See Eye Stela

See Eye Stela
Kepanikan.


__ADS_3

Setelah melakukan penembakan pada Hanz Parker, pria itu kembali ke kediamannya di kawasan tak jauh dari Bell Air. Dengan tangan menggigil dia menyimpan senjata di dalam lemari rahasia milik Papinya.


Dia mencuci tangan, mengusap wajah dengan sangat kasar. Ada perasaan takut dan penyesalan atas apa yang telah dia lakukan. Cukup lama dia duduk termenung di kamar mandi, menggeram dan merenung.


"Anjing! Kenapa aku menembak Pak Tua itu hanya karena seorang gadis? Aaaagh! Habis aku! Pasti Papi akan membunuhku!" Batinnya, masih melihat wajah yang lebam di cermin kamar mandi.


"Bangsat! Stela! Aku mencintaimu! Aaaaagh! Aku akan mendapatkan mu Stela! Kenapa Dedrick Visser lebih dulu mendapatkanmu! Aaaaagh!" Dia meninju cermin dengan perasaan takut dan frustasi.


"Tuan! Apa kau baik-baik saja?" Teriak asisten rumah tangga yang menemaninya dari balik pintu.


Dia menarik nafas dalam. "Siapkan tiket ku! Aku akan pergi!" Teriaknya.


"Kau akan kemana Tuan? Papi mu akan kesini!" Jelas Asisten masih dari balik pintu.


CEKREK, dia membuka pintu kamar mandi menatap tajam asistennya.


"Apa kau bilang? Papi akan kesini?" Tanyanya kesal.


"Iya Tuan! Ooogh Tuan, apa kau terluka?" Tanya asisten melihat lebam di wajahnya.


"Iiighs! Jangan sentuh aku! Jawab aku! Ngapain Papi kesini?" tanyanya penuh amarah.


"Hanz Parker meninggal Tuan! Apa kau tidak tau? Apa kekasihmu tidak memberi tahu?" Tanya asistennya.


"Aaagh! Diam kau! Tinggalkan aku! Aku akan mengobati lukaku sendiri." Teriaknya mengusir asistennya.


Dia sangat frustasi, membanting pintu menghancurkan barang dinakas. "Aaaaaagh!" Kesalnya, menangis penuh penyesalan. Duduk dibawah ranjang miliknya. Sangat menyesali perbuatannya.


"Anjiiiing! Pasti mereka akan membunuhku." Isaknya.


Dia mencari passpor dilaci nakas, "Aku akan ke Netherland," bisiknya, mencari uang di brankas milik Papinya.


"Hmm! Aku rasa ini cukup untuk sementara waktu disana." Batinnya.


Dia mempersiapkan diri, menggunakan sweater hoddi miliknya, topi, celana jeans biasa, mengambil beberapa barang berharga. "Setidaknya mereka tidak bisa menemukan ku!" Batinnya.


Dia mengendap meninggalkan rumah, menggunakan kendaraan umum menuju bandara. Menggunakan pesawat komersil segera meninggalkan Los Angeles menuju Netherland. "Huufgh, setidaknya disana ada Marelin yang bisa membantuku!" Batinnya.


Dia memesan tiket pesawat secara online melakukan pembayaran di ATM, melakukan boarding. Tentu dengan pemeriksaan ketat. Karena beberapa kali dia mendengar TV bandara memberitakan tentang kematian Hanz Parker. Dia tertunduk saat seorang petugas bandara mencurigainya.


"Mau kemana Tuan?" Tanya petugas memperhatikannya.


Dia menelan salivanya, "Netherland!" Jawabnya dingin kembali menunduk.


"Oogh! Jangan lupa celanya mu dipasang resletingnya Tuan. Nanti Pramugari diatas meminta pada mu!" Goda petugas.

__ADS_1


Dia baru sadar, langsung memasang resleting celanya. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Menerima Passpor yang diberi petugas.


"Silahkan Tuan!" Saat petugas membukakan plang penghalang jalan. "Next!" Teriak petugas pada yang lain.


"Terimakasih!" Ucapnya berlalu. "Huuufgh! Setidaknya aku berhasil kabur, sebelum mereka menemukanku. Aku akan menjadi pria yang baik disana. Menuruti semua keinginan Marelin, melayaninya pun aku mau! Kekehnya dalam hati, menuju pesawat.


Dia menikmati penerbangan menuju Netherland dengan selamat, tanpa halangan apapun. "Syukurlah! Huuufgh!"


Berjalan dengan cepat menuju Amsterdam. "Ternyata menyenangkan melakukan perjalanan seperti ini." Batinnya.


Dia mengganti nomor handphone miliknya, menjadi nomor Netherland. "Agar Papi tidak bisa menemuiku!" Batinnya.


Tiba didepan apartemen Marelin. Dia memencet bel, menunggu lama di luar.


"Who!" Terdengar suara Marelin.


"Pedro! Pedro Febian Arlan, Marelin." Jawabnya dengan suara berbisik. Pintu terbuka otomatis. Dia masuk, dengan rona wajah bahagia.


Saat pintu dibuka oleh Marelin, dia terkejut karena langsung memeluk.


"Pedro! Jangan memeluk ku! Aku bukan Mami mu!" Tegas Marelin melepas pelukannya.


"Setidaknya aku aman setelah bertemu denganmu!" Ucap Pedro tak mau melepas pelukannya.


"Kau lepas! Atau aku panggil security!" Ancam Marelin.


"Bukannya kau di Italy?" Tanya Marelin menatap Pedro karena penampilannya sangat berbeda.


