See Eye Stela

See Eye Stela
Menemukan memory card


__ADS_3

Stela hanya meringkuk bersama Dedrick ditepi kolam renang, saling bercerita tentang Grandpa Hanz.


"Aku akan stay disini! Aku nggak mau ikut kamu ke Beverly!" Isak Stela di pelukan Dedrick.


"Ya! Aku akan menemani mu disini!" Dedrick membawa Stela dalam dekapan. Memeluk tubuh indah Stela yang masih down atas semua kejadian ini.


Edward dan Fene melirik Stela dari ruang makan beberapa kali. "Kasihan Stela, Fen! Dia sangat dekat dengan Hanz!" Bisik Edward.


"Hmmm! Semua Dad, anak-anak down! Aku harus kuat demi mereka. Padahal aku juga down!" Isak Fene kembali masuk kepelukan Edward.


"Tenanglah sayang! Aku sudah menemukan pelakunya! Hanya saja kita menyelidiki lebih dalam dulu. Takutnya nanti salah! Peluru yang didapat dengan senjata yang dia miliki sama izinnya." Senyum Edward.


"Who Dad? Who? Uncle Tommy? Atau?" Fene menatap lekat mata Edward.


"Carlos Arlan! Sssst! Kami sedang menyelidiki senjata yang dia punya." Bisik Edward.


"Kenapa yang mereka periksa Camille? Papi nggak pernah ketemu Camille setelah dari Hawaaii Dad!" Bisik Fene.


"Hanya pemeriksaan, slow baby! Carlos akan aku bawa malam ini ke tempat biasa! Silent please! Oke sweety! I love you!" Kecup Edward pada kepala Fene.


"Hmmm! I love you too Dad!" Fene memeluk Edward dengan sangat erat.


Irene duduk disofa dimana dia tidur dan menatap Hanz terakhir kalinya, tentu ditemani Chay-in, Jasmine dan Brian.


Veni dan Nichole sibuk mengurus tamu-tamu yang berdatangan kerumah Irene untuk mengucapkan belasungkawa. Suasana duka masih terlihat jelas di Bell Air.


Ada rasa kesal dihati Adrian saat mengetahui jenis senjata yang digunakan penembak. "Carlos? Apakah benar Carlos? Aku akan ikut Daddy nanti malam!" Batinnya.


"Dri! Apakah benar Carlos pelakunya?" Bisik Miller yang berdiri dekat dengan Adrian disudut ruang tamu.


"Aaagh! Aku tak yakin! Berani sekali dia menghabisi nyawa mertua ku!" Jawab Adrian ditelinga Miller.


"Jika benar mereka pelakunya, aku akan membantu membenamkannya hidup-hidup! Nanti malam aku ikut denganmu!" Tambah Miller.


Adrian menepuk bahu Miller, "kita akan mendengarkannya! Jika memang dia, aku orang pertama akan menyiksanya!" Kesal Adrian menatap Miller.


Kevin yang tengah mengobrol dengan Huang, menatap Ferarri yang ada dihadapannya. "Why? Uuups, Ferarri ini ada memory card! Kondisinya menyala saat kejadian!" Batin Kevin.


Kevin mencari Irene, melihat Irene sedang bermanja-manja dengan cucunya. Menarik tangan Irene,


"Mau kemana Kevin?" Tanya Irene sangat tak ingin bercanda.


"Kunci Ferarri dimana Mi? Aku akan mengambil sesuatu disana!" Bisik Kevin.

__ADS_1


Irene mengambil diruang kerja Hanz, Kevin mengekori Irene. Mengusap air mata yang tak tau kapan akan mengering.


"Nih! Semua kunci mobil ada disini! Jika kau perlu ambillah disini. Aku tidak memperdulikan ini semua! Aku hanya ingin Hanz kembali pada ku!" Tangisnya kembali pecah memeluk Kevin.


"Oogh Mami! I love you! Kuatlah demi kami! Kami akan menemukan pelakunya." Kecup Kevin pada Irene.


"Ya! Lakukan apa yang mesti kalian lakukan!" Irene melapas pelukannya kembali ke sofa bersama cucu tercintanya.


Kevin bergegas menuju Ferarri, mencari letak momory mobil tercanggih Italy itu. "Hmm, sangat pintar mereka mendesaign semua ini." Bisik Kevin. Melihat sebuah paperbag berisi makanan kecil yang belum tersentuh tangan siapapun. Kevin tersenyum, melihat satu persatu makanan kesukaan Hanz dan Irene. "Oogh Papi! You seweet Daddy and great husband." Batin Kevin dengan mata berkaca-kaca. Kevin menemukan memory cardnya. Membawa serta paperbag kedalam rumah.


Veni dan Nichole melihat Kevin membawa paperbag yang penuh dengan makanan. "Honey, apa ini?" Tanya Nichole pada Kevin.


"Hmm! Punya Papi, mau aku berikan ke Mami! Mereka suka sekali semua makanan ini!" Kevin mengelus pipi Nichole berlalu meninggalkan istrinya dan Veni.


Kevin memberikan paperbag pada Irene, tentu disambut Irene dengan deraian airmata, karena makanan ini dia kehilangan Hanz. Jika waktu bisa diputar kembali, dia lebih memilih ikut bersama Hanz menemaninya menghabiskan malam. Jasmine meletakkan paperbag ke kamar Irene, karena itu memang untuk mereka.


Kevin berlalu menuju ruang kerja Hanz, mengambil laptop, dan mulai membuka isi memory card.


