
Fene memoles lipstik dibibirnya, setelah 30 menit dia menghabiskan waktu di toilet. Membuka hendel pintu saling tatap dengan manik mata Adrian.
"Fen!" Mohon Adrian.
"Jangan sentuh gue! Haram!" Jelas Fene semakin sinis.
Fene membuka hendel pintu untuk keluar dari kamar seperti neraka itu, melihat Kevin berdiri disamping pintu menunggu Fene.
"Ck! Jijik gue ngelihat kalian! Lo, urus perceraian lo sama Nichole!" Tegas Fene Sarkas. "Buat malu kalian!" Fene berlalu meninggalkan Kevin dan Adrian.
"Fen! Gue salah! Tapi kita nggak ada masalah diperusahaan, please propesional Fen!" Kevin mengejar Fene.
PLAAAK, tamparan Fene mendarat manis ditempat yang sama tadi membuat Kevin semakin meringis.
"Oogh shiit! Sakit Fen! Kejam amat seh lo! Gue nggak ada dosa sama lo! Gue selama ini baik sama lo! Gue cuma khilaf!" Ringis Kevin.
PLAAK, sekali lagi mendarat ditempat yang sama.
"Sakit Kevin Stuard! Itu pesan dari Nichole! Gue hanya menyampaikan! Lo pulang ke Paris! Atau lo benar-benar nggak akan di Fene Group lagi Kevin. Pelacur itu lo pacarin! Bisa nggak kalian cari wanita yang high, berkelas, diatas Nichole atau gue! Ini malah macarin wanita rendahan yang terkenalnya dengan sensasi! Malu gue Vin sama lo! Sama Adrian! Kalian lakuin ini buat apa seeh? Masih ngaceng lo! Masih *****-an! Nichole kurang sexy Kevin? Pikir otak lo! Lo sama dengan Adrian! Sampah!" Fene berlalu meninggalkan Adrian dipintu kamar.
Kevin mengerang, menatap kepergian Fene bersama Luisa dan Alberth.
"Tuan, silahkan masuk Tuan!" Perintah pengawal.
"Aaagh! Kalian fikir aku anak kecil!" Racau Kevin.
"Kami menjalani perintah Hanz Parker dan Edward Lincoln, Tuan! Ini perintah mereka! Dan mereka sudah menuju kesini!" Jelas pengawal.
"Anjiing! Mati gue! Aagh!" Gerutu Kevin dalam hati melangkahkan kaki ke kamar Fene mendekati Adrian. "Papi dan Daddy kesini! Anjing lo! Ide lo buat petaka! ******!" Kesal Kevin pada Adrian.
Adrian menelan salivanya. "Habis gue! Habis!" Adrian mengusap kepalanya frustasi.
"Fene kemana?" Tanya Kevin. "Beceng Bram sama lo kan?" Tambah Kevin.
Adrian mengusap pinggangnya, seingat dia memang tidak membawa peninggalan Bram. "Lupa gue!" Jujur Adrian.
"Lo begok ternyata yah! Gue pikir lo ada hubungi Fene, ini lo nggak ada kabarin dia! Gimana nggak gila dia! Gue ngeri sama dia kalau udah begini Dri! Fene dilawan, bisa benar-benar habis kita! Dari dulu kalau udah berurusan sama dia nggak pernah menang! Jangankan kalah, seri aja nggak mau! Harus menang!" Rungut Kevin. Penyesalan mereka terlihat jelas karena kebodohan yang tak tertata rapi untuk berselingkuh.
Disisi lain, Fene tersenyum puas melepaskan sakit hatinya pada Adrian. Menikmati ombak menghabiskan waktu ditepi pantai mengenang masa indah bersama Bram saat honeymoon ke Hawaaii. "Bram! Aku rindu! Aku akan pulang ke Berlin, menjenguk mu!" Matanya menangis mengenang sosok Bram. Suami pertamanya yang meninggal ditangan Papi tiri sendiri.
__ADS_1
"Nyonya! Camille sudah disini." Jelas Alberth.
Fene menatap Camille, 'sangat cantik.' Batin Fene menaikkan alisnya duduk dikursi pinggir pantai.
"Duduklah!" Fene menikmati ombak dengan wajah tersenyum walau sebenarnya hatinya remuk.
Camille duduk dihadapan Fene. Menatap wajah Fene yang lurus menatap ombak lepas.
"Maafin aku telah mencintai Adrian." Ucap Camille.
"Makasih! Sudah mencintainya!" Senyum Fene. "Setidaknya aku melepasnya ditangan yang tepat!" Senyum Fene tanpa menatap Camille.
"Fen! Adrian tidak pernah mencintai aku! Kami hanya just for fun!" Jelas Camille tanpa segan.
"I know! Adrian hanya mencintai aku! Tapi bodynya berkata lain Camille!" Ucap Fene sinis.
"No! Aku yang memulai, bukan Adrian! Aku yang salah Fen! Aku mohon jangan hancurkan aku! Karena aku tidak akan mengganggumu dan keluargamu!" Jelas Camille.
"Apa kau mengenal Bram Lincoln? Almarhum?" Fene bertanya tanpa menatap.
