian dihadapannya.
"Kok tau aku disini.?" kejut Dedrick melepas pelukannya.
"Hmm, ini kan jacket spesial edition, hanya aku dan kamu pemiliknya pemberian Stela, karena belum lonching!" kekeh Brian.
Dedrick mengingat pemberian gadisnya saat thanksgiving. Stela memberikan paperbag berisikan beberapa kaos desaign berbeda salah satunya jacket yang digunakan Dedrick. "Iya! Aku baru ingat!" Kekeh Dedrick.
Miller menatap Dedrick dan Brian, "who?" tanya Miller menatap Dedrick.
"Brian, dad! Brother Stela!" Senyum Dedrick pada Miller.
Miller menaikkan alisnya, 'secepat inikah putraku mengenal keluarga Lim?' batinnya.
"Bro, kenalin my daddy, my hero!" senyum Dedrick merangkul Brian mendekat pada Miller.
"Oogh! Kenalkan, Brian Lincoln!" Brian mengulurkan tangannya pada Miller.
"Lincoln? Apa kau anak Bram Lincoln almarhum?" tanya Miller.
"Ya, aku anak Bram bersama Fene, Tuan!" Jujur Brian.
"Oogh! Jadi Stela adik tiri kamu?" tanya Miller penasaran.
"Ya Tuan! Jasmine anak Lim dengan almarhum istri pertamanya, Stela dan Chay-in anak bersama Lim dan Fene." Jelas Brian tanpa malu.
Miller tertegun mendengar penjelasan Brian, 'pantas mereka terlalu melindungi Stela, hmm!' batin Miller. Tersenyum kearah Dedrick dan Brian.
"Kamu mau kemana bro?" tanya Dedrick penasaran.
"Netherland! Naah, kamu kemana?" goda Brian.
"Sama!" tunduk Dedrick.
"Kok sedih," Brian menatap wajah Dedrick masih tertutup kacamata, "kamu terluka?" tanya Brian melihat plaster dipelipis Dedrick.
__ADS_1
Miller tersenyum menatap Dedrick, kembali fokus pada media sosialnnya, cukup pendengar yang baik.
"Ck! Aku yang salah! Terlalu mencintai Stela adikmu!" Jujur Dedrick.
Brian terkejut tak mengerti maksud perkataan Dedrick. "Bisa ulangi?" tanya Brian penasaran.
Dedrick membuka kaca matanya, "kamu lihat hasil karya Adrian Moreno Lim! Karena aku terlalu mencintai adikmu, aku ingin menikahi adikmu, tapi ditolak Adrian!" ucap Dedrick kesal.
Miller menatap Dedrick, "jangan terlalu emosi, kamu yang salah!" sanggah Miller.
"Maksudnya kamu mau menikahi Stela, trus daddy memukulmu? Begitu?" tanya Brian tak percaya, mencari kebenaran pada Miller.
Dedrick menghela nafas dalam, "hmm! Sory bro! Aku yang salah!" senyum Dedrick menggenggam tangan Brian.
"Berapa usiamu?" tanya Brian.
"18, bro!" ucap Dedrick menatap Brian.
"Hmm! Syukurlah kalau kamu serius pada Stela, aku mendukungmu! Setidaknya dia tidak akan salah dalam bergaul!" Rangkul Brian pada pundak Dedrick memberikan suport.
"Apa kau mendukungku?" tanya Dedrick tak percaya.
"Ya! Aku mendukung mu! Stela gadis yang semangat dan bergairah! Kamu pantas mendapatkannya." Senyum Brian membuat Dedrick teguh mempertahankan cintanya.
"Apa kalian tidak bahagia?" Tanya Dedrick penasaran.
"Kami sangat bahagia! Tapi Daddy terlalu sibuk, hanya fokus pada momy! Tidak pernah meluangkan waktu untuk kami." Cerita Brian.
Dedrick dan Miller saling tatap, tidak menyangka atas ucapan Brian. "Kita punya masalah yang berbeda bro! Nikmati saja!" goda Dedrick pada Brian.
"Ya, selama ini kami tidak berani membrontak, karena kami sangat menyayangi momy!" jelas Brian.
"Ya, bagaimanapun momy harus kita perjuangkan!" sindir Dedrick menatap Miller.
"Apa kau sedang menggoda ku, boy?" Lirik Miller pada Dedrick.
