
Malam yang indah di Vegas, Kasino telah mengisi suasana para Mafia kelas dunia untuk berjudi disana, melepas lelah dan mencari kesenangan semata.
Adrian terjaga dari tidurnya, menatap cahaya gemerlap melalui jendela kamar, horden sengaja dia buka. Begitu banyak pikirannya. 'Kenapa tega Uncle Tommy melakukan ini pada ku? Apa salah ku padanya! Semua keuntungan telah aku bagi rata.' Batin Adrian.
Adrian bergegas membersihkan dirinya, membuat kopi, melanjutkan pekerjaannya dikamar.
Tiing tong, suara bel berbunyi.
Adrian bergegas membuka pintu kamar, ternyata. "Camille!" Adrian celingak celinguk kekiri dan kekanan, menatap koridor sangat sepi. "You alone?" Tanya Adrian meyakinkan.
"Ya! Kebetulan aku baru dari bawah, menemui Ko Alui!" Jelas Camille masih berdiri didepan pintu.
"Oke! Masuklah!" Adrian meletakkan handuk kecil dinakas, mengambil baju kaos untuk menutup tubuh tegapnya.
Camille menatap tubuh atletis milik Adrian, masih gagah sangat menggairahkan, batin Camille sedikit nakal. "Fene nggak ikut Dri?" Tanya Camille.
"Dia udah di Jakarta! Duduklah! Kamu mau minum apa? Cantik sekali kamu malam ini!" Goda Adrian hanya basa basi.
"Ck! Kamu bisa aja merayu ku!" Kekeh Camille.
Camille meletakkan paperbag dimeja, mengeluarkan isinya. Beberapa makanan western untuk Adrian. "Makanlah Dri! Western! Kamu suka?" Senyum Camille pada Adrian.
"Hmm! Aku suka semua, western, pasta, lasagna, all." Jelas Adrian.
Camille menatap Adrian, "gimana? kalau kamu mau aku sudah meminta Ko Alui untuk menangani kasino kamu disini!" Jelas Camille.
"Bentar dulu, aku lagi menunggu kabar dari Liu. Tommy sengaja mematahkan kaki ku!" Rungut Adrian.
"Terkadang orang yang kita percaya lebih memilih berkhianat Dri! Hati-hatilah! Pilih orang terbaikmu! Jangan mau terjebak oleh janji mereka. Aku dengar Uncle mu sudah bergabung dengan Fernando." Jelas Camille sangat kesal.
"Ya! Dia ingin membuat aku emosi. Aku sudah menghubungi Papi Hanz dan Kevin. Mereka minta Mr.Liu untuk membantu ku disini." Jelas Adrian.
"Hmm!" Camille mengalihkan pandangannya keluar kaca. "Adrian! Maafkan aku jika aku jujur!" Camille masih memandang kerlap kerlip cahaya Vegas.
"Kenapa? Kamu kecewa kalau aku berurusan sama Liu? Bukan sama kamu?" Jawab Adrian santai masih menyantap makanan dihadapannya.
__ADS_1
"Bukan itu Dri! Tapi, hmm!" Camille tersenyum menatap Adrian masih melahap makanan yang dia bawa.
"Tapi apa? Terusin aja! Aku denger kok!" Senyum Adrian.
"Kalau aku jujur kamu marah?" Tanya Camille jujur.
"Ya nggak lah! Kenapa mesti marah! Kamu kenapa? Kok aneh!" Kekeh Adrian.
"I want you Adrian!" Camille terdiam.
Adrian tertegun, tak melanjutkan makanannya. "Hmm!" Adrian memijat pelipisnya pelan.
"Please jangan marah sama aku! Please!" Tunduk Camille menatap Adrian.
Adrian tersenyum, "duduklah." Adrian menghela nafasnya dalam.
"Hmm! Sory karena membuatmu tidak nyaman. Tapi aku benar-benar menginginkan mu, Adrian!" Tunduk Camille masih berdiri menatap Adrian.
"Heii! Aku tidak pernah mempermasalahkan perasaan mu pada ku! Kamu punya hak menyukai ku! Kamu gadis dewasa yang pintar! Kita tidak pernah membahas tentang perasaan! Aku membantumu untuk menaikkan ratting butikmu! Aku senang kamu jujur pada ku!" Senyum Adrian menggenggam bahu Camille sehingga mereka saling tatap.
"Terimakasih Dri!" Senyum Camille memeluk tubuh Adrian dihadapannya.
"Aku tak pernah seperti ini pada pria Dri! Aku mengagumi mu sebagai pria mapan yang baik! Kamu sangat mencintai Fene istrimu! Aku suka kamu memperlakukan aku sangat sopan." Jelas Camille.
"Ya! Kau tau aku mencintai Fene dan anak-anak ku!" Kecup Adrian pada kepala Camille.
