
Izin Stela sudah di tangan Adrian. Stela dapat meninggalkan La menuju Netherland tanpa masalah apapun. Carlos tidak akan menuntut Keluarga Lim atas tindakan Stela pada putra kesayangannya.
Stela akan keluar dari rumah sakit, menuju Netherland. Keluarga terdekat tak mengetahui sepenuhnya kondisi Stela saat ini, dengan alasan Stela akan mengikuti Keluarga Visser ke Netherland.
"Hubby, aku ingin bertemu Pedro boleh?" Tanya Stela mengecup bibir Drdrick dihadapannya.
"Jujur aku tak mengizinkan!" Batin Dedrick. "Hmmm!" Dedrick menggaruk keningnya. "Ya! 15 menit, tidak lebih." Dedrick membereskan semua barang-barang milik Stela.
Adrian menemani Stela menuju ruangan Pedro.
"Dad! Daddy tunggu disini yah! Aku masuk dulu! 15 menit!" Senyum Stela mengembang mencium pipi Adrian.
Stela mengetuk, membuka hendel pintu, melihat Fernando, Carlos dan Pedro menatapnya.
Stela menelan salivanya, "Hai Uncle!" Tunduknya hormat.
"Ya! Come on! Kami keluar!" Ucap Carlos.
Stela tampak gugup dihadapan Pedro.
Pedro menatap Stela tertegun, menatap mata indah gadis idaman masa kecilnya. "Kamu cantik!" Ucap Pedro jujur dan tulus.
"Yeeah! Memang dunia mengakui kecantikan ku!" Kekeh Stela.
"Ya! Boleh aku memelukmu sebelum kita berpisah?" Tanya Pedro mulai mendekat.
Stela membeku, menatap Pedro yang semakin mendekat.
Pedro memeluk Stela, "peluk aku! Aku sangat merindukanmu!" Pinta Pedro.
Stela mendekap perlahan, mencari kenyamanan ditubuh sahabat lamanya. "I miss you, Pefi!" Ucap Stela dengan mata terpejam.
"I love you and I miss you too, Stela!" Jawab Pedro menikmati hangatnya pelukan Stela selama 5 menit.
Pedro merenggangkan pelukannya, menangkup kedua pipi Stela, "maafkan aku!" Senyum Pedro.
Stela mengangguk, menatap manja mata elang milik Pedro.
Pedro melekatkan keningnya, berusaha mengecup bibir Stela yang terasa sangat hangat, hanya berjarak beberapa senti, tanpa ragu Pedro mencium bibir Stela sangat lembut, tangan kiri Pedro beralih kekuduk belakang Stela. Mereka menikmati ciuman lembut itu. Saling berbalasan mendecap mesra.
Bibir Stela bergetar tak mampu berucap, hanya menikmati ciuman Pedro, dengan nafas memburu Stela berbisik, "I love you Pefi!" Ucap Stela tanpa menyadari Adrian dan Dedrick melihat dari balik pintu.
"I love you too, Stel! Jaga dirimu!" Pedro mengecup kening Stela. Melepaskan tubuh Stela dan menjarak dari Pedro.
"Maaf! Terimakasih! Aku permisi!" Stela menggigit bibir bawahnya, tersenyum tipis, melangkah meninggalkan Pedro yang menatap punggung Stela.
__ADS_1
Stela dikejutkan dengan Dedrick yang sudah menunggu di depan pintu.
"You kiss him?" Kesal Dedrick berbisik menarik lengan Stela kasar.
Stela terdiam baru menyadari dia telah mencium Pedro.
Dedrick dengan kasar dan menggeram membawa Stela ke ruangan kamarnya.
"Jangan kasar! Sakit!" Rengek Stela.
Dedrick mengunci ruangan tak membiarkan Adrian masuk dan mengetahui apa yang akan dia lakukan pada Stela.
"Kau menciumnya Stela!" Bentak Dedrick tepat diwajah Stela.
"Itu sebagai salam perpisahan! Apa itu salah?" Tanya Stela jujur.
"Salah! Karena kau istriku! Kau istri ku! Milik ku! Kau memberi celah padanya, agar bisa disentuh olehnya! Kau milikku Stela! Milik ku!" Teriak Dedrick tepat diwajahnya.
Stela kaku dan mematung, tak menjawab. Menatap Dedrick yang penuh amarah.
"Ingat Stela! Aku akan terus mengawasimu! Selama di Netherland kau adalah milikku! Milikku! Kau mengerti!" Tegas Dedrick masih dengan tatapan sinis dihadapan Stela.
Stela terdiam, menatap Dedrick semakin mendekat dan menahan bahunya.
Dedrick mencium bibir Stela kasar, "Huuufgh!" Stela merasa seperti akan di lecehkan oleh suami sendiri.
"Aaagh! Jangan disini Hubby! Daddy di luar!" Bisik Stela berusaha menahan tangan Dedrick.