Dedrick dan Brian tertawa, "jika kau ada waktu kita bisa hangout bersama!" tambah Dedrick.
"Of course! Dengan senang hati!" sambut Brian senang.
"Bukannya kau stay di Berlin?" tanya Dedrick penasaran.
"Istriku di Netherland!" bisik Brian meletakkan telunjuknya pada bibir.
__ADS_1
"What? Apakah keluarga mu belum mengetahui tentang pernikahanmu?" Kejut Dedrick berbisik.
"Ck! malas bahasnya!" kekeh Brian, "nanti kita ngobrol, saat santai!" Brian menepuk pundak Dedrick, menganggap Dedrick pria baik dan jujur.
"Oke, kita akan menghabiskan waktu bersama!" ucap Dedrick memeluk Brian menikmati hidangan dan bercengkrama dengan calon abang ipar. 'Ternyata Brian pria yang hangat, sama semua! kirain sombong!" kekehnya membatin.
Brian dan Dedrick sama-sama sibuk dengan media sosial mereka. Dedrick sibuk membalas pesan dengan Dovi dan Lois, sementara Brian mengirim fhoto Dedrick dan dirinya ke Stela, adik tersayangnya.
Tiiing,
"Jemput aku! aku nggak mau sama daddy! aku mau hidup sama Grandpa Edward!" pesan wattshap Stela untuk Brian dengan emogi crying.
Brian tersenyum tipis, "aku akan menjemput mu! kita akan tinggal bersama di Netherland!" balas Brian agar Stela tenang.
"You promise?" Balas Stela.
"I'm promise to you." Brian membalas memberi emogi love.
"I miss you brother ku yang baik! I love you so much! kita akan kencan berdua!" Balas Stela.
'Ya sis! Sedih amat hati aku, ngeliat dia begini!' Batin Brian.
Setelah sibuk dengan pemikiran masing-masing, mereka terbang bersama ke Netherland, meninggalkan Los Angeles sesaat, meninggalkan hati yang terluka.
Disisi lain, Fene dan Adrian berdebat. Kevin memberi solusi agar menikahkan Stela, karena akan berdampak buruk jika mereka terlalu dikekang, tapi niat Kevin ditolak mentah oleh Fene.
"Lo nggak punya anak Vin! Lo nggak akan tau perasaan gue!" Sarkas Fene dihadapan Kevin, tanpa disadarinya telah melukai perasaan Kevin.
"Oogh! Ya! Gue memang nggak punya anak! Tapi lo harus tau, Brian, Jasmine besarnya sama siapa? Gue bukan ungkit Fen, tapi coba ingat sedikit jasa gue membesarkan anak-anak lo! Lo tau Brian! Brian! Haaah! Nggak ada gunanya gue debat sama lo! Oke! Gue balik! Besok gue akan ke Jakarta! Bye!" Kecup Kevin pada puncak kepala Fene sahabatnya dihadapan Adrian.
Fene tertegun, "Vin! Vin! Kevin!" Fene menatap memohon pada Kevin, tapi tak dihiraukan Kevin.
Kevin pergi dengan kekecewaan, kecewa atas ucapan Fene. Ucapan yang menyakitkan bagi pria yang sudah menikah, tapi tidak memiliki keturunan. Selama ini Kevin dan Nichole selalu ada waktu untuk anak-anak Adrian dan Fene, tanpa bosan mereka saling menjaga, hingga Fene menorehkan luka dihatinya.
"Dri! Kevin, Dri!" tangis Fene pecah dipelukan Adrian menatap kepergian Kevin.
"Hmm! Kamu tenang dulu! Dia masih emosi! Yaah, jujur dia udah sangat baik sama kita, terutama anak-anak." Kecup Adrian pada puncak kepala Fene, agar tidak merasa bersalah lebih dalam lagi.
"Trus gimana Stela, Dri?" tanya Fene dipelukan Adrian.
"Kita ketemu Miller di Netherland! Besok kita berangkat! Kita buat perjanjian, hingga mereka menyelesaikan kuliah! Yaaah, sampai usia 20. Lebih baik, kita akan sedikit aman." Ucap Adrian menenangkan Fene.
"Aku ikut aja mana baiknya, daripada mereka macam-macam!" Fene menyeka air matanya, memeluk tubuh kekar Adrian yang selalu membuat nyaman.***
__ADS_1