See Eye Stela

See Eye Stela
Celakanya aku


__ADS_3

Adrian yang saat ini berada di Swiss sudah tiga hari dia disana, menghabiskan waktu untuk visit hotel pribadinya, mendengar kondisi Fene memburuk dari Stela, tanpa pikir panjang segera menuju Berlin. "Aku hanya mengkhawatirkanmu Fen!" Batin Adrian memasuki jet pribadi milik Keluarga Lincoln, yang hanya memakan waktu 8 menit termasuk penerbangan tersingkat. Adrian terbang dari St Gallen di Swiss ke Friedrichshafen di Jerman.


Adrian segera menuju kediaman Edward. Tepat pukul 22.32 waktu Berlin, Adrian tiba dihadapan Edward.


"Mana Fene, Dad?" Tampak ke khawatiran Adrian di wajahnya.


"Dia di jemput Carlos teman sekolahmu dulu! Mereka makan malam bersama." Jelas Edward menatap wajah Adrian.


"Kenapa dibiarin dia pergi Dad! Dia istriku! Masih menjadi istriku! Carlos itu keluarga Fernando, yang mengkibus kasino ku!" Geram Adrian.


Edward menaikkan alisnya. "Apa kau sedang cemburu?" Kekeh Edward.


"Ya! Aku cemburu! Fene nggak boleh melakukan itu! Dia istriku! Aku tidak pernah menceraikannya dan tidak akan pernah bercerai! Aku dan Camille adalah kesalahan! Aku menyesalinya." Adrian menahan emosi.


"Dad! Daddy selingkuh sama Camille? Oogh! You serius? Camille wanita itu! Oogh Dad! Shiiit! **** you Dad! I hate you! Daddy tega sama Mami!" Tatapan benci Stela dan Brian saat mendengar pengakuan Adrian dihadapan Edward.


Adrian kaget, dia pikir kedua anaknya tak ada disana. "Oogh Stela! I'm Sorry! I love your Mom, not Camille! Please! Pahami aku!" Mohon Adrian pada Stela sambil menatap Brian.


Stela berlalu menuju kamarnya, seketika.


BRAAK...


Adrian di kejutkan dengan Alberth menggendong tubuh Fene yang hanya menggunakan baju kaos tanpa celana panjang.


"Fene!" Teriak Adrian dan Edward.


"Mami!" Teriak Stela dan Brian.


Adrian menerima tubuh Fene dari gendongan Alberth.


"Nyonya hampir disentuh oleh Carlos Tuan! Nyonya di beri barang Netherland!" Jelas Alberth menatap Adrian.


"Bawa kekamar cepat Adrian!" Teriak Edward.


"Habisi dia!" Perintah Adrian, berlalu membawa Fene ke kamar milik mereka.


Adrian membaringkan tubuh Fene diatas ranjang. "Fen!" Usap Adrian pada wajah Fene, melihat dua bercak merah dileher Fene. "Bangsat anak itu! Beraninya dia menyentuh milikku." Geram Adrian menggenggam tinjunya.

__ADS_1


"Eeegh!" Fene mengerang membuka matanya yang sendu.


Adrian menatap wajah Fene, membelai lembut tubuh istrinya. Dia tau reaksi barang haram itu akan segera memuncak saat Fene terjaga.


"Adrian! I love you! Aku merindukanmu!" Tatapan mata Fene berubah menjadi penuh cinta.


"I love you too Fen!" Adrian menatap mata Fene.


Lama mereka saling tatap, Adrian tak melihat kebencian dari mata Fene. Adrian tak kuasa menahan kerinduannya pada Fene. Mencium lembut bibir istri yang sangat dirindukan, kesalahan yang lalu lenyap seketika. Terdengar erangan manja dari bibir mungil itu.


Adrian sangat merindukan Fene, memperlakukan istri selayaknya dia memperlakukannya. Adrian mengenang semua malam itu dengan kejadian beberapa tahun silam, merebut mahkota Fene dalam kondisi seperti saat ini.


"Dri! I love you! Please don't stop, I want you now!" Perasaan Fene makin menggila saat memainkan bagian ehemnya dengan sentuhan Adrian.


"Oogh! **** me now Dri!" Teriaknya. Sementara Adrian masih menikmati syurga milik istri yang halal. "Adrian! Please!" Remasan tangan Fene berada tepat dikepala Adrian saat dia bermain disana. Beberapa kali Fene menegang melepaskan kerinduannya atas perlakuan Adrian yang membuat dia menggila.


Adrian menatap wajah Fene, mengusap lembut wajah yang penuh pesona, sangat indah dan cantik. Kebodohannya hampir kehilangan Fene untuk selamanya. "Oogh Fen! Celakanya aku menyia-nyiakanmu sayang! Punya kamu sangat, Aaaugh!" Adrian melakukan manuver lebih hot di banding sebelumnya untuk mengimbangi Fene dalam pengaruh benda haram itu.


