See Eye Stela

See Eye Stela
Ternyata


__ADS_3

Fene menghabiskan hari-hari dengan kesibukannya. Sengaja tak menghubungi Adrian. Fene menyandarkan tubuhnya dikursi kebesarannya di FeneSwiss Group. Memijat pelan pelipis, memandang kearah gedung pencakar langit dari balik tirai ruangannya.


"Hmm! Kenapa mereka tidak menghubungi ku?" Fene mencari nomor Adrian, tapi mengurungkan niatnya untuk menghubungi pertama kali.


Drrrt, drrrt! "My Girl!" Batin Fene melihat nama putri tersayangnya dilayar handphone.


"Ya Stel! Assalamu'alaikum!"-Fene.


"Mami! Wa'alaikumsalam, I miss you mi!"-Stela.


"Bagaimana kabar kamu? Sudah selesai acaranya? Sukses?" Tanya Fene.


"Sangat sukses Mi! Alhamdulilah, sekarang aku lagi di kampus sama suami ku!" Kekeh Stela.


"Syukurlah! Jika kamu bahagia!" Senyum Fene mengelus lembut dada mendengar kebahagiaan putrinya.


"Chay-in mana Mi? Handphonenya nggak aktif, Lois nanyain ke aku mulu!" Tawa Stela manja seperti biasa.


"Dia dijemput Uncle Richard! Nunggu Daddy kelamaan, keburu ketinggalan pelajaran." Jelas Fene.


"Hmm! Daddy udah pulang ke Jakarta stelah dari New york Mi!" Jelas Stela jujur.


Deg, "Kamu serius?" Tanya Fene menyatukan kedua alisnya berfikir.


"Seriuslah, mereka menghadiri acara kami, di New york! Ada Aunty Camille, Uncle Kevin, sama temen Uncle dari Australi, model juga, Aunty Lovely. Aunty Nichole lanjut ke Paris, aku dijemput Dedrick ke New york diminta Daddy." Jelas Stela panjang lebar.


"Oke! Mami call Daddy dulu yah sayang! Bye! I love you Stela! Salam buat Dedrick." Fene menutup kesal telfon. 'Beraninya dia membohongi ku! Tidak menghubungiku sama sekali.' Geram Fene membatin.


Fene mencari nomor telfon Alberth, menghubungi segera melacak keberadaan Adrian.


"Baik Nyonya! Ada lagi Nyonya?" Tanya Alberth sebelum menutup telfonnya.


"Tidak! Segera temuin dia dimana keberadaannya. Aku akan menyusul dia kesana." Tegas Fene.


"Baik Nyonya! Apakah Edward kita beritahu Nyonya?" Tanya Alberth.


"Tidak usah, saya akan menyelesaikan sendiri." Fene menutup telfonnya.


'Hmm! Adrian! Kamu ingin bermain dengan ku! Bangsat!' Fene menggeram.

__ADS_1


Fene mengalihkan emosinya, menghubungi Veni besan terbaiknya. Tertawa bersama, merencanakan sebuah liburan yang tertunda. Tanpa menceritakan permasalahan pelik yang melanda perasaannya kali ini, 'Aku akan menjaga aib keluargaku! Aku kuat menghadapi kegilaan Adrian! Dia pikir dia saja yang gila! Aku akan membuat dia lebih gila!' Senyum Fene bak Devil menyeringai diwajah cantiknya.


"Alhamdulilah ya Allah! Engkau masih melindungi aku untuk menyelamatkan keluarga ku!" Batin Fene dengan mata berkaca-kaca. Hati istri mana yang tidak akan sakit, mendengar kegilaan suaminya. Bersenang-senang dengan wanita lain, tanpa memikirkan perasaan anak-anak.


Drrt, drrt! "Alberth!" Fene mengusap layar hijau ponselnya.


"Ya!"-Fene.


"Tuan Adrian dan Kevin berada di Hawaaii bersama Camille dan Lovely! Saya akan mengirim foto-foto mereka pada Nyonya!" Jelas Alberth.


"Kirimkan alamat hotel mereka, kamarnya, dari kapan dan sampai kapan mereka disana."


"Mereka menginap di Holiday Iin Hawaii, mereka akan chek out dua hari lagi kamar 5076 dan 5075 Nyonya." Jelas Alberth.


"Baik! Saya akan berangkat kesana sendiri! Kamu tunggu saya di bandara. Kita bereskan! Jauhkan media." Tegas Fene.


"Baik Nyonya."-Alberth.


"Wait! Kenapa Nichole tidak ikut mereka? Malah stay di Paris." Tanya Fene penasaran.


"Saya akan mengirim semua bukti ke Nyonya sekarang." Jawab Alberth mengakhiri telfonnya.


"Terimakasih!" Fene mengelus dadanya menggeram.


Fene melihat semua foto mesum mereka dan dikejutkan dengan gugatan cerai Nichole. "Anjiiiing! Binatang kalian semua." Fene benar-benar murka. Melempar semua berkas dihadapan. Laptop digenggaman ikut hancur berserakan.


