
Veni mengantar Fene ke Bel Air, sesekali Veni menggoda Fene agar menyusul Adrian sesuai pembicaraan direstoran tadi.
"Oke! See you besan!" Teriak Veni berlalu meninggalkan Fene.
Fene mengambil kunci mobil miliknya, berlari kecil meninggalkan kediaman Hanz Parker.
"Fen! Kamu mau kemana? Bukankah kamu masih sakit?" Tanya Hanz menatap Irene tengah menikmati segelas teh.
"I'm oke! Aku ingin menjemput Adrian! Aku tak ingin dia meniduri Camille!" Jawabnya berlalu, meninggalkan Hanz dan Irene masih bengong mendengar Fene menyebut nama Camille.
"Fen! Becareful!" Teriak Hanz.
Fene tak menghiraukan teriakan Hanz, dia ingin memperjuangkan hubungan dengan suaminya Adrian Moreno Lim. Jujur masih ada perasaan trauma, tapi dia ingin Adrian kembali kepelukannya.
Setiba diapartemen miliknya, Fene berlari memasuki lift. Menekan pasword tanggal lahir Adrian.
Tiiing... Pintu lift terbuka tepat diruang tamu.
Fene dikejutkan dengan Camille, Kevin dan Adrian dihadapannya.
"Bheeng! Dia datang Vin!" Bisik Adrian ditelinga Kevin dengan sunyuman kemenangan.
Kevin tersenyum, menyambut kehadiran Fene. "Hai! Gue pikir lo langsung balik tadi!" Goda Kevin.
"Hmm! Gue ambil mobil!" Kesalnya menatap Adrian.
"Oogh! Camille kita lanjut dibawah aja yuuk!" Ajak Kevin, tersenyum picik kearah Adrian.
"Oke! Gue lanjut sama Kevin yah Dri! Ntar susul aja." pinta Camille memeluk Adrian.
Fene menahan nafasnya, menggeram menyaksikan Adrian memperlakukan Camille sangat mesra.
"Fen, Aku pamit yah!" Camille mencium pipi Fene.
Kevin dan Camille berlalu memasuki lift menuju restoran.
Fene menggeram, mengambil sebotol air dikulkas dengan sangat kesal. Menenggak air mineral, tanpa disadarinya Adrian melirik gerak gerik istrinya.
"Kamu kenapa bawa dia ke apartemen kita Adrian? Inikan rumah kita! Gue nggak suka!" Kesalnya melempar botol masuk trash can berada dicabin kichenset mereka yang tertata minimalis modern.
"Hmm! Buat nemenin aku dong! Habis disini sepi, bagus aku undang Camille gadis **** itu." Jawab Adrian santai mendudukkan bokongnya kesofa.
__ADS_1
"Ck! Kesal! Aku balik!" Fene mengambil tasnya.
"Ok! Hati-hati!" Jawab Adrian tanpa menoleh.
Fene membalik kesal, "Adrian! Lo ngeselin banget seeeh!" Geramnya.
Adrian tersenyum menatap cintanya dari sofa, "sini, duduk! Lo pergi, gue call Camille!" Ancaman Adrian masih terdengar jelas ditelinga Fene.
"Egois! Aaagh!" Kesalnya, mendekati Adrian.
Adrian tersenyum, memainkan remote TV-nya secara acak, sengaja membuka tayangan dewasa.
Fene mendengus kesal, menyaksikan TV dihadapannya yang mulai menggelisahkan. "Kamu kenapa ngeselin gini seeh, Adrian!" Geramnya.
"Fuber!" Jawab Adrian membuat Fene membelalakkan mata.
"Emang fuber keberapa? Kurang puas masa muda lo?" Kesel Fene makin menjadi.
Adrian menarik nafas dalam, "kenapa kamu jauh-jauh! Sini duduk deket aku! Aku rindu!" Goda Adrian.
"Udah aaagh! Aku lagi nggak mood!" Jawab Fene berlalu memasuki kamar mereka.
Adrian mengejar Fene kekamar, "Adrian!" Teriak Fene saat Adrian menggendongnya keatas ranjang.
Nafas Fene terasa sesak menatap mata Adrian, begitu memikat hatinya kali ini, menelan salivanya saat Adrian menyatukan bibir mereka. Fene membalas menikmati ciuman Adrian yang benar-benar dia rindukan. Nafas mereka tak beraturan saat Adrian dengan lembut mencium lehernya dan melucuti baju Fene dari tubuh **** itu.
"Dri!" Fene menatap mata Adrian.
"Hmm!" Adrian masih sibuk dengan aktifitasnya, walau Fene sudah memberikan dua anak perempuan, Fene masih saja menggairahkan.
"Dri!" Fene merasakan Adrian sudah akan menyatukan cinta mereka.
