See Eye Stela

See Eye Stela
Kejutan tak disangka


__ADS_3

"Aaagh! Uuugh!" Suara manja Stela terdengar diseluruh ruangan kamar mereka, tentu diatas tubuh Dedrick sedang menikmati malam hingga dini hari.


Adrian dan Edward tengah menuju kamar mereka dilantai yang sama melihat pintu tidak tertutup dan mendengar suara ******* Stela yang nyaris membuat Adrian menginginkan itu dari Fene.


"Aaaugh, Dad! Kenapa mereka tidak menutup pintu?" Geram Adrian sedikit risih dengan adegan putri kesayangannya.


Edward tersenyum tipis, "tutup pelan, agar mereka tidak terganggu! Besok ingatkan mereka! Kalau orang lain yang mendengar akan lebih bahaya." Jelas Edward.


"Ya Dad!" Adrian menutup pelan pintu kamar Stela, berlalu menuju kamarnya.


Adrian menatap wajah sendu istrinya yang telah terlelap menggunakan lingeri sangat nyenyak dan menggoda. Adrian mengusap lembut wajah sendu itu, mengecup bibir Fene.


Fene tersadar, membuka mata pelan, "kamu udah pulang?" Fene merangkulkan tangannya dileher Adrian.


"Hmm! Aku mandi dulu! Nggak baik!" Tolak Adrian melepas pelukannya pelan.


"Aaagh! Kirain! Ya udah mandi! Aku tidur yah!" Ucap Fene kembali ke posisi semula.


Adrian berlalu ke kamar mandi, membersihkan dirinya dari tempat kematian Carlos dan Fernando.


Setelah ritualnya, Adrian menuju ranjang mengusap kembali wajah Fene. "Aku akan menjagamu Fen! Hingga maut memisahkan kita." Kecupnya pada kening Fene yang semakin meliukkan tubuh mendekat ke Adrian.


Adrian mengusap paha Fene yang berada dipahanya. "Hmm! Jadi pengen gue, Fen!" Senyumnya.


Fene membuka matanya tersenyum, "hmm! Kok sama!" Kekehnya semakin mendekat ke Adrian.


"Tidur aja yah! Besok hari terberat kita! Pedro dan Marelin sudah menuju La!" Jelas Adrian pelan.


"Hmm! Aku mau sekarang. Kamu diam aja!" Goda Fene memulai aksinya.


"Kalau begini mana bisa diam! Aaaagh!" Seperti biasa Adrian selalu memberikan yang terbaik untuk Fene, tak melewatkan cumbuan pada wanita yang selalu sabar bersamanya.


Setelah mereka melakukan manuver meregangkan otot-otot di tiap persendian yang mulai rilex, Adrian dan Fene kembali kedunia mimpinya. Berharap esok adalah hari terindah untuk keluarga mereka.


Pukul 08.00 waktu Los Angeles,


Drrt, drrrt. Suara ponsel milik Adrian berdering.


"Liu!" Bisiknya.


Adrian meletakkan ponsel ketelinganya, "Ya!"-Adrian.


"Mereka sudah tiba Tuan! Saya menuju lokasi!"-Liu.


"Baik!" Adrian menutup telfonnya, melepas dekapan Fene perlahan berlalu ke kamar mandi. Hanya 20 menit, Adrian keluar dari kamar mandi.


Fene masih terlelap, Adrian menatap wajah istrinya tersenyum. "Ternyata kamu lebih nyenyak kalau sudah di cas full Fen!" Kekehnya.


"Eeegh!" Fene mengerang, menggeliatkan tubuh telanjangnya menatap Adrian sudah rapi. "Kamu mau kemana Dri?" Tanya Fene mengusap lembut matanya.


"Aku bereskan urusan Keluarga Arlan ya! Ingat jangan buka suara pada anak-anak! I love you, Fen!" Adrian berlalu menuju ruang makan.

__ADS_1


"Becareful Dri! I love you too!" Jawab Fene, menuju kamar mandi membersihkan diri.


