See Eye Stela

See Eye Stela
Bahagia.


__ADS_3

Hampir 5 jam mereka menghabiskan waktu mengelilingi Amsterdam, Pedro membawa Stela pulang keapartemen. Setelah pertikaiannya dengan Dedrick. Miller mengamankan Stela, agar benar-benar tidak peduli dari Dedrick putranya.


Stela dan Pedro tertawa bahagia, hingga akhirnya mereka saling tatap.


"You happy?" Tanya Pedro.


"Ya! Thankyou!" Senyum Stela.


"Apa kamu lapar?" Tanya Pedro.


"Hmm! Ya, sedikit!" Senyumnya.


"Oke, aku masak! Kamu bersih-bersih!" Ucap Pedro berlalu ke dapur.


Stela berlalu menuju kamar, jujur dia sangat kasihan pada Dedrick suaminya. "Apa salahku, hingga dia ingin menceraikan ku?" Batin Stela menangis.


Stela mendengar suara ramai diluar, "who?" Batinnya. Stela berlalu keluar, "Uncle!" Stela berlari memeluk Kevin dan Nichole dengan perut yang sudah membesar.


"Woow! Apa kalian sedang berkencan?" Goda Kevin pada Stela.


"Hmm!" Stela menaikkan alisnya. "No! Kami baru bertemu! Dia datang ke butik dan menemani ku disini." Jelas Stela.


Kevin hanya mengangguk, "siapa yang mengeluarkan Pedro dari penjara? Apa ini kerjaan Miller? Aku akan bicara pada Adrian. Pasti ada sesuatu antara Dedrick dan Stela." Batinnya.


"Kamu kapan pindah kesini Stel?" Tanya Kevin penasaran menuju sofa.


"Tadi pagi Uncle, mendadak!" Jelasnya.


"Dedrick mana?" Kevin menyatukan alisnya.


"Hmm! Aku ambil minum dulu!" Stela berlalu karena memang tak ingin keluarga tau masalah rumah tangganya.


"Stela, jujur sama Uncle! Apakah kalian berpisah?" Teriak Kevin.


Deg, Pedro beradu tatap dengan Stela yang mengambil minuman kaleng dikulkas untuk Kevin dan Nichole.


"Hmm! Aku nggak tau Uncle! Dia menceraikan ku tadi malam. Daddy Miller yang ngomong saat aku bangun," Jelas Stela mendekati Kevin disofa.


Pedro mengusap wajahnya merasa tak percaya mendengar pengakuan Stela. "Aaagh! Tuan Miller menjebak ku! Ini akan jadi masalah baru!" Batin Pedro kesal menuju ruang keluarga berkumpul sama mereka.


"What? Why? Apa dia punya wanita lain?" Tanya Kevin menatap Stela yang ada dihadapannya.


"Ck! Dia tadi malam pulang kerumah mabuk, dia mendorongku! Dia mengatakan aku ****** karena dia masih mengingat, saat Pedro menciumku." Jelas Stela.


"Dia berubah Uncle, sangat berubah. Dia kasar, menyakiti ku! Apa aku pernah menduakan dia! Aku merasa tak nyaman, aku hanya ingin bertahan tanpa Mami dan Daddy tau permasalahanku! Aku tidak ingin berpisah dari Dedrick. Aku juga nggak tau kenapa Pedro bisa disini! Menemuiku, bahkan menemani ku! Aku butuh teman Uncle. Dedrick membawa ku kesini, tapi dia sibuk dengan temannya!" Tambah Stela panjang lebar membendung air mata yang akan menetes, membuat Kevin dan Pedro menggeram.


"Apa yang kau pikirkan Ped?" Tanya Kevin dengan wajah garang.


"Aku akan menghajar Dedrick malam ini!" Geram Pedro.

__ADS_1


"No! Aku tak ingin ada keributan. Disinilah dulu! Menemani ku! Jika Dedrick datang aku ingin bicara baik-baik, baru kalian yang bertanya padanya. Aku tak ingin memikirkannya dulu." Akhirnya Stela terisak.


"Stel! Stela! Kamu nangis?" Tanya Pedro.


"Aku sudah nggak kuat! Ternyata pernikahanku hanya bertahan 1 tahun Pef!" Tangisnya semakin pecah.


"Oogh my God! Aku akan menelfon Adrian! Ini masalah keluarga Stela! Daddy harus tau!" Tegas Kevin.


"Jangan Uncle! Aku tau Daddy! Apalagi jika tau Pedro disini! Akan timbul masalah baru! Please, biar aku menyelesaikan masalahku! Aku akan bicara padanya. Setelah itu terserah!" Mohon Stela pada Kevin.


"Tapi dia sudah keterlaluan sayang! Dia laki-laki bajingan." Geram Kevin.


"Dia terlalu mencintaiku, Uncle! Senyum Stela membayangkan kenangan terindah mereka. "Aku mencintainya! Sangat mencintainya." Stela menutup matanya, seketika air mata terjatuh lagi.


Pedro menggenggam jemari tangan Stela didepan Kevin dan Nichole, membuat Nichole merasakan apa yang dirasakan Stela.


Tok tok tok...


Gedoran pintu apartemen terdengar dari luar.


"Uncle, itu pasti Dedrick! Kalian bersembunyi di kamar! Cepat!" Kevin, Pedro dan Nichole berlari menuju kamar tamu. Mereka ingin mendengar semua permasalahan Dedrick dan Stela.


