See Eye Stela

See Eye Stela
Rasa ketagihan.


__ADS_3

Adrian bertemu Liu di restoran hotel, menceritakan semua yang terjadi di kasino miliknya selama di pegang Tommy, suami adiknya Hanz Parker, Marisa. Adrian memiliki 5 kasino di Vegas, pemberian Mark Claire Zurk waktu dulu. 3 kasino Adrian sendiri kendalikan di awasi oleh orang kepercayaannya Mesi. 2 kasino dia serahkan pada Tommy.


Tommy adalah sahabat Edward Lincoln yang dulunya memiliki saham di Fene Group sebesar 2%, tapi karena ada sedikit perselisihan Tommy menarik kembali saham miliknya.


"Saya rasa, lebih baik kamu disini dulu Dri! Jika sudah beres, baru kamu pulang ke Los Angeles." Jelas Liu.


"Ck! Fene di Jakarta hanya ditemani Kevin, Liu! Perkerjaan juga banyak disana." Rungut Adrian. "Nanti aku fikirkan, atau aku serahkan pada Dedrick dan Lois yah?" Batin Adrian memijat pelipisnya.


"Hanz sudah jarang kesini! Mereka lebih mempercayakan pada saya, tadi malam melihat Alui ada disini Adrian! Bersama Camille!" Liu meminta anggotanya melacak penyebab kasino Adrian tutup. Laporan yang diterima, beredarnya uang palsu dan narkoba.


"Aaagh! Iya! Nanti saya akan bicara pada Camille, untuk membantu saya disini. Saya harap kamu mengawasi uang palsu yang diberitakan." Adrian menarik nafas dalam.


"Baik! Saya permisi! Saya ke kasino kamu saja! Kamu disini dulu yah Dri!" Liu berpamitan, menuju mobilnya dan berlalu.


Adrian menatap layar handphone miliknya. Mencari nomor Fene, menggeser lambang hijau.


"Ya Dri! Assalamu'alaikum!"-Fene.


"Wa'alaikumsalam, kamu diamana?"-Adrian.


"Dikantor! Kenapa Dri?"-Fene.


"Case kita uang palsu Fen! Narkoba itu gue nggak mikirin banget. Uang palsu milik siapa yah? Apakah Tommy main uang palsu sekarang sama Fernando?"-Adrian.


"Ck! Aku nggak tau jelas seeh! Nanti aku tanya Kevin! Kamu jadi ketemu Liu?"-Fene.


"Jadi! Dia lagi ke kasino! Aku pending dulu pulang ke Jakarta, nggak apa-apa yah Fen? Aku urus kerjaan dulu! Pusing juga! Sebenarnya kalau tutup juga nggak apa-apa, cuma ini kan warisan Mark! Harus aku jaga!" Jelas Adrian panjang lebar.


"Ya udah! Kamu beresin dulu! Kamu hati-hati, jangan nakal! I love you Dri!"-Fene.


"I love you too Fen!" Senyum Adrian menutup handphone, menghela nafas dalam.


Adrian memikirkan Camille, mengirim pesan pada gadis yang menemaninya tadi malam. Tersenyum licik.


"Sibuk Cam?"-Adrian. Pesan ceklis dua, belum terbaca.


Adrian mengusap wajahnya, berlalu meninggalkan resto menuju kamar miliknya.


Ting! "Nggak Dri! Kamu jadi pulang? Mau aku temanin ke bandara?"-Camille.


Adrian membalas, "Aku dihotel!"-Adrian.


"Ya!"-Camille.


Adrian tersenyum tipis menaikan satu alisnya. "Hmm! Why not!" Senyum Adrian.


Adrian menempelkan card kamar, meletakkan ditempat biasa, agar samua menyala. Adrian merebahkan tubuhnya diranjang kamar.


"Hmm! Uang palsu! Akan ku usut tuntas siapa yang menjebak kasino ku! Jika Tommy pelakunya, akan aku bereskan sendiri," Batin Adrian.


Drrt, drrt. "Liu!" Bisik Adrian. Dia pindah ke sofa, agar lebih tenang.

__ADS_1


"Ya!"-Adrian.


"Tommy pelakunya! Bisnis Fernando pemalsuan uang dan pencucian uang! Dia ada di Paris saat ini menyaksikan Fashion week!" Jelas Liu.


Adrian menggeram, "Bangsat! Stela di Paris Liu!" Adrian mengusap kesal wajahnya.


"Oogh! Serius? Hmm! Atau kamu bisa minta Camille untuk menemani Stela, Dri!"-Liu.


"Ya! Nanti aku pikirkan! Terimakasih Liu!" Adrian mengusap geram wajahnya.


"Ya Dri!" Liu menutup telfonnya.


Adrian menggeram, rasa ingin membunuh semua orang yang mengganggu kelurganya. Terutama Stela.


Ting tong, Adrian berjalan menuju pintu dengan langkah gontai, membuka pintu kamar. "Cemille!" Adrian menaikkan alisnya menatap tubuh sexy Camille.


"Hai, Dri!" Senyum Camille.


"Ya hai! Masuklah!" Adrian kembali ke sofa semula.


"You oke?" Camille menutup pelan pintu kamar.