Mata Adrian beradu tatap dengan Dedrick, sedikit kesal jika mengingat kejadian tadi malam.


"Morning sayang!" Kecup Adrian pada Stela, Chay-in dan Jasmine.


"Morning Dad!" Senyum Jasmine.


"Tumben Daddy udah rapi?" Senyum Stela.


"Ada urusan sama Grandpa Edward!" Jawab Adrian mengusap lembut punggung Stela.


Stela menatap kearah Dedrick, mengangguk mengerti.


Adrian dan Edward hanya sekedar mencicipi sarapan, kemudian berlalu meninggalkan anak-anaknya, tentu memberikan kecupan mesra kepada tiga putrinya.


Adrian menghubungi Miller dan Kevin segera menuju lokasi yang telah ditentukan mereka. Semua bergegas menuju tempat yang sama.


*****


Stela dan Dedrick memohon izin pada Irene untuk ke Beverly, dengan tergesa-gesa, tanpa sepengetahuan Fene. Dedrick mengikuti semua keinginan Stela untuk mengikuti arah mobil Adrian.


"Daddy kemana yah hubby?" Tanya Stela penasaran.


"Hmm! Kita ikutin aja! Aku juga penasaran wife!" Kekehnya.


Mereka terus mengikuti arah mobil Adrian, tibalah disebuah gedung tua daerah sangat sepi. Hanya ada beberapa mobil disana. Mata Stela tertuju pada Miller, Kevin dan Pria oriental berjas hitam bak mafia bayaran dari Hongkong.


"Ternyata otak kita sama sayang! Kita memang pasangan terhot hubby!" Kekeh Stela.


Mata Stela tertuju pada Mercedes Benz G-Class milik Kevin.


"Oogh! Uncle, hubby!" Stela melihat Kevin mendekap tubuh seorang pria, Adrian mendekap lengan seorang wanita.


"Pedro! Marelin!" Kaget Dedrick menatap kedua orang yang iya kenal. "Kenapa dengan mereka sayang? Apakah mereka tersangkut akan kematian Grandpa Hanz? Oogh my God! Kita turun sayang!" Dedrick meminta Stela agar segera turun mengikuti mereka kedalam.


Alberth mengetahui kedatangan Stela dan Dedrick.


"Nona, Tuan Muda! Lebih baik kalian diluar!" Tegas Alberth.


"Uncle! Please, aku tahu mereka pelakunya!" Stela memohon pada Alberth.


"Hmm!" Alberth memberi ruang pada mereka, untuk masuk keruangan, tapi menunggu di luar saja, dapat mendengar apa pembicaraan mereka.


Stela dan Dedrick dapat melihat kejadian didalam dari sebuah celah.


BHUUK,


BHUUK,


BHUUK,

__ADS_1


Adrian menghujam Pedro dengan pukulan bertubi-tubi di ulu hati. "Apa dosa Hanz Parker sama kau Pedro? Anjiiing! Bangsat! Kau anak kemaren sore telah membunuh mertuaku! BHUUUK, membunuh orang tua istriku! BHUUK, membunuh Grandpa anak-anak ku! BHUUK!" Geram Adrian pada Pedro yang menahan sakit dihajar habis-habisan.


"Maafkan aku Tuan Lim! Aku pikir malam itu adalah Dedrick dan Stela Tuan! Aku khilaf! Lepaskan aku Tuan." Jujur Pedro dengan nafas tersengal.


PLAAK,


"Anjiiing, kau ingin menyakiti anak dan menantuku? Haaah! Jawab aku Carlos, senjata kau yang dipakai Pedro untuk menembak Hanz Parker?" Teriak Adrian pada Carlos.


"Aku sudah menyimpan senjata itu Dri! Pedro kau! Beraninya kau menghabisi Hanz Parker! Anak bangsat kau!" Ucap Carlos tak kalah emosinya.