Camille melepaskan pelukannya, "will you kiss me! Just once. I want to convince my feelings Adrian!" Mohon Camille menatap lekat mata Adrian.
Jujur pria mana yang tidak tertarik dengan Camille memohon seperti ini. Adrian pria normal. "You are sure?" Adrian menaikkan satu alisnya.
"Ya!" Camille membelai punggung tangan Adrian yang sudah menangkup kedua pipinya.
Adrian yang tengah dilanda tekanan dalam pekerjaannya, perlahan mengarahkan bibirnya ke bibir Camille. Sangat nikmat dan lembut. Adrian memberikan ciuman yang luar biasa manis bagi Camille. Adrian mencium lebih dalam bibir gadis dihadapannya. "Oogh God! Sangat lembut!" Batin Adrian terjebak pada bibir Camille.
Camille menikmati tanpa menahan. Membiarkan Adrian menyentuh bagian itu. "Hhhufgh!" Camille benar-benar menikmati sentuhan Adrian. Adrian mengeksplor tubuh Camille. Sketika ciuman itu berubah. Adrian tak bisa membendung keinginannya pada Camille. Mereka terhanyut, Camille sangat menikmati perlakuan Adrian. Adrian menggendong Camille keranjang bigsize kamar.
__ADS_1
Adrian menyatukan rasa penasarannya dimilik Camille, beberapa kali Camille menikmati permainan Adrian, sehingga mereka mencapai pelepasan secara bersamaan. Nafas Camille terengah mengusap lembut punggung Adrian yang berada disampingnya. "Maafkan aku, Cam!" Bisik Adrian.
Camille menatap mata Adrian. "You great Adrian! I love you!" Ucap Camille mengecup lembut kening Adrian.
Adrian mengecup bibir Camille. Memejamkan matanya, berharap yang terjadi malam ini adalah mimpi. Mereka terlelap dengan tubuh masih terbuka.
Pagi yang cerah di Vegas, Adrian membuka matanya. Menatap Camille masih terlelap disebelah Adrian, "Oogh my God!" Batin Adrian, bergegas masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya. Ada penyesalan dalam hatinya. "Maafin aku Fen! Aku khilaf!" Tangisnya di bawah shower.
Adrian menarik nafas dalam, membuka hendel kamar mandi mendapati Camille telah rapi.
"Kamu, hmm! Nggak mandi dulu?" Tanya Adrian menatap Camille yang tengah menatapnya.
"Hmm! Aku pulang aja! Kebetulan aku ada janji dengan teman ku! Kamu berangkat jam berapa ke Jakarta?" Tanya Camille.
"Hmm, nanti aku kabari kamu! Aku menunggu Liu di resto!" Jelas Adrian, masih mengeringkan rambut yang basah.
"Thanks Dri, for everything, for last night, you great man!" Kecup Camille pada pipi Adrian.
"I'm sorry, I can't return your love. I love the way you love me!" Ucap Adrian menatap mata Camille. "Aku terjerat Cam!" Tambah Adrian mengecup kening Camille.
"I understand, you can't love me because of Fene, I will do anything for you. Greetings Fene! I'm sorry I loved her husband." Senyum Camille kemudian berlalu meninggalkan Adrian.
Adrian melihat Camille berlalu, wanita yang sangat baik. "Ooogh! Shiiit! Aku akan dibunuh Fene dan Hanz! Ya Allah! Ampuni aku! Aku tak bisa menahan nafsuku! Dia sangat sempurna. Anjiiing!" Geram Adrian frustasi.
Drrt, drrt! "Fene call!" bisik Adrian.
"Ya Fen!" Jawab Adrian tegas sedikit takut.
"You oke? Tumben jutek jawab telfon aku!" Kekeh Fene.
"Ya! Kesal! Tommy mengerjai kasino ku! Dua terancam tutup. Pagi ini aku akan menemui Liu, meminta dia membantuku disini sayang!" Jelas Adrian mulai mengatur nada bicaranya.
"Oogh! Oke! Berarti kamu pulangnya besok yah Dri?" Tanya Fene lagi.
"Aku usahakan cepet Fen! Aku merindukan mu! Sangat merindukanmu!" Rundung Adrian.
__ADS_1
"Ya! Aku juga merindukan mu! Dari tadi malam perasaan ku nggak enak! Kepikiran kamu terus! Syukurlah kalau kamu baik-baik saja Dri! I love you!" Ucap Fene menutup telfonnya.
Adrian membanting handphone miliknya. "Aaagh! Kuat banget feeling istri kepada suami." Geram Adrian. "Aku khilaf Fen! Aku akan jujur sama kamu! Aku mencintai kamu! Maaf kan aku telah mengkhianatimu!" Kesalnya.