
Lois menemani Chay-in dari rumah sakit menuju resto milik Dedrick, mereka tidak menyadari kehadiran Miller dan Adrian, karena posisi mereka ada disudut, lebih dekat diruangan VIP smooking room. Lois mendengar curhatan Chay-in sangat menyayat hati Lois. Lois berusaha menenangkan Chay-in, sesekali mengusap dan mencium kepala Chay-in.
Lois beradu tatap dari balik kaca dengan Adrian. "My God! Ngapain daddy Chay-in disini?" Batin Lois.
Lois melepas tangannya dari bahu Chay-in yang masih menangis, sementara putri bungsunya tidak menyadari kehadiran Adrian diresto itu.
"Makasih yah! Kamu udah mau dengerin aku!" Senyum Chay-in mengelus pipi Lois.
Lois yang menyadari tatapan tajam Adrian kearahnya, mencoba lebih tenang tidak membalas, melanjutkan makannya.
"Ya! Besok kalau kamu free dari kampus, aku jemput kamu!" Jawab Lois berusaha menjadi teman yang baik untuk gadis abege seperti Chay-in.
Drrrt, drrrt! Handphone milik Lois berdering.
"Dedrick!" Batin Lois.
"Ya!" Jawab Lois.
"Aku dirumah sakit, kau dimana?" Tanya Dedrick.
"Aku diresto sama Chay-in!" Jujur Lois menatap Chay-in tersenyum.
"Ya udah, cepet sini! Bete aku!" Perintah Dedrick.
"Ya!" Lois menutup telfonnya meletakkan handphone di meja, menarik nafas dalam.
Chay-in menatap Lois sambil tersenyum, "siapa?" Tanya Chay-in penasaran.
"Dedrick! Dia udah dirumah sakit! Yuk, kita jalan!" Ajak Lois, memanggil kasir.
Chay-in mengangguk setuju.
Petugas kasir menghampiri Lois, "minta bill!" Bisik Lois.
"Ooogh, sudah dibayar Tuan Miller Tuan!" Jawab kasir menunjuk kearah Miller yang tengah bersiap.
"Ooogh! Oke!" Senyum Lois.
Lois berbisik pada Chay-in, memberi tahu bahwa Adrian ada disini bersama Miller. Chay-in membelalakkan matanya, tapi Lois sebagai laki-laki, sangat gentle. Dia menggandeng tangan Chay-in.
"Sore uncle!" Hormat Lois, masih menggandeng tangan Chay-in.
"Ya!" Jawab Miller menahan senyum menatap Adrian.
"Terimakasih sudah membayar makanan saya! Saya permisi Uncle dan Tuan Adrian!" Tunduknya hormat.
"Hmm!" Jawab Adrian kaku sedingin es.
"Oke! Kalian mau kemana?" Tanya Miller sangat hangat.
"Kembali kerumah sakit uncle, karena Dedrick dan Stela sudah sampai." Jawab Lois.
"Oogh! Bareng saja! Kebetulan kami juga sudah selesai." Senyum Miller.
__ADS_1
Chay-in memandang Adrian sedikit takut dengan berlindung dibelakang punggung Lois.
"Dad!" Sapa Chay-in takut.
"Ya! Yuk jalan! Kasihan Momy!" Adrian merangkul Chay-in.
Lois dan Miller saling tatap, sama-sama menaikkan bahunya.
"Dad! Aku bareng Lois yah!" Chay-in masih kaku memohon izin pada Adrian.
"Hmm!" Adrian menatap Lois, "hati-hati! Jangan pulang minta nikah!" Adrian menahan senyumnya.
Lois menunduk hormat hampir terkekeh mendengar kata-kata Adrian.
Miller tertawa mendengar ucapan Adrian, menuju mobilnya.
Adrian sangat kaku melihat putrinya bersama pria, "ntahlah! Ntah sampai kapan aku begini." Batinnya.
Suasana rumah sakit masih sedikit kaku. Fene sudah membaik dengan kehadiran Veni, saling bercerita bersama.
"Fen! Kamu sudah bisa pulang! Lebih baik kamu istirahat dirumah!" Jelas Irene pada Fene.
"Iya Mi! Momy dirumah aja! Nggak usah disini! Aku kangen!" Peluk Stela pada Fene.
"Hmm!" Fene mengusap lembut tangan Stela yang memeluknya
"Dedrick mana Stel?" Tanya Irene.
"Pantes anak gue tergila-gila Fen! Anak lo cantik gini!" Goda Veni.
"Hmm! Stel, ini Mami Dedrick lho! Kamu belum salam!" Jelas Fene melirik Veni.
"Ogh! Sory Aunty eh Mami!" Stela berlari kecil kearah Veni, memeluk erat mertuanya dengan hangat.
Irene dan Fene hanya tersenyum.
"Kita ke Netherland saja gimana? Disana lebih dingin!" Goda Veni.
"Hmm! Iya Mam! Nanti aku obrolin sama Dedrick." Manjanya.
