
"Aaagh, hubby! Uugh! Oogh! Hubby!" Stela meremas punggung Dedrick saat mencapai pelepasan yang sangat dahsyat, beberapa goresan kecil ada dipunggung suaminya.
Dedrick memacu kecepatannya, mencapai pelepasan yang sama, "Ooogh!" Dedrick mengerang setelah manuver mereka yang sangat sulit dibendung. Otot-otot yang menegang terasa rilex setelah penyatuan cinta mereka.
"I love you hubby!" Peluk Stela pada bahu Dedrick berada disamping tengah mengatur nafasnya.
Stela mengusap lembut punggung Dedrick yang bidang dan berotot, perlahan memejamkan matanya.
"Apa yang kamu pikirkan wife?" Bisik Dedrick ditelinga Stela, karena posisi mereka tidak berjarak.
Stela menatap wajah tampan suaminya, kembali menatap langit kamar tampa tertutup sehelai benangpun.
"Apa kamu mencintai ku sayang?" Tanya Stela.
"Ya! Of course! I love you, I'm very love you, Stel!" Ucap Dedrick masih diposisi yang sama.
"Aku merasakan perbedaan saat menatap Pedro, sayang! Aku menatap mata yang sangat berbeda!" Kenang Stela masih menatap langit kamar.
"And?" Tanya Dedrick enggan merubah posisinya menatap wajah Stela yang sangat jujur dalam bercerita, tampak kepolosan gadis lugu diwajah itu.
"Jawab aku jujur hubby! Apa kamu mengenal Keluarga Arlan sejak dulu?" Stela memiringkan tubuhnya mencari jawaban dari mata Dedrick.
"Hmmm! Bisakah kita tidak membahas ini Stel! Mereka sudah membunuh Grandpa Hanz! Aku tidak ada hubungan sama mereka! Dan satu lagi, aku tidak mengenal Pedro!" Tegas Dedrick kembali duduk mengambil celana pendek, memakainya, ingin segera berlalu.
Stela menahan tangan Dedrick, "Kenapa kamu begini? Ada apa? Kenapa kamu seperti merahasiakan sesuatu pada ku? Apa kau menikahi ku hanya untuk memiliki tubuh ku? Bukan mencintai ku tulus Dedrick Visser?" Tanya Stela sangat kecewa atas perlakuan suaminya.
"Dengar! Awal aku mengenalmu, aku jatuh cinta padamu! Aku menikahi mu, karena aku tau memperjuangkanmu tak mudah! Aku memberikan segalanya padamu, karena aku tak bisa memberikan yang lain! Hanya ini yang aku punya untuk membahagiakanmu!" Jelas Dedrick menatap lekat wajah Stela.
"Why? Why do you love me? Why not other women out there? Why Dedrick?" Stela menatap mata Dedrick dengan wajah memerah, tak terasa air matanya sulit untuk dibendung.
Dedrick tak bisa menjawab. Membuat Stela semakin kecewa. Dia memakai kain pantai tanpa underware didalamnya lebih dulu membuka pintu kamar.
"Stel!" Dedrick menahan lengannya.
Stela menatap kedua manik mata Dedrick, "Why?" Air mata kecewa Stela mengalir dipipinya, dengan bibir bergetar Stela meninggalkan Dedrick.
"Stel! Stela!" Dedrick mengejar Stela berlalu hingga Dedrick dapat menggapai lengannya.
Stela membalik, "Jawab aku jujur! Why do you love me? Why? Why Dedrick Visser?" Suara Stela bergetar disisi ruang makan dan keluarga, membuat mata Miller, Adrian, Veni, Fene, Kevin, Nichole, dan Samuel sangat terkejut menyaksikan mereka.
Dedrick masih terdiam, dia tak menyadari keluarganya tengah menyaksikan pertikaian mereka.
"Aaaaaagh! You don't love me! You married me just for ***! You just love my body! Not my heart. I hate you Dedrick Visser!" Suara Stela sangat lantang menepuk dada Dedrick tak mampu bergeming.
"Stel! Stela! I love you!" Teriak Dedrick mengikuti langkah Stela.
BRAAAK, Stela membanting pintu kamar mereka dan menguncinya. Dedrick tetegun. Mengusap wajahnya kasar, menarik nafas dalam. Bersandar dibalik pintu.
__ADS_1
"Stel! Stela! Kita bicara! Aku tak mengerti perasaanku, yang aku tau aku mencintaimu dengan caraku!" Ucap Dedrick pelan sambil mengetuk.
"I hate you! **** you! Kau tidak bisa menjawab, kenapa kau mencintai ku! Kau laki-laki egois!" Teriak Stela sambil menangis.
Miller dan Veni saling tatap, "Kenapa mereka?" Tanya Miller menatap Kevin dan Adrian.
"I don't no!" Kevin menaikkan kedua bahunya.
Fene dan Veni saling tatap, bingung melihat anak mantunya.
Adrian tak ingin melihat putrinya semakin kasar dalam berucap, dia mendekati pintu kamar mereka. Dedrick masih meringkuk bersandar didinding dekat pintu.
Tok tok tok,
"Stela! Stel!" Gedor Adrian dari balik pintu.
"Get out! I hate you! Kau tidak mencintai ku! Kau tidak tau cara menatapku! Kau tidak tau cara mendamaikan ku! Kau hanya ingin bercinta dan bercinta saja dengan ku! Aku membencimu Dedrick Visser! Aku membencimu!" Teriak Stela,
PRAANG, terdengar suara memecahkan barang dari dalam kamar.
"Stela! Ini Daddy! Please! Open the door! Bisa kita bicara sayang?" Ketuk Adrian.
Suara terdiam dari balik kamar.
