
Suasana kota Jakarta sangat tenang malam ini, setenang Keluarga Lim dan Keluarga Visser ditemani dengan sampanye direstoran milik Keluarga Smith orang tua Veni merayakan kembalinya anak menantu mereka.
"Fen, anak-anak nginap dimana?" Tanya Veni.
"Marriott," jawab Fene.
"Hmmm! Pantes, tadi Dedrick nelfon gue! Stela mau kembali asal Dedrick membelikan Guest hause dan restoran yang jadi incarannya selama di Amsterdam, berkisar 25-40 milyar." Cerita Veni.
Fene dan Adrian tertawa, "lain kali kalau mau nyakitin anak gue lihat-lihat dulu! Pasti mereka sedang negosiasi." Kekeh Adrian.
"Ya! Mereka sedang negosiasi, karena Dedrick minta pencairan dananya besok siang paling lambat!" Jelas Miller semakin tertawa lepas.
"Udah! Kasih aja, mas kawin aja lo kasih nilainya fantastis! Masak dia minta restoran disana lo nggak kasih!" Goda Fene mengelus pipi sahabatnya.
"Gue seeh ngasih! Asal anak gue nggak buat ulah lagi." Rungut Veni. "Sayang kamu bilangin ke Dedrick, jangan macam-macam jika bertindak, jika dia nggak mau asetnya berubah ke tangan istrinya." Kekeh Veni pada Miller.
"Biarlah mereka! Bagus juga Stela begitu! Jadi Dedrick juga ikut mengawasi! Otak anak kamu pintar juga Dri!" Kekeh Miller.
Adrian tersenyum, "semua dikepalanya hanya bisnis, jika tersakiti Mill!" Adrian mengusap lembut punggung Fene.
"Setidaknya mereka harus mengerti, jika pernikahan bukan meninggalkan dan mengucap kata pisah saja! Tapi komitmen mereka agar terus bersama." Tambah Adrian.
"Sayang, kamu kenapa ngeluarin Pedro dari penjara?" Tanya Veni pada Miller.
"Saya lihat, Stela tidak sepenuhnya mencintai Pedro, dia hanya merasakan perbedaan antara Pedro dan Dedrick! Buktinya dia tidak memilih Pedro! Bodohnya Dedrick, dia melepas Stela. Syukur Stela mau mengalah! Jika tidak? Apa yang mesti kita sampaikan pada keluarga sayang! Apalagi media! Aku akan bicara pada Dedrick! Aku dengar Pedro juga telah kembali ke Spain!" Jelas Miller.
"Pedro itu sahabat Stela masa kecil! Saat Stela mengalami depresi berat, karena kepintarannya, dia melupakan semua memory kecilnya Ven!" Kenang Fene. "Gue yang salah kala itu! Stela gue paksa menjadi keinginan gue dan Adrian." Mata Fene seketika basah, ada raut wajah bersalah.
"Hmmm, dia tidak mengingat sama sekali, gampang melupakan!" Tambah Adrian.
"Ooogh! Dedrick juga sama Dri! Dia sangat introvert, tidak mudah bergaul! Dia hanya fokus pada dirinya saya dan Veni. Kesalahan kami juga sama, tidak memperhatikan dia waktu kecil." Rundung Miller dengan wajah lebih memerah.
"Oogh God! Ternyata anak kita sama-sama memiliki depresi yang sama Mill! Kita harus membantu mereka, dulu ada Papi, kami selalu tenang! Sekarang kita mesti extra." Jelas Adrian menatap Miller dan Veni.
Drrrt, drrrt. "My girl!" batin Adrian.
"Ya Stel!"-Adrian.
"Daddy! Aku minta apartemen yang bagus! Aku nggak mau tinggal di apartemen Daddy Miller, kalau nggak aku pergi ke Swiss!" Rengek Stela pada Adrian.
"Not funny girl! Itu apartemen Dedrick, bukan punya Miller sayang! Please, mengertilah!" Jelas Adrian sedikit emosi pada putrinya.
"No! Aku nggak mau! Aku mau apartemen yang layak buat aku, lengkap! Titik!" Stela menutup telfonnya.
Adrian memijat pelipisnya. "Pulang dari Jogja, kita ke Netherland Fen!" Adrian menghela nafas dalam.
"Ada apa?" Tanya Fene.
"Stela minta apartemen yang luas! Dasar wanita egois!" Sungut Adrian.
__ADS_1
"Saya siapkan sesuai kemauan Stela! Kamu tenang saja! Kita ikutkan semua kemauan mereka!" Senyum Miller menggenggam jemari istrinya.
"Besok kita ke Jogja, kita nasehatin mereka! Aku rasa Dedrick malam ini dikasih punggung oleh Stela!" Kekeh Fene.
"Ya! Besok kita jemput mereka ke hotel! Sepertinya mereka pasangan yang rumit." Kekeh Miller.
Mereka saling bercerita masa dulu, tak terasa ada kesedihan dan kepedihan yang tersirat dari Veni dan Adrian.
Suasana JW Marriott. Dikamar yang sangat luas itu, Stela menguasai seluruh ranjang, tanpa boleh Dedrick menemaninya. Dedrick sangat memahami, setelah mereka melakukan negosiasi sepanjang malam.
"Wife, aku merindukan mu! Kenapa kau seperti ini padaku Stel? Aku sudah mengikuti semua keinginanmu. Please!" Pujuk Dedrick sedang bersantai disofa.
"Sebelum dana kamu masuk kerekening ku, kamu belum boleh menyentuh ku!" Ucap Stela tegas.
"Apa kau sedang menjual dirimu pada ku, sayang?" Kekeh Dedrick...
