
Stela mendekati Kevin dan Dedrick, setelah melakukan pemotretan. Brian segera menyusul Stela, setelah menanda tangani beberapa kontrak.
Visual busana Stela.
Baju rancangan desaigner ternama ini melekat sangat indah ditubuh Stela, mini dress berwarna crem sangat elegant. Stela bukan model catwalk, dia hanya membantu produk terbaru mereka pada sesi pemotretan.
"Haii wife! Kamu sangat cantik!" Bisik Dedrick pada istrinya.
"Terimakasih hubby!" Stela tersipu malu menerima kecupan manja dari suaminya.
"Kita tunggu Brian yah! Baru kita mengisi acara malam ini disalah satu restoran!" Jelas Stela.
Dedrick mengangguk, memeluk tubuh istrinya, yang masih terlihat segar walau sejak pagi sudah melakukan kegiatan.
Dulu Jasmine yang melakukan pekerjaan ini, sebelum dia memutuskan menjadi Dokter Spesialis Kandungan di Berlin. Nichole meminta Stela untuk menggantikan Jasmine pada Fene, karena dia memiliki tubuh yang ideal berparas cantik. Tentu banyak drama yang dihadapi Nichole untuk meyakinkan Fene kala itu.
Malam ini mereka menghabiskan waktu di salah satu tempat di Paris. Bersama rekan editor dan management Fene Group.
Dinner disalah satu restoran.
Melihat lihat cindera mata yang unik diarea Rumah Mode.
Rumah mode milik Fene Group juga sudah berkembang di New york dan Paris yang langsung dikelola oleh Stela dan Nichole.
Saat ini Miller dan Veni memberi kepercayaan pada Stela untuk fokus di Netherland.
Produk terbaru mereka untuk tahun ini.
Visual busana Brian Loncoln untuk pria masa kini, lebih elegant dan modis.
Stela tersenyum sumringah menikmati malam disana. Dedrick selalu menemaninya, disela-sela canda tawa bersama team management.
Brian menghampiri Stela, duduk disebelah adik tersayangnya. Memberi satu kotak kecil sebagai hadiah istimewa.
"Apa ini brother?" Tanya Stela menaikkan satu alisnya.
"Bukalah!" Senyum Brian mencium punggung tangan Stela.
Stela membuka kotak kecil dihadapannya, seketika Stela berteriak mendapatkan kalung kecil yang indah bertuliskan namanya. "Aaaugh! Indah sekali! Aku sangat menyukainya." Peluk Stela pada Brian mengecup pipi abang tersayangnya.
Brian tersenyum sumringah, menyematkan keleher jenjang Stela. "Sangat indah dileher mu dear! Jangan dilepas!" Kecup Brian pada puncak kepala Stela.
Dedrick tersenyum, melihat kemesraan Brian dan Stela, "hmmm, sayang aku nggak punya adik!" Kekehnya membatin.
Mereka menghabiskan waktu bersama. Semenjak perpisahan Brian dan Marelin, dia memilih tinggal di Paris. Sesekali kembali ke La untuk menemani Irene.
"Bagaimana hubunganmu dengan wanita itu?" Tanya Stela berbisik menatap manja pada Brian.
"Hmm!" Brian tersenyum tipis. "Aku sudah mengakhirinya sis! Lebih fokus pada karier ku." Jelas Brian.
__ADS_1
"Oogh! Aku turut sedih!" Stela mengusap lembut punggung Brian, berharap abangnya bisa menemukan wanita lebih baik lagi dari Marelin.
"Kita jalan?" Peluk Brian pada Stela.
"Jalan kaki?" Tanya Stela serius.
"Ya! Kita melihat kota mode bersama Dedrick, semoga saja suamimu bisa menjadi model kita tiga bulan lagi!" Goda Brian melirik Dedrick.
"Aaaugh! Hubby, kamu mau?" Goda Stela menatap Dedrick.
"Demi kamu! Apapun aku mau!" Kekehnya.
"Yuk kita jalan!" Brian menggandeng tangan adik kesayangannya. Tentu Dedrick dan Kevin hanya menjadi pengikut mereka di belakang.
Sepanjang jalan Brian bercerita semua kenangannya, masa dulu. Stela mendengarkan dengan baik, karena ada beberapa yang dia tidak ingat semua kisah kebersamaan mereka.
Kevin dan Dedrick mendengar jelas, beberapa kali Stela mengatakan "aku tidak mengingatnya" sambil memegang kepalanya.
"Oogh, Uncle! Apakah Stela melupakan semua kenangannya?" Bisik Dedrick.
"Ya! Semua! Semua kenangannya!" Tunduk Kevin.
"Apa penyebabnya Uncle?" Tanya Dedrick serius.
"Hmmm! Hanya Hanz Parker yang tau persis kejadian itu. Saat itu Pedro ada disana. Semenjak kejadian itu, Pedro benar-benar menghilang atas permintaan Hanz Parker." Kenang Kevin.
"Oogh God! Apakah Grandma tau Uncle?" Tanya Dedrick lagi.
"Ya, kami tau! Fene dan Adrian belum mengetahui semua. Hanya garis besarnya saja. Saat Stela sembuh, Adrian lebih membawa Stela ke dunia bisnis, perjudian di Vegas dan Fashion. Tidak di izinkan untuk yang lain." Senyum Kevin sinis.
"Ooogh! Maafkan aku Stel! Aku telah melukaimu!" Dedrick terhenti menatap Kevin.