"Dedrick, ambil duplikat! Cepat!" Adrian membujuk Stela, tapi tak ada suara. "Stela! Stel! Adrian mendobrak pintu dengan sigap, tapi sangat kuat dan kokoh. "Stela open please!" Pujuk Adrian lembut. "Shiiiit! Dedrick cepat." Teriak Adrian sedikit panik.
Kevin beralih ke arah jendela melihat sisi ruangan, "Ooogh shiiit!" Kevin berlari menuju kamar, "Stela! Stela!" Teriak Kevin.
"Ough my God! Stela!" Teriak Adrian mendapati putrinya menangis sudah mengiris urat nadi bersimbah cairan merah.
"Call Dokter!" Teriak Adrian, menahan tangan Stela membaringkannya diranjang. Adrian meminta Miller mencari kain pengikat.
Semua panik, Fene menatap Dedrick tampak shook.
Nichole tertegun, "bawa ke rumah sakit saja Dri! Stela tak sadarkan diri." Ucap Nichole.
"Fen, bantu aku! Aaaagh! Vin, tahan tangannya. Miller mengikat tangan Stela. Adrian mengambil baju Stela dari tangan Veni.
Betapa terkejutnya mereka menatap tubuh putri mereka tanpa underware. Fene memasangkan segitiga bermuda untuk menutupi bagian intim putrinya.
Adrian membopong putrinya membawa kerumah sakit, diikuti Dedrick, Miller, Veni, Fene, Samuel, dan Nichole.
Kevin dan Adrian berada di mobil yang berbeda.
"Cepat Vin!" Tatap Adrian dingin menahan emosi.
Kevin melajukan kecepatannya, hingga sampai dirumah sakit.
__ADS_1
Dokter emergency memberi pertolongan dengan sigap, karena mengetahui mereka adalah Keluarga Lim.
Adrian dan Fene tampak panik. Miller dan Veni mengusap lembut bahu Dedrick.
Kevin dan Nichole duduk bersama Samuel di kursi berdekatan.
Mata mereka satu tujuan, di ruang emergency. Setelah 60 menit dokter keluar ruangan.
"Bagaimana putriku Dokter?" Tanya Adrian.
"Dia mengalami depresi! Lebih baik dia menjalani perawatan. Dia masih lemas karena banyak mengeluarkan darah Tuan! Akan kita bawa ke lantai dua, khusus keluarga kalian Tuan!" Jelas Dokter.
"Oogh, Yah!" Adrian mengangguk mengerti. "Ada apa dengan mereka? Kenapa Stela begitu kasar? Apakah Dedrick menyakitinya?" Batin Adrian.
Fene menangis dipelukan Adrian, "Kenapa dengan Stela, Dri? Kenapa dia begitu kasar? Ada apa Dri?" Tangisnya.
"Tenanglah. Kita ke lantai dua. Ingat, jangan ada yang memberitahu Irene dan yang lainnya! Dedrick, aku akan bicara pada mu!" Tatapan sinis Adrian menatap Dedrick.
"Biar aku aja Dri! Kita cari solusinya!" Jawab Miller menepuk bahu Adrian, membawa Dedrick menuju lantai 2.
Dedrick bingung pada diri sendiri, dia menatap Nichole yang juga menatapnya. "Kenapa perasaanku tiba-tiba berubah pada istriku sendiri? Perasaan apa ini? Kenapa aku begitu cuek padanya? Apakah pernikahan ini hanya berlandaskan nafsu semata? Ada apa dengan ku! Kenapa aku hanya terus menggodanya tanpa tau kebutuhannya. Aku terlena, sangat terlena dengan kecantikannya." Batin Dedrick duduk dikursi.
Kevin menepuk bahu Dedrick, "itulah rumah tangga! Kadang terasa rumit, kadang bahagia!" Senyum Kevin tanpa melirik Dedrick.
"Aku bingung menjawab pertanyaan Stela, Uncle! Aku terlalu takut tidak mendapatkannya! Hingga kini aku terjebak. Rumit Uncle! Sangat rumit!" Kesal Dedrick pada diri sendiri.
"Ya! Jujur lebih baik! Dari pada menyiksa pasangan!" Sindir Kevin tersenyum tipis.
"Aku nggak bisa Uncle! Aku takut Pedro akan merebutnya." Jujur Dedrick.
Kevin menatap marah pada Dedrick, "berarti benar kau menikahi keponakanku hanya untuk memiliki tubuhnya dan menjauhkannya dari Pedro? Bukan hatinya?" Kesal Kevin menggeram.
"Aku bingung Uncle! Aku terjebak sama permainan ku!" Kesal Dedrick.
"What? Kau mempermainkan Stela, boy?" Kevin menarik leher baju Dedrick.
"Bukan Uncle! Aku hanya tidak mau Stela tau, Pedro adalah sahabatnya dulu!" Ucap Dedrick jujur pada Kevin.
BHUUK, tinjuan Kevin mendarat dirahang Dedrick.
"Kau rebut masa remajanya! Kau jebak dia, membuat dia ketergantungan pada mu! Anjing! Apa isi kepalamu? Haaah?" Geram Kevin.
"Vin! Stop!" Ucap Veni dan Nichole.
"Lo tanya anak lo! Alasan dia nikahi keponakan gue!" Sarkas Kevin meninggalkan mereka.
Adrian dan Fene semakin tak mengerti. "Apa masalahnya, kenapa Kevin menonjok Dedrick dan meradang?" Tanya Fene pada Adrian.
__ADS_1
"Tenang dulu. Kita tunggu Stela siuaman. Aku akan menemui Kevin." Tegas Adrian menenangkan Fene.
Jangan lupa Like and vote...❤️