"Hmm! Anak-anak banget seeh!" Kekeh Veni menggoda hidung Stela.
Tak lama bersenda gurau, Adrian muncul ditengah kehangatan mereka, mendekati Fene, menatap Stela terakhir menatap Veni dan Irene.
Adrian menghela nafas panjang tanpa basa basi, "Lo sudah bisa pulang! Gue tunggu surat gugatan cerai lo! Gue permisi," Adrian membalikkan tubuhnya meninggalkan Fene, tanpa melihat mereka satu persatu. Adrian tidak akan mempertahankan hubungan jika pasangan sudah tidak ingin bersama.
Bagaikan petir mendapat pernyataan itu dari Adrian, "Dri!" Air mata Fene masih terbendung, dada terasa sesak.
Adrian tidak memperdulikan panggilan Fene, siapapun itu. Jika dia sudah tersakiti dia akan mundur, walaupun hatinya hancur. Cinta yang besar kepada Fene harus kandas karena sekali kesalahannya.
"Mi! Adrian mi!" Fene tak bisa membendung air matanya, menangis terisak menutup wajahnya.
Veni mengejar Adrian yang sudah menghilang dari hadapannya, disaksikan Miller, Edward, Hanz, Lois dan Dedrick. "Adrian! Adrian! Adrian please stop!" Adrian berhenti mengusap wajahnya tanpa berbalik.
__ADS_1
Veni berlari mendekat kearah Adrian, "Lo kenapa? Cerai bukan solusi!" Jelas Veni.
Mata Miller dan Dedrick saling tatap, begitu pula yang lain, mereka saling tatap merasa kaget.
"Hah! Lo tau gue Ven! Gue nggak pernah minta untuk bertahan sama gue! Ini permintaan dia! Bukan gue!" Tegas Adrian di wajah Veni.
"Ya! Tapi kondisinya beda Dri! Fene lagi sakit! Please Dri, demi anak-anak! Malu Dri!" Veni menatap Miller dan Edward.
"Gue akan tanggung jawab sama anak gue! Oke! Assalamualaikum!" Adrian benar-benar pergi meninggalkan Fene, cinta sejatinya.
"Dri! Adrian!" Veni tak mau mengejar lagi. Miller menghampiri Veni, memeluk bahu Istrinya.
"Hmm! Biarkan dia tenang! Jangan dipaksa!" Usap Miller pada bahu Veni.
Hanz dan Edward masih sama-sama shook, menghela nafas dalam menatap Dedrick dan Lois.
Veni kembali masuk kekamar Fene, untuk menenangkannya. Fene menangis terisak dipelukan Irene.
Veni mengusap lembut bahu sahabatnya sekaligus besan terbaiknya, "sabar yah?" senyum Veni menatap Fene.
Keesokan, Fene sudah berada dirumah tanpa Adrian. Kamar Fene yang berantakan sudah kembali bersih dan rapi. Fene bingung, begitu banyak kenangannya bersama Adrian. Cinta masa kecil, sahabat sendiri, bahkan menjadi istri kedua Adrian sebelum Jasmine meninggal saat melahirkan Jasmine Moreno Lim. Fene mencium baju Adrian yang tergeletak disofa, begitu khas wangi pria maskulin tak pernah berhenti merayu dan mencumbunya dengan lembut. Hanya karena kesalahan 2 hari bisa mengalahkan hubungan yang sudah dibina bertahun-tahun. Fene mencari tau dari pengawal dimana keberadaan Adrian, tidak ada jawaban.
Tok tok tok,
"Mi!" Stela mendongakkan kepalanya mencari keberadaan Fene.
"Ya! Masuk saja!" Ucap Fene menikmati cemilan yang ada di meja.
"Heii!" Veni nongol dihadapan Fene.
"Hmm! Bawa apa lo?" Goda Fene.
"Pasta and lasagna kesukaan lo! Lo mau? Miller yang masak!" Goda Veni.
"Ck! Nggak mau gue makan! Ntar ada jampi-jampi lagi!" Kekehnya.
"Nggak di jampi aja anak lo kejang? Apalagi gue jampi!" Kekehnya, mereka tertawa bahagia penuh kerinduan.
Stela dan Dedrick nongol tanpa diundang. "Mi!" ucap mereka bersamaan.
"Ya!" Jawab Fene menatap Veni.
"Hmm! ulang tahun aku Daddy nggak ada?Mami kasih tau Daddy dong!" Mohon Stela.
"Ehem! Stela biar mami dama daddy tenang dulu! Nggak usah pusing, jika Daddy nggak datang berarti dia sibuk. Jika datang Alhamdulilah!" Jelas Veni sedikit menenangkan Stela.
Stela membulatkan bibir mungilnya dan merangkul lengan Dedrick.
"Kami jalan dulu yah mi, mau ke resto bareng Lois dan Chay-in." Izin Dedrick lembut.
Fene dan Veni mengangguk, "hati-hati!" ucap mereka serempak.
Menatap punggung anak menantunya berlalu meninggalkan kamar Fene.***
__ADS_1