Adrian dan Miller melihat Kevin, kemudian menyusulnya keruangan Hanz.


"Apa yang kau temui Vin?" Tanya Miller.


"Aku hanya ingin cek memory Ferarri. Mobil secanggih itu, pasti merekam semua kejadian." Ucap Kevin masih melihat semua data. Matanya masih tertuju pada kegiatan keponakannya Stela, "aaagh putri mu sangat bernafsu pada Dedrick!" Kesal Kevin melihat adegan berciuman Stela dan Dedrick.


"Yang penting mereka sudah menikah!" Rungut Adrian.


"Wait! Dimana ini?" Kevin melihat pemandangan yang indah. Saat Stela dan Dedrick menghabiskan waktu bersama di California.


"Hmm! I don't now!" Adrian dan Miller melihat adegan tergila anaknya sebelum mereka ke Beverly.


"Oogh my God! Segila ini kah mereka!" Kevin melihat tanggal kejadian. "Pantas mereka tak bisa menahan! Ck! Gue jadi pengen Dri!" Kekehnya.


"Iiighs!" Adrian hanya mengagumi keromantisan Dedrick pada Stela. Sangat lembut dia mencumbu putrinya kala itu.


Miller memijat pelan pelipisnya, tersenyum. "Ternyata putrimu sangat menggairahkan Lim! Pantas putra ku ingin menikahinya segera!" Kekeh Miller.


"Aaagh! Aku tak ingin menyaksikan adegan mesum mereka!" Kesal Adrian merasa malu pada Miller dan Kevin.


"Pantes mereka ke Beverly, Dri! Ternyata udah nggak kuat. Look, mereka terus berciuman Adrian!" Tambah Kevin dengan wajah menggoda.


"Ya! Aku memukul Dedrick mereka tengah becumbu dikolam. Putriku tak mengenakan apapun selain bikini. Aaagh!" Kesal Adrian lagi.


Tentu membuat Miller semakin tertawa, "kau terlalu cemburu! Karena putraku merenggut keperawanan putrimu, Dri!" Kekeh Miller.

__ADS_1


"Ck! Aku emosi! Karena dia tak memegang janjinya pada ku!" Jawab Adrian membela diri.


Miller dan Kevin hanya mengangguk. Mereka hanya menyaksikan kejadian Stela dan Dedrick, karena Ferarri lebih sering digunakan Stela. "Hmmm!" Miller berdecak kagum.


Mata Kevin tak berhenti menatap Hanz mengelilingi kota dimalam tragis itu. Kevin melihat Hanz dan seorang pemuda. Tapi pria itu posisinya membelakangi, tidak bisa mengenal siapa dia. Pencahayaan yang kurang saat kejadian itu, membuat mereka sulit menemukan siapa dia. Motor yang digunakan tidak menggunakan plat nomor.


"Kita akan menemukannya, catat seri motornya dan cari di shorum. Motor itu keluaran terbaru 1000cc keluaran Italy." Tegas Miller pada Kevin.


"Ya! Ini seri keluaran terbaru. Pemiliknya bukan orang sembarangan. Aku yakin ini musuh dalam selimut kita. Tommy Arlan." Tegas Adrian.


Adrian menghubungi Alberth agar membawa Carlos dan Tommy ditempat yang telah disepakati. Alberth melakukan tugas seperti yang diperintahkan Tuannya, tentu dibantu orang kepercayaan Hanz.


Adrian keluar mencari Edward dan Fene, mata Adrian melihat kemesraan Stela dan Dedrick dari balik kaca. "Hmmm! Semoga mereka selalu mesra hingga tua!" Batin Adrian.


"Adrian! Kamu dari mana? Mr.Huang mencarimu!" Fene mengagetkan Adrian.


"Oogh! Aku diruang kerja Papi! Kevin menemukan semua bukti kejadian dari memory Ferarri." Bisik Adrian.


Bola mata Fene membulat, "aku menyusul Kevin!" Ucap Fene, tapi.


"No! Kamu temenin aku!" Adrian menahan lengan Fene agar menemaninya menemui Huang.


Adrian dan Fene menuju ruang tamu, menemuin Huang dan Liu. Mereka menggunakan bahasa Mandarin, Fene hanya mendengarkan tak mengerti.


Huang sudah menemukan data penembak Hanz Parker, karena ada seorang pemuda yang melarikan diri dari La menuju Netherland menemui Marelin.


"What! Who Adrian?" Tanya Fene menahan amarah, merasa sesak didada.


"Pedro Febian Arlan!" Ucap Liu sambil berbisik.


"Cari dia! Bawa dia dihadapan ku dalam keadaan hidup!" Perintah Fene.


"Baik Nyonya Lim! Kami sudah melakukan sesuai perintah." Jawab Liu menenangkan Fene.


"Beraninya dia membunuh Papi ku! Apa salah Keluarga ku pada mereka. Aku yang akan memecahkan kepala Pedro!" Geram Fene kembali terisak dipelukan Adrian.


"Sabar sayang! Nanti malam kita akan menemui Uncle Tommy dan Carlos!" Bisik Adrian pada Fene.


"Aku ikut!" Tegas Fene.


"No! Hanya Aku, Daddy dan Miller. Kamu disini sama Kevin dan anak-anak! Ingat jangan kasih tau pada siapapun termasuk Mami!" Tegas Adrian mengingatkan Fene.


"Hmm!" Fene memijat pelipisnya pelan. Terlalu berat dia menerima kenyataan ini. "Ya Allah! Kuatkan aku." Batinnya.***

__ADS_1


__ADS_2