
Carlos dibawa Fernando ke Spain, agar bisa menjaga Carlos dari ancaman lebih berbahaya lagi atas perintah Tommy.
Tommy sengaja mengacak keberadaan Fernando dan Carlos. Sementara dia kembali ke Italy meninggalkan Pedro di La untuk melanjutkan kuliah di Universsity of Southern California bersama Dedrick dan Stela.
Pedro menanti kehadiran Stela di kampus, karena tidak melihat kehadiran cintanya.
Hari ini Stela dan Lusi pergi berbarengan setelah beberapa minggu tak pernah bertemu, tentu ada kerinduan dihati Stela pada Lusi.
"Kamu stay dimana sekarang Stel?" Tanya Lusi menikmati duduk dibangku penumpang Marcedez Benz-AMG GT R kado pernikahan sekaligus ulang tahun Stela dari Dedrick.
"Hmm! Dirumah Dedrick di Beverly." Senyum Stela.
"Wooow! Berdua?" Goda Lusi.
"Sekarang ada Momy dan Daddy Miller. Mereka ada meeting disini. Nanti pulang kuliah kita langsung ke resto yah, Dedrick tadi disana." Jelas Stela.
"Iya Nyonya Visser." Kekeh Lusi.
Saat sampai diparkiran Stela di kejutkan dengan wajah pengirim buket saat itu. "Iiigh! Kita disini aja dulu! Cowok itu nakutin! Ngeri, dia ambisi banget sama aku!" Bisik Stela menahan Lusi agar tidak keluar dari mobil mereka.
"Aku denger dia ngasih buket terus sama kamu saat di Hawaaii, membuat Dedrick cemburu!" Kekeh Lusi.
"Ck! Cakep seeh! Cuma karena keluarganya Mami dan Daddy hancur-hancuran di Berlin selama 3 hari." Curhat Stela.
"What? Maksud kamu? Jadi serius gosip Daddy dan Momy cerai Stel?" Tanya Lusi menatap serius.
"Bukan itu sayang! Uncle Carlos itu temen sekolah Daddy dan Momy. Naksir sama Momy! Panjang deh ceritanya. Aku bingung mau cerita dari mana! Ribet urusan rumah tangga." Kekeh Stela menatap Lusi.
"Kamu bahagiakan sama Dedrick?" Tanya Lusi sedikit penasaran.
"Jujur kurang Lusi! Dedrick cemburuan, egois, pengennya di dengerin, cuek." Curhat Stela.
"Eeeh! Denger yah! Kamu jangan curhat sama siapapun masalah rumah tangga kamu, selain sama aku. Kayak Papi dan Mami, kemaren sempat ribut hampir ngomong pisah-pisah gitu, tapi nggak cerita ke aku. Lama Stel mereka ribut. Sepertinya pertikaian pernikahan itu rumit." Cerita Lusi panjang lebar.
"Iya, aku paham! Emang rumit Lusi! Sangat rumit!" Kekeh Stela. "Kita cabut aja yuks, nggak usah kuliah. Sembunyi dari bajingan itu!" Kekeh Stela.
"Good idea! Kita ke mall?" Tanya Lusi.
"Hmm! Ajak Dovi sama Lois!" Ide Stela.
"Oke. Dedrick?" Tanya Lusi lagi.
"Dedrick, iya ntar dia jelules lagi! Iiighs!" Rungut Stela. "Aku call dulu, izin!" Kekeh Stela. Lusi mengangguk setuju.
Stela menghubungi Dedrick meminta izin hangout bersama Lusi, Dovi dan Lois.
__ADS_1
"Kamu langsung ke resto aja wife! Ada Momy, nggak enak kalau kamu pergi jalan-jalan tanpa aku!" Jelas Dedrick padahal emang nggak boleh.
"Ck! Sesekali aku pergi sendiri tanpa kamu masak nggak boleh!" Rengeknya.
"Hmm! Kamu dimana? Kamu lupa, pesen Daddy dan Grandpa? Agar kita nggak keluar kalau nggak penting! Denger sayang!" Suara Dedrick melunak.
"Hmm! Iya deh. Aku ke resto." Cemberutnya menatap Lusi.
Lusi terkekeh, "sabar!" Kekehnya makin kenceng. Membuat Stela kesel.
Stela dan Lusi meninggalkan kampus mereka menuju resto Van Visser. Wajah Stela sengaja cemberut. Langsung menuju private room karena Dedrick dan keluarganya ada disana. Beberapa pengawal menunggu mengamankan majikannya.
Stela dikejutkan dengan Lois dan Dovi ada bersama mereka. Samuel dan Maria juga ada disana. Stela meringkuk dibawah ketiak Veni.
"Kesel!" Bisiknya dengan wajah cemberut, tapi dapat didengar Miller dan Samuel.
Dedrick, Lois dan Dovi sibuk dengan permainan game mereka. Lusi duduk disamping Dovi. Maria berhadapan dengan Veni.
"Kesel sama siapa sayang?" Tanya Veni lembut pada Stela.
Maria yang mendengar tersenyum melihat kelakuan manja menantu Miller.