"Ya! Aku oke!" Jawab Adrian menatap Camille. "Sebentar yah Cam! Aku nelfon Nichole dulu!" Adrian meletakkan handphone ketelinganya.


"Ya Dri!"-Nichole.


"Lo sudah bertemu Stela?"-Adrian.


"Ya! Itu lebih baik, karena Fernando ada di Paris." Jelas Adrian.


"Fernando? Fernando siapa?" Tanya Nichole.


"Fernando Alsoqte, dari Spanyol! Mantan Marelin!" Jelas Adrian lagi.


"What? Ngapai dia ke Paris? Sumpah gue jadi parno Dri! Trauma, mana Dedrick nggak jadi ikut!" Jawab Nichole sedikit cemas.


"Hmm! Tenang aja. Nanti aku minta Alberth mengawasi kalian." Jelas Adrian menenangkan Nichole.


"Bener yah Dri! Gue takut bunyi dar der dor lagi! Apa lagi anak lo! Manjanya!" Rungut Nichole.


"Ok! Salam buat Stela! Bye Nichole." Adrian menutup telfonnya, memijat pelan pelipisnya. "Huuufgh! Aku boleh merokok disini?" Tanya Adrian tersenyum menatap Camille yang juga menatapnya.


"Ya! Silahkan! Ini kamar kamu! Kok izin ke aku!" Senyumnya menyalakan hexosfen.


"Ya! Izin aja! Kali saja kamu tidak menyukai pria yang merokok!" Senyum Adrian nakal.


"Ck! Kamu kenapa seeh?" Camille tersipu.


"Nggak apa-apa! Aku merasa ketagihan aja." Kekeh Adrian.


Camille menaikkan alisnya, "Ketagihan apaan?" Camille mengerti maksud Adrian, membuka paperbag yang dia bawa, mengeluarkan beberapa makanan.

__ADS_1


"Woow! Kamu terlalu manjain aku!" Kekeh Adrian kembali menggoda menatap Camille.


"Ya! Aku manjain kamu, kasihan! Kamu jauh dari Fene." Tawa Camille membuat Adrian sedikit menggeram dan mendekatkan wajahnya pada Camille.


"Hmm! What!" Camille memundurkan wajahnya.


Adrian menatap tersenyum pada Camille. "Hmm!" Adrian tertawa, "Ternyata ngegoda kamu lebih lucu yah!" Tawa Adrian terbahak-bahak.


Wajah Camille berubah merah. "Ck! Kamu tu paling bisa ngegoda!" Kesal Camille.


"Kamu dari mana?" Tanya Adrian.


"Biasa! Ngurusin wedding orang!" Jawabnya pelan.


Adrian tersenyum, "Wedding kamu kapan?" Godanya.


"Ehm! Mending begini Dri! Single! Happy, make money!" Jawabnya asal.


"Woow! Oke!" Senyum Adrian menghembuskan asap rokoknya ke udara.


"Kamu sampai kapan disini Dri?" Tanya Camille.


"Sampai Fene suruh pulang!" Senyumnya.


"Ck! Serius!" Rungut Camille.


"Sampai pekerjaan selesai dear! Liu minta aku disini dulu!" Jelas Adrian.


"Hmm! Kamu mau nginap dirumah?" Tanya Camille.


"Oogh no! Aku disini saja!" Jawab Adrian jelas menolak.


"Hmm! I see!" Camille menyandarkan tubuhnya kesofa. "Kamu menikah usia berapa seh Dri?" Tanya Camille dengan wajah serius.


"24, aku menikahi almarhum Jasmine! 28, Aku menikahi Fene." Jawab Adrian jujur.


"Oogh! Tapi kamu sahabat sama Fene, kenapa nggak nikah langsung Dri?Tanya Camille.


"Hmm! Panjang ceritanya! Kalau diceritain nggak ada habisnya. Ngalahin cerita novel!" Kekeh Adrian.


"Kamu tuh! Aku serius Adrian!" Geram Camille.


"Nggak usah cerita kenapa aku nggak menikahi Fene! Kami pengagum rahasia! Sekarang bagaimana dengan kamu? Kenapa kamu tidak menikah Cam?" Tatap Adrian serius pada Camille.


"Aku pernah kecewa, kami hampir menikah, ternyata doi gay! Padahal kita udah tinggal bersama. Eeegh, aku diserang pacarnya! Kaget dong aku! Aku kabur dari Brazil kesini. Aku sibuk merintis karierku, hingga lupa dengan pernikahan! Yaa, kalau pacar ada beberapa! Tapi nggak intens. Aku sulit jatuh cinta. Sekali cinta aku mau berjuang, tapi aku juga nggak berani ambil resiko memperjuangkan kamu contohnya." Jelas Camille menatap Adrian.


"Woow! Momy dan Daddy masih ada?" Tanya Adrian penasaran.


"Die! Dibunuh orang yang tidak kami kenal! Pria stay di Berlin asli Amerika, tapi kami tidak mengenalnya. Saat itu keluarga ku masih merintis karier sebagai kurir!" Jelas Camille.


Adrian tertegun. Pasti Papi Hanz tau kisah Camille, batin Adrian.***

__ADS_1


__ADS_2