See Eye Stela

See Eye Stela
Meyakinkan.


__ADS_3

Adrian menerima telfon dari koleganya, terpaksa berpisah dari Fene dan Chay-in untuk beberapa hari.


"Sayang! Aku ke Vegas dulu! Dua hari beres, aku langsung ke Jakarta." Ucap Adrian saat masih di Bel Air.


"Ya! Kamu hati-hati! Barusan Nichole nelfon, dia akan ke Paris dan New york sama Stela. Ada acara fashion minggu ini!" Jelas Fene.


"Oogh ya! Camille ikut juga ke Paris? Aku lihat Nichole sudah mulai dekat dengannya." Senyum Adrian menciumi bahu Fene.


"Nggak tau, mungkin! Oya Dri, Camille ngasih kado mahal bener buat Stela! Kenapa? Jangan-jangan dia memang beneran suka sama kamu?" Fene mengalungkan tangannya dileher Adrian menatap lekat mata suaminya.


"Aku nggak tau! Tapi dia emang beda seeh ke aku! Kamu tenang aja! Aku sangat mencintai kamu." Goda Adrian pada puncak hidung Fene.


"Ck! Nafsu mana bisa ngalahin cinta Adrian." Jawab Fene malas.


"Dia wanita pintar Fen, insyaallah aku jaga kepercaan kamu!" Senyum Adrian mengecup kening istrinya.


"Hmm! Lebih baik kamu diam nggak usah bicara sok meyakinkan aku! Aku tau kamu dan sangat mencintai kamu." Fene mengusap manja kepala Adrian.


"Makasih yah!" Kecupan Adrian berpindah pada bibir Fene.


"Hhufgh! Dri!" Fene menatap pintu kamar masih terbuka lebar.


"Hmm!" Adrian masih mencium bibir Fene lebih dalam.


Fene mendorong dada Adrian pelan, "pintu kebuka! Ntar kayak kemaren lagi Adrian! Lagi all out anak-anak masuk!" Kekeh Fene mengusap punggung Adrian.


Adrian menutup pintu kamar, tak lupa mengunci, kemudian berlari, mendekap Fene didinding kamar mereka. "Hmmm, hhufgh!" Suara kedua insan ini terdengar di seisi kamar.


Adrian terus mencium lembut bibir Fene, sementara tangannya, mengeksplor tubuh Fene. Fene menikmati membuat Adrian ingin melakukan manuver segera.


"Oogh Fen!" Adrian tak kuasa menahan jika melihat Fene seperti ini. Adrian dan Fene mencapai pelepasannya dengan nafas terengah. Mereka melakukan sebelum berpisah melakukan aktifitas di Vegas dan Jakarta. "Thankyou Fen! I love you!" Adrian bergegas menggendong tubuh Fene membawa kekamar mandi untuk melakukan lagi dan lagi disana.


"Kamu lagi fuber Dri? Aku lihat kamu makin hot!" Kekeh Fene menggoda Adrian.


"Aku menyukai kamu, karena kamu bisa mengimbangi ku!" Kecup Adrian memeluk gemas pada tubuh istrinya. "Aku kebawah deluan yah! Kamu jangan lupa baca email dan laporan rumah sakit! Holi sudah mengirim kan pada ku! Richard juga sudah mengirim laporan sekolah! Alhamdulilah SMA mulai aktif Fen! Chay-in bisa menyelesaikan sekolah disana jika dia mau. Rumah Ibu Eko kan sepi, nggak ada siapa-siapa. Pulang dari Vegas kita ke Jogja yah!" Jelas Adrian panjang lebar penuh semangat karena sudah dicas full.


"Iya! Nanti aku bilang ke Chay-in yah!" Fene segera berias, mempersiapkan semua keperluannya. Fene tersenyum geleng-geleng kepala, melihat punggung Adrian berlalu. "Dari dulu hingga kini dia memang pintar diranjang!" Kekeh Fene membatin.


Mereka berpisah, Fene membawa Chay-in bersama menuju Jakarta, dengan sejuta drama Chay-in tak bisa jauh dari Lois kekasihnya.


"Kenapa bukan Stela aja yang dibawa? Kenapa aku doang!" Cemberut Chay-in dihadapan Stela, Dedrick, Hanz, Irene, Fene dan Adrian.


"Karena kamu masih tanggung jawab Mami dan Papi! Oke! No debat!" Tegas Fene pada Chay-in.


"Aku sekolah Mi!" Rengek Chay-in.


"Terus?" Fene menatap mata putri bungsunya.


"Sayang aja, mesti ditinggal! Nanti aku nggak tamat di omelin!" Jebak Chay-in.

__ADS_1


"Sekolah kita di Jogja SMA-nya sudah aktif dan tahun ini lulus angkatan pertama dari sekolah kita! Kamu bisa sambung kesana! Jogja kota pelajar! Kamu bisa tinggal sama Ibu angkat Mami, atau sama Uncle Richard dan Aunty Sandra." Jelas Fene lagi meyakinkan Chay-in.


"Ck! Aku mau dihotel! Kasih mobil terbaru, aku nggak mau tinggal di rumah mereka!" Rungutnya.


"Oke! Mami beliin mobil terbaru, kamu di hotel pengawalan Uncle Richard! Deal!" Fene tersenyum kearah Adrian.


"Baby! Kamu mau apa aja, Daddy kasih! Yang penting, kamu lulusnya dari sekolah kita! Oke dear!" Pujuk Adrian pada punggung Chay-in.


"Janji!" Rengek Chay-in menatap Adrian dan Fene.


