See Eye Stela

See Eye Stela
Pertemuan terakhir


__ADS_3

Malang tak dapat di tolak, duka tak tau kapan akan datang, bagaikan petir disiang bolong yang menghujam kalbu. Semua terjadi begitu atas izin-Nya. Bel Air berduka, Irene sangat terpukul, melihat suaminya tergeletak menggenaskan tanpa ada seorang pun disana.


Irene mengingat pertemuan terakhirnya dengan sang suami, mereka menghabiskan waktu bersama di kolam renang kediamannya saat siang menjelang sore. Sesekali mencumbu Irene, walau mereka tak muda lagi Hanz sangat pandai memanjakan Irene.


Irene tertawa manja dipelukan Hanz, "Hanz jangan, aku geli!" Saat Hanz mencium kedua mainannya yang menggemaskan.


"Hmmh! Aku sangat mencintaimu! Dari pertama bertemu denganmu, kau selalu menjadi canduku." Bisik Hanz ditelinga Irene.


"Aagh! Kau juga pernah mengkhianati ku!" Kenang Irene.


"Hmm! Apa kau akan selalu mengingat kisah itu sayang?" Godanya.


"Tidak, aku hanya teringat!" Jawab Irene.


"Lupakan itu! Atau aku akan mati jika kau terus mengingatnya." Kecupnya pada kening Irene, kembali memainkan mainannya sangat lama. Sesekali Irene menjerit manja membelai lembut kepala Hanz.


Irene menikmati kehangatan yang diberikan Hanz. Dipinggir kolam, tempat mereka memadu kasih yang sangat indah. Para pelayan sebagai saksi kebersamaan mereka. Hal yang biasa dilakukan Hanz dan Irene, jika anak dan cucu mereka tidak berada dirumah.


"I love you, Irene Parker! Aku akan terus bersamamu! Menjagamu, walau aku sudah tidak ada nanti! Kau tidak akan bisa melupakanku." Kecup Hanz sangat dalam penuh perasaan.


"I love you to Hanz! Kau akan selalu bersama ku! Jangan pernah berfikir kau akan pergi dari dunia ini! Aku belum siap Hanz!" Rengek manja Irene pada Hanz.


Hanz tertawa membelai lembut paha Irene, tidur bersama stelah melakukan manuver. Memeluk erat tubuh Irene, menutup tubuh mereka dengan sehelai kain pantai.


Sore Hanz dikejutkan dengan deringan ponselnya. Salah satu koleganya, memberikan selamat atas pengalihan kasino Camille pada Samuel. Tentu menjadi satu kebanggan Hanz telah menghancurkan musuh putrinya.


"Hmm! Syukurlah! Camille sudah meninggalkan Vegas." Ucapnya kembali memeluk Irene.


"Hanz, aku takut wanita itu akan melakukan hal gila pada mu!" Jelas Irene akan ketakutannya.


"Aku tau Camille, dia akan pindah ke Brazil! Aku yang meminta! Aku sudah menanggung semua biaya kepindahannya. Aku memberikan yang terbaik untuknya! Agar Fene dan Adrian tenang sayang! Aku hanya menutupi semua, agar Fene tidak khawatir. Aku tau putriku sayang.' Jelas Hanz panjang lebar.


"Apa dia akan menuruti semua keinginanmu?" Irene meyakinkan.


Hanz menuju ruang kerjanya, melilitkan kain pantai, mengambil beberapa lembar perjanjian yang telah Hanz sepakati dengan Camille. Kemudian kembali duduk menunjukkan semua berkas pada Irene.


"Ni! Semua sudah disepakatinya. Dia telah meminta maaf! Aku tidak akan menyebut namanya di media." Jelas Hanz. "Jika terjadi sesuatu pada kita, dia tidak terlibat! Karena Camille tidak mudah berkhianat." Tambah Hanz menjelaskan pada Irene.


"Syukurlah Hanz!" Irene merasa lega.


Hanz tersenyum menatap mata Irene yang sangat indah. Persis mata Fene dan Stela.


"Kau sangat cantik! Aku tak pernah bosan memandangmu." Rayu Hanz.


"Iiighs! Kau selalu merayu ku!" Rengek Irene dibahu Hanz.


