See Eye Stela

See Eye Stela
Membaca media.


__ADS_3

Suasana pagi yang cerah seperti biasa, Miller membuatkan sarapan untuk Veni dan anak menantunya.


"Honey, bangunin Dedrick dan Stela! Kita sarapan bersama." Pinta Miller, menepuk bokong Veni agar segera memanggil anak menantunya.


"Iighs! Ntar lagi aaagh! Baru jam 07.00 sayang." Ucap Veni menata hidangan di meja makan.


"Ya udah, kamu tata! Aku bangunkan yah!" Kecup Miller pada puncak kepala Veni, berlalu menuju kamar Dedrick tak jauh dari kichen rumah mereka.


Miller mengetuk perlahan, membuka hendel pintu yang tidak terkunci. Mata Miller tertuju dengan adegan hot anak mereka di pagi hari dengan posisi Stela berada diatas tubuh Dedrick.


Deg, Miller menarik nafas dalam. Tersenyum tipis, memijat pelan pelipisnya. Jantungnya terasa hampir copot. "Untung aku nggak jantungan! Pagi-pagi sudah melihat mereka seperti ini! Ya Allah! Suka sekali mereka tidak mengunci kamar!" Geram Miller meninggalkan kamar.


"Huufgh!" Miller duduk dikursi makan yang sudah terhidang. Mengambil handphone miliknya, membaca berita International pagi ini.


"Dedrick dan Stela udah bangun sayang?" Tanya Veni membawakan susu untuk kedua anaknya.


"Lagi berolah raga!" Jawab Miller tanpa menoleh dari layar ponselnya.


Veni mengerutkan keningnya, "emang dikamar Dedrick ada alat fitnes? Sayang kita di Jakarta, bukan di Netherland!" Jelas Veni.


"Ck! Lagi manuver sayang! Kebiasaan nggak mengunci pintu! Untung kita, kalau orang lain! Lois, Dovi atau siapa bagaimana? Kamu kasih tau Dedrick!" Perintah Miller.


"Hmmm! Anak-anak! Dia pikir kita di Beverly! Ck!" Rungut Veni.


"Honey! Ooogh my God! Ogh honey!" Kejut Miller, menepuk keningnya, masih menatap layar handphone membaca sebuah berita menggenaskan.


"What?" Veni mendekat pada Miller.


"Hanz Parker sayang! Hanz! Ooogh Shiiit!" Miller menghubungi Adrian segera. "Angkat Dri!" Geram Miller dengan tangan menggigil.


Veni membaca berita yang tertulis, "Hanz Parker tewas di kawasan Bell Air pukul 03.00 dini hari waktu Los Angeles." Veni menutup mulutnya, membayangkan wajah menantunya akan histeris mendengar berita ini.

__ADS_1


"Adrian! Baca berita internasional! Tutup akses media agar anak-anak tidak shook! Kita segera pulang ke La NOW!" Perintah Miller.


"What? Oke! Aku cek dulu." Jawab Adrian, Miller menutup telfonnya, meletakkan handphone diatas meja.


Miller mengusap kepala Veni memeluk, merasakan akan ada korban lain setelah ini.


"Beritahu Dedrick! Kita pulang. Aku akan menghubungi Samuel, Kevin dan Lainnya." Usap Miller lembut pada punggung Veni.


"Aku nggak kebayang Stela, Mil! Kamu lihat, dia sangat mencintai Hanz!" Isak Veni.


CEKREEEK, "Dad!" Mata Dedrick saling tatap dengan Miller. "Ini serius?" Tangan Dedrick menggigil memegang handphone miliknya, hanya menggunakan handuk terlilit dipinggang.


Stela menyusul, memegang handphone miliknya setelah membaca berita yang sama menatap Miller dan Veni tak bisa berucap. Air matanya mengalir tanpa henti.


"Grandpa!" Isak Stela menyandarkan tubuhnya kedinding ruang keluarga.


Veni mendekat, Dedrick mengambil air putih memberikan pada Stela.


Dedrick membawa Stela ke pelukannya, "I love you sayang! Kita pulang dulu! Nanti kita selesaikan yah!" Dedrick menenangkan Stela.


Handphone Miller berdering dari seluruh penjuru, memastikan berita ini.


Dikediaman Adrian tak kalah histerisnya, Fene menjerit dipelukan Adrian, menepuk kesal dada Adrian.


Adrian tak bisa berucap, pikirannya harus segera tiba di La. Dia meminta pihak terkait agar menutup berita, hingga seluruh keluarga berada disana. Berkali-kali Adrian menghubungi Irene, tapi belum ada jawaban.


