
___Jangan lupa like and vote_____❤️👍
"Bantu aku Marelin! Aku mohon!" Ucap Pedro.
"Berarti selama ini kau dimana? Di Italy atau di La?" Tanya Marelin menelan salivanya kembali.
"Aku kuliah di La! Baru beberapa bulan disana, karena ingin merebut Stela dari Dedrick!" Jujurnya.
"Stela sudah menikah! Kau akan dibunuh oleh Tuan Lim!" Sarkas Marelin. "Apa salah Tuan Hanz padamu? Hingga kau tega menghabisinya! Kau akan disiksa oleh Edward Lincoln, sama seperti Carlos!" Jelas Marelin lagi.
"What? Papi disiksa Lincoln?" Kejut Pedro.
"Ya! Carlos meninggalkan Berlin dan kembali ke Spain! Aku juga sudah tidak bersama Brian lagi!" Jujur Marelin. "Jawab aku, kenapa kau membunuh Tuan Hanz, Pedro!" Tegas Marelin.
"Aku khilaf, aku menyesal dan penyesalan itu selalu datang terlambat!" Kenangnya masih terisak. "Bantu aku Marelin! Aku tidak tahu harus bagaimana! Aku takut! Mereka akan menemukanku!" Perasaan takut Pedro terlihat jelas. "Biarlah aku dipenjara! Daripada harus bertemu mereka Marelin!" Ratapannya terus terisak.
Marelin makin tak tau apa yang harus dia ucapkan. Ada perasaan kasihan, tapi dia juga tak bisa, jika melindungi Pedro akan megancam kehidupannya.
"Lebih baik kau pergi ke Giethoorn tempat terpencil disini! Hiduplah disana beberapa waktu. Hingga tidak ada satu orang pun yang bisa menemukanmu. Jika kau bersamaku, mereka akan menangkapmu, kalau tidak hari ini, esok, lusa. Pergilah sekarang Pedro." Pujuk Marelin.
"Bagaimana aku bisa kesana?" Tanya Pedro seperti anak kecil.
"Pergilah kau naik kereta, nanti aku akan memberi nomor teman ku disana! Tinggallah disana!" Jelas Marelin.
"Baiklah!" Pedro bergegas meninggalkan Marelin diapartemennya, menuju stasiun ke arah Giethoorn. "Semoga aku aman disana!" Bantinnya.
Pedro sangat takut, atas siksaan yang dia terima jika tertangkap oleh Keluarga Lincoln dan Lim.
*****
Adrian dan Keluarga besar menghadiri acara pemakaman. Begitu berat bagi mereka menerima kenyataan kepergian Hanz Parker secara mendadak dengan sangat tragis.
Tangis Fene dan Holi pecah, memeluk erat Irene. Stela, Lusi, Chay-in, Jasmine dan Brian tampak terpukul. Kehilangan Grandpa yang sangat mencintai mereka, merawat mereka sejak kecil dengan sangat hangat. Suasana rumah duka sekaligus pemakaman Westwood Village di Los Angeles sudah sangat ramai pengunjung.
Teddy Helberg dan keluarga, Donald Leonard Kind, Tommy Arlan, Marisa Arlan, Edward Lincoln, Katty Lincoln, Mr.Huang, Mr.Liu dan kerabat yang lain ada disana.
Camille Clark datang menghadiri, mengenang Hanz. Dia sosok Papi yang sangat baik bagi Camille. Fernando Febian Arlan dan Carlos Febian Arlan juga hadir disana, untuk memberi pemghormatan terakhir pada Hanz Parker. Walau terkesan kejam pada mereka, selama ini mereka tidak mengetahui Fene adalah putri kandung Hanz Parker.
Miller Van Visser, Veni Van Viseer di dampingi Dedrick Visser, William Smith, tampak sangat terpukul. Baru 6 bulan mereka dekat menjadi keluarga karena pernikahan putra putri mereka harus mendapat kabar duka secepat ini.
__ADS_1
Samuel Hu dan Maria Alexa Hu, membawa serta Lois Sandro Hu, menghadiri upacara pemakaman Hanz Parker, baru seminggu lalu mereka bertemu tertawa hangat, bahkan Lois ingin menggunakan Ferarri yang bernilai fantastis itu, beliau mengizinkan. Sayang, karena Ferarri itu dia dihabisi orang yang belum ditemukan identitas pelakunya.
Kevin Stuard dan Nichole Stuard adalah orang terdekat Hanz Parker selama ini sangat frustasi. Walau Hanz keras padanya saat di Hawaaii, menghajar Adrian dan Kevin, tapi itu menjadi peringatan bagi Kevin jangan macam-macam pada keluarga Parker. Edward dan Hanz memang kejam, tapi mereka orang paling romantis dan bertanggung jawab.
Keluarga Dovisyoso Alfarel ikut serta ada disana, memberi penghormatan terakhir.
Richard membawa serta istrinya Sandra Sibuea, Aleandra Leonard Kind dan Eko Nugroho ada disana, Michel Leonard Kin adik kandung Adrian turut hadir membawa serta Mesi orang kepercayaan Edward.
Alberth orang paling terpukul, berdiri bersama pengawal lainnya.