Fene meminta karyawannya mengurus keberangkatannya menyiapkan jet pribadi, agar segera tiba di Hawaaii. Fene melakukan perjalanan dalam keadaan kecewa. Bukan untuk meminta Adrian kembali. Melainkan melihat semua bukti didepan mata, setelah itu dia akan melanjutkan hidupnya tanpa sahabat sejati yang menemani hari-hari selama ini.


"Inikah pengkhianatan dari Adrian? Benar kata orang, darah itu tidak akan berubah. Di darah Adrian ada darah Mark Claire Zurk dan Adriana. Pengkhianat hingga mati. Kini Adrian mengalami sendiri." Batin Fene menikmati penerbangannya ditemani Luisa secretarisnya.


Fene memejamkan mata, sesekali airmata mengalir dari sudut mata, tangan Fene mengusap lembut agar Luisa tidak mengetahui kegundahan hati Fene.


"Bu! Kita ke Hawaaii ngapain?" Kekeh Luisa.


"Kerja dong! Kamu pikir ngapain?" Senyum Fene melirik Luisa.


"Udah seminggu lebih Pak Adrian di luar, email saya nggak di jawab bu!" Luisa melihatkan layar Ipadnya.


"Hmm! Biarinlah! Kamu kirim kesaya! Kita akan mengadakan rapat besar, mengalihkan semua perusahaan ke awal!" Jelas Fene membuat Luisa tidak mengerti.

__ADS_1


Fene sangat menikmati perjalanannya, tanpa memikirkan perasaan siapapun, dia hanya memikirkan perasaan sendiri dan keempat anaknya.


Kali ini aku akan menjadi wanita tegas dikepalamu Adrian, batin Fene tersenyum kemenangan.


Alberth menyambut kedatangan Fene dibandara. Memeluk wanita berhijab itu dengan hangat.


"Aku merindukanmu pria kawat besi!" Tepuk Fene pada perut sispack ajudan Edward, lebih tepatnya asisten Edward Lincoln.


"Sama Nyonya!" Alberth memberikan semua berkas tentang Camille pada Fene saat perjalanan mereka menuju hotel.


"Apa ini?" Tanya Fene mengangkat alisnya.


"Keluarga mereka yang dihabisi Edward kala itu Nyonya! Dia tidak mengetahui Edward pelaku penembakan pada kedua orang tuanya." Jelas Alberth berbisik.


"Oogh Good!" Fene semakin bahagia mendengar kehancuran Adrian, "Terus?" Tanya Fene masih cool.


"Camille memiliki hubungan special dengan Almarhum Bram masa dulu Nyonya." Tunduk Alberth agak segan.


"Oogh! Kenapa dunia ini begitu sempit? Jadi dia yang sering mengirim pesan pada Bram kala itu?" Kenang Fene.


Alberth tersenyum menatap wajah Fene yang tengah dilanda cemburu. "Apa kau sedang cemburu Nyonya!" Goda Alberth.


Fene tersenyum, "setidaknya aku puas dengan kebodohan Adrian!" Tawa Fene mengeluarkan air mata.


Luisa memberi tisyu pada Fene, baru mengerti kegelisahan pionir FeneSwiss Group.


Fene mengusap wajahnya. "Aku akan beristirahat, dikamar sebelah mereka." Tegasnya.


Alberth mengerti perasaan Fene saat ini, mengusap lembut lengan Fene disampingnya, "Sabar Nyonya! Kau wanita tangguh!" Ucap Alberth menatap lurus ke depan.


Fene disambut hangat dengan fasilitas mewah disana. Semua tertunduk segan karena kehadiran Fene. Dijaga ketat oleh beberapa pengawal.


Adrian dan Kevin terkejut melihat kehadiran Alberth disana, tanpa menyadari dia sedang mengawal Fene istrinya.


Fene dan Luisa lebih dulu memasuki kamar miliknya. Beristirahat sebentar menunggu informasi keberadaan Adrian. Adrian kala itu sedang berada direstoran bersama Camille dan Kevin. Mereka menunggu Lovely tengah bersial di kamarnya.


Lovely menatap sungkan pada Fene saat mereka berpapasan. Fene mengetahui, itu adalah Lovely, tapi dia bukan target Fene. Mereka berada disatu lift. Lovely sengaja membiarkan Fene untuk keluar lebih dulu dari lift.


"Silahkan Nyonya!" Jelas Lovely.

__ADS_1


Fene tak melihat, apalagi tersenyum. Kali ini dia menjadi singa betina yang garang dan angkuh. Tidak ada kata maaf untuk siapapun, "bersiaplah kau Adrian!" Batin Fene menggeram.


Fene masuk keresto mencari titik yang dia cari. Adrian tengah merangkul mesra Camille. "Bangsat! Pengkhianat!" Fene menarik nafas dalam dengan geram.***


__ADS_2