Adrian hanya mendapatkan kejelasan dari pengawal Bel Air yang tak begitu jelas. "Kenapa pengawal seceroboh ini? Bukankah mereka selalu menjaga kawasan dengan baik!" Batin Adrian.


Adrian melepas pelukannya dari Fene, menghubungi FBI untuk mengusut kematian Hanz Parker. Dipikiran Adrian pelakunya adalah Carlos Febian Arlan. "Aku akan membuat perhitungan padanya! Nyawa balas nyawa Carlos!" Batinnya menggeram.


Kevin menggeram, menghubungi Brian dan Edward. Semua bergegas menuju La. Chay-in menangis histeris dipelukan Nichole. Tak menyangka terakhir bertemu Hanz beberapa bulan lalu. Hanz adalah sosok Grandpa yang hangat bagi keempat cucu wanitanya.

__ADS_1


Samuel Hu dan Maria Alexa segera menuju kediaman Adrian. Membawa Lois. Bagaimanapun Hanz sangat berjasa dalam permulaan bisnisnya di Vegas.


Di sisi lain, Holi menjerit dipelukan Petter. Tubuh tak mampu menopang, Lusi berkali-kali pingsan mendengar Grandpa tewas menggenaskan. Dovi yang tengah menginap di kediaman Helberg berusaha menguatkan Lusi.


"Kita pulang sekarang yah sayang! Pasti Uncle Adrian dan Uncle Miller tak tinggal diam. Tenanglah!" Ucap Dovi menenangkan Lusi.


Lusi hanya menangis dipelukan Dovi, sementara Petter menghubungi seluruh Keluarga Helberg untuk terbang ke La agar ikut dalam upacara pemakaman Hanz Parker.


Seluruh pemilik kasino di Vegas terkejut atas berita kematian Hanz Parker. Menurut mereka Hanz tak memiliki musuh yang serius. Hanya persaingan bisnis semata selain Mark Claire Zurk. Tapi Mark sudah mati di tangan Edward Lincoln beberapa tahun silam. Siapa pelakunya? Siapa yang tega melakukan ini pada Keluarga Parker.


Disudut kediaman Marisa Arlan di Italy, justru lebih terkejut. Marisa berkali-kali mengajukan pertanyaan hingga murka pada Tommy suaminya.


"Tega kau membunuh abang ku! Apa salah dia padamu! Kau tak lebih dari binatang Tommy!" Sarkas Marisa pada Tommy.


"Aku tidak melakukannya! Kau tau, kita semua ada disini! Keponakan ku di Spain! Tidak ada yang berani menyentuh abangmu Marisa! Aku mencintaimu! Mencintai keluargamu! Persaingan kami hanya bisnis! Bukan pribadi!" Jelas Tommy membela diri.


"Jijik aku mendengar alasanmu! Jika kau bukan pelakunya, kau harus datang di pemakamannya!" Tantang Marisa pada Tommy.


"Baik! Aku akan menghubungi kedua keponakan ku untuk hadir di pemakaman Hanz Parker. Aku janji pada mu Marisa." Ucap Tommy meyakinkan, membawa Marisa dalam pelukannya.


Fernando dan Carlos saling murka, menjadi sorotan media karna dituduh merekalah pelakunya. Tapi belum memiliki bukti yang kuat.


"Kita harus datang ke pemakaman Hanz Parker, Fernan! Aku tidak sudi rekan bisnis ku yang lain mencap aku pembunuh! Aku tidak pernah membunuh orang." Tegas Carlos pada Fernando.


"Aku juga tidak ada niat membunuh Pak Tua itu! Aku hanya mengganggu Adrian, bukan Pak Tua itu! Aku takut, karena dibelakang mereka ada Mr.Liu dan Mr.Huang, ditambah Edward Lincoln. Aku harus mencari tahu siapa keparat yang telah menembak Hanz Parker!" Jawab Fernando pada Carlos.


Sejujurnya Fernando dan Carlos memang tidak punya masalah pada Hanz Parker, persaingan mereka hanya pada Adrian untuk mengambil alih peninggalan Mark Claire Zurk. Bukan untuk mengganggu keluarga Hanz Parker seperti yang santer di beritakan.


Beberapa jam kemudian media tertutup, jelas atas perintah Adrian dan Edward. Berlin berduka, Edward kehilangan besan sekaligus sahabat tergilanya. Edward dan Katty membawa kedua cucunya Jasmine Moreno Lim dan Brian Lincoln menuju La untuk menghadiri pemakaman Hanz Parker.


FBI bergerak cepat mengusut tuntas mencari penembak, atas perintah Adrian. Tentu tersangka utama adalah Camille Clark, yang akan dicari keberadaannya setelah Pemakaman Hanz Parker.***

__ADS_1


Jangan lupa Like and Vote... Fillen danke...


__ADS_2