Pendeta melakukan beberapa ritual pemakaman secara hikmad dan mengharukan.
Fene membawa bunga mawar putih, sebagai cintanya pada Hanz Parker yang senantiasa menjaganya dimasa tersulitnya.
"Sabar yah sayang!" Ucap Edward saat pemakaman akan dimulai.
"Dad!" Fene memeluk erat Edward.
Adrian yang tak pernah melepas Fene, terus menguatkan istri tercintanya, walau hatinya masih sangat rapuh.
"Dri! Papi Dri!" Isak Fene.
Camille berdiri tak begitu jauh dari Adrian dan Fene. menggunakan baju hitam dan kaca mata hitam.
Fernando beberapa kali beradu tatap dengan Camille. Hanya saja masih suasana berkabung, mereka tak saling menyapa dan juga mengenal.
Peti jenazah Hanz Parker diturunkan perlahan, terdengar isak tangis anak, cucu Hanz. Melemparkan bunga terakhir, menatap peti untuk yang terakhir kalinya.
Dedrick mendekati Stela, merangkul istri tercintanya. "Aku akan selalu menjagamu!" Bisik Dedrick, membawa Stela ke pelukannya.
Kevin dan Nichole meletakkan mawar putih diatas tanah yang sudah menimbun peti Hanz Parker.
Menyaksikan Hanz Parker tertimbun dengan sejuta kenangan. Kenangan terindah yang ditinggalkan sebelum kepergiannya. Adrian dengan kelukaan yang dalam, Fene kasih sayang yang sempurna, Stela, Lusi, Chay-in, Jasmine, Brian mendapatkan kemewahan dan kasih sayang yang teramat sangat.
Irene baru merasakan keindahan bersama suami tercinta, bermanja-manja, bermesraan saling mengakui rasa cinta, ternyata itu hari terakhir mereka bersama. "Aaaag Tuhan! Kenapa KAU ambil Hanz begitu cepat? Rasanya ingin sekali aku ikut bersamanya didalam sana. Bagiku Hanz adalah sahabat, suami, kekasih, terbaik selama hidupku! Hanz, tenanglah disana bersama Bapa dan Roh Kudus! Aku mencintai Hanz, Tuhan!" Jerit hati Irene yang masih belum bisa memerima takdir.
Edward sahabat tergilanya hingga pernah membuat Hanz hampir terluka karena ingin mengabil hak asuh Fene dari Mark Claire Zurk. "Oogh, Hanz Parker! Tenanglah kau disana, bersama Bram putra ku!" batin Edward mengusap sudut matanya.
Acara pemakaman selesai, semua tamu yang hadir perlahan meninggalkan pemakaman. Pendeta keluarga Hanz menguatkan Irene, memberi kekuatan dan penghiburan pada keluarga yang ditinggalkan.
__ADS_1
Camille menyalami Irene dan Fene saat akan meninggalkan pemakaman.
"Saya turut berduka Nyonya, Tuan Hanz Papi yang baik buat Fene dan Kelima cucunya. Saya permisi Fen! Sekali lagi saya turut berduka cita!" Ucap Camille membuka kaca mata mengusap sudut mata indahnya.
"Ya! Terimakasih!" Jawab Fene merangkul Irene.
Mata Camille tertuju pada Adrian yang semakin mendekat, "Saya permisi Dri!" Tunduk Camille memilih berlalu.
"Ya! Terimakasih!" Jawab Adrian dengan angkuh merangkul Fene dan Irene.
Marisa yang sudah lama tak bertemu, memeluk Fene dan Irene dengan erat. Ada penyesalan karena tidak hadir diacara pernikahan Stela kala itu. Hanz dan Irene bahkan sudah merencanakan liburan mereka ke Italy, cuma takdir berkata lain. Tuhan memanggil Hanz lebih cepat meninggalkan semua kenangan untuk istri dan kedua putrinya.
"Yuuuk! Kita pulang." Adrian membawa Fene dan Irene menuju mobil mereka.
Carlos dan Fernando mendekati Adrian, "Aku turut berduka Adrian!' Senyum Carlos.
'Bangsat! Ngapain dia datang ke pemakaman keluargaku!' Bisik Adrian membatin.
"Ya!" Jawab Adrian kaku.
'Sombong!' Batin Carlos.
Carlos mengejar Fene, "Fen! Fene!" Panggil Carlos.
Fene berhenti, menatap malas pada Carlos yang sangat tak tau malu.
"Aku turut berduka Fen! Mami!" Ucapnya menunduk.
"Ya!" Fene berbalik tanpa menghiraukan.
Kevin menepuk bahu Adrian, "Kita langsung ke Bell Air?" Tanya Kevin.
"Ya!" Jawab Adrian.
Mereka semua menuju Bell Air kediaman Hanz Parker. Menghabiskan waktu disana, menunggu kabar dari orang-orang suruhan Edward, Huang dan Donald.
Miller dan Adrian juga sedang menyelidiki. Jenis peluru yang bersarang di kepala orang tua mereka, atas bantuan FBI dan juga Agent rahasia.
"Jika dapat, akan aku benamkan dia! Hingga mati dengan dosanya!" Batin Adrian. ***
__ADS_1