
Pagi yang cerah di kota Jakarta Adrian menggeliatkan tubuh memeluk erat Fene. Cuaca mendung, terlihat gerimis dari sudut jendela apartemen yang sedikit terbuka.
"Hmmm! Gemes banget sama kamu tuh!" Bisik Adrian mencium cuping Fene yang tengah menggeliat.
Tiiing, pesan media masuk secara pribadi ke handphone milik Adrian dan Fene.
"Hmm! Ada berita apa pagi ini? Apakah saham kita melonjak pesat?" Bisik Adrian mencium Fene, meraih handphone di nakas.
Suit suit suit, beberapa foto Stela dan Mario terpampang jelas di layar kamera milik Adrian dan Fene. Tentu Adrian terlonjak kaget, tidak menyangka putrinya akan senekad ini.
"Apakah pria ini kurang terkenal, terus mendekati putriku agar semakin terkenal? Apa maksudnya dia menatap Stela seperti ini Fen? Dia masih istri Dedrick! Mereka belum berpisah! Nekat sekali mereka!" Kesal Adrian bergegas masuk kekamar mandi.
Fene tertegun menatap Adrian sangat emosi jika Stela seperti ini. "Hmm! Ini kan sahabatnya Brian, nggak mungkin seberani ini dia menggoda Stela. Bukannya dia tau Stela sudah menikah! Hmm!" Batin Fene memijat pelan pelipisnya.
Lebih kurang 15 menit, Adrian keluar dari kamar mandi. Tanpa sehelai benangpun. "Fen, tolong ambilin underware ku! Kita ke Deutchland hari ini, langsung ke Bhul 3 Oberstdorf." Tegas Adrian.
Fene hanya diam, memberi semua kebutuhan suaminya. Memilih baju, sesuai permintaan Adrian. "Kamu aja deh yang kesana! Aku disini aja!" Jelas Fene lemes.
"Why?" Tanya Adrian kaget.
"Males ngelihat lo berisik di lokasi shooting Brian!" Jelas Fene. "Buat malu, ribut-ribut! Kasihan Brian dan Stela!" Sungut Fene.
Adrian sedikit emosi, "yang mau ribut siapa? Aku pengen berlibur, sudah berapa bulan kita nggak jumpa Stela, Brian dan Jasmine! Aku kangen sama anak ku. Chay-in sibuk. tempat disana sangat bagus. Aku hanya ingin berteman dengan Stela. Melihat kondisinya." Tegas Adrian panjang lebar meyakinkan Fene.
"Ya, udah! Lo hubungi Luisa, siapkan penerbangan! Gue juga bosan disini, Holi sampai sekarang nggak mau komunikasi sama gue!" Rungut Fene masih mengemasi baju mereka.
"Hmm!" Adrian memeluk Fene dari belakang, "makanya kita berlibur! Kali aja kita dapat tawaran dari Samuel untuk buat filem bokep!" Goda Adrian ditelinga Fene.
"Iiighs, apaan seeh! Udah tua, jangan bokep aja pikiran lo! Sama persis kayak Kevin! Mesum mulu, giliran di jabanin ciut." Kekeh Fene menikmati pelukan Adrian.
"Lo masih muda kok, luar dalam! Enak, wangi!" Adrian mengecup leher belakang Fene.
__ADS_1
"Udah deh, lo udah mandi! Kita siap-siap! Di Buhl aja kita honeymoon! Kali aja dapat hidayah!" Fene menikmati pelukan Adrian dan kecupannya.
"Ya udah! Mandi gih! Kita sarapan, gue hubungi Luisa." Kecup Adrian dileher Fene.
"Hmm!" Fene melangkah menuju kamar mandi, menyegarkan tubuh dan kepalanya dari kepenatan pikiran yang menghimpit beberapa bulan ini.
Siapa sangka sang besan tidak menerima kabar Stela dan Mario dari handphone canggihnya. Tentu Miller segera mempersiapkan penerbangan ke Buhl 3 Oberstdorf Deucthland bersama Veni. Ada rasa kesal dihati Miller pada putri kesayangan Adrian. Begitu banyak pemberitaan tentang perpisahan Dedrick dan Stela.
"Ooogh, Mil! Ini yang aku takutkan! Coba kamu hubungi Dedrick deh! Aku paling malas menghadapi media! Pusing!" Kesal Veni.
"Hmm!" Miller menghubungi Dedrick tapi handphone miliknya tidak aktif.
Suasana dini hari di Netherland, membuat Miller dan Veni kesal dengan pikiran mereka.
"Apakah Dedrick tidak menafkahi Stela, Mil?" Tanya Veni semakin muak jika teringat keegoan kedua anak menantunya.
"Dedrick selalu ngirimin! Udah 3 bulan Mike mengirimkan ke rekening Stela." Jelas Miller mengusap lembut punggung Veni yang meringkuk di dadanya.
"Trus, kenapa Stela malah begitu? Mesra-mesra sama cowok yang cakep! Emang putraku kurang cakep? kurang tampan? Kurang ngartis?Kurang terkenal?" Rungut Veni.