"Kita akan makan malam dimana?" Tanya Hanz mencari bibir Irene.


"Dirumah saja! Maid sudah membuatkan masakan kesukaanmu. Aku sudah menyiapkan sampanye untuk kita malam ini." Ucap Irene menerima ciuman mesra suaminya.


"Huufgh!" Mereka masih terlena.


"Kita mandi! Aku sudah lapar!" Ajak Hanz.

__ADS_1


"Ya! Kita mandi berdua!" Kekeh Irene manja. "Gendong aku dipunggungmu! Apa kau masih kuat?" Goda Irene.


"Naiklah!" Hanz menekuk kakinya, membiarkan Irene naik dibelakangnya.


"Hanz! I love you!" Bisik Irene saat Hanz menggendongnya di belakang membawa ke kamar mereka di lantai dua.


"I love you to honey!" jawab Hanz menerima kecupan dari Irene.


Hanz dan Irene melakukan ritual mandi bersama, saling menggoda sebelum menuju ruang makan malam mereka.


Semua sudah tersedia, sangat romantis, di temani sampanye, steak salmon, dan potato chese kesukaan Hanz.


"Perfect!" Kecup Hanz pada Irene.


"Apa kita akan makan saling berhadapan?" Goda Irene menatap mata biru milik Hanz.


"No! Duduk dipangkuanku. Kita makan bersama." Pintanya.


Mereka sangat mesra, hingga pelayan dan pengawal merasa aneh, tak pernah Hanz mau bermesraan hingga malam bersama istrinya. Palingan dikolam, itu hal biasa mereka lakukan. Kalau diruang makan, mereka selalu menjaga etika saat makan didepan pelayan.


"Mungkin Nyonya sedang merindukan Tuan!" Batin pengawal yang setia bersamanya.


Stelah makan malam romantis Hanz dan Irene, mereka menghabiskan waktu hingga larut malam. Irene tertidur dipangkuan Hanz. Hanz menggendong Irene membawa kekamar milik mereka. Saat tiba dikamar, Hanz teringat akan membeli beberapa cemilan untuk menemaninya. Hanz biasa membaca buku saat matanya tidak bisa terlelap. Dia laki-laki melankolis yang teratur. Melihat jam didinding kamar pukul 01.30 dini hari waktu Los Angeles.


Hanz mengambil kunci Ferrari yang akan dia berikan pada Stela, memberitahu pada pengawal.


Pergi ke supermarket kawasan Bel Air. Ternyata sudah tutup, Hanz menikmati malam. 'Walau sudah larut suasana masih rame! Tak pernah mati.' Batinnya.


"Selamat malam Tuan!" Sapa Kasir ramah.


"Ya! Malam!" Senyum Hanz.


Kasir menghitung semua belanja Hanz, kemudian membayarnya. "Ini Tuan kembaliannya!" Senyum Kasir.


"Ambil saja! Terimakasih!" Hanz berlalu.


"Terimakasih Tuan!" Senyum Kasir merasa senang mendapat lebih lumayan banyak.


Hanz berlalu, membawa Ferarri menuju Bel Air. Hanz menikmati perjalanan, malam tak begitu dingin. 'Pantas Fene betah disini daripada di Eropa!' Batin Hanz. 'Jika sudah musim dingin dia kembali ke Jakarta!' Kekehnya. 'Bahagialah kalian Nak, bersama suami pilihan kalian! Aku sudah bahagia bersama Irene ibu kalian.' Batinnya.


Tiiin, tiiin.


Sebuah motor menghentikan mobil miliknya. seorang laki-laki menggunakan helm penutup wajah.


Hanz yang tidak pernah takut dengan apapun, turun dari mobil.


"Pak Tua?" Kejut pria itu.


"Apa kau mengenalku boy?" Tanya Hanz.


"Tentu!" Tegas pria itu. "Aku fikir bukan kau, sebab biasa mobil ini digunakan oleh Stela cucumu." Jelas pria itu.


"Apa cucu ku mengenalmu?" Tanya Hanz menatap mata elang pria itu.

__ADS_1


"Aku mengenalnya Tuan! Bahkan mencintainya! Aku ingin memilikinya." Tegasnya.


