See Eye Stela

See Eye Stela
Hasil USG


__ADS_3

Miller membawa keluarga, terutama Stela untuk cek kondisinya ke dokter kandungan. Tentu sudah diatur janji oleh asistennya.


"Pagi Nyonya! Sudah buat janji?" Tanya reseptionis menunduk sopan pada Veni.


"Ya! Atas nama Keluarga Visser, Van Visser sama Dokter Justine." Senyum Veni ramah.


"Oogh ya! Silahkan Nyonya." Reseptionis membawa Veni, Miller, Stela dan Dedrick menemui Dokter Justine..


Pintu terbuka, Dokter Justine seorang dokter wanita sangat baik dan ramah.


"Pagi Tuan Visser!" Sapa Justine.


"Pagi Dok!" Senyum Miller dan Dedrick.


"Silahkan duduk!" Veni menggandeng Stela untuk duduk di dekatnya.


Tangan Stela terasa dinging, merasa kurang nyaman dengan bau ruangan rumah sakit. "Uuek," Stela menutup mulutnya dengan tangan.


Justine melirik kearah Stela, "Anak Nyonya hamil?" Tanya Justine pada Veni.


"Sepertinya Dokter! Karena bulan lalu dia tidak datang bulan!" Jelas Veni.


"Oke! Kita periksa yah! Silahkan sayang!" Justine membawa Stela dan meminta agar berbaring.


"Hubby!" Rengek Stela menatap Dedrick.


"Ya!" Dedrick mendekat berdiri disamping Stela mengusap lembut agar Stela dapat nyaman.


USG 5 dimensi mulai berkerja, meletakkan sensor ke perut bagian bawah Stela setelah diolesi gel.


"Hmm! Eehm!" Justine memperhatikan hasil kondisi dalam rahim Stela, "Hmm! Oke," Justine memberi tisyu, kembali ke kursinya.


Stela menutup perut ratanya, kembali kekursi samping mertuanya.


"Bagaimana Dokter?" Tanya Veni.


"Hasil USG, tidak ada kehamilan disana Nyonya. Nona Stela usia 17! Ini disebabkan perubahan hormon Nyonya, stres dan terlalu dini melakukan hubungan badan. Jadi hormon mengalami perubahan. Apalagi diusia ini masa perubahan masih sangat rentan untuk dibuahi. Jika jadi biasanya agak beresiko ke ibunya. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Saran saya lebih baik menunda kehamilan hingga usia matang sekitar 19 dan 20!" Jelas Justine pada Veni dan Miller. "Saya beri obat, agar perasaan mualnya berkurang! Ingat jaga kesehatan, pola makan teratur, tidur yang cukup!" Senyum Justine pada Stela dan Dedrick.


Mereka hanya tersenyum, Dedrick dan Miller jelas kecewa. Karena saran dokter lebih baik menunggu.


"Baik Dok! Terimakasih!" Ucap Veni berdiri menggandeng tangan Stela, mengusap lembut punggung menantunya.


Mereka berpisah dengan Dokter Justine setelah mengambil obat, menuju Bandara Internasional Los Angeles.


"Bener kan apa Mami bilang Dedrick! Kamu nggak bisa nahan! Apa salahnya nahan sampe usia Stela 20!" Geram Veni pada Dedrick.


"Iya! Mami selalu bener! Tapi aku pengen terus Mi! Hasrat!" Kekehnya melirik Stela.


"Iiighs! Gemes ama kalian tu! *****-an!" Geram Veni.


"Aku juga mau kok Mi!" ucap Stela jujur membuat Veni makin geram.

__ADS_1


"Uuugh! Kalian memang pasangan muda termesum se La!" Cubitan Veni pada pipi Stela.


Stela dan Dedrick malah terkekeh, Stela terus bermanja-manja di bahu suaminya. Sesekali mereka berselfi berdua, mengabadikan moment kebersamaan mereka. Stela dan Dedrick berpakaian sangat santai, rambut cepolan keatasnya memperlihatkan bulu halus pada kuduknya terlihat jelas, Dedrick terus mencium tengkuknya selama perjalanan.


"Gemes aku sama kamu!" Bisik Dedrick.


"Sama! Aku kok pengen terus yah! Jawab Stela mengecup bibir Dedrick.


Veni melirik kelakuan anaknya, hanya memijat pelipis pelan, "gue dulu nggak semesum ini! Kenapa anak gue jadi begini yah? Gue ngidam apa dulu!" Batin Veni mencubit lengan Miller menunjuk kearah anak mereka.


Miller hanya tersenyum, baginya yang terpenting adalah kebahagiaan Dedrick. Karena untuk mendapatkan Dedrick bukanlah hal yang mudah. Sama seperti Stela, Fene mendapatkan Stela juga tak mudah. Penantian, pengharapan dan beberapa kali kecewa.


___________*


Landing to Jakarta,


Chay-in yang tau kehadiran kekasih hatinya akan tiba di Jakarta, dia merengek pada Adrian dan Fene agar mengizinkannya berlibur. Richard tentu mengizinkan. Chay-in sangat patuh padanya, walau beberapa kali beradu debat dengan putri bungsu Adrian dan Fene itu.


Richard membawa Pajero sport limited edition milik Chay-in ke Jakarta. Sementara Chay-in pulang melalui pesawat. Ribet yah, anak manja banyak maunya, syukur bokapnya tajir melintir, hehehe...