BHUUK, bantal kecil melayang ditubuh Dedrick.
"Hmmm! Kau menyakiti ku wife!" Goda Dedrick berlari kecil mendekati Stela.
"Aaagh! Dedrick! Stop," Kekeh Stela manja saat Dedrick menindih tubuhnya.
"Kamu adalah istriku! Sampai kapanpun, sampai aku mati!" Dedrick mengunci tubuh Stela saling menatap.
Dedrick mencium kening Stela, "Maafkan aku Stel! Aku telah menyakiti mu selama ini! Aku menyesal!" Ucap Dedrick melepaskan tubuhnya dari Stela.
"Hmm!" Stela menahan punggung Dedrick, agar tetap diatasnya. "Apa kau tau kau melukai tubuh ku sayang?" Stela membuka bahu yang terluka ditutup plaster.
"Kamu tau? Aku sangat mencintaimu Dedrick! Maafkan aku telah menyakiti perasaan mu atas sikap ku! Aku hanya tidak ingin menyakiti Pedro." Jelas Stela.
"Tapi kau mengatakan cinta padanya!" Jelas Dedrick mengingatkan kejadian itu.
"Aku bingung sayang! Aku tidak bisa membedakan! Aku menganggapnya sebagai sahabat, aku mengatakan cinta, hanya cinta sebagai sahabat! Tidak lebih! Aku tau, kau lah cinta ku hingga aku menutup mata!" Jelas Stela menatap Dedrick.
"Bener? Kita akan selamanya bersama!" Kecup Dedrick pada mata Stela sangat lama. "Peluk aku, aku sangat merindukanmu!" Dedrick mendekap Stela sangat erat. Sudah berbulan-bulan dia tidak merasakan ketenangan dipelukan istri sendiri.
Mereka hanya tertidur mengenang kisah di Netherland, tanpa ada yang ditutupi. Intropeksi diri lebih baik demi selalu bersama. Hingga waktu menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Dedrick dan Stela terlelap saling berpelukan hingga matahari bersinar cerah.
Drrrt, drrrt. Ponsel Dedrick bergetar tapi tak dihiraukan mereka. Mereka masih terlelap tanpa mengganti baju sejak kemaren.
Adrian dan Miller yang merasa kesal, meminta pihak hotel membuka kamar anak menantunya.
"Maaf Tuan! Ini privasi! Kami tidak bisa melakukan seperti apa yang anda minta!" Jelas reseptionis.
"Panggil Manager kamu! Saya tidak memiliki waktu banyak! Saya kedua orang tua anak kami, karena kami tidak mungkin meninggalkan mereka disini." Jelas Adrian panjang lebar.
Mendengar keributan direception. Adrian dan Miller menjelaskan pada pihak hotel, akhirnya pihak hotel menyetujui permintaan mereka.
Pintu otomatis terbuka, melihat kedua pasangan muda itu masih terlelap. Fene dan Veni tersenyum.
__ADS_1
"Bener dugaan gue! Mereka hanya tertidur disini." Kekeh Fene.
Veni tersenyum bahagia melihat anak menantunya.
"Hmm! Kami permisi Tuan!" Jelas pihak hotel, setelah membukakan pintu untuk mereka.
"Ya! Bisa minta antarkan sarapan kekamar?" Pinta Miller.
"Baik Tuan!" Pihak hotel berlalu, melakukan sesuai permintaan tamu dengan sangat baik.
Adrian dan Miller duduk disofa menunggu kedua anak mereka terjaga, Fene dan Veni tengah asyik melihat berita di TV.
Dedrick membuka matanya, menatap Stela penuh senyuman, belum menyadari kedua orang tua mereka ada dikamar.
Dedrick mengusap lembut kepala Stela, membuat istrinya terjaga.
"Hubby! I love you!" Bisik Stela memeluk Dedrick disampingnya.
"I love you too!" Dedrick ingin mencium Stela.
Adrian mendehem, "kami hanya menunggu kalian bangun, bukan menunggu kalian melakukan itu! Wake up boy, girl! Kita sudah terlambat! Daddy ada meeting siang ini di Jogja!" Jelas Adrian.
Dedrick dan Stela terlonjak kaget melihat kedua orang tua mereka ada dikamar mereka.
"Iiighs! Daddy! Aku belum melakukan apapun!" Teriak Stela manja.
Dedrick tersipu malu mengusap matanya, bergegas menuju kamar mandi.
"Aku nggak bawa baju Mam!" Rengek Stela pada Fene.
"Udah cepet, cuci muka aja! Nanti sambung di Jogja!" Tegas Fene.
"Aaagh! Kalian egois!" Rungut Stela merengek manja.
Miller dan Adrian hanya tersenyum.
"Anak-anak nikah yah begini!" Kekeh Veni.
Setelah sarapan mereka bergegas meninggalkan hotel. Pihak hotel tersenyum tipis melihat kedua pasangan muda itu.
Dedrick dan Stela saling berpelukan manja sepanjang perjalanan menuju bandara. Fene dan Veni hanya tersenyum tipis.
"Uangmu belum masuk! Jangan bermain dengan ku Dedrick Visser!" Tegas Stela dapat didengar oleh orang tuanya.
"Iya! Secretaris Daddy sedang mengurusnya! Jika sudah masuk, kau akan menjadi milikku selamanya!" Kekeh Dedrick memeluk gemas pada Stela.
"Iya! Aku juga rindu sama kamu hubby! Daddy aja egois bawa kabur kita seperti ini!" Sindir Stela.
Adrian dan Miller tertawa, disusul oleh Fene dan Veni terkekeh geli.***
__ADS_1
Next....❤️❤️