Kevin memanggil Stela, agar kembali ke hotel. Brian mendekap erat tubuh adiknya agar tidak kedinginan, menuju mobil Kevin.
Kevin mengantarkan keponakannya, setiba dihotel mereka membantu Dedrick menggendong Stela hingga ke kamarnya.
"Dia kelelahan Uncle!" Bisik Brian yang mengkuti langkah Dedrick dari belakang.
"Iya!" Jawab Kevin mengikuti langkah Dedrick sangat cepat.
Saat tiba dikamar Dedrick membaringkan tubuh istrinya diranjang kingsize mereka.
"Oke! Besok pagi kita jalan!" Jelas Kevin pada Dedrick.
"Ya, Uncle!" Ucap Dedrick mengerti.
"Nih, buat kamu! Besok kamu pakai. Seri terbaru!" Kekeh Brian memberi paperbag besar berisikan baju terbaru.
"Belum lounching!" Kekeh Dedrick.
Mereka saling tertawa, "selamat beristirahat, kunci pintu kamarmu!" Ucap Kevin mengingatkan keponakannya yang sangat ceroboh.
"Siap bos!" Kekeh Dedrick memberi hormat.
Mereka berpisah, Dedrick dapat bernafas lega. Menatap kekasih hati yang sudah terlelap.
Stela menegerang, "Hubby!" Rengeknya.
__ADS_1
Dedrick yang tengah membuka baju mendekat pada Stela. "Ya!" Dedrick mengusap lembut kepala istrinya.
"Aku haus sayang!" Manjanya.
"Ya, sebentar!" Dedrick mengambil botol air mineral, memberikan pada Stela.
"Aaaagh! Makasih sayang! I love you!" Bisik Stela manja.
Dedrick mengusap lembut wajah Stela, "kamu nggak mandi? Cuci muka, or! Huuufgh!" Dedrick terbungkam, Stela melu mat bibir suaminya.
Dedrick membalas ciuman lembut istrinya, membelai lembut wajahnya.
"Aku menincintaimu, cup! Aku mencintaimu, cup! Aku mencintaimu, cup!" Stela mencium seluruh wajah Dedrick yang masih duduk menikmati ciumananya.
Dedrick menangkup leher Stela semakin melu mat bibirnya lebih dalam.
"Huuuugfh!" Stela menik mati ciuman dari suaminya.
Tangan Dedrick membuka perlahan dress dari tubuh istrinya, men ciumi cerug leher Stela semakin dalam. Stela merasa merinding di sekujur tubuh, menerima kecupan dari Dedrick hingga berhenti di bagi an ken yal kembarnya.
"Aaaagh! Hubby!" Stela meng geliat, meliukkan tubuhnya menik mati sentuhan dari suaminya.
"Kamu senang sayang?" Dedrick memberikan jarinya dibibir Stela, sambil meng ecap bagian merah itu untuk terus dilu mat dengan lid ahnya.
"I like it hubby!" Stela semakin mende sah nik mat.
Sudah puas menikmati bagian kenyal itu, Dedrick berlalu ke bagian ehem Stela yang sangat memabukkan. "Kamu wangi banget sayang!" Dedrick melu mat da ging kecil, hingga membuat Stela menggila.
"Aaaagh! Aaaaagh!" Desa han Stela membuat Dedrick semakin meng gila memainkannya.
Dedrick kembali keatas tu buh Stela melu mat kembali leher dan dada istrinya, memainkan bagian ehem Stela dengan jarinya.
"Huuufgh! Hubby please do it!" Stela semakin mende sah hingga terlihat sangat sexy dimata Dedrick.
Dedrick me lu mat da lam bibir Stela yang terbuka sejak tadi, mengarahkan tangan istrinya memainkan pesawat miliknya.
"Uuuugh, wife!" E rang nya. Pesawat yang sejak tadi ingin melakukan manuver, Dedrick tahan karena ingin menikmati tubuh Stela yang sangat indah dimatanya. Stela meng erang dah syat, me mo hon agar dilakukan manuver.
Perlahan Dedrick membuka ke dua paha Stela, terlihat bagian yang membuat dia tak kuasa menahan selama ini. Mengarahkan pelan pesawatnya, untuk segera lepas landas menuju angkasa.
Blezz.... "Aaaaagh!" Desa han mereka bersamaan saling menatap.
Dedrick melu mat kembali bibir **** Stela yang sangat meng gemas kannya.
Perlahan Dedrick meng gerakkan ping gulnya, maju mundur, terdengar suara **** desa han ke dua nya saling bersahutan disisi ruangan.
"Aaaagh! Aaagh!" Stela sangat menikmati saat Dedrick semakin dalam meng hentakkan pesawatnya.
"Hubby! Aaaagh! Aku...!" Stela men egang men dekap erat tubuh Dedrick diatasnya.
Dedrick mempercepat ritmemya, karena merasakan hal yang sama.
"Aaaagh!" Stela meremas kencang bahu suaminya, dengan nafas terengah.
"Oooogh, I love you wife!" Dedrick menghentakkan lebih dalam menca pai pele pasannya. Mengusap lembut kening yang basah dengan keringat.
"Kamu senang sayang?" Tanya Dedrick menatap wajah istrinya sangat teduh.
__ADS_1
"Hmm! Sangat, kamu selalu bisa membuat aku merasakan nik mat itu sayang!" Ucapnya.
Dedrick masih memeluk tubuh Stela setelah melepas pesawatnya. Mereka terlelap dengan tubuh masih polos tanpa sehelai benangpun hingga pagi menyinari kota mode Paris.***