See Eye Stela

See Eye Stela
See eye Stela.


__ADS_3

Dedrick dan Lois saling bercanda dilapangan hijau Beverly. Mata seorang pria memperhatikan mereka dari kejauhan, lebih tepatnya direstoran.


Stela tampak tengah bercanda dengan Chay-in dan Lusi. Dovi yang tengah mengajarkan ketiga wanita untuk bermain golf menjadi bahan ledekan bagi Stela.


"Kamu sexy Dov! Nggak usah ngajarin aku!" Kekeh Stela.


"Kamu semakin berani semenjak menikah Stel!" Jawab Dovi.


"Ya! Aku sedang berusaha menjadi wanita penggoda!" Stela semakin tertawa.


Dedrick menghampiri Stela, agar mengakhiri latihan mereka, tapi mendapat serangan yang berbahaya dari Stela. Dia mencium bibir Dedrick hingga mengalungkan tangan dan kakinya kepinggul suami tercinta tanpa rasa canggung.


Dovi dan Lusi yang sudah terbiasa melihat adegan mesum sepupunya, lebih memilih jalan lebih dulu. Begitu juga dengan Lois dan Chay-in. Mereka hanya tersenyum melihat pasutri yang semakin menggila akhir-akhir ini.


Tapi Fernando berdecak kagum pada kemesraan Dedrick dan Stela, "mereka pasangan paling hot! Pantas Pedro sangat mengagungkan Stela, dia memang wanita yang menggairahkan, manja dan aaaagh! Dia juga kejam telah membuat keponakanku koma! Sama seperti Daddy dan Maminya! Ngidam apa Tuan Lim dan Nyonya Fene hingga bisa memiliki putri sesempurna ini?" Bisiknya dalam hati.


Dedrick sangat menikmati ciuman Stela dimana saja, "kita pulang sekarang?" Tanya Dedrick melepas ciuman mereka.


"Hmm! Aku haus! Kita duduk diresto?" Pinta Stela manja.


"Ya! Kamu turun atau aku gendong sampai resto?" Kekeh Dedrick.


"Gendong aku di belakang mu! Agar aku tau kau kuat atau tidak!" Bisiknya.


"Hmm!" Dedrick melakukan semua permintaan Stela, menggendong hingga restoran. Mereka tertawa bahagia. Saat pelayan memberi hormat pada pasangan terhot di La itu.


"Selamat siang Tuan!" Ucap pelayan menunduk hormat.


"Ya! Siapkan seperti biasa!" Bisik Dedrick.


"Baik Tuan." Pelayan sangat mengerti pesanan Keluarga Visser, segera menyediakan dihadapan mereka.


Pria yang dari tadi memperhatikan mereka, menghampiri dengan sangat tampan dan elegant.


"Good afternoon ladies and gentlemen!" Ucap pria itu sangat sopan.


"Uncle?" Kejut Dedrick melihat Fernando Arlan menghampiri mereka. "How are you dear?" Tanya Fernando menatap Stela yang juga menatapnya.


"Baik Uncle!" Jawab Dedrick. Sejujurnya Dedrick sudah tau semua tentang Keluarga Arlan dari Marelin. Ternyata yang menyiksa Marelin adalah Carlos, bukan Fernando seperti yang beredar diluaran sana.


"Bisa kita bergabung boy?" Tanya Fernando sopan.


Lois dan Dovi hanya menaikkan bahunya, tanpa mau mengambil pusing. Mereka lebih sibuk dengan kekasih yang ada didekatnya.


"Boy, bisa kah kalian melihat Pedro dirumah sakit? Dia tidak memiliki teman seusianya." Pinta Fernando sedikit memohon.


Deg, Stela menatap mata Fernando kemudian melirik kearah Dedrick. "What?" Stela menunjukkan ketidaksukaannya mendengar nama Pedro.


Lois yang mendengar permintaan Fernando mengirim pesan melalui whatsApp,


"Terima tawarannya."-Lois.


Dedrick mengangguk setuju pada Lois, tersenyum tipis. "Oke Uncle! Selepas dari sini, kita kerumah sakit!" Jelas Dedrick mengusap lembut paha Stela agar berusaha ramah dihadapan Fernando.

__ADS_1


"Oke! Saya tunggu di rumah sakit yah! Saya permisi!" Ucap Fernando berlalu meninggalkan mereka.


Dedrick dan Stela saling tatap tak mengerti pikiran suaminya.


"Iiighs! Grrrh!" Bisik Stela kesal.


"Sayang, kita ke rumah sakit menjenguk Pedro yah! Lois, Dovi, kalian ikut dengan ku atau ada acara lain?" Tanya Dedrick.