"Promise! I'm promise to you!" Kecup Adrian pada kepala Chay-in.


Hanz menatap wajah cucu terakhirnya, lebih mirip wajah Adrian. "Stel! Ferrari Grandpa kasih buat kamu dan Dedrick!" Ucapan Hanz membuat mata Fene dan Adrian terkejut.


"Why?" Tanya Fene.


"Hadiah ulang tahun untuk Stela, sekalian kado pernikahan! Lagian yang sering pakai itu kan Stela! Bukan aku!" Jelas Hanz tersenyum.


"Makasih Grandpa yang baik hati! I love you! Aku akan kasih cicit yang banyak untuk Grandpa!" Kecup Stela manja pada Hanz dan Irene yang duduk bersebelahan.


"Oogh no! Mami belum siap jadi oma! Kalian tahan dulu! Oke!" Tegas Fene.


"What? Kalau dikasih Allah cepet gimana?" Kekeh Stela menatap Dedrick.


"Hmm! Pacaran dulu aja! Jangan pikirkan anak!" Jawab Fene ngelantur.


Adrian di Vegas dikejutkan dengan berbagai kejutan. Dua kasino miliknya terancam tutup karena persaingan bisnisnya dengan salah satu musuh dalam selimut.


"Ini kan ditangani Uncle Tommy! Kenapa ini yang bermasalah!" Batinnya. Adrian menghubungi Kevin, konsultasi lumayan memakan waktu yang lama diresto Hotel Belagio.


"Lo, minta Mr.Liu dan Mr.Huang, mengurus semua Dri! Sepertinya ini sengaja Tommy lakukan untuk mematahkan kaki lo! Aku dengar Uncle sudah bersatu dengan Fernando." Jelas Kevin melalui telfon.


Adrian memijat pelipisnya lembut, "gue kemaren, lihat Uncle di kawasan Bel Air! Dia nggak mampir kerumah mertua gue!" Jelas Adrian.


"Nggak salah lagi! Lagian lo seenaknya nyerahin gitu aja sama Tommy! Dia kan hanya suami Marisa, bukan keluarga kita Adrian." Jelas Kevin.


"Ya, gue fikir seperti Richard dan Mesi! Jujur, nggak neko-neko Vin!" Jawab Adrian membela diri.


"Ck! Mana ada pengkhianat bersih Adrian!" Kekeh Kevin.


"Ya udah deh, ntar gue minta tolong sama Liu, agar dia carikan orang baru ngawasin disini!" Jelas Adrian.


"Iya! Gue meeting dulu! Nanti kita telfonan! Lo jangan macam-macam! Gue mencium Camille akan mengejar lo, Dri! Kalung untuk Stela bagus banget!" Kekeh Kevin.


"******! Masak Camille mau sama gue!" Kekeh Adrian.


"Serius mau lah! Secara lo tampan! Family man! Daddy putri yang cantik-cantik, istri cantik! Siapa yang nggak tergiur Adrian." Goda Kevin.


"Ck! Udah aaagh! Gue mau istirahat! Bye!" Adrian menutup telfonnya. Memanggil kasir untuk membayar bill.

__ADS_1


"Bill!" Bisik Adrian pada pelayan.


"Maaf Tua! Sudah dibayar!" Bisik pelayan pada Adrian.


Adrian kaget, "Siapa yang bayar?" Adrian melihat sekeliling area restoran.


"Nona Camille, Tuan!" Jawab pelayan menunduk.


Adrian tak melihat ada Camille diarea restoran. "Mana Nona Camille?" Tanya Adrian bingung.


"Di private room Tuan, kebetulan masih sama temannya." Jelas pelayan lagi.


"Oogh oke! Bisa antar saya menemuinya?" Tanya Adrian.


"Bisa Tuan!" Jawab pelayan, Adrian mengikuti langkah pelayan menuju private room.


Saat pintu terbuka, Camille dan beberapa temannya segera berpisah. Penampilan Camille hari ini sangat menggoda. Mini dress berwarna dongker, bagian bahu terbuka, hingga lengan. Kalung berlian indah menghiasi leher putihnya.


"Hai Dri!" Sapa Camille saat menatap Adrian tertegun padanya.


"Haii!" Jawab Adrian sedikit salah tingkah. "Hmm! Aku cuma mau bilang, makasih sudah bayarin minum aku barusan!" Ucap Adrian.


"Hmm! Just it?" Camille menaikkan alisnya.


"Ya!" Adrian tersenyum, "aku mau ke kamar!" Adrian menunjuk sedikit salah tingkah.


Camille tersenyum, "oke!"


"Aku permisi!" Adrian membalikkan tubuhnya, berlalu dengan langkah sedikit terburu-buru.


"Adrian!" Camille mengejarnya.


"Hmm!" Adrian berhenti, tapi tak membalik.


Camille sudah berada dihadapan Adrian. "What!" Adrian menaikkan alisnya sebelah.


"Hmm! Kamu ada masalah?" Tanya Camille menatap menelan salivanya.


"Ya! Sedikit! Ada pengkhianat! Kasino ku akan ditutup dua." Jawab Adrian malas kemudian berlalu.


"Aku bisa membantumu!" Tegas Camille.


Adrian terhenti. "Jangan bicara disini! Jika kamu mau, kita bicarakan dikamar!" Adrian berlalu.


"Kamar berapa?" teriak Camille.


"3086!" Jawab Adrian meninggalkan Camille.


Camille menaikkan alisnya, tersenyum tipis.***

__ADS_1


__ADS_2