"Jangan gila kau! Cucuku sudah menikah! Dedrick suaminya!" Sarkas Hanz.


"Aku mencintainya Pak Tua sangat mencintainya." Jawab pria itu membuka helm dan penutup wajahnya.


"KAU!" Geram Hanz melihat pria itu.


"Ya aku! Kemana mereka? Kenapa kalian menyembunyikannya dari ku?" Tanya pria itu menggeram.


"Apa mau kau! Kau cari wanita lain, yang lebih cantik diluar sana! Apa kau ingin mati mengganggu keluarga ku?" Tanya Hanz mulai emosi.


"Jawab aku! Kemana kalian sembunyikan Stela?" Bentaknya.


"Beraninya kau! Bangsat!" Emosi Hanz,


BHUUK, Hanz memukul pria itu.


"Aughh!" Membuat pria itu terjungkal, tapi dia dapat menahan tubuhnya.


BHUUK, Pria itu membalas, tanpa disadari Hanz pria itu mengeluarkan senjatanya, menembak dari jarak dekat mengenai Hanz.


Dor, Dor, Dor...


Tiga peluru menembus kepala, leher dan punggung Hanz. Tubuh Hanz tertelungkup di tanah.


Pria itu mengambil motornya, memasang penutup kepalanya, kabur meninggalkan tempat kejadian perkara.


Irene yang terjaga merasa cemas. Meminta pengawal menemaninya mencari Hanz. "Biasanya Hanz pergi tak pernah selama ini membeli makanan." Bisik Irene.


Saat mobil Irene akan berbelok terlihat Ferarri dengan kondisi masih menyala, lampu kecil menyala. "Hanz! Hubungi 911 segera!" Perintah Irene pada pengawalnya. Pengawal menghentikan mobil mereka menghubungi 911 sesuai perintah Irene.


Irene membuka pintu berlari, tentu dengan hati berkecamuk, mendekati Hanz yang ternyata sudah tak bernyawa bersimbah darah. "Haaaaaanz!" Teriak Irene membalikkan tubuh Hanz tanpa rasa jijik dan takut, memangku dipangkuannya. "Hanz, bangun sayang! Aku belum bisa kehilangan mu! Bangun Hanz! Haaaaaaanz!" Teriaknya memeluk Hanz Parker.


Pengawal menanti kedatangan 911, menghubungi penjaga rumah, agar segera ke TKP.


20 menit kemudian, 911 segera membawa Hanz kerumah sakit, Dokter meyakinkan pada Irene bahwa Hanz Parker telah meninggal dunia.


Begitu cepat semua terjadi, hal-hal yang biasa Hanz lakukan menghabiskan waktunya berakibat fatal bagi keselamatannya.


"Haaaaaanz!" Teriak Irene menggema diruang emergency. Pengawal yang mendampingi turut sedih, baru melihat kemesraan Tuan dan Nyonya bahagia bersama, ternyata itulah pertemuan terakhir mereka.


Pihak rumah sakit membenarkan meninggalnya Hanz Parker dan memberi kabar bahwa jenazah akan dibawa kerumah duka, atas permintaan Irene.


Irene tak kuasa menahan kesedihannya. Hanya menunggu seluruh Keluarga ada didekatnya. Keluarga Stuard dan Keluarga Parker yang berada di Los Angeles datang lebih dulu. Pihak Keluarga masih menunggu kedatangan anak, menantu dan cucu mereka.


Irene menunggu jenazah Hanz untuk dibawa kerumah duka. Setelah semua ritual dilakukan, Hanz mengenakan jas terbaik, bunga mawar putih, tubuh kaku itu kemudian di masukkan ke peti.


Pendeta yang selalu bersama Hanz dan Irene datang kerumah sakit untuk mendampingi Irene. Banyak rekan sejawat Hanz yang terkejut atas kabar ini.


Pengawal melakukan pengecekan. "Siapa pelakunya? Apa motifnya?" Batin pengawal.


Kecurigaan bermunculan, bisa jadi Camille Clark, Fernando Febian Arlan, atau Carlos Febian Arlan.

__ADS_1


__ADS_2