"Aaaugh! Come on Dri!" Bibir Fene menggigit bibir bawah Adrian. Susah untuk dihentikan perasaan malam ini. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata penyatuan cinta mereka.


Tanpa memperdulikan kamar yang tak terkunci, Edward dan Katty turut bahagia saat mengintip anak menantunya mendesah dahsyat malam itu. Awalnya hanya untuk melihat kondisi Fene, tapi mereka sedang melakukan manuver cinta, dengan pakaian berserakan dilantai kamar.


"Aku lega! Akhirnya Adrian dan Fene masih bersama sayang!" Senyum Katty.


"Aku masih ragu! Fene masih dalam pengaruh benda haram itu! Aku takut saat dia sadar malah menyuruh Adrian pergi!" Jelas Edward walau dalam hati turut senang, tapi itulah ketakutannya.


Siang waktu Berlin, Fene terjaga dari tidurnya. "Aaugh!" Fene merasakan badannya seperti remuk, perlahan membuka mata dan menggerakkan tubuhnya, "oogh! Shiit!" Fene menoleh kesamping menatap wajah pria yang sudah terjaga mendekapnya.


"Morning!" Senyum Adrian masih enggan memasang bajunya, hanya menutup dengan sehelai selimut.


"Aaaugh! Lo apain gue semalam?" Tanya Fene sangat kesal.


"Lo nggak inget? Hmm! Lo yang minta Fen! Lo yang bernafsu banget tadi malam!" Kecup Adrian pada punggung Fene yang enggan membalikkan tubuhnya.


"Licik! Lo culik gue? Gue lagi sama Carlos! Tau lo!" Jelas Fene mengalihkan pandangan dari wajah Adrian.


"Setidaknya lo menghabiskan malam sama gue hingga dini hari! Dan lo menikmatinya, lo mencintai gue!" Tegas Adrian.

__ADS_1


"Iiiighs! Haram lo nyentuh gue tau!" Kesal Fene.


"Lo halal buat gue! Lo makin enak Fen, gue ketagihan!" Goda Adrian, mendekat pada Fene.


"Aaaghs! Sana! Jangan deket! Gue nggak mau!" Rengeknya manja.


"I love you Fene Moreno Lim! Jangan pernah lakukan itu sama orang lain, apa lagi sama Carlos!" Tegas Adrian.


Fene menaikkan alisnya, mendengus kesal.


"Kamu mau sarapan sayang? Aku ambilin yah!" Kecup Adrian pada punggung Fene.


Fene menggeram, "jangan sentuh gue, agh!" Fene berkali-kali mengerang kesakitan. Semua persendiannya terasa remuk, apa lagi bagian ehemnya. "Pasti dia maksa gue tadi malam!" Kesal Fene menatap punggung Adrian keluar kamar.


Adrian meminta Katty menyiapkan sarapan untuk Fene, memberi susu, multivitamin, agar segera pulih.


"Hmm! Lain kali kunci kamarmu Adrian! Agar kami semua tak mendengar ******* kalian!" Jelas Edward tersenyum tipis.


"Ssst! Fene masih setengah sadar! Jangan bahas ini jika berhadapan dengannya! Aku sengaja tidak mengunci pintu, agar kalian tau dia masih mencintaiku!" Jelas Adrian tanpa malu dihadapan anak dan menantunya, terutama Edward dan Katty.


"Kembalikan kepercayaannya boy! Lakukan dia dengan baik! Dia akan memaafkan mu!" Bisik Katty.


"Sory! Aku tidak memaafkan mu Dad! Aku akan memberi tahu pada Grandpa Hanz dan Grandma Irene. Kalian akan bercerai!" Tegas Stela.


"Wife! Itu urusan Daddy dan Momy! Jangan terlalu menghukum Daddy seperti itu." Tegas Dedrick.


"You!" Stela menggeram. Meninggalkan Dedrick menuju kamarnya.


Edward mengerti emosi anak-anak Adrian dan Fene.


"Tenangkan Stela Dedrick!" Teriak Edward.


"Kami akan ke Netherland Grandpa!" Jelas Dedrick.


"No! Kondisi diluar sedang tidak aman. Tadi malam Carlos dan anjingnya berusaha mengganggu kediaman ku! Tolong dengarkan aku kali ini Dedrick!" Sarkas Edward. "Brian, masuk ke ruanganku!" Perintah Edward menatap sinis Brian.


Adrian tak menghiraukan masalahnya, dia hanya fokus pada keadaan Fene saat ini.

__ADS_1


__ADS_2