"Kau istri ku! Aku berhak atas mu!" Ucap Dedrick kasar penuh nafsu.
Stela tak memahami perlakuan seperti itu mencoba mengikuti, beberapa kali dia berteriak, meringis kesakitan atas perlakuan Dedrick padanya.
Dedrick tidak pernah melakukan hal itu sambil berdiri, kali ini dia melakukannya, membuat Stela tak menikmati permainannya. Apalagi kondisi dikamar rumah sakit. Stela hanya diam saat Dedrick mengeksplor tubuhnya disana. Sedikit ******* karena merasakan sakit dan berusaha menikmati permainan Dedrick.
Dedrick mengerang, setelah mencapai palepasannya. Stela ambruk merasakan perih dibagian intinya.
"Apa yang kau lakukan pada ku? Kenapa kau sakiti aku, Dedrick!" Tanya Stela tak terima dengan perlakuan Dedrick.
"Aku berhak atas mu! Itu hukuman, jika kau masih mengikuti kemauannya!" Kesal Dedrick berlalu ke kamar mandi.
"Aaaugh! Sakitnya!" Ringis Stela berpindah duduk ke sofa.
Setelah melihat Dedrick keluar dari kamar mandi. Kemudian Stela berlalu masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya tanpa menatap Dedrick. Stela mendinginkan kepalanya masih tak mengerti perlakuan apa yang barusan Dedrick lakukan padanya. "Kenapa dia sangat kasar?" Batin Stela menangis dibawah aliran shower.
Seluruh tubuhnya terasa sakit dan kaku, tak ingin pergi bersama Dedrick. Tapi dia mengingat pesan Fene, dia harus menjadi istri yang baik dan patuh terhadap suami.
__ADS_1
Stela mengeringkan rambutnya dengan hair dryer rumah sakit. Menghiasi matanya dengan eye shadow, menyematkan kalung pemberian Dedrick dan cincin pemberian Brian atas permintaan Dedrick.
Fene dan Veni tersenyum melihat penampilan putrinya sangat cantik dan elegan.
"Kamu udah membaik sayang?" Tanya Fene.
Stela mengangguk.
"Kita jalan sekarang?" Bisik Veni pada menantunya yang sempurna.
Stela mengikuti semua perintah suami dan keluarganya.
Pedro, Carlos dan Fernando melihat kepergian Stela. Kembali dia merasakan sakitnya berpisah.
Stela menggunakan kaca mata hitam, untuk menutupi kesedihannya.
Adrian merasakan sakit putrinya, dia meminta Kevin untuk ikut ke Netherland mengawasi Stela.
Miller dan Veni sangat senang, akan membawa menantu kesayangannya tinggal bersama sementara apartemen Dedrick direnofasi.
Stela memeluk Adrian erat saat akan berpisah. "Aku akan merindukanmu Dad!" Tangisnya menatap mata Adrian, mereka berbicara lewat mata.
"Ya! Aku juga akan merindukanmu! Uncle Kevin akan menyusulmu! Baik-baik yah! Jika ada apa-apa hubungi Daddy." Kecup Adrian pada kening putrinya.
Fene memeluk putrinya, menitipkan pada Veni dan Miller. Memberi pengertian pada Dedrick agar memahami kondisi Stela saat ini.
Dedrick menggenggam tangan Stela memasuki pesawat. Stela berusha berdamai dengan keadaan yang telah berubah, tak sperti dulu. Dedrick berubah menjadi pria over portektif.
Rumah Keluarga Van Visser di Netherland.
Saat tiba di Netherland, Stela menatap sisi ruangan rumah mewah milik Keluarga Visser, berdecak kagum menatap sisi ruangan. Lukisan unik Negri Kincir, dan sejarah etnik Eropa menghiasi dinding ruang tamu. Kincir air yang berada disisi depan diberi pembatas kaca sangat tenang dan sejuk. Pemanas ruangan diruang keluarga.
"Yuuk! Kita ke kamar lantai dua." Dedrick menarik tangan Stela.
Kamar Willems Dedrick Visser di Netherland.
Stela melihat kamar yang luas berwarna coklat selayaknya kamar pria. Tiba-tiba Dedrick duduk dihadapan Stela yang tengah duduk disofa.
"Maaf kan aku Stel! Aku terlalu cemburu!" Ucapnya.
Stela tersenyum, "begitukah cara mu mencintai ku? Hingga tega menyakiti ku, Dedrick?" Bisik Stela.
__ADS_1
"Aku minta maaf, aku mohon maafkan aku." Dedrick terdiam menatap mata Stela.
Stela menghela nafas dalam. Memilih diam tak bergeming. Ada kecewa diperlakukan kasar oleh suami sendiri. Jika kemewahan yang dia butuh, segalanya telah dia dapatkan dari Keluarga Lim. Dia hanya ingin kebebasan seperti teman seumurannya, bukan keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut singa, hikz.***