
PRAAANK,
Stela melempar botol parfum ke cermin toilet. Menatap frustasi diri sendiri, membenci kehamilan yang beberapa bulan lalu dia harapkan, ternyata tidak sesuai dengan keinginan.
Stela dinyatakan positif hamil.
Ya, Stela sudah memulai membuka hati untuk seorang Mario. Actor Spain yang sangat baik dan sopan padanya, sangat cepat bukan? Itulah abege labil, jika sudah merasa nyaman langsung love love...❤️❤️
"Aku tidak mau hamil!" Tangisnya meringkuk di closet menatap dua garis merah menandakan kehamilannya.
Stela meraung keras, membuat Brian terlonjak kaget, mencari keberadaan Stela. Bergegas mendobrak pintu kamar mandi. Brian menatap adik kesayangannya menangis terisak, menggenggam erat testpack. Perlahan Brian mengambil testpack menatap senang ke arah Stela. "You pregnant?" Tanya Brian memastikan.
Stela menyeka airmatanya. Menatap sendu ke arah Brian. "Ya, seperti yang kamu lihat! Aku hamil, sudah lebih 3 bulan aku tidak period, ternyata aku hamil anak Dedrick! Aku nggak mau bro! Bantu aku! Aku nggak mau hamil anak pria itu! Dia tidak menginginkan ku! Dia bahkan tidak mencariku! Dia tidak mencintai ku!" Isaknya memeluk Brian yang turut meringkuk mendekapnya.
"Cup cup cup! Dia mencintai mu sayang! Sangat mencintai mu! Kamu harus mengalah! Dia pasti merindukan mu! Kalian hanya sama-sama egois! Kita ke kamar yah!" Pujuk Brian menggendong Stela membawa ke kamar mereka.
Stela tak melepas pelukannya dari Brian, dia ingin berada di pelukan itu. Waktu menunjukkan pukul 03.30 dini hari waktu Oberstdorf Jerman.
"Temani aku disini! Aku tidak mau kamu meninggalkan ku!" Isaknya.
"Iya, tidurlah! Aku akan selalu disini." Usap Brian pada punggung Stela.
Saat Stela mulai terlelap, Brian meraih handphone miliknya, mengirim kabar bahagia itu kekeluarga di Berlin, Jakarta, Netherland dan Los Angeles. Satu kebahagiaan bagi Brian, "Ini tidak buruk, bahkan akan membawa Dedrick kembali bersama Stela!" Batin Brian.
Benar saja, kabar kehamilan Stela disambut bahagia oleh Adrian dan Fene.
Tapi tidak untuk Miller dan Veni. Tentu saja, karena kabar kedekatan Stela dan Mario di media apakah akan dijadikan bahan pajangan saja? Pikiran Miller dipermainkan oleh media dan kehamilan Stela.
Dedrick belum mendapat kabar itu, dia masih dalam perjalanan menuju Oberstdorf sesuai alamat yang dikirim Lois melalui maps beberapa jam lalu. Waktu perjalanan lebih kurang 6 jam dari Frankfurt menuju Oberstdorf.
Dikepala masing-masing keluarga tersimpan banyak rahasia. "Kenapa Stela pergi jika dia tau dirinya hamil? Apakah itu benar anak Dedrick? Atau memang sengaja agar Dedrick tidak mengetahui tentang kehamilan Stela?" Pikiran Miller dan Veni sama. "Jika dia hamil, berarti usia kehamilannya sudah memasuki bulan ke 4! Oooh God! Kenapa begitu nekat Stela untuk menjauh dari Dedrick." Batin Veni.
Guesthause in Bhul Oberstdorf.
Suasana yang sejuk disambut pemandangan indah, Brian mempersiapkan beberapa sarapan untuk Stela.
__ADS_1
Stela masih enggan menapaki kakinya kelantai. Saat ini yang dia butuhkan adalah Dedrick memeluk, membelai dan melakukan hal yang dilakukan Brian padanya. Tiba-tiba dia merindukan sosok itu. Sangat merindukan.
"Kenapa baru sekarang perasaan rindu itu ada?" Batin Stela meringkuk diranjangnya.
Brian mendengar isak tangis adik kesayangannya, berusaha menenangkannya. "Kita sarapan dulu yah! Jangan nangis lagi!" Usap Brian pada rambut adiknya.
"Bawa aku pulang! Aku nggak mau disini! Aku ingin di rumah Grandpa Edward." Isaknya memeluk lagi perut Brian.
"Aku masih ada kerjaan Stel! Beres kerjaan kita pulang yah!" Kecup Brian pada adiknya.
Stela mengangguk, memahami kesibukan Brian.
Tok tok tok,
Brian bergegas membuka pintu kamar, melihat Mario tersenyum hadir dihadapannya.
"Kita free hari ini! Boleh aku membawa adikmu jalan-jalan?" Senyum Mario menatap Brian menanti jawaban dari Brother Stela.
"Hmmm! Sepertinya tidak bisa saat ini! Stela kurang enak badan." Jelas Brian sedikit kaku.
"Oogh! Boleh aku melihat Stela?" Mohon Mario.
"Aaah, ya! Silahkan," senyum Brian membuka pintu kamar mereka.
Sheeer, "apakah Mario memiliki rasa dengan Stela?" Batin Brian. "Aku harap, mereka hanya berteman! Aku tidak mau disalahkan oleh keluarga Dedrick." Jujur Brian, Mario, Lois dan Stela belum mengetahui kabar dari Media. Menurut mereka, mereka aman dari paparazi.
Mario menyuapkan sarapan Stela ditemani Brian, yang duduk tidak begitu jauh.
"Gimana? Sudah kenyang?" Tanya Mario pada Stela.
"Hmm! Terimakasih, kamu sudah mau memperhatikan aku!" Tunduk Stela.
"Ya! Untuk wanita seperti kamu apapun akan aku lakukan!" Senyum Mario memberikan tisyu pada Stela agar membersihkan bibir mungilnya.
Stela tersenyum, "pagi-pagi udah di gombal actor tampan!" Kekeh Stela.
"Kok gombal! Serius, kan tadi malam aku udah ngomong! Akan selalu memberi yang kamu butuhkan. Setidaknya aku hadir dalam waktu yang tepat!" Mario mengecup kening Stela.
Stela kembali berbaring, menyentuh perut yang sudah membuncit. Ada perasaan takut dihati Stela, takut mengecewakan Mario yang sedang gencar menarik perhatiannya sejak beberapa hari lalu.
__ADS_1
Stela terlalu cepat jatuh hati, cepat juga melupakan. Tapi tidak untuk Pria Netherland Willem Dedrick Visser.
Brian mendehem, melihat dari sudut mata perlakuan Mario pada Stela sambil memainkan jari dilayar handphone miliknya.
Mario menatap Brian, melihat Stela sudah memejamkan mata. Beralih duduk mendekati Brian.
"Tadi malam Stela baik-baik aja! Kok sekarang sakit! Ada masalah?" Tanya Mario pada Brian menatap Stela yang sudah terlelap.
"Ck! Kau bawa kemana Stela tadi malam? Kok media memberitakan ini?" Brian memberikan handphone pada Mario.
"Ooogh God! Ini nggak bener, aku hanya membantu Stela memasang sarung tangan. Tidak mencium ataupun menyentuhnya. Aku tau dia istri pria lain Brian!" Jelas Mario meyakinkan Brian.
"Berita menyebar Mario! Ini akan berdampak pada keluarga ku! Kau tau keluarga ku seperti apa!" Brian menutup matanya sedikit menggeram.
Mario menelan salivanya, "maafkan aku! Aku akan mengklarifikasi, jika kalian tidak terima." Jelas Mario gentle dihadapan Brian.
"Aku santai, karena aku percaya padamu! Saat ini Stela hamil! Ini akan berdampak pada keluarga Visser." Tunduk Brian.
"What? Stela pregnant?" Kaget Mario. "Oogh!" Mario menepuk keningnya, ada sedikit perasaan kecewa. Memberi harapan pada Stela dan saat ini Mario sedang menikmati kedekatannya dengan Stela. "Apakah Stela hamil anak Dedrick?" Tanya Mario meyakinkan.
"Ya! Kehamilannya sudah memasuki bulan ke 4. Tapi Stela baru bercerita sedikit pada ku, karena dia masih shook begitu mengetahui kehamilannya." Jelas Brian melihat kekecewaan dimata Mario.
"Ooogh God!" Mario menarik nafas dalam. "Aku jatuh cinta pada adikmu!" Jujur Mario menatap Stela tidur membelakangi mereka.
"Sory Mario! Dia masih istri Dedrick!" Brian menepuk pelan pundak Mario.
"Ya, aku mengerti!" Senyum Mario garing, ada kesedihan didalam hatinya. Kisah cinta Mario tidaklah semulus karier dan setampan wajahnya. Dia mengalami kegagalan hingga enggan membuka hati. Saat ingi kembali membuka hati untuk Stela wanita baik dan ceria, ternyata harus menelan pil pahit bahkan lebih pahit dari empedu.
"Mungkin selesai pekerjaan kita kami akan kembali ke Berlin." Jelas Brian lagi masih menatap Mario.
"Ya, kebetulan aku akan menghabiskan waktu di Berlin menunggu ijazah magister ku." Mario terpaksa tersenyum menatap punggung wanita dihadapannya.
Sesungguhnya Stela mendengar kejujuran Mario, dia terus menangis. Merasa bersalah telah mengecewakan Mario. Pria yang sangat baik, sangat pandai menghiburnya dan memberi nuansa berbeda dihatinya.
Menatap lirih ke layar handphone miliknya,
Foto wedding Stela dan Dedrick Visser setahun lalu.
__ADS_1
Saat Hanz Parker masih bersama mereka. "Jika Grandpa masih ada, mungkin aku tidak akan selarut ini." Isaknya membatin.
____Like and Vote...❤️❤️