"Yaah, cakeplah! Setia seperti ku!" Cubit Veni pada perut Miller.
"Ck! Kali aja Stela sedang mencoba produk Spain, Ven!" Kekeh Miller.
"Kok kamu malah dukung mereka Mil? Iiighs! Kalau benar mereka berpisah, ooogh Miller! Hancurnya hati ku! Stela tu menantu kesayangan ku, Mil! Jika Drdrick pernah salah kenapa dia tidak memaafkan putra ku! Hanya karena *** Mil! Mereka menikah karena ***, masak pisah karena *** juga! Ooogh, Miller! Aku nggak terima! Ini horor buat kita! Apa kata Papi dan Keluarga Visser. Baru menikah sudah berpisah! Hmmm!" Rengeknya di dada Miller.
"Siapa yang dukung! Putra kita aja terlalu santai! Hingga membuka celah pihak ketiga untuk masuk! Dia bukan pejuang! Mereka sama-sama menunggu dan sangat egois!" Jelas Miller.
"Hmm, ya! Satu copy Adrian! Satu copy kamu!" Kekeh Veni.
"Hmm! Inget ama sifat asli Adrian." Goda Miller.
__ADS_1
"Nggak lah! Kamu ngejebak aku! Aku sama Adrian merasa seperti teman! Aku sangat memahami Fene, karena saat Adrian bingung memilih antara Bram dan Adrian, dia justru menghabiskan waktu sama aku! Aku sangat memahami Fene! Dia sahabat terbaikku, walau aku pernah mengecewakannya." Cerita Veni.
"Apa kamu pernah membayangkan akan kembali bersama Adrian?" Tanya Miller karena tidak ada pembahasan lain.
"Sama sekali tidak! Aku hanya ingin kamu menemani ku hingga akhir hayat! Biar anak kita yang meneruskan karma kita!" Tawa Veni pecah di dada Miller.
"Kamu ternyata picik!" Jawab Miller kesal.
"Kok picik? Anak kamu tuh, naksirnya sama anak kecil! Nggak lihat dulu siapa yang ditaksir. Jelas-jelas kalau menjalin hubungan dengan artis, model, harus kuat iman! Bukan malah di kungkung! Biarkan dia all out menunjukkan jati dirinya, seperti Kevin dan Nichole! Sampai sekarang awet," Jelas Veni panjang lebar.
"Hmm! Jadi Dedrick kurang memahami Stela, begitu?" Tanya Miller semakin penasaran.
"Iyalah! Awal doang, mereka bisa memahami. Selanjutnya putramu mengekang langkah Stela! Nggak boleh begini, nggak boleh begitu! Sementara kamu tau sendiri, Stela itu dunianya beda dengan putra kita yang monoton Miller." Jelas Veni dapat di pahami Miller.
"Ya! Mereka kurang memahami! Posesif!" Senyum Miller menutup matanya untuk beristirahat sebentar sebelum melakukan perjalanan mereka.
"Hmm!" Veni terlelap didekapan Miller.
Berbeda suasana di Beverly, Dedrick semakin frustasi menatap pemberitaan tentang perceraiannya. Foto Stela bersama Mario membuat dia, semakin sulit membendung amarahnya. Dedrick menghancurkan semua foto-fotonya bersama Stela. Dia menangis terisak, jatuh semakin dalam. Benar-benar sakit dia melihat pemberitaan.
Orang kepercayaan Miller terkejut mendengar tuannya mengamuk, mencoba mendekati Dedrick yang tengah meringkuk di pinggi kasur. "Tuan Muda! Apa anda baik-baik saja?" Tanya pelayan.
"Bawa aku menemui istriku! Aku tak ingin ada disini." Isaknya di pelukan pelayan yang dia anggap seperti kakaknya sendiri.
"Hmm! Tenanglah Tuan! Jangan di ikutkan hati marah! Nona Stela sangat mencintai anda! Mungkin dia sedang bersama sahabatnya. Kebetulan sahabatnya pria, Tuan kan tau paparazi seperti apa memberitakan sebuah foto!" Usap lembut pelayan di punggung Dedrick.
"Tapi aku benar-benar sakit melihat foto itu! Dia tidak sedih kehilanganku! Aku bekerja disini, tapi dia bahagia disana!" Tangisnya seperti anak kecil.
"Hmm! Bukankah Nona juga bekerja Tuan? Nona model Tuan, mungkin dia tengah mencoba berkarier menjadi artis multitalent. Jangan berfikir negatif dulu!" Pujuk pelayan dengan lembut.
"Hmmm! Aku ingin ke Buhl 3 Deucthland! Bawa aku kesana! Aku sudah tak peduli dengan gengsiku! Aku tak ingin mengecewakannya lagi! Please, aku mohon!" Tangis Dedrick semakin kencang.
__ADS_1
"Baik Tuan! Bersiaplah! Aku akan mengurus keberangkatanmu!" Senyum pelayan.
Dedrick mempersiapkan dirinya menuju Jerman. Menjemput impiannya Stela Moreno Visser.