"Kami langsung pulang saja! Kalian saja! Daripada aku yang melanjutkan kematiannya nanti!" Kekeh Lois menatap Dedrick.


"Ooogh, Oke!" Ucap Dedrick mengangguk pelan menatap mata Stela. " Kita jalan sekarang sayang?" Tanya Dedrick lagi memastikan.


"Ya!" Stela mengikuti langkah Dedrick memasuki mobil mereka, meninggalkan Waldorf Astoria Beverly berpisah dengan Lois dan Dovi.


Dedrick menatap lurus kedepan, sesekali melirik kearah istrinya. "Why? Apa kamu tidak menyukai kita menjenguk Pedro?" Senyum Dedrick.


"Kenapa kamu ingin kita menjenguknya? Bagus dia mati sekalian! Kenapa aku tidak menembak kepalanya saja kemaren!" Geram Stela sinis.


"Heii, listen! Jika seseorang belum ditakdirkan untuk mati, dihujam apapun dia tidak akan mati! Biarkan dia hidup, Allah pasti membalas perbuatannya pada keluarga mu! Percayalah sayang! Aku tidak ingin kau memiliki sifat dendam!" Tegas Dedrick sebagai suami.


"Tapi dia sudah membunuh Grandpa Hanz, Hubby! Kenapa kamu membelanya?" Kesal Stela.


"Aku hanya mengikuti permintaan keluarganya, sesuai perjanjian mereka pada kita Stela! Just it! Nggak lebih!" Tegas Dedrick lagi.


Stela hanya mendengus kesal, mendengar nasehat Dedrick, seperti malaikat. "Aku membencinya! Sampai kapanpun akan membencinya!" Ucap Stela kesal.


"Jangan terlalu membenci sayang! Nanti kamu jatuh cinta padanya, seperti kamu jatuh cinta pada ku!" Goda Dedrick pada dagu Stela.


"Iiighs! No way! Never!" Stela berpangku tangan menatap lurus kedepan tanpa memperdulikan Dedrick.


Stela memeluk Edward dan Brian, "Grandpa ngapain disini?" Tanya Stela manja dipelukan Edward.


"Sedang menunggumu sayang!" Kecup Edward pada kening cucunya.


Dedrick dan Brian saling berpelukan, "yuuk, kita ke lantai 2!" Ajak Brian pada Dedrick dan Stela.


Dilantai 2, Stela dikejutkan dengan kehadiran Carlos dan Marisa ada disana, ditemani Fernando dan Tommy.


"Grandma Marisa!" Sapa Stela.


Marisa memeluk erat Stela, "masuklah! Pedro ingin menemuimu!" Senyum Marisa.


Stela tampak bingung, menatap Dedrick. "Kamu temanin aku! Aku nggak mau masuk sendiri!" Rungut Stela.


"Nggak bisa! Hanya satu orang!" Ucap Dedrick.


"Ck!" Wajah Stela berubah murung. Stela memilih duduk di kursi, "aku nggak mau masuk!" Kesal Stela.


Mereka saling tatap, Fernando mendekati Stela. "Aku rasa, kau adalah wanita yang dicintai putra ku! Bantulah dia untuk bertahan! Karena dia hanya menyebut namamu, Stela! Please!" Mohon Fernando dihadapan Stela.


Stela menelan salivanya, "aku merasa dipermainkan oleh keadaan! Kenapa mereka seperti memohon! Kenapa wajah Spain mereka sangat menggoda ku!" Batin Stela munutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Dedrick merangkul bahu Stela, membawa Stela dalam pelukannya. "Temuinlah dia! Semoga dia cepat pulih! Maafkan musuhmu!" Bisik Dedrick pelan.

__ADS_1


"Hmm!" Stela menarik nafas dalam sangat kesal dan menggeram.


Carlos mendekati Stela, "please! Jangan buat putra ku seperti ini Nona! Aku mohon maafkan dia." Ucapan Carlos masih memohon.


Stela menatap Brian dan Edward, mereka mengangguk setuju.


Stela berdiri dari duduknya, melangkah, masuk keruangan Pedro, menatap tubuh pria tampan yang juga menatapnya. Seperti dia hanya menunggu Stela.


Tubuh Pedro tak bisa bergerak, hanya saja matanya sudah terbuka, menggunakan alat bantu pernafasan. Memar diwajah sudah mulai memudar, terlihat bulu halus dipipi dan dagu. Dada masih di tutupi perban terlihat sangat tegap.