Fene memeluk erat sahabatnya sekaligus besan Veni Visser. Adrian sangat memahami Fene saat ini. Dia butuh teman, karena mereka juga belum semesra dulu. Yaaah, untuk menerima itu butuh proses yah. Walau keduanya telah saling menyakiti tapi hati Fene belum bisa memaafkan. Sulit sekali bagi Fene jika terus mengingat kejadian di Hawaaii beberapa waktu lalu.


"Gue kangen! Lo nginep ditempat gue! Biar Adrian diapartemen dia. Gue masih benci!' Bisiknya pada Veni.


"Ck! Gue balik! Bawa menantu gue! Daripada gue sport jantung!" Kekeh Veni mengusap dan mencium pipi besannya.


"Iiighz! Nggak kangen ama gue!" Rengek Fene.


"Kangen! Tapi gue mau ketemu Papi dulu. Nanti gue ke rumah lo! Kita ngobrol sampe pagi! Oke dear!" Pujuk Veni.


"Gue bawa dulu! Ngasih tau ke Papi, atau lo keresto nanti yah! Kita ngbrol di atas! Gue kan kalau disini udah nggak diapartemen lagi! Malah enak diatas!"Senyum Veni mengembang.


"Iya! Kalau lapar nggak repot! Suruh antar!" tambah Fene.


"Tuh pinter! Langsung ke resto yah!" Jelas Veni melepas pelukannya.


"Iya!" Fene mengangguk setuju.


Mereka berpisah, menuju kediaman masing-masing. Lusi diantar sopir ke apartemen Helberg, Chay-in ikut bersama Lois, Samuel dan Maria. Tentu Fene dan Adrian lebih memilih menuju resto Veni bersantai disana.


Stela merungut kesal pada Veni karena Dedrick tak kunjung membawanya hangout seperti yang dijanjikan. Dia memilih menghabiskan waktu bermain game bersama Dovi dan Lois secara online.


"Hubby, hangout!" Rengeknya didada Dedrick.


"Iya! Bentar yah! Kita tunggu Lois, Lusi dan Dovi dulu yah wife!" Kecup Dedrick pada kepala Stela.


"Iiighs!" Stela tertidur didada Dedrick memeluk erat tubuh kekar yang telah menjadi miliknya.


Veni dan Fene hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak mereka.


"Dedrick, bawa ke kamar! Kasihan!" Ucap Veni pada Dedrick masih sibuk dengan Mobile Legend.

__ADS_1


"Biarin Mi! Kalau dipindahin nanti bangun ngerengek lagi." Kekeh Dedrick.


"Iighs! Kamu ini!" Kesel Veni.


Veni melanjutkan obrolan bercerita dengan sahabatnya Fene. Begitu banyak kekecewaan yang dilimpahkan Fene pada Veni tentang Adrian.


"Kalau gue nggak butuh, udah gue tendang dia dari Fene Group Ven!" Kesal Fene.


"Ssst! Nggak boleh gitu dear! Adrian sangat mencintai lo! Dia khilaf, karena keadaan. Lo tau Camille kayak apa. Lembut lemah gontai menjulai! Miller kalau di kasih juga mau kali! Apa lagi Adrian! *****-an dari dulu. Mana bisa dia ngalahin nafsunya." Jelas Veni pada Fene.


"Iya gue tau! Tapi gue kesel! Kenapa dia nggak bawa gue! Malah suruh gue ke Jakarta deluan! Dia seneng-seneng di Vegas. Gue kurang sexy apa coba? Semua perawatan gue lakuin buat dia." Kesel Fene menatap Veni.


"Ngerti sayang! Gue ngerti! Tapi lo kan udah balas semua kejahatan dia! Impas dong!" Kekeh Veni.


"Sebenarnya belum puas gue! Belum sempet masuk!" Tawanya.


"Kalau masuk baru puas yah!" Jawab Veni asal.


"Iya! Gue didobrak sama Alberth coba! Setengah sadar seeh! Nggak tau tu Carlos mau ngapain gue!" Jujurnya.


"Yang pasti mau bawa lo ke angkasalah!" Kekeh Veni.


Adrian dan Miller hanya mendengar canda tawa istri mereka, menghembuskan asap rokok ke udara sangat santai.


"Kamu ngerokok jarang yah Dri! Lihat tempat juga." Ucap Miller.


"Iya, Aku, Kevin, dan mendiang dari dulu merokok nggak begitu! Tapi harus ada! Kata Kevin biar ganteng." Tawa Adrian.


"Kemana dia? Masih di Paris?" Tanya Miller.


"Ada disini. Cuma males ketemu Fene, takut dihajar lagi." Kekeh Adrian.


"Suruh kesini! Kangen saya!" Perintah Miller.


"Oke!" Adrian menghubungi Kevin, tanpa sepengetahuan Fene dan Veni.


Adrian dan Kevin ditelfon,


"Miller rindu! Keresto Veni sekarang!" Tegas Adrian.


"Bawa bini apa selingkuhan?"-Kevin.


"******! Bawa selingkuhan lo biar terulang babak belur di Hawaaii!" Ucap Adrian.


"Ogah! Trauma gue! Bini lo galak! Pukulannya ngenak banget, ampe Nichole kesel, karena wajah suaminya terluka!" Canda Kevin.


"Suami! Udah balik lagi?" Jawab Adrian.


"Udah dong! Gue santet, makanya balik!" Kekehnya.


"Udah sini cepet!" Adrian menutup telfonnya.

__ADS_1


"See! Kevin tu sahabat terkocak." Jelas Adrian.


"Iya, dia sangat happy!" Jawab Miller menikmati wine dihadapan mereka yang dihidangkan pelayan.***


__ADS_2