"Sama Dedrick! Masak nggak boleh hangout! Aku kan pengen jalan-jalan Mi! Sama Lusi temen lain." Rengeknya dengan mata berkaca-kaca. "Sama aja ternyata, nikah sama nggak nikah! Nggak boleh kemana-mana!" Tambahnya dengan wajah makin menekuk.
Tiba-tiba Stela menangis dibahu Veni. Maria makin terkekeh melihat kelakuan Stela sangat manja pada Veni.
"Hei! Kita mau ke Bali sama-sama! jangan ngambek! Puas-puasin deh jalan-jalannya." Goda Maria.
Veni memeluk menantu kesayangannya. Tangan Miller menegur Dedrick yang tak menyadari istrinya menangis.
Miller memberi kode pada Dedrick, "Istri kamu ngambek!" Kekeh Miller.
Semua mata tertuju pada Stela. Dedrick cepat mendekati istrinya, "kenapa sayang? Kok kamu jadi gini?" Stela yang menyadari Dedrick memujuknya, memindahkan pelukannya. Membiarkan Stela menangis didadanya. Stela makin terisak.
"Ck! Manja banget bini lo!" Kekeh Lois.
"Ssst! Stela lagi sensi!" Jawab Lusi.
"Hamil kali!" Jawab Lois asal.
Semua mata saling tatap, Stela melepas pelukannya baru menyadari kalau dia belum datang period bulan ini. Veni dan Miller saling tatap.
"Oogh My God! No!" Bisik Veni pada Miller.
"Cerita sama aku! Kamu kenapa?" Dedrick membawa Stela duduk berdua.
__ADS_1
"Aku kesel sama kamu! Nggak bolehin aku pergi berdua Lusi! Aku pengen jalan-jalan." Isaknya.
Dedrick menaikkan alisnya, "Stel! Kita lagi nggak aman sayang! Nanti kalau kamu ditangkap Pedro gimana?" Goda Dedrick.
"Kan aku bisa sembunyi dibahu Lusi!" Jawabnya asal.
Dedrick menangkup pipi istrinya, "kalau kamu dibikin kayak Mami kemaren gimana? Siapa yang nolongin! Kita akan ke Jakarta dulu sayang! Kita aman disana! Nanti kamu bisa hangout sepuasnya sama Lusi, Lois dan Dovi, sama aku juga!" Kekeh Dedrick, kemudian mengecup bibir Stela, kemudian mengecup kedua mata Stela.
Stela tenang seketika ketika melihat Hanz dan Irene akan masuk keruangan mereka.
Semua keluarga mengetahui perselingkuhan Adrian dan Camille, Samuel mengambil alih kasino Camille karena memang dimasukkan oleh Hanz dipelelangan. Hanz bergerak cepat untuk kebahagiaan keluarganya. Permusuhan semakin terlihat jelas. Persaingan untuk saling menyakiti sangat nyata. Permainan baru dimulai, karena nafsu sesaat.
Stela memeluk erat Hanz dan Irene, saat keduanya masuk keruangan mereka. Lusi dan Stela sangat manja dengan Hanz Parker.
Veni berbisik ke Miller tentang sikap Stela, "Perasaan aku, Fene nggak semanja ini sayang! Anaknya ya ampun! Manjanya bikin ngenes!" Miller terkekeh mengusap lembut kepala Veni.
Miller menyambut Hanz dengan hangat, baru kali ini Hanz mengunjungi restoran miliknya. Stela cerita dipelukan Irene, sangat manja.
"Dedrick! Kamu nginep di Bel Air yah! Sepi, Grandma nggak ada temen!Temennya cuma sama asisten dan pengawal!" Kekeh Irene.
"Hmm! Pasti Stela yang minta yah Grandma!" Tawa Dedrick.
"Iighs, kamu!" Geramnya.
"Nggak usah, kalian di Beverly saja! Pedro tadi ada dikawasan Bel Air. Ferrari mau saya kirim ke Beverly. Karena nggak ada yang pake dirumah." Jelas Hanz pada Dedrick.
"Kirim ke rumah saya aja Grandpa!" Kekeh Lois.
"Why not?" Jawab Hanz.
"Bener Grandpa! Nanti saya jemput sama Dovi!" Kekeh Lois.
"Silahkan! Nanti ambil kunci sama pengawal saya." Senyum Hanz.
"Nggak boleh! Itukan mobil kesayangan aku!" Ejek Stela pada Lois.
"Aku calon ipar kamu lho Stel!" Goda Lois.
"Hadapi dulu Tuan Adrian Lim! Baru kamu bisa nikahin Chay-in!" tambah Stela.
Semua mata saling tatap dan tertawa. "Urusan Adrian urusan saya!" Tambah Samuel.
"Jangan dulu! Pendekatan aja! Nikah muda nanti cemberut mulu!" Goda Maria menatap Stela.
Semua keluarga yang berada di privat room tertawa bahagia, saling menggoda. Rencana keberangkatan ke Jakarta mengunjungi Fene dan Adrian sudah rampung. Go....!***
__ADS_1