Pedro tersenyum menatap Stela dari kejauhan. "See eye Stela!" Bisiknya menggeram. "See eye Stela! I love you! See eye Stela!" ucapnya menggeram tak bisa didengar oleh Stela.


Stela menelan salivanya, menatap tubuh terbalut perban. "Oogh My God! I'm sorry! Aku tak bermaksud membuatmu stengah mati! Justru aku ingin melihatmu didalam peti mati!" Batin Stela.


Stela hanya melihat dari jarak 4 meter. tak berani mendekat, seketika tangan Pedro bergerak, memberi isyarat agar Stela mendekat padanya.


Jantung Stela berpacu dengan cepat, perlahan mendekat mengikuti isyarat tangan Pedro masih terpasang impus dan perban. Air mata penyesalan jatuh dari sudut mata itu, menatap Stela yang mulai mendekat padanya.


Stela menelan salivanya kembali, Pedro membuka tapak tangannya, untuk menyambut tangan Stela yang sudah mendekat. Stela tertegun melihat tangan bersih dan lembut dihadapannya.


Tanpa ragu Stela menaroh tangannya diatas tapak tangan Pedro. Seketika Pedro menggenggam tangan Stela menutup matanya, tanpa bisa berucap, hanya menikmati penyatuan tapak tangan mereka. Stela dapat merasakan sesuatu dihatinya, tapi dia tak mengerti. Baginya hanya Dedrick yang dia cintai, Stela turut memejamkan mata mencoba masuk dalam pikiran Pedro yang tak bisa bicara.


Ada kedamaian digenggaman itu, kedamaian tak berujung. Ada dendam disana, dendam yang tak pernah berakhir. Ada cinta disana, cinta yang takkan terbalas. Ada harapan disana, harapan yang sia-sia.


"Perasaan apa ini?" Batin Stela, "Kenapa rasanya sangat berbeda! Apakah dia akan mati?" Pikiran Stela berkecamuk.


Stela membuka matanya, menemukan mata Pedro yang masih tertutup rapat, air mata masih mengalir membasahi sudut telinganya. Stela berusaha tenang, mengatur nafas. Mendekati wajah Pedro, menyeka pelan air matanya.


"Kuatlah, kita akan bicarakan semua! Aku memaafkanmu!" Bisik Stela. "Temuin aku jika kau telah pulih! Aku permisi!" Tambah Stela disudut telinga Pedro, melepas genggamannya.


Stela mengusap kepala Pedro lembut menatap wajah yang sangat tampan, rahang yang tegas, bibir yang merah, hidung yang mancung, kulit wajah yang putih bersih terawat.


Perlahan Pedro membuka matanya, menatap mata Stela yang juga menatapnya.


"Aku permisi!" Ucap Stela pelan dapat dimengerti oleh Pedro.


Wajah Pedro terlihat bahagia dengan perlakuan Stela sangat baik padanya. Jika Pedro dalam keadaan sehat mendapatkan perlakuan Stela seperti ini, pasti akan tau mereka akan berakhir dimana. Disuport dengan penampilan Stela yang sangat sexy hari ini. Pasti akan menjadi kenangan terindah untuk Pedro, hehehe.


Stela terlihat sangat gugup, saat beradu tatap seperti itu. Perlahan dia mundur berlalu pergi meninggalkan ruangan ICU. Dia berusaha mengatur detak jantungnya tiba-tiba berubah seketika saat menatap mata elang Pedro.


"Gimana sayang?" Tanya Dedrick saat Stela menutup pelan pintu ruangan Pedro. Semua mata tertuju pada Stela.


"Hmm! Kita pulang!" Senyum Stela gugup.


"Apa dia bisa bicara padamu?" Tanya Carlos dan Fernando bersamaan.


Stela menyatuka alisnya, "hmm! dia nggak bicara! Saya permisi Tuan!" Senyum Stela menatap mata Carlos dan Fernando. "Hmm, semoga besok dia lebih baik Uncle!" Jelas Stela lagi.


"Ogh Jesus! Syukurlah! Terimakasih Dedrick! Terimakasih Stela! Kamu mau menemui putraku!" Ucap Carlos senang.


Edward dan Brian tersenyum lega, ternyata Pedro kritis menyebut nama Stela, sebelum dia datang. Maka dari itu Fernando menyusul Stela ke Waldorf Astoria Beverly memohon agar Dedrick mengizinkan Stela menemui Pedro dengan isyarat mata.


Jika ini memang terakhir kali Pedro bernafas, saat ini juga babak pertempuran akan dimulai oleh Carlos. "Picik!"

__ADS_1


____Jangan lupa Like and Vote____


__ADS_2