"Ya! Aku mengenalnya! Aku pernah menjalin hubungan dengannya, kami pernah tinggal bersama di Brazil! Tapi itu dulu! Apa kau mengenalnya?" Tanya Camille penasaran.
"What?" Camille melemas. Fene meminta Alberth menyerahkan dokumen yang dia beri pada Fene saat diperjalanan.
"Surprise! See! Kau harus pintar agar tidak kecewa dear! Kau harus tau siapa musuhmu! Dan siapa yang kau cintai!" Fene menyunggingkan senyum kemenangan.
Camille melihat semua foto-foto masa kecil, hingga tewasnya kedua orang tua, foto bersama Bram, dan foto perselingkuhan seminggu bersama Adrian. Semua tertata rapi dan sangat mengiris dilubuk hatinya.
"Aku bisa melakukan apapun semuanya Cam! Jika aku mau! Kalian sudah mengecewakan ku! Kau merebut tubuh suamiku! Itu sakit Cam! Aku relakan jika kau ingin bersamanya. Aku sudah melepasnya." Jelas Fene.
"Fen! Maafkan aku! Jangan lakukan ini padaku! Aku tak pernah mengetahui kau sekejam ini!" Tangis Camille pecah.
"Heii! Aku kejam? Bukannya kau yang kejam padaku? Sandiwara yang kalian ciptakan, akan aku buka seluas lautan ini! Aku percaya Allah selalu bersama ku menghadapi apapun, termasuk wanita murahan sepertimu." Sinis Fene.
Camille tertunduk malu, dapat merasakan kekecewaan Fene. "Aku yang datang malam itu! Aku yang meminta! Aku tau dia membutuhkan ku! Aku rela Fen! Aku ikhlas!" Jelas Camille.
Fene tertawa, "Hmm! Kau lucu! Sangat lucu! Baiklah! Selamat menikmati hidup barumu!" Fene berlalu meninggalkan Camille, tersenyum membayangkan kehancuran kasino dan butik Camille akan rata dalam waktu sekejab.
"Fen! Fene!" Teriak Camille, tapi Fene tidak menghiraukannya. Berlalu memasuki mobil, melihat Camille termenung menatap tiap lembar foto digenggamannya.
__ADS_1
"Ck! Cantik tapi bodoh! Pulangkan pelacur yang satu itu ke Australi! Jangan biarkan dia menyentuh orang terdekatku. Biarkan wanita penggoda suamiku itu menikmati kehancurannya perlahan!" Jelas Fene berlalu menuju hotel.
"Baik Nyonya!" Senyum Alberth.
Saat tiba dihotel, mata Fene dikejutkan dengan kehadiran pengawal Hanz dan Edward.
"Oogh My God! Luisa siapa yang menghubungi Papi dan Daddy?" Geram Fene.
"Hmm! Eee! Ehm!" Luisa tak mengetahui siapa yang menghubungi keluarga.
Fene berlari menekan tombol lift, "Aaagh! Mati Kevin sama Adrian!" Geram Fene menunggu lift masih berada dilantai 8.
"Bu! Saya gimana?" Tanya Luisa bingung.
"Terserah kamu! Kamu mau nyebur kelaut juga bukan urusan saya." Kesal Fene.
Tiiing! Fene bergegas memasuki lift, menekan tombol menuju lantai kamarnya.
Luisa terdiam, kembali ke reseptionis meminta kamar untuk dia pribadi. "Kasihan amat gue!" Rundung Luisa.
Lift berhenti di lantai kamarnya, pengawal menunduk hormat pada Fene. Dia berlari menuju kamarnya.
"Ooogh my God! Papiiii, stop!" Teriak Fene, dia melihat Adrian babak belur terluka parah.
"Adrian!" Peluk Fene pada Adrian.
"Bersyukur Fene masih mau memelukmu bangsat!" Geram Hanz mendecih berlalu meninggalkan Adrian dan Fene.
"Aaugh Dri! Maafin aku! Aku hanya pergi sebentar, bukan aku yang menelfon mereka!" Jelas Fene, meringis merasakan sakit pada wajah Adrian.
Adrian menahan sakit diwajah dan tubuhnya. "Terimakasih Fen! Kamu masih peduli sama aku." Fene memapah tubuh Adrian naik keranjang kamarnya.
Fene mencari es batu dan kotak P3K di kamar hotel, mengambil handuk kecil dikamar mandi.
Adrian masih mengerang, Fene mengusap lembut wajah Adrian dengan serius, "tahan yah!" Ucap Fene mengusap luka di pelipis dan bibir Adrian.
"Aaugh! Perih Fen!" Adrian menahan tangan Fene dirahang miliknya. Fene mengalihkan tatapannya. "I love you Fen!" Ucapan penyesalan Adrian terdengar jelas ditelinga Fene.
"Lo mau gue obatin atau mau gue tambahin memarnya!" Sarkas Fene sinis.
__ADS_1
"Iya! Obatin! Sakit banget!" Adrian menahan senyum bahagia atas perhatian Fene padanya. "Setidaknya Fene peduli sama gue!" Senangnya.