Sejujurnya Carlos, Tommy dan Fernando sangat terkejut dengan kehadiran Pedro dan Marelin dihadapan mereka. Tambah terkejut lagi dengan kejujuran Pedro telah menghabisi Hanz lewat tangan belianya. Satu hantaman telak bagi Carlos dan Tommy. Tak bisa berucap, hanya bisa pasrah atas belas kasih dari Edward dan Adrian.


"Miller! Lepaskan aku! Aku mohon! Jangan membunuh kami sekeluarga seperti ini! Maafkan aku! Aku akan menebus kesalahan ku melalui hukum! Berapapun akan aku bayar! Aku mohon Miller, Adrian! Aku mohon! Jangan bunuh aku dan keluargaku disini." Teriak Carlos sambil meratap.


BRAAAK, semua terlonjak kaget melihat kehadiran Stela,


"Stel!" Kejut Adrian berusaha menahan, tapi.


Stela yang tersulut emosi mendengar pengakuan Pedro dari luar tentang dia pelaku penembak Hanz Parker. Menendang pintu, menerobos masuk ke dalam ruangan dengan penuh amarah dan dendam. Mengambil senjata dari pinggang Adrian yang terletak tepat di punggung Daddynya langsung menghujamkan pada Pedro dari jarak 3 meter.


Dor, Dor, Dor..


Edward, Miller dan Samuel sangat terkejut menatap Dedrick dan Stela.


Kevin mendekap Stela yang seperti orang kesetanan menghujamkan tembakan tanpa ampun, hingga Glock 20 yang memuat 16 peluru 10 mm masing-masing mampu dilontarkan hingga kecepatan 1600 kaki per detik, 4 peluru menembus tubuh Pedro membuat pria itu tertelungkup tak sadarkan diri.


Edward tak menyangka cucunya akan melakukan hal itu. Adrian mengambil senjata peninggalan Bram dari tangan Stela, menatap tajam pada Dedrick yang shook menyaksikan istrinya lebih berani melumpuhkan Pedro yang sudah lumpuh.


"Albeeeeerth! Panggil ambulance, bawa Pedro segera kerumah sakit! Kevin, Adrian, bawa Stela jauh dari sini! Samuel, Miller kau urus tiga pria ini! Aku akan menyelamatkan cucuku!" Tegas Edward.


"Pedroooo! Ooogh my God! Mati putra ku, Fernando! Pedroooo!" Jerit Carlos menggema disisi ruangan.


Stela berteriak sejadi-jadinya tak dapat dibendung oleh Adrian. Dia ingin membunuh Pedro.


"Daddy lepaskan aku! Dia membunuh Grandpa! Daddy! Daddy! Please! I kill him!" Teriak Stela meratap dilengan Adrian.


Adrian memeluk erat tubuh Stela, merasakan kepedihan putrinya, ikut menangis bersama memasuki mobil Kevin. Sementara Dedrick mengikuti mereka dari belakang dengan tangan menggigil memegang kemudi untuk segera pulang ke Bell Air.


Edward memilih menemani Dedrick agar dia tidak linglung. Edward tak mampu berucap, memilih diam sepanjang perjalanan.


Stela masih menangis dipelukan Adrian, hingga dia tertidur dipelukannya.


"Vin! Gue mesti gimana? Kenapa Stela mengikuti kita?" Tanya Adrian frustasi.


"Gue juga nggak nyangka! Semoga Pedro baik-baik saja! Huuufgh!" Kevin masih sangat shook, ternyata Stela lebih berani dari yang dia bayangkan.


Mereka masuk kepikiran masing-masing. Apa yang mesti mereka lakukan dan bicarakan pada anak-anak dan Fene. "Huuufgh!" batin Adrian.


"Kita langsung ke Beverly saja Dri! Jangan pulang kerumah! Nanti Chay-in dan Jasmine curiga! Pelan-pelan kita minta Fene ke rumah Miller." Ide Kevin.


"Ya sudah! Aku hubungi Miller dan Dedrick dulu!" Adrian mengikuti ide Kevin.

__ADS_1


Menghubungi Dedrick dan Miller, kemudian memberi kabar pada Fene agar menyusul ke Beverly.***


__ADS_2