"Hmm! Panjang ceritanya. Biarkan aku istirahat! Aku belum tidur dari semalam!" Jujurnya.


"Hmm!" Marelin mengambilkan bantal dan selimut, memberikan pada Pedro.


Marelin masuk menuju kamarnya, mencari tau lewat media, ada berita apa di Italy. Kenapa tiba-tiba dia ada disini. Pasti ada masalah serius, batin Marelin.


Marelin belum menerima kabar tentang kematian Hanz Parker, karena hubungannya dengan Brian memang telah berakhir. Brian lebih memilih keluarga, dibanding dirinya. Gadis yang malang, di usia 23 tahun dia harus menjadi janda 2 kali, tapi Edward Lincoln menjamin hidupnya hingga dia menemukan pria baik dan menikah. Marelin menerima keputusan Brian, walau hati terasa sakit, setidaknya keluarga Brian masih mau membantu keuangannya.


Marelin bekerja sebagai model biasa, belum terkenal seperti Brian. Hubungan mereka sengaja ditutup karena penolakan keluarga Brian, dengan berbagai alasan. Awal pernah Brian membawa ke media, tapi dibungkam kembali oleh Adrian dan Edward. Walau banyak pro dan kontra, Marelin tak mau Brian menjadi anak durhaka, karena dia laki-laki penerus Lincoln dan Lim.


Tok tok tok.


"Marelin!" Terdengar suara Pedro memanggilnya.


"Hmm!" Jawab Marelin malas.


"Aku lapar!" Bisiknya.

__ADS_1


"Ck! Kenapa kau menyusahkanku!" Marelin membuka hendel pintu, melihat wajah Pedro yang tampan sangat kasihan.


"Lapar Mom!" Kekehnya.


"Ck! Kenapa kau tidak makan diluar?" PLAAK, Marelin memukul kepala Pedro yang berusaha menyandarkan dibahunya.


"Auuugh! Sakit!" Rengek Pedro.


"Meresahkan! Oke, jawab aku jujur! Kenapa kau bisa sampai disini? Jujur!" Marelin membawa Pedro yang tengah kelaparan duduk disofa menatap matanya.


"Aku akan cerita jujur! Kau masakan aku dulu! Aku lapar sekali." Mohonnya.


"Jujur yah! Jika kau bohong aku akan menendangmu keluar!" Ancam Marelin.


"Iya! Promise!" Pedro mengacungkan dua jarinya, menyeringai memperlihatkan gigi rapinya bak kuda poni.


Marelin memasakkan sesuatu karena dirinya juga merasakan hal yang sama. Tak memakan waktu lama hanya 20 menit, spageti bercampur kettafel selesai dia buat. Pedro tersenyum sumringah menatap hidangan dihadapannya.


"Hmmm! Yumi! Thankyou Mom!" Kekehnya.


"Duduklah!" Marelin kasihan melihat Pedro, karena sesungguhnya dia anak yang baik. "Ceritakan pada ku! Jangan kau bohongi aku!" Tegas Marelin.


"Iya!" Tunduk Pedro dengan wajah patuh.


"Makanlah!" Marelin menyuapkan makanannya. Sesekali menatap Pedro. 'Kenapa dia sekusut ini? Apa yang dia lakukan? Pasti ada sesuatu yang dia lakukan, hingga dia kabur kesini. Keluarganya kan di Spanyol!' Batin Marelin banyak tanda tanya.


Setau Marelin Pedro anak yang baik, penurut. Carlos sangat menyayanginya. Saat Marelin masih berhubungan dengan Carlos, Pedrolah yang melepas ikatan tangannya diranjang. Menutup tubuhnya, mengobati luka lebam di wajahnya. Pedro sangat baik padanya. Dia juga yang membantu Marelin kabur dari Mansion Carlos dibantu Brian Lincoln. Sejujurnya Pedro juga tidak tau Brian itu adalah abang tiri Stela. Baru tau saat pernikahan Stela terbuka di muka publik. Makanya dia mengejar Stela hingga ke Hawaaii, ditemani Fernando.


"Aku suka masakanmu, enak!" Senyum Pedro setelah menyantap habis makanannya.


"Hmm!" Marelin membereskan piring makan mereka, kembali mengajak Pedro duduk di sofa. "Ceritalah!" Ucap Marelin.


Pedro termenung, membayangkan kejadian dini hari tadi. "Aku telah melakukan kesalahan!" Tunduknya.


"Hmm! Ceritakan apa kesalahanmu!" Tegas Marelin.


"Kau janji akan diam? Aku mohon! Ini masalah hidupku!" Tunduknya.


"Ceritalah! Agar aku bisa memilah!" Ucap Marelin.


"Bantu aku untuk kabur, aku telah membunuh orang!" Ceritanya.


"What! Ooogh My God! You crazy boy! Tinggalkan rumah ku! Aku tidak ingin terlibat dalam masalahmu! Pergi kau!" Marelin murka, nafasnya terasa sesak, ada rasa ketakutan. Jika Pedro akan nekat melakukan hal yang sama, jika dia kasar. Marelin menelan salivanya, terdiam menatap Pedro.


"Who did you kill?" Tanya Marelin menatap Pedro.

__ADS_1


Pedro menatap Marelin memohon perlindungan, "Hanz Parker!" Air mata Pedro mengalir tak henti.


Marelin termenung kaku, tak bisa berucap. Dia akan menjadi incaran keluarga Parker dan Lincoln selanjutnya jika menampung Pedro dikediamannya. "Ooogh My God!"


__ADS_2