"Hmm! I love you, Fene!" bisiknya ketelinga Fene, membuat Fene terbuai.
Saat akan memasuki kenikmatan milik Fene. Fene menjerit berusaha menjauhkan tubuhnya dari Adrian.
"Aaagh! Lepasin aku, Dri!" Teriaknya menangis terisak. "Lepasin!" Fene berontak.
Adrian tak melanjutkan permainan mereka, "kenapa sayang! Ada apa?" Kejut Adrian membiarkan pusakanya barada di paha Fene, mengusap lembut kepala Fene.
"Adrian," Fene memeluk Adrian dengan sangat erat.
__ADS_1
"Tenang sayang, aku akan melakukannya sangat pelan!" Kecup Adria pada kening Fene.
Fene menikmati cumbuan Adrian, dia masih merasa takut akan kejadian beberapa hari lalu.
"Dri!" Fene merasakan ada perubahan pada Adrian.
Adrian sangat hati-hati, mengingat pesan Dokter waktu itu. Adrian mencoba kembali menyatukan cinta mereka, Fene sudah rilex dengan memejamkan matanya, "look at me, Fen!" Bisik Adrian lembut menatap mata istrinya.
Fene membuka mata, menatap penuh perasaan suaminya, mendesah menikmati penyatuan cinta mereka, hingga mencapai pelepasan mereka secara bersamaan. "Jangan tinggalin aku, Dri!" tangisnya pecah memeluk tubuh Adrian.
"Hmm!" Adrian mengecup lembut kening dan bibir Fene kembali. "Thankyou for loving me!" Kecupnya, melakukan lagi dan lagi, hingga Fene terlelap.
Adrian menghubungi Kevin agar mengantarkan Camille pulang ke hotel.
Kedatangan Camille adalah sebuah kebetulan, untuk perkerjaan mereka, bukan menggoda apalagi berselingkuh. Camille adalah wanita pekerja keras, hingga dia lupa dengan percintaan, begitu juga pernikahan. Beberapa kali kegagalan menghampirinya, membuat dirinya fokus pada karier sebagai pebisnis. Adrian sangat mendukung Camille, mereka sangat jarang membicarakan masalah pribadi.
Fene mengerang saat terjaga, "Dri, kok sakit banget yah?" Rengeknya didada Adrian.
Adrian mendekap tubuh Fene, agar tetap nyaman. "Apa kita cek lagi kerumah sakit?" Tanya Adrian sedikit panik.
"Nggak usah deh, hari ini kita pulang yah! Malam adalah acara Stela dan Dedrick." Fene masih meringis kesakitan.
"Aku call Dokter yah! Buat cek kamu!" Panik Adrian.
Fene memeluk Adrian menahan rasa sakitnya. Adrian panik seketika menelfon dokter yang menangani Fene saat dirumah sakit, meminta datang ke apartemen mereka. Akibat rasa cinta berlebihan, menyakiti fisik pasangan sendiri.
Tak lama menunggu, Dokter datang kekediaman Adrian. Dokter memberi obat, agar Fene lebih tenang dan rilex. Fene mengalami trauma sangat serius. Jika dia melakukan hubungan suami istri Fene merasa ketakutan luar biasa. Adrian diminta agar tidak menyentuh Fene. Jika memang menginginkan, lebih baik oral. Adrian tertegun, "seganas itukah aku memperlakukan Fene kemaren, hingga istriku mengalami trauma yang dahsyat?" Batinnya menatap Fene terlelap dengan pakaian yang cukup menggairahkan Adrian.
"Maafin aku, Fen!" Bisiknya ketelinga Fene. "Aku terlalu mencintaimu! Hingga membuat kamu terluka." Tambah Adrian.
Fene mengerang menyandarkan kepala dicurug leher Adrian, "jangan pergi! Aku mencintaimu, Dri!" Bisik Fene.
Adrian memiringkan tubuhnya, membelai lembut paha Fene yang berada diatas pinggulnya. "Aku mau coba oral sesuai perintah dokter." Goda Adrian.
"Jangan mesum deh! Tadi malam udah berkali-kali masih aja kurang!" Rungut Fene.
"Udah sebulan aku menahan pakai hati Fen! Aku pengen banget!" Jawab Adrian menatap memohon.
"Jangan natap gitu! Aku nggak tega buat nolak!" Senyum Fene menatap Adrian.
"Kesel-kesel tapi rindu juga sama aku kan?" Kekeh Adrian. "Aku becanda doang! Seneng aja buat kamu serba salah!" Tawa Adrian membuat Fene semakin kesal.
__ADS_1
"Iiigh sana! Jangan deket-deket!" Kesal Fene menjauhkan Adrian dari tubuhnya.
Adrian malah mendekapnya dengan penuh kasih sayang, "makasih yah!" Kecup Adrian pada cinta sejatinya.***