Tok tok tok...


Stela membuka pintu. Dedrick menatap Stela dengan wajah garang.


"Dimana Pedro? Haaah? Dimana dia?" Teriaknya diwajah Stela.


BHUUK, Dedrick melempar tubuh Stela hingga membuat Stela terluka mengenai sudut meja kaca.


"Aaaugh!" Stela meringis kesakitan melihat bahu kanan terluka.


Dedrick murka, "Dimana Pedro?" Teriak Dedrick tanpa memperdulikan Stela yang terluka.


"Hubby! Kamu kenapa? Apa salah ku? Kenapa kamu rela menyakiti ku?" Stela menatap mata Dedrick yang memerah menatapnya.


"Aku menceraikan mu Stela! Aku menceraikan mu! Kau dengar, aku menceraikanmu." Dengan lantang Dedrick menjatuhkan talak pada Stela.


Stela merasakan dunianya runtuh seketika, sesak didada, ada perasaan kecewa dan sakit terlalu dalam.


"Terimakasih! Pergilah! Aku tidak akan berharap pada mu lagi!" Ucap Stela berlalu meninggalkan Dedrick sendirian diruang tamu, menuju kamarnya.


Kevin dan Pedro ingin mengahajar Dedrick, tapi ditahan oleh Nichole.


Dedrick duduk disofa mengusap kasar wajahnya. Lebih kurang 20 menit disana berlalu menutup pintu apartemen dengan keras.


Merasa apartemen telah sepi Nichole yang tengah hamil 8 bulan keluar perlahan, melihat pintu tertutup, memasang grendel memanggil Stela yang berdiam diri di kamarnya. Tapi Stela tidak menjawab, dia memilih diam dikamar.


Suasana apartemen berubah sepi seketika, tanpa ada suara apapun. Semua ikut bersedih atas apa yang menimpa Dedrick dan Stela.

__ADS_1


Stela menahan tangisnnya, tak ingin meratapi kisah cintanya. Pernikahan di usia muda berakhir tragis, hanya karena cemburu. "Kenapa dia mengecewakanku? Aku tidak akan mengemis pada pria yang tidak ingin bersama ku!" Batin Stela.


Stela lebih memilih meninggalkan Netherland menuju Jakarta menemui Fene dan Adrian, tanpa memberi tahu Kevin dan Nichole, apalagi Pedro. Baginya semua telah selesai. Pernikahan yang mereka kira selama ini bahagia, ternyata jauh dari kata itu.


Stela mendarat di Jakarta pukul 14.00 waktu Jakarta. Menggunakan taxi menuju apartemen Adrian. Stela yang mengetahui password apartemen keluarga, leluasa masuk menuju rumah keduanya.


"Eeeh ada Nona Stela!" Sapa Maid yang tengah membersihkan rumah.


"Mami mana Bu?" Tanya Stela.


"Nyonya ke kantor sama Mister! Palingan sebentar lagi pulang!" Senyum Maid melanjutkan pekerjaannya.


Stela masuk kekamar, melakukan ritualnya dikamar mandi. Usia 18 tahun dia harus menjadi janda. "Aku akan membalas mu Dedrick!" Batinnya saat menikmati aroma therapi lavender di bathtub.


"Apa salah ku, Dedrick? Kenapa kau tidak mengatakan apa salahku." Batin Stela.


Drrrt, drrrt. "Uncle Handsome!"


"Ya Uncle!"-Stela.


"Kamu dimana? 2 hari kamu menghilang handphone kamu nggak aktif! Kamu baik-baik saja Stel?"-Kevin khawatir.


"Aku di Jakarta Uncle!" Ucap Stela dengan wajah datar menahan tangis.


"Oke! Aku akan menemui Miller dan Veni. Mungkin stelah Aunty melahirkan kita bertemu! Kamu tenang dulu yah sayang! Uncle janji akan menyelesaikan masalahmu." Tegas Kevin.


"Semua sudah selesai Uncle! Dedrick mencampakkan aku! Aku akan buktikan aku tidak butuh dia!" Sarkas Stela.


"Tapi kami khawatir Stela." Nada Kevin bergetar.


"Aku sudah dewasa Uncle! Aku akan membuat dia menyesal telah membuat aku seperti ini! Percayalah." Ucap Stela meyakinkan Kevin.


"Oke! See you dear!" Kevin menutup telfonnya.


Stela meletakkan handphone dinakas, melanjutkan ritualnya.


Tengah asyik berendam, Stela mendengar suara Fene dan Adrian tengah mencarinya dikamar.


"Dimana dia Bi? Saya tidak menemukannya!" Terdengar sayup-sayup suara Fene.


"Momy!" Stela bergegas menutup tubuhnya. Berlari keluar dengan wajah sendu.


"Stela! Honey!" Fene memeluk putri tercintanya dengan penuh kerinduan.


Stela meluapkan tangisnya dibahu Fene. "Dia telah pergi Mi! Dia menceraikanku!" Tangis Stela pecah.


"Apa? Oogh my God!" Fene menggeram.


Adrian tak bergeming menahan amarahnya. Mengepalkan jari-jarinya hingga memutih.

__ADS_1


"Aku akan membuat perhitungan pada Visser!